
Suara Anjing menggonggong, dan bisingnya suara kenalpot dari kendaraan roda dua, membuat Sutaji, Marcu dan yang lainnya terperanjat kaget, lalu mereka bergegas melangkah keluar.
Setiba di luar bangunan, ke enam anggota Geng mavia tersontak kaget dengan kedatangan Binatang piara'annya Andi, dan ke enam orang yang mengendarai motor Rx king, yang mereka kenali salah satu di antaranya lelaki yang berbadan tegap dan gempal ialah Toglo, yang dulu di kenal sebagai bocah sableng.
"Wah celaka nih, lihat ke enam orang itu, itu pasti the famili Gang Si'iran, gue sangat kenal dengan pria gempal itu." Ujar Sutaji.
Baru saja Sutaji berkata pada Marcu, Kamal dan yang lainnya langsung melompat dari atas kendara'annya berlari memburu pada bangunan tua tersebut.
"Woiii keluar kau tikus-tikus got, yang bisanya menggerogoti ladang petani." Bentak Toglo, sambil melayangkan pukulan tinju buminya yang sangat dahsyat.
Hiuuukkk
Bruuukkk....
Bokbekbrak..
Pintu panel yang terbuat dari kayu meranti hanya sekali pukul oleh Toglo langsung hancur berantakan.
Dan ke enam anaknya buahnya Ricard pun langsung menyambut kedatangan the famili Gang Si'iran dengan serangan-serangan jurus-jurus Ninjanya.
Pertempuran pun kini telah terjadi, suasana di dalam ruangan kini menjadi berantakan, bangku-bangku kayu yang biasa di pakai buat tempat duduk telah hancur berantakan terkena sapuan dan tendangan.
Toglo berkelebat dengan cepat menyerang Sutaji yang di anggap paling tangguh diantara anggota yang lainnya, Sapuan tendangan, pukulan dan guntingan dengan gencar toglo lancarkan.
Begitupula yang lainnya, walaupun sudah lama tidak lagi melakukan olah raga bertarung, tapi gerakan para Famili Gang Si'iran masih tetap kaya dulu cepat dan agresip meski usianya sudah menginjak setengah abad.
Gito, Pandi, Hasan, kamal dan Jaroni masih tetap bringas dan sadis dalam melumpuhkan lawan-lawannya.
Heaaa hea hea
Bak buk bak buk bak buk.
Deeeeaasss....
Hujan pukulan dan tendangan dari para famili Gang Si'iran sudah bisa melemah kan pertahanan lawan-lawannya.
Karena merasa terdesak Sutaji dan anggota yang lainnya, melompat mundur beberapa langkah, lalu satu persatu dari mereka meraih senjata tajam berjenis samurai yang banyak bejejer di dinding tembok.
Sreweeen sreweng sreweng sreweng....
Suara logam tipis yang terhunus dari warangkanya begitu menggidikan bulu kuduk.
Tapi para famili Gang Si'iran tidak menjadikan gentar dalam menghadapi musuh dengan bersenjatakan lengkap.
Toglo Melompat ke atas sambil jungkir balik lalu tangan kanannya dengan cepat menyambar sebuah Pipa besi ukuran satu inci dengan panjang satu meter, di putar dengan cepat bagaikan baling-baling kincir angin.
Whees whes
Tarang trang.
Suara benturan dua logam yang saling berbenturan telah memecahkan suasana di pagi hari.
__ADS_1
Sedangkan Jaroni, yang tidak pernah ketinggalan dengan senjata khasnya sebuah Double stick berputar-putar meliuk liuk, menghadang senjata samurai dari lawannya.
Begitupun Gito, Hasan, Kamal dan Pandi, tidak kalah pintarnya menggunakan potongan kayu dari sebuah meja dan bangku yang hancur, guna menahan senjata samurai yang selalu mengancam keselamatan nyawanya.
Para famili gang Si'iran terus mendesak tidak memberikan ruang pada lawannya untuk bergerak, sehingga akhirnya di tujuh belas jurus, Para famili Gang Si'iran telah berhasil memporak porandakan pertahanannya lawan.
Tak tuk, dak duk tak tum dak duk.
Srewek srek srek
Auuuuggghhhhhhhhhh.....
Benturan pipa besi dari Toglo, double stick Jaroni dan potongan kayu dari, Kamal, Pandi, Gito dan Hasan, telah menumbangkan mereka satu persatu, darah terus keluar dari kepala dan leher yang terkena sabetan kayu yang masih banyak paku yang menempel.
Lantai keramik yang tadinya berwarna putih kecoklatan kini telah berubah warnanya menjadi merah oleh darah-darah yang terus keluar.
Sutaji dan kelima Anggota yang lainnya kini tak kuasa lagi menahan rasa perih dan sakit, akhirnya merekapun langsung pinsan karena terlalu banyaknya darah yang keluar.
