
Malam itu suasana di kota sangatlah sepi sekali, setelah Andi, Abeng, Erik dan pak Rt, keluar dari Rumah Sakit Jiwa.
Mereka melangsungkan lagi perjalanannya menuju Gang Si'iran.
Mobil yang Andi kemudi melaju di jalanan yang menurun, karena lokasi Rumah Sakit Jiwa berada di dataran tinggi.
Andi pun sangat hati-hati sekali dalam mengemudi mobil, apalagi itu mobil siaga, khusus buat pelayanan masyarakat Gang Si'iran.
"Pak Rt gimana dengan warga yang mengalami kerugian material." Kata Andi pada Rt.
"Nanti saya akan membicarakan itu semua di balai Rw, dan kelurahan, untuk meminta sumbangannya untuk warga yang terkena musibah." Jelasnya Pak Rt.
"Bagus itu, dan saya pun nanti akan mencoba membicarakan musibah ini pada keluarga saya, untuk membantu warga yang mengalami kerugian material, pak Rt nanti di catat satu-satu." Tukas Andi.
"Iya nak Andi, terima kasih sebelumnya." Ujar pak Rt.
Pukul 02:00
Ketika Andi melajukan mobilnya di jalanan yang sepi dan menanjak, di tambah tidak adanya lampu penerangan Jalan.
Nampak terlihat oleh Andi ada beberapa kelebatan bayangan mencurigakan, tersorot cahaya lampu mobil, melompat ke tengah jalan.
Andi berkata pada Erik dan Abeng.
"Bro' sepertinya di depan ada sesuatu yang mencurigakan." Ujar Andi.
"Gua gak lihat apa-apa An, coba pakai lampu jauh." Tukas Abeng.
Mobil melaju tidak begitu cepat, karena medan jalan yang di lalui menanjak dan berliku.
Ketika mobil yang Andi kemudi sudah berada di jalanan yang datar , nampak terlihat oleh Andi dan yang lainnya, ada enam orang yang lagi berdiri di tengah jalan dengan bersenjatakan lengkap.
Andi pun menghentikan laju kemdara'annya, sambil menoleh pada Erik yang duduk di depan di sampingnya Andi.
"Benerkan." Ujar Andi.
Kemudian pak Rt berkata pada Andi dengan sedikit gemetaran.
"Mereka siapa nak Andi?." Tanya pak Rt.
"Tidak tau pak, yang jelas mereka bukan orang baik-baik." Jawab Andi.
"Mau apa mereka." Ujar Erik.
"Sepertinya mereka komplotan Begal." Tukas Andi.
Kemudian Andi, Abeng dan Erik keluar dari dalam mobil.
Sementara pak Rt tinggal di dalam mobil, dengan penuh rasa takut ketika melihat mereka menggenggam senjata samurai satu persatu.
Lalu Andi melemparkan sebuah perkata'an pada mereka dengan penuh sopan.
"Ma'af bang bisa minggir dulu, kami mau lewat." Ujar Andi.
Salah satu dari mereka maju dua langkah sambil menggengam samurai yang telah terhunus dari warangkanya.
"Tidak ada halangan untuk melewati daerah ini, asal dengan satu sarat." Ujarnya.
__ADS_1
"Sarat apa?." Tanya Abeng.
"Tinggalkan uang dan kendara'annya bila kalian mau selamat." Ancamnya.
Andi, Abeng dan Erik saling pandang sambil menyunggingkan bibirnya.
"Hehee, enak benar kau bercakap, kalau kami tidak mau gimana." Ujar Abeng.
"Berarti kalian tidak sayang pada nyawa." Tukasnya.
Andi, Erik dan Abeng tersenyum mengejek, sambil menatap pada mereka, seperti lagi membaca seberapa hebat kekuatannya.
"Hehee, iiih takut rupanya di depan kita ada pasukan malaikat pencabut nyawa." Pungkas Erik sembari memandang pada Andi dan Abeng.
Ke enam orang komplotan begal, yang sudah sangat sering melakukan aksinya di wilayah itu, langsung geram, ketika mendengar cibiran dari Erik.
"Bangsat, rupanya kalian pingin mati." Bentaknya sambil memberi kode pada ke lima rekannya untuk menghabisi Andi, Erik dan Abeng.
Ke enam komplotan Begal itu, tidak banyak lagi berkomentar, mereka langsung menyerang Andi, Abeng dan Erik dengan senjata samurainya.
