Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 76 Pelangi setelah hijan


__ADS_3

Malam yang sunyi sepi, hanya semilir angin yang dingin terasa menemani Jaroni dan Andi.


Bersama kepulan asap putih yang berhembus keluar dari mulut Andi dan Jaroni.


"Malam ini terasa sepi sekali Paman." Ujar Andi.


"Iya den biasa kalau habis hujan, orang-orang lebih suka mengurung diri di dalam rumah." Tukas Jaroni.


Malam pun tidak terasa, jarum jam yang menempel di dinding pos tempat Jaroni berjaga, sudah menunjukan pukul 23:30 menit.


"Wah tidak terasa Paman, malam sudah larut, aku tinggal dulu, pingin istirahat, ma'af Paman ku tinggal dulu ya." Ujar Andi.


"Iya tidak apa-apa den, Paman di sini kan lagi bekerja, den Andi tidur sana, apalagi tadi habis kehujanan." Tukas Jaroni.


"Iya ma'af ya Paman, bukannya aku tega ninggalin Paman." Timpal Andi.


"Ya elah, den Andi, Paman sudah biasa sendirian di sini." Ucap Jaroni.


Andi pun langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah pergi memasuki kedalam rumah.


.......................


Ke esokan harinya.


Andi sudah bangun lebih awal, kira-kira pukul 04:15 menit.


Ketika suara adzan bergema, Andi langsung ganti salin pakai sarung dan baju koko.


Setelah itu Andi melangkah keluar rumah melewati pintu belakang, pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah solat subuh berjama'ah.


Selepas pulang dari masjid, Andi melakukan kebiasa'an seperti almarhum ayahnya, Langsung masak air panas untuk menyeduh kopi.


Kemudian Andi pergi menuju pekarangan belakang rumah, tempat bisa almarhum Nandi suka menghirup udara pagi sambil minum kopi.


Andi duduk di bangku kayu sambil menyimpan gelas kopi di meja yang terbuat dari akar pohon yang besar.


Sejenak Andi menerawang jauh, mengingat pada sang ayah yang selalu mengajarkan pada dirinya tentang kebaikan dan selalu terngiang kata-katanya ketika Andi masih kecil suka nangis.


"Jadi lelaki tidak boleh cengeng." Begitu ayahnya selalu berkata.


"Iya ayah sekarang aku lagi hancur, wanita yang dulu mengatakan cintanya padaku, hingga sa'at ini tidak ada kabar, bahkan chat aku pun tidak di balas." Gumam Andi dalam hati.


Suara hati Andi seperti telah di dengar oleh semesta, Andipun sampai tersontak ketika suara yang sangat ia kenali telah berbisik di telinganya.


"Anaku, kamu jangan terus-terusan larut dalam kesedihan, lelaki itu harus kuat dan berani, menerima kenyata'an, karena itu semua sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu." Bisik suara yang bergeming di kedua telinga Andi.


Andi tersontak kaget, sambil celingukan mencari arah sauara itu dari mana datangnya.


"Ayaah, apakah itu ayah." Seru Andi memanggil, sambil beranjak berdiri.


Andi pun tersadar, lalu menurunkang bokongnya duduk kembali ke tempat semula.


"Mungkin itu halusinasi aku aja." Gerutu Andi.


Kemudian tangannya meraih gagang gelas yang berisikan kopi, lalu di angkat mendekati kedua bibirnya.


Seruupuuuuutttt..


Aaahhhhh....


"Mantap."


Suara seripitan kopi begitu terdengar jelas ke ruangan dapur, ketika ibuknya lagi mencuci piring.


Sindi bengong dan teringat mendiang suaminya kalau pagi begini suka menghirup udara segar sambil minum kopi.


"Cara minum kopinya, seperti almarhum suamiku, apakah itu Andi, tapi Andi jarang duduk di situ, sehabis solat ia suka langsung tidur, iih jadi merinding aku." Batin Sindi.


Lalu Sindi melangkah menuju kamarnya Anggita, dan di ketuknya pintu.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Git Gita.." Panggil Sindi.


"Iya mah ada apa?." Tanya Anggita dari dalam kamarnya.


"Buka dulu deh pintunya." Ujar Sindi.


