Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 58 Surat wasiat dari ayah.


__ADS_3

Senja pun kini telah datang untuk menyambut sang malam.


Toglo, Andi, Sindi dan Anggita, masih asik berbincang, sambil menunggu waktu maghrib tiba.


"Oh iya Om, gimana kabar Ali, mb Wulan, teh Wiwin dan kak Wawan?." Tanya Anggita.


"Alhamdulilah istri dan anak Om baik-baik saja, begitu pula kedua adiku semua pada sehat wal apiat." Jawab Toglo.


"Ya syukur, kalau semua keluargamu pada sehat Glo, aku pun senang mendengarnya, Wiwin ajak main kesini dong Glo." Pungkas Sindi ikut bicara.


"Iya Buk Bos, nanti apabila hari libur, hari-hari biasa Wiwin sibuk kerja." Ujar Toglo.


"Oh begitu, Wiwin kerja di mana Glo?." Tanya Sindi.


"Di sebuah perusaha'an Textil, Buk Bos, ya lumayan sih dari pada nganggur, buat memenuhi kebutuhannya se hari-hari, karena aku paling bisa ngasih buat jajan doang." Jawab Toglo.


"Ya iya sih, kan sekarang Om sudah punya anak istri." Timpal Anggita.


"Anak Paman namanya Siapa tadi?." Tanya Andi.


"Namanya Ali Erwanda, biasa di panggil Ali saja." Jawab Toglo.


"Nama Paman tercantum Juga pada anaknya." Ujar Andi.


"Iya sih, Biar Bin nya ke bawa gitu." Ujar Toglo sambil tertawa tipis.


"Iya benar Om." Tukas Anggita.


Setelah itu terdengar suara adzan berkumandang, Toglo dan Andi langsung beranjak pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjama'ah.


Selepas solat, Toglopun langsung pamit pada Sindi, Anggita dan Andi, berhubung sebentar lagi Jaroni akan segera tiba, untuk giliran berjaga khusus malam hari.


Andi yang sudah merasa penasaran dengan sebuah kotak dati ayahnya, yang di titipkan pada Toglo.


Kenapa Nandi menitipkan semua itu pada Toglo, bukan pada Sindi, Anggita atau Astuti.


Mungkin Almarhum Nandi punya alasan tersendiri.


Setiba di kamar Andi langsung menutup pintu rapat-rapat, lalu Andi menurunkan bokongnya duduk di atas ranjang, perlahan tangan kanannya merogoh saku celana bagian depan mengambil kotak tersebut.


"Apa sih isi dari kotak ini, gua jadi penasaran." Gerutu Andi sambil membuka tutup kotak itu perlahan.


Baru saja tutup kotak itu terangkat, Sindi memanggil sambil mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


"An, Andi, buka sebentar." Ujarnya.

__ADS_1


Andi terperanjat kaget lalu ia menyelipkan kotak tersebut ke bawah kasur.


"Iya Buk." Jawa Andi sambil beranjak bangun lalu melangkah membuka pintu kamarnya.


"Ada apa sih Buk?." Tanya Andi.


"Itu motor mu lho, ko gak di masukin dulu, barang peninggalan ayahmu kamu harus jaga dan rawat baik-baik." Ucap Sindi.


"Iya buk nanti, kan ada paman Jaroni." Ujar Andi.


"Ya iya ibuk juga tau, takutnya hujan nak, soalnya ayahmu dulu sangat apik, kamu pun harus merawatnya." Tukas Sindi.


"Iya buk." Ujar Andi sambil melangkah keluar rumah, untuk memasukan motornya ke garasi, samping mobil Pajero, yang sudah di perbaiki , dari keruksakan setelah mengalami kecelaka'an tempo dulu.


Andi pun kini sudah kembali lagi ke kamarnya, kali ini Andi mentup pintu dan langsung di kancing dari dalam.


Lalu tangan Andi menyelinap ke bawah kasur untuk mengambil kotak itu.


"Bismilahirohmanirohim." Cetus Andi sambil membuka tutup kotak itu.


Setelah kotak itu terbuka, Andi terbelalak, di kira isi kotak itu barang berharga, tak taunya cuma kalung dengan gantungan sebuah batu giok hijau empedu, bergaris tiga warna.


Andi meraih kalung itu, dan di bawahnya terselip kertas yang di lipat-lipat.


"Surat apa ini." Ujar Andi bermonolog.


Kemudian Andi mengambil kertas tersebut lalu di buka lipatannya dan di Bacanya.


Ma'apkah ayah ya, mungkin ayah tidak akan lagi bisa berjumpa dengan anak-anak dan istri, ayah sudah punya pirasat, tidak lama lagi akan di panggil sang pencipta.


Satu lagi pesan ayah, pakailah kalung itu, sebagai tanda kenang-kenangan dari ayah, insa Allah dengan perantara kalung itu kamu akan terjaga oleh kekuatan dari sang pencipta.


