Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 146 Hutang nyawa bayar nyawa.


__ADS_3

Perkelahian di dalam bangunan kerucut, semakin mendebarkan.


Suara-suara benda yang berjatuhan yang terkena hantaman dan bantingan dari tubuh Jony Baret dan rekannya telah memecahkan suasana perbukitan yang jauh dari keramaian.


Andi, Erik dan Abeng begitu brutal dan garang, Jony Baret dan ke tiga rekannya jatuh bangun terkena bantingan, pukulan, tendangan dari amukan ke tiga pemuda.


Jony Baret dan Alexandro bangkit dengan langkah gontai, kemudian di raihnya potongan besi siku yang tergeletak di sudut ruangan.


"Modar Anjing...." Teriak Alex dan Jony Baret sambil menyabetkan Potongan besi siku tersebut pada Andi.


Dengan cepat Andi menangkap pergelangan tangan Alex, dan meliukan tubuhnya kebelakang, sambil menghimpit leher Alex dengan tangan kirinya.


Ketika Jony Baret mau menghantam kepala Andi, Andi berbalik sambil memutarkan tubuh Alek untuk di jadikan tameng dari serangan Jony Baret.


Hiuuuk


Jebrooodd.


Auuggghhh...


Potongan besi siku dengan keras menghantam kepala Alex.


Kedua netranya Alex mendelik ke atas, lalu perlahan tubuhnya melorot dan jatuh terkulai.


Sontak saja Jony baret kaget, karena hantaman potongan besi siku tersebut mengenai rekannya sendiri.


Jony Baret melotot, ketika melihat darah segar keluar dari kepala Alex.


Jony Baret langsung menurunkan tubuhnya dalam posisi Jongkok, sambil merangkul tubuh Alex.


"Sori lek, gue tidak bermaksud melukai elo, tapi pemuda itu telah menjadikan badan lo sebagai tameng dari serangan gue." Ujar Jony Baret sambil mendonggakan wajahnya menatap pada Andi.


"Anjing, heaaaa..." Teriak Jony Baret, sambil melompat menyerang Andi.


Andi melompat dan menolakan kakinya ke dinding tembok, lalu sapuan tendangan menghantam wajah Jony Baret.


Deeaasss...


Jeregjeg


Jony Baret terdorong beberapa langkah hampir mau jatuh.


Baru saja Jony Baret mau merubah tata gerak, sekelebatan bogem mentah meluncur dengan cepat.


Jrooioottt...


Bogem mentah berkekuatan penuh mendarat dengan keras di tulang rahangnya Jony Baret.


Auuuuggghhh...


Jony Baret berteriak bersama'an dengan terhempasnya tubuh tinggi besar, jatuh tidak berdaya lagi.


Setelah itu Andi berjalan, menyusuri setiap ruangan guna mencari Pajar Arya Wirata.

__ADS_1


"Semua ruangan sudah gua geledah tapi tidak ada, pak Pajar dan Tante Rosa." Geruru Andi bermonolog.


Kemudian Andi berjalan menuju ruangan kecil, setiba di ruangan itu andi tersontak ketika melihat lubang kebawah.


"Lubang apa itu." Batin Andi sambil melangkah mendekat.


"Ruangan bawah tanah, mungkinkah pak Pajar dan Tante Rosa di sekap di situ." Gumam Andi bermonolog.


Perlahan andi melangkah menuruni tangga yang menuju ruang bawah tanah.


Setiba di bawah, Andi merogoh Handphone nya lalu di nyalakan senter untuk menerangi ruangan yang gelap.


Andi di kejutkan dengan suara yang terbata-bata minta tolong.


To to tolong..


"Suara itu seperti suara Tante Rosa." Ujar Andi bermonolog.


Mungkin kah suara itu ibuk Rosa, atau suara hantu dari ibuk Rosa.


Lalu Andi melangkah menuju ruangan dari suara yang minta tolong itu.


Sebuah pintu besi yang di kancing dengan sebuah gembok.


"Sepertinya gemboknya tidak terkunci."


Andi mencopot gembok yang menggantung tidak terkunci, lalu tangan kanannya mendotong pintu tersebut.


perlahan Andi melangkahkan tungkai kakinya memasuki ruangan kecil yang gelap.


"Pak Pajar, Tante Rosa." Sontak Andi sambil memburu tubuh kedua orang tuanya Vina.