Ceklek ceklek


Terdengar suara kunci di buka, bersama'an dengan terbukanya pintu.


"Ada apa sih mah, kok wajah mamah seperti ketakutan begitu.


Lalu Sindi berbisik pada Anggita. "Tadi ketika mamah lagi cuci piring, di pekarangan bdlakang, mamah mendengar seperti suara ayahmu lagi minum kopi, persis suara ayahmu Git." Bisik Sindi.


"Ah mamah ini ada-ada aja deh, ayah kan sudah tenang di alam kubur, jangan berhaludinasi." Tukas Anggita.


"Mamah tidak berhalusinasi ko." Timpal Sindi.


"Ah paling juga Andi mah." Ujar Anggita.


"Andi biasanya kalau habis solat suka tidur lagi." Tukas Sindi.


"Ya coba aja lihat di kamarnya, ada gak." Ujar Anggita.


Lalu Sindi melangkah kan tungkai kakinya menuju pintu kamar Andi, kemudian di pegang gagang kuci pintu, di tarik kebawah, dan pintupun terbuka.


Sindi tersenyum tipis ketika di atas tempat tidur Andi hanya bantal dan guling tergrletak membisu.


"Ada gak mah?." Tanya Anggita.


Sindi tertawa kecil, menertawakan atas tingkahnya sendiri.


"Gak ada." Jawab Sindi malu sendiri.


"Tuh kan, bener apa kata aku juga." Tukas Anggita.


"Oh iya benar itu Andi." Gerutu Sindi.


Begitu Sindi buka pintu, kebetulan Andi menoleh ke arah pintu.


"Ibuk, di kira belum bangun." Sapa Andi.


"Tumben kamu pagi-pagi ngopi di situ, biasanya sehabis solat langsung terdampar di pulau kapuk." Ujar Sindi.


"Iya buk pingin aja, entah kenapa tiba-tiba pingin duduk di sini." Tukas Andi.


Lalu Anggita datang nyamperin.


"Iya tuh mamah tadi sampai ketakutan, ada yang ngopi diluar persis katanya suara almarhum ayah." Ujar Anggita.


"Beneran Buk?." Tanya Andi.


"Iya, lagian kamu biasanya juga gak pernah pagi-pagi duduk di situ sambil ngopi, makanya Ibuk berpikiran kesitu." Tukas Sindi.


"Iya ma'ap Buk kalau aku sempat membuat ibuk ketakutan, dan ku juga sama begitu Buk." Ujar Andi.


"Sama bagaimana maksudmu?." Tanya Sindi.


"Iya tadi ada yang berbisik di telingaku, persis suara ayah." Timpal Andi.


"Terus berbisik apa?." Pungkas Anggita bertanya.


"Mengingatkanku, kalau aku harus tegar dalam menghadapi segala ujian dan permasalahan hidup." Ujar Andi.


"Ooh berarti kamu lagi ada masalah ya." Tukas Anggita.


"Enggak ko."


"Jangan bohong, soalnya semalam kakak dengar kamu bernyanyi, seperti lagi galau begitu." Ujar Anggita.


"Oih pantesan semalam kamu nanyain gitar, kamu punya masalah apa nak, cerita dong sama ibuk dan kakakmu." Pinta Sindi.

__ADS_1


"Iya Buk, sebenarnya ku tidak akan menceritakan masalahku, tapi semakin ku pendam, hati ini rasanya seperti di sayat sembilu, sakitnya tiada terkira." Ucap Andi.


Kemudian Sindi dan Anggita melangkah keluar lalu duduk merapat bersama Andi.


"Coba kamu ceritakan pada ibuk dan kakakmu, biar beban di hatimu tidak terlalu berat."


Kemudian Andi menceritakan ketika ia berkunjung kerumah Vina, sampai mendetail.


"Ko bisa, mamahnya Vina bersikap seperti itu, bukankah dulu ia sangat baik padamu." Ujar Sindi.


"Emang dulu waktu masih SMA, mamanya Vina baik padaku, semenjak ia tau aku di penjara, sikap mamanya Vina berubah drastis membenci aku." Ungkap Andi.


"Oh jadi itu alasannya, lalu Vina sendiri gimana?." Tanya Anggita.