Jangan pernah tinggalkan solat ya, dan hanya satu pinta dari ayah, bila ayah tiada doakanlah ayah agar tenang menghadap ilahi.


Assalam mualaikum, anak dan istriku.


Setelah Andi selesai membaca surat itu, tidak terasa deraian air bening berjatuhan dari kedua netra Andi.


"Iya ayah, aku akan selalu menjaga dan menjalankan pesan Ayah, Oh jadi ini alasan Ayah menitipkan surat pada Paman Toglo, karena kalau sama ibuk atau Bibi pasti tidak akan kuat menahan kesedihan, ibuk dan kakak tidak boleh tau surat ini, pastinya kejiwa'an ibuk akan kambuh lagi." Lirih Andi bermonolog dengan terisak-isak menahan kesedihan yang mendalam.


Lalu Andi melipat kembali surat itu kemudian di masukan kedalam saku celana, untuk di hilangkan jejaknya besok pagi, karena Andi takut nanti ibuknya membaca, yang pastinya kejiwa'annya yang sudah membaik akan kambuh lagi.


Andi kini larut dalam kesedihan, Bulir-bulir air bening terus keluar membasahi kedua pipinya.


"Aku tidak boleh bersedih, aku harus sekuat ayah, ya Allah ampuni segala salah dan kehilapan ayah semasa waktu di dunia, dan tempatkan lah Ayah bersama orang-orang yang bertakwa." Ujar Andi sambil menghapus air mata yang mulai berhenti.


Kemudian Andi pun langsung memakai kan kalung tersebut.


Begitu kalung itu melingakar di lehernya Andi, Andi merasakan seperti ada sebuah kutub magnet yang menarik sebuah kekuatan masuk ke dalam


tubuh Andi.

__ADS_1


Kini malam pun sudah menunjukan pukul 23:30 menit.


Andi pun mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dari rasa dingin yang sudah mulai menyelimuti bumi.


.........


Ke esokan harinya.


Sekitar pukul 06:00.


Andi pergi ke suatau tempat untuk menghilangkan jejak dari tulisan sebuah surat dari mendiang ayahnya.


"Ma'ap Ayah, aku musnahkan tulisan ini, takut nanti ibuk tau, dan aku tidak mau ibuk sampai kenapa-napa." Batin Andi bermonolog sambil menyalakan sebuah korek api, lalu di bakarnya surat tersebut sampai menjadi abu.


Setelah itu Andi kembali berjalan menuju rumah, di tengah perjalanan Andi bertemu dengan kedua adik sepupunya konta dan Kanti yang lagi berolah raga dengan berlari pagi.


"Eh Bang Andi, Abang olah raga juga?." Tanya Kanti.


"Iya dek, Abang melatih otot-otot." Jawab Andi.


"Oh iya Bang ajarin kita silat dong." Celoteh Konta.


"Iya Bang Andi, Kanti juga pingin bisa bela diri." Pungkas Kanti.


"Ibukmu dan ayahmu, jago bela diri, Bela diri abang belum seberapa di banding sama Ibukmu dek." Timpal Andi.


"Abang suka gitu deh, Ayah dan ibuk tidak mau ngajarin aku bela diri." Ujar Kanti.


"Kalau kalian mau, kalian bisa minta di ajari pada Paman Toglo atau Paman Jaroni, emang di sekolah kamu tidak ikut latihan, kan ada seni bela diri Taekwondo sama Karate." Usul Andi.


"Di sekolah gitu-gitu aja, membosankan, beda lagi dengan belajar pada se orang guru." Tukas Konta.


"Ya sudah kalau kalian mau bisa bela diri, minta di ajarin pada Paman Toglo atau Paman Jaroni ilmu silat Cimande dan tarung derajat." Ujar Andi.


"Emang abang tidak mau ngajarin kita nih." Cetus Konta


"Bukannya Abang tidak mau, tapi abang belum pantas untuk menjadi seorang guru, karena bela diri abang masih banyak ke kurangannya." Ujar Andi.


"Oh begitu, terus kapan." Tukas Konta.


"Nanti abang bicarakan sama Paman Toglo dan Paman Jaroni." Timpal Andi.


Setelah itu merekapun langsung berlari-lari pagi menyusuri sepanjang jalan Gang Si'iran.


Andi yang sebelumnya tidak ada niat berolah raga, kini jadi ikutan berlari sama Konta dan Kanti.


Tapi ada baik juga Andi bisa berjumpa dengan Konta dan Kanti, bisa keluar keringat, dan ibuknya tidak akan curiga, dengan kepergiannya keluar rumah pagi-pagi sekali.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=Bersambung\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih pada para Reader dan para Author yang sudah memberi dukungannya.

__ADS_1


Salam sehat sejahtera dan sukses selalu.


__ADS_2