Rupanya Ibuk Rosa masih di perkenankan hidup oleh tuhan yang maha kuasa, karena waktu Alex mau menyuntikan cairan itu, ibuk Rosa menahannya dengan tas kulit miliknya.


"I ii ni siapa?." Tanya Tante Rosa terbata-bata.


"Ini saya Tante,, Andi Nayaka." Jawab Andi.


"Tolong Tante Andi, keluarkan dari sini." Ujar Rosa.


"Iya Tante, bertahanlah."


Lalu Andi menyenterkan senternya pada Pajar yang tergeletak kaku, netranya Andi melotot tidak berkedip.


"Ini Om Pajar kenapa Tante?." Tanya Andi.


"Suami Tante telah di bunuh oleh penjahat yang menyamar sebagai Dokter di rumah sakit, hampir seharian tante menangis meratapi tubuh suami tante yang terkujur kaku." Isak Rosa yang nampak kedua kelopak matanya sudah membengkak.


"Bertahanlah Tante, saya akan bantu Tante keluar dari sini."


Andi langsung memboyong tubuh Rosa yang sudah lemas tidak bertenaga lagi, keluar dari ruangan kecil yang gelap, dengan langkah teratur Andi menaiki tangga.


Setiba di atas, suasana nampak sepi, suara perkelahianpun sudah tidak terdengar lagi, lalu Andi berteriak memanggil Erik dan Abeng.

__ADS_1


"Woii,, Rik, Abeng bantuin gua." Teriak Andi memanggil.


Sementara Erik dan Abeng yang lagi melepas lelah sehabis bertarung dengan Rugio dan Hadio sopa bersandar di dinding tembok.


"Itu Suara Andi memanggil, lo sana dulu, gua mau jagain para bajingan takut kabur." Ujar Abeng meminta pada Erik untuk menemui Andi.


Erik pun langsung bergegas menuju pada Andi yang berteriak minta pertolongan.


Setiba di tempat, Erik terbelalak melihat Andi yang lagi membopong tubuh Tante Rosa.


"Astaggirullah hal adzim, ibuk nya Vina kenapa An?." Tanya Erik.


"Nanti gua jelasin, sekarang bantuin dulu gua mengangkat tubuh pak pajar di bawah sana." Tunjuk Andi sambil menyandarkan tubuh Rosa pada dinding.


"Ayo."


Andi dan Erik lalu berjalan menuruni tangga yang menuju ke ruangan bawah tanah.


Singkat cerita tubuh pak pajar yang sudah tidak bernyawa lagi sudah berhasil andi bawa ke atas.


Sementara Vina yang sudah ganti salin dengan terpaksa mencopot kaos dan celana Rangga yang masih dalam ke ada'an pinsan.


Vina langsung menjerit ketika melihat kedua orang tuanya, apalagi ayahnya yang sudah tidak bernyawa lagi.


"Ayaaaaaaahhh......Hik hik hik hik, ma'afkan Vina ayah yang tidak bisa menjaga ayah." Tangis Vina.


Tiba-tiba tangisan Vina berhenti, matanya memerah dengan sorotnya yang tiba-tiba liar, Vina bergegas bangkit dan berjalan kencang menuju pada ruangan tempat dirinya di bincang oleh Rangga.


Setibanya di dalam ruangan, Vina langsung memburu tubuh Rangga yang cuma mengenakan celana pendek.


"Hutang nyawa harus di bayar nyawa lagi, bangsat." Ujar Vina sambil menghujani wajah rangga dengan pukulan-pukulannya.


Duuk


Duk


Duk


Duk


Deeeass...


"Modar Anjing." Teriak Vina.


Tubuh Rangga menjadi bulan-bulanan amarahnya Vina.


Andi dan Erik pun langsung berlari memburu Vina.


"Hentikan Vin, jangan umbar amarahmu, nanti kau akan menyesal." Teriak Andi, sambil menghalangi Vina yang terus berontak ingin menghabisi Rangga.


"Lepasin gue An, lelaki bajingan itu tidak pantas untuk hidup, jangan halangi gue." Berontak Vina.


"Vin sadar lo' gua tau dan mengerti penderita'an lo', sekarang bukan sa'atnya yang tepat, lo' harus pikirkan nasib nyokap elo' dan jenajah ayahmu harus segera di urus." Ujar Andi.

__ADS_1


Setelah Andi berkata begitu, barulah Vina sadar dengan kondisi ibuknya, yang memerlukan pewatan setelah shok dari ulah para pembunuh bayaran.


__ADS_2