Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 120 Perjalanan pulang


__ADS_3

Pukul 12:00


Andi dan Konta telah tiba di tempat yang di tuju, yaitu di salah satu relasi bisnisnya yang bergerak dalam jual beli spare part, bekas maupun baru.


Tony salah se orang pemilik toko itu, yang sebelumnya meminta kerjasama pada Andi, yang ia kenali di sebuah akun sosial media.


Andi dan Konta di sambut begitu hangat oleh Tony.


"Sambil menunggu kopi datang bagai mana dengan keada'an toko gue." Ujar Toni.


"Wah tokomu lumayan cukup besar, dan para pengunjungnya pun lumayan ramai." Tukas Andi.


"Iya terima kasih Bang Andi, terus apakah anda ada harapan untuk memasokan barang ke toko saya." Ujar Tony.


"Kalau gua sih oke-oke aja, nanti gua akan meeting dulu, untuk memberi tawaran guna melebarkan sayapnya ke wilayah ini, tapi kali ini gua belum bisa mastiin, apakah penawaran anda di terima atau tidak, jawabannya nanti setelah mengadakan meeting." Tukas Andi.


"Bagus, saya suka dengan kinerja nya Bang Andi, yang tidak gegabah mengambil kesimpulan." Timpal Tony.


Setelah itu salah salah satu karyawannya Tony datang dengan membawa nampan berisikan tiga gelas kopi hitam.


"Ini kopinya pak." ujarnya. Sambil menurunkan tiga gelas kopi di meja.


"Iya terima kasih, sekarang kembali lagi ke toko." Tukas Tony.


"Iya pak sama-sama." Sahutnya sambil undur diri dari hadapannya Tony, Andi dan Konta.


"Ayo Bang Andi, Bang Konta di minum kopinya mungpung masih hangat." Ucap Tony.


"Iya terima kasih." Tukas Andi dan Konta sambil meraih gelas kopi dan di seripitnya perlahan.


Kemudian Andi dan Konta mengeluarkan sebungkus roko gudang garam filter dan di ambilnya satu batang.


Sebuah korek gas di nyalakan untuk membakar ujung toko tersebut.


Sepppuuuhh..


Hembusan asap putih keluar dari mulutnya Anfi dan Konta serta Tony, sampai membuat ruangan tersebut mengepul.


Selepas itu Andi dan Konta di jamu dengan hidangan masakan nasi liwet dengan lauk pauknya ikan Bakar dan lalapan mentah serta sambal ijo kesuka'annya Andi.


Nasi di gelar di atas daun pisang memanjang, Tony bersama kedua karyawannya duduk bersila sejajar berhadapan dengam Andi dan Konta, siap untuk menyantap nasi liwet yang aromanya begitu merangsang isi dalam perut menjadi keroncongan.


Andi dan Konta nampak lapar sekali, setelah menempuh perjalanannya yang penuh rintangan dan halangan, yang banyak menguras energinya.


Sebuah jamuan yang istimewa bagi Andi dan Konta.


Walaupun cuma makan nasi liwet dan lauk pauknya cuma se adanya, membuat Andi dan Konta sudah merasakam sebuah kenikmatan dari kebersama'an, dan menjalin silaturahmi untuk mempererat persaudara'an.


Singkat Cerita.

__ADS_1


Setelah cukup lama Andi dan Konta berada di tempat Tony.


Akhirnya Andi dan Konta pamit untuk kembali pulang ke Bandung.


"Sebelumnya kami sangat berterima kasih atas jamuannya, nasi liwetnya sungguh nikmat sekali." Ujar Andi.


"Bang Andi terlalu berlebihan bila memuji, di sini sudah biasa saya selalu mengadakan makan siang bersama karyawan saya, yaitu nasi liwet, selain pengerja'annya gampang dan irit biaya." Tukas Tony sambil tersenyum simpuh.


"Benar ko, akunpun sampai ke kenyanagan, saking nikmatnya, jujur aku baru kali ini makan bersama begitu nikmat." Pungkas Konta ikut nimrung.


"Ya itulah indahnya kebersama'an, Alhamdililah ada hikmahnya." Timpal Tony.


"Karena waktu sudah hampir sore, kami berdua pamit dulu ya, dan mudah-mudah ini awal kerjasama kita menuju kesuksesan kedepannya." Pamit Andi.


"Amiin, saya pun berharap begitu." Timpal Tony.


Kemudian Andi dan Konta bersalaman pada Tony dan kedua karyawannya.


Di akhiri dengan kata Assalam mu'alaikum, Andi dan Konta pun langsung menyalakan sepeda motornya, dan melaju keluar dari halaman tokonya Tony.


Tony dan kedua Karyawannya berdiri memandang Andi dan Konta sampai hilang di telan jarak yang semakin menjauh.