"Ya begitulah, malahan sampai detik ini pun Tidak ada kabar, bahkan chat akupun tidak di balas sama sekali, sebenarnya semalam hatiku hancur, kenapa di sa'at aku membalas cintanya, dan kenapa pula sekarang Vina jadi begitu, ini sangat menyakitkan Buk, Kak Gita." Jelas Andi.


"Kamu yang sabar nak, mungkin ini juga sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu." Ucap Sindi sambil mengelus rambut Andi bagian belakang.


"Dan Ibuk yakin, Allah lagi merencanakan sesuatu yang terbaik untukmu, janganlah kau berkecil hati, kamu itu anaknya Nandi Suryaman, lelaki tegar, permerani dan penuh percaya diri." Lanjut Sindi memberi petuah pada anaknya untuk tidak berkecil hati apalagi sampai prustasi hanya karena gara-gara cinta.


"Ibuk benar dek, ada pepatah mengatakan, bila se orang lelaki sakit hati oleh wanita, maka obatnya wanita lagi, tapi jangan asal pilih wanita, dan jangan sampai jatuh ke lubang yang sama." Cetus Anggita.


"Kak Gita ini ada-ada saja, emang aku cowo apa'an." Ujar Andi.


"Hahaha, jangan nangis atuh, Kakak yakin kamu lelaki kuat dan bermental baja, kamu terlahir di bawah naungan Zodiak scorpio." Ujar Anggita sambil mencubit pipinya Andi lalu beranjak masuk kedalam rumah.


"Iiih sakit tau, awas ya aku balas nih." Tuaks Andi sambil bangkit dari tempat duduknya untuk mengejar Anggita.


Sindi tersenyum bahagia sambil menggelengkan kepalanya, merasa senang melihat kedua anaknya bercanda begitu.


Tidak terasa hari sudah terang, sinar matahari telah memancarkan cahayanya untuk memberi kehangatan pada Bumi setelah semalam di guyur hujan.


Pukul 8:00


Seleruh pekerja sudah memulai lagi dengan aktipitasnya.


Andi pun sudah di sibukan dengan rutinitasnya di Toko spare part dan bengkel.


Bila para pengunjung datang membanjiri, barulah Andi ikut menghandle pekerja'an Toglo dan ketiga anak buahnya.


Terkadang Andi pun ikut menemani Hasan, dalam memodifikasi kendara'an roda dua.


Setelah Para pengunjung mulai berkurang, Andi langsung Otw ke jalan ketupat untuk memantau suasana di sana.


Tidak terasa waktupun berputar begitu cepat, se iring dengan berputarnya jarum jam.


Pukul 15: 30 menit.


Langit di atas kota kembang nampak mulai lagi gelap, sepertimya akan turun hujan


Andi yang lagi duduk santai bersama Gito, sambil melihat ke tiga pekerjanya yang lagi melakukan oprasional kendara'an. Yang tinggal satu lagi, karena sebentar lagi bengkel dan toko akan segera tutup.


"Waduuh sebentar lagi akan turun hujan nih." Cetus Gito.


Ucapan Gito pun masih basah, suara air hujan yang turun dari langit sudah terdengar berjatuhan menimpa atap genteng.


Tidak lama setelah itu suara gemuruh air hujan telah terdengar membasahi seluruh wilayah kota.


Para pengendara roda dua banyak yang berhenti dan berteduh di bengkel, menunggu hujan reda.


Setelah itu hujan mulai reda langit pun sudah nampak mulai terang kembali.


Orang-orang yang berteduh di bengkel pada terbelalak sambil mengeluarkan ponselnya, karena di selatan bengkel nampak ada penomena alam yang sangat indah.


Sebuah pelangi membentuk setengah lingkaran, dengan warna hijau, kuning, kelabu, merah muda


dan biru.


"Sebuah pelangi Panca warna, sungguh indah sekali." Ucap Andi sambil menyalakan camera di ponselnya.


"Biasanya itu pertanda baik nak Andi." Cetus Gito.


Astuti, Nina yunita, Pandi dan seluruh karyawan pada keluar menyaksikan penomena alam yang indah membentang membentuk setengah lingkaran.

__ADS_1


__ADS_2