Toglo, Jaroni, kamal, Hasan, Pandi dan Gito menarik napas turun naik, sambil melemparkan senjata yang di pakainya itu ke arah mereka yang lagi terkujur tidak beradaya.
"Mampus kalian semua."
Ketika itu pula mereka di kagetkan dengan suara gaduh dari dalam ruangan yang berada di pojok belakang.
"Suara apa itu." Sontak Toglo.
"Jangan-jangan Andi lagi berduel." Sahut Kamal.
Bruuuk braaakk
Pintu kayu yang nampak tebal dan kokoh hanya sekali tendang telah lepas dan engselnya.
"Andii...." Teriak Toglo.
Andi yang lagi berduel dengan Ricard, melompat sambil berteriak.
"Paman tolong selamatkan ibuk." Teriak Andi sambil terus bergerak menyerang Ricard.
"Andi biar paman yang mengahbisi orang ini." Teriak Toglo.
"Jangan Pamam ini jatah ku paman, karena orang ini yang telah membuat ayah celaka dan ibuk di culik, awas paman..Heaaa." Teriak Andi melesit ke atas sambil memutar kan tubuhnya.
Buk buk
Deeeaasss....
Tendangan Parabol telah menggedor dagu ricard, dan ketika Andi sudah mendarat, langsung mendorongkan badannya sambil memasukan pukulan elbo.
Auuuuuggghhhh....
Ricard berteriak kesakitan sambil menahan keseimbangannya, tapi Andi tidak membiarkan lawannya untuk bergerak, dengan cepat Andi melompat.
__ADS_1
Hiuuuuuukkkk
Jebroooodd...
Pukulan tinju bumi Andi Melesat dengan sangat cepat dengan bobot yang sangat mematikan, menghnatam wajahnya Ricard.
Blaaaakkk..
Siuuuuuurrrss
Ricard langsung terpental menghntam tembok, dengan darah segar muncrat bah air mancur yang memancar, mata melotot mendelik seperti mau lepas dari kelopaknya.
Lalu Toglo memburu pada Tubuh Ricard dan memerikasanya. Setelah itu Toglo menarik napas panjang sambil berkata.
"Inalilahi wa ina ilaihi rojiun." ujar Toglo sambil mengusapkan telapak tangannya pada muka Ricard.
Kamal, Pandi, Gito, Jaroni dan Hasan saling pandang sambil berkata yang sama yaitu mengucapkan Ina lilahi wa ina ilaihi rojiun.
Setelah Andi tersadar dari amarah dan dendamnya, ia lalu jatuh terkulai dan lemas dengan menopangkan kedua lututnya ke lantai sambil menudukan wajahnya, tanpak di sadari bulir-bulir air bening hangat telah berjatuhan membasahi lantai keramik.
"Aku telah jadi pembunuh." Isak Andi.
Kemudian Toglo dan Jaroni melangkah menghampiri Andi.
"Sudahlah nak, yang telah terjadi terjadilah tidak usah di sesali, yang terpenting kejadian ini kamu jadikan pelajaran, bahwa dendam akan membuatmu menempuh lembaran hitam, mungkin ini juga sudah menjadi suratan takdir dari Ricard harus mati dengan cara begini, yang terpenting kamu berani bertanggung jawab." Ujar Toglo dan Jaroni sembari memegang bahunya Andi.
"Iya Paman, aku terlalu diliputi oleh amarah dan dendam, dan aku.pun tidak sadar seperti ada kekuatan yang telah mendorongku untuk membunuh manusia terkutuk itu." Isak Andi terus berlanjut.
................
Singkat cerita
Andi dan para famili Gang Si'iran telah membawa jenajah Ricard untuk di pulasara sesuai agama yang di anutnya dan di makamkan di pekaman umum Gang Si'iran.
Sementara Sutaji dan yang lainnya setelah sadar dari pinsannya, di bawa ke rumah sakit harapan untuk di obati dari luka-lukanya.
Dan Andipun akan bertanggung jawab atas apa yang telah di lakukannya pada Ricard nanti setelah semuanya terasa kondusip.
Sedangkan Sindi sudah bisa berkumpul kembali, tapi tidak seperti biasa, kejiwa'an Sindi agak sedikit terganggu, jiwanya kena depresi karena Nandi Suryaman lelaki yang sangat ia cintai harus meningglkannya dengan cara yang mengenaskan, karena ulah dari Geng Ricard.
Astuti pun terus berupaya mengobati Sindi dengan mendatangkan alhi psikiater. seminggu sekali untuk pengobatan pertama.
Mungkin butuh proses yang tidak sebentar untuk mengembalikan ke jiwa'annya Sindi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Nantikan kisah lanjutannya di epidode selanjutnya, beri like, comentar, saran, vote, Rat dan jadikan favorit bila suka.
Terima kasih 🙏🙏 atas dukungannya salam sehat sejahtera dan sukses selalu
__ADS_1