Waktupun terus berjalan seiring dengan berputarnya jarum jam, sehingga tidak terasa waktu ashar telah tiba, suara-suara Adzan pun telah berkumandang.


Andi dan Konta singgah dulu di sebuah masjid, untuk melaksanakan dulu ibadah solat ashar.


Setelah selesai melakaanakan empat roka'at silat Ashar.


Udara mulai terasa tertiup dingin, Gunung Gede nampak jelas menjulang tinggi ke angkasa.


Andi dan Konta melaju dengan kecepatan rata-rata menyusuri jalan yang membentang menuju kota Bandung.


Sawah ladang dan perbukitan serta rumah-rumah penduduk yang berjejer di kiri kanan Jalan dengan bebagai macam bentuk dan modelnya, seperti menjadi saksi dan mengiringi kepulangannya Andi Nayaka dan Konta Jaya Lugina.


Dua pemuda bersaudara asal Gang Si'iran terus menarik gasnya, dengan di iringi oleh hembusan asap putih keluar dari selongsong knalpot bagaikan sebuah locomotif yang meluncur di atas rel.


Ketika Andi dan Konta lagi melaju jalan yang menanjak, Nampak terlihat oleh Andi di jalur yang sama dan se arah.


Seorang lelaki tua yang sudah memutih rambutnya lagi ter'engah-engah melangkah satu dua, sambil menanggung beban yang lumayan berat.


Kemudian Andi meminggirkan sepeda motornya yang di ikuti oleh Konta, lalu mrlangkah turun dari motornya dan berjalan menghampiri lelaki penjual es cendol yang di pikul.


"Pak masih ada cincau nya." Sapa Andi.


Lelaki tua itu lalu berhenti sambil menolehkan pandangannya pada pusat suara.


"Masih nak." Jawabnya.


"Aku beli pak, dua buat di minum di sini, dan tiga di bungkus." Ujar Andi.

__ADS_1


Seraya lelaki tua itu berkata dengan lirih.


"Alhamdulilah ya Allah, akhirnya ada rijki hari ini buat keluargaku." Lirih lelaki tua itu berkata.


Ujaran lelaki tua itu tertangkap jelas di telinga Andi dan Konta.


"Ya Allah kasihan si Bapak ini, ia lagi berjuang demi keluarganya, semoga aja jualannya laris." Batin Andi.


Kemudian Konta bertanya pada Andi.


"Eh Bang, buat siapa di Bungkus?." Tanya Konta.


"Buat ibuk dan Kak Anggita, elo mau bungkusin buat Kanti dan ayah Ibukmu." Tawar Andi.


"Iya mau Bang." Jawab Konta.


"Pak bungkusnya enam ya." Ujar Andi.


"Iya nak."


Selang beberapa menit pak tua itu langsung memberikan dua gelas ukuran jumbo pada Andi dan Konta.


"Ini nak buat di sini." Ucap pak tua memberikan dua gelas jumbo pada Andi dan Konta, dengan sedikit gemetaran tangannya.


Melihat tangan pak tua sampai gemetaran Andi langsung meraih gelas tersebut sambil berkata.


"Bapak kenapa sakit?." Tanya Andi.


"Tidak nak, cuma kecapean aja, karena sudah jauh jalan kaki sambil memikul dagangan yang masih banyak." Jawab pak tua.


Secara spontan Andi merasa iba dan bangga pula pada pak tua yang berjuang mati-matian demi keluarga.


"Ya sudah Bapak istirahat aja dulu, nanti setelah aku selesai minum cincaunya aku bantuain sampai di jalan yang datar ya." Ujar Andi penuh iba.


"Jangan nak, nanti kamu sakit." Ujar pak tua.


"Tidak apa-apa Pak, aku pun sering mikul benda berat." Sahut Andi sambil meminum es cincau tersebut.


Setelah Andi dan Konta selesai meminum es cincau, dan enam bungkus pesanan Andi sudah di kemas di sebuah platik yang besar.


Lalu Andi berdiri untuk memberi bantuan pada pak tua memikul dagangannya sampai kejalan yang datar.


"Jangan nak berat." Ujar pak tua.


"Tenang aja pak, aku sudah terbisa bawa benda-benda berat." Tukas Andi.


Pak tua itupun tidak bisa berbuat apa- apa, lalu Andi menurunkan tubuhnya yang jangkung, dan memposisikan pundaknya pada pikulan dagangan es cincau.


"Bismilah hirohman ni rohim." Ucap Andi sambil mengankat dagangan tersebut dengan sangat entengnya.

__ADS_1


Dengan sangat enteng sekali Andi melangakah di jalan yang menanjak.


Pak tua itu sampai geleng-gelengkan kepalanya, merasa takjub akan ke tulusan hati Andi.


__ADS_2