Suasana malam yang sepi dan mencekam kini menjadi gaduh.
Kelebatan samurai dengan ganasnya, ingin menghabisi ke tiga sahabat itu
Pertarungan yang sangat tidak seimbang enam lawan tiga, apalagi mereka semua bersenjata.
Tapi itu tidak membuat Andi, Erik dan Abeng hilang keberanian, ke tiga sahabat itu bergerak begitu cepat dan agresiv.
Pak Rt yang melihat pertarungan itu, merasa menggidikan bulu kuduk, melihat kelebatan samurai yang terus mengancam keselamatannya Andi, Erik dan Abeng.
Deeaass
Deeeaasss...
Aduuuh..
Kedua begal itu langsung mundur dengan langkah tertatih-tatih merasakan kakinya seperti di hantam oleh benda yang sangat keras.
Dari situ Andi tidak memberi celah lagi pada kedua lawannya untuk bergerak.
Hiiiuuukkk
Siiiuurrr.
Dua kelebatan bogem Andi, menghantam kepala dua lawannya itu.
Kelempruuuaang...
Sebuah benda keras jatuh menimpa aspal jalan, Andi langsung menggelindingkan tubuhnya, dengan cepat lalu kedua tangan Andi meraih kedua samurai itu, sambil berteriak memanggil Erik dan Abeng.
"Erik, Abeng tangkap nih." Panggil Andi sambil melemparkan kedua samurai untuk menyeimbangkan perlawanannya, Abeng dan Erik yang nampak kesulitan untuk menjatuhkan lawannya yang bersenjata.
Erik dan Abeng melompat menyambar gagang samurai yang melayang di udara.
Kep
Kep
__ADS_1
Abeng dan Erik dengan sangat cermat menangkap gagang samurai tersebut, kini perlawanan sama-sama menggunakan senjata.
Trang
Trang
Trang
Trang
Suara benturan samurai terdengar begitu nyaring sekali.
Abeng adalah mantan penjahat kelas kakap, bagi Abeng membunuh sudah sering ia lakukan, maka tak heran bila Abeng begitu bengis dan kejam, apalagi Abeng kini telah menguasai bela diri tingkat tinggi, dari semenjak ia kenal sama Andi.
Abeng belajar bela diri Silat Cimande dari semenjak ia terbebas dari penjara, yang di ajarkan oleh kakeknya, sampai ke tingkat permainan golok.
Abeng bergerak ke samping Menangkis sabetan dua samurai yang mengancam keselamtan nyawany.
Lalu Abeng memutarkan ujung samurai sambil melesit ke udara.
Wheess...
Kelebatan samurai yang Abeng tebaskan, begitu cepat dengan kekuatan tenaga penuh.
Kedua begal yang menjadi lawan Abeng, menahannya dengan, tapi karena kekuatan tenaga Abeng begitu berbobot, sehingga Kedua samurai yang di jadikan tameng itu terpental jauh, dan jatuh menimpa aspal jalan.
Kelempruuang
Kdlempruang.
Bunyi kedua logam tipis yang jatuh begitu nyaring, dari situ Abeng mempunyai kesempatan untuk menyerang balik dengan samurainya.
Heeeaaaa...
Teriak Abeng sambil melompat, dan menyabetkan samuainya itu pada kedua tubuh lawannya.
Kedua Begal itu langsung menjatuhkan badannya.
Tapi nasib lagi na'as kini menimpa kedua begal itu, ujung samurai yang Abeng sabetkan telah merobek pangkal lengan kedua begal tersebut.
Auuggghhh..
Kedua begal itu menjerit kesakitan, sambil menutup pangkal lengan sebelah kanannya dengan telapak tangan kirinya.
Abeng melangkah maju sambil menggoreskan ujung samurainya ke jalan.
Kedua begal itu Mundur mengesot, dengan muka pucat pasi seperti telah kehilangan nyalinya.
Abeng terus menakut-nakuti sambil berkata.
"Orang seperti kalian memang pantas mati, karena akdimu banyak orang yang menjafi korban kebiadaban kalian." Ujar Abeng.
"Ampun Bang, ampun." Ujarnya dengan melas.
Abeng tersenyum menyeringai, sambil menatap keji pada kedu begal yang menjadi lawannya itu.
"Di sa'at nyawamu berada di ujung samurai ini, baru kalian minta ampun, lalu kenapa kalian selalu bertindak keji pada orang yang menjadi korban kalian." Bentak Abeng.
__ADS_1