Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Rps 84 Ancaman.


__ADS_3

kedatangan Andi dan Vina di sebuah kedai, menjadi sorotan dan omongan para Karyawan, apalagi yang sebelumnya suka nakal pada Vina, kini seperti kalah dalam saing.


"Woii Ji, coba lo' lihat Rara datang sama siapa?." Ujar AZam sambil mencolek Pinggangnya Oji.


Oji pun menoleh ke arah pintu masuk ruangan kedai, nampak Rara berjalan bersama Andi begitu berbeda dengan biasanya.


"Wah kalah nih gue kalau harus bersaing sama Bos Andi, udah tajir Tampan lagi." Ujar Azam pelan.


Azam dan Oji yang bekerja di bagian pergudangan itu ternyata menyimpan perasa'an sama Rara Amyati.


"Persaingan untuk mendapatkan cintanya Rara akhirnya telah di menangkan sama Bos Andi, kita tidak punya harapan lagi nih." Ujar Oji.


"Kalau buat Bos Andi, gue nglah deh, dan gue dukung semoga Bos Andi sama Rara bisa langgeng sampai ke jenjang pernikahan." Tukas Azam.


"Iya gue juga dukung, soalnya Bos Andi orang baik, sudah sepantasnya mendapat gadis sebaik Rara." Timpal Oji.


.................


Sementara di tempat lain.


Di sebuah kantor Pt Wirata Sentosa, Vina nampak murung tidak bersemangat dalam melakukan pekerja'annya.


Karena hatinya kini telah terbakar oleh pemandangan yang ia lihat di lampu merah jalan Mengkudu.


Mestinya Vina bisa menyadari akan hal itu, karena itu semua, Vina yang mulai, dan Vina pula yang mengakhiri.


Ke kesalannya Vina sampai di bawa ke tempat ia bekerja, banyak para karyawan yang kena imbasnya atas kekesalaannya.


Ketika Vina lagi marah-marah, munculah Adi Rangga.


"Kamu kenapa, tiba-tiba marah-marah sama karyawan." Tegur Adi Rangga sambil menarik tangan Vina di bawa ke ruangan kerjanya.


"Lepasin saya, kamu gak ada hak larang-larang aku." Berontak Vina.


"Kamu ini istri aku, dan saya berhak tahu, apa penyebab kamu sampai marah-marah begitu." Bentak Adi Rangga.


"Iya aku juga tahu, aku istri kamu, tapi aku terpaksa menikah sama kamu karena ke inginan mmah, dan itu semua gara-gara kamu yang terus meracuni pikiranku dengan guna-guna, sehingga aku jadi benci dan berpisah dengan lelaki yang aku cintai." Tukas Vina.


"Owh, berarti orang yang bernama Andi kini telah hadir kembali di hidupmu, ayo jawab." Bentak Adi Rangga.


"Iya, terus kamu mau apa." Jujur Vina.


"Kurang ajar,, plaaaakkk." Adi Rangga naik Vitam, bersama'an dengan mendaratnya sebuah tamparan di pipi Vina.


Satu tamparan keras telah Vina rasakan, kini ia semakin kuat untuk berontak.


"Suami macam apa kamu yang ringan tangan, satu tamparan kamu sudah cukup membuat aku muak melihat kamu, kalau aku mau, ku bisa membalas tamparanmu itu. jangan kau kira aku tidak bisa melakukan itu kepadamu." Tukas Vina sambil melepaskan pukulannya.


Buukkk


Bogem mentah Vina telah bersarang di wajahnya Adi Rangga, sehingga membuat Rangga menjadi sempoyongan.

__ADS_1


Kegaduhan di ruangan kerja Vina sampai terdengar oleh sekertaris dan para pekerja kantor yang lainnya.


"Buk Vina lagi berantem sama pak Rangga, ko bisa ya, awalnya mereka terlihat romantis, iih amit-amit deh." Bisik salah satu pekerja.


"Ya begitulah, kalau pernikahan tidak di dasari oleh rasa cinta." Bisik yang lainnya.


Pertengkaran Vina dan Rangga sampai terdengar oleh pak Pajar Arya Wirata, dari obrolan salah satu karyawannya, lalu Pajar bertanya.


"Ada apa kalian ribut-ribut?." Tanya Pajar.


"Itu Pak, Buk Vina sama pak Rangga bertengkar." Ujarnya.


Mendapat laporan dari salah satu karyawannya Pajar langsung bergegas pergi menuju ruangan kerjanya Vina.


Setiba di depan pintu masuk ke ruangan Kerja Vina, Pajar mendengar pertengkaran adu mulut antara Vina dan Adi Rangga.


Lalu Pajar mendorong pintu, dan melangkah masuk, untuk menghentikan pertengkaran Itu.


"Kalian ini apa-apa'an sih, memalukan mau di taro di mana reputasi perusaha'an ini, kalau pemimpinnya sudah beralku kaya preman." Bentak Pajar.


Vina dan Rangga terdiam sejenak, sambil menundukan wajahnya.


"Kalau ada masalah dalam keluarga, jangan sampai di bawa ke tempat kerja, bagaimana jadinya nanti perusaha'an ini." Tukas Pajar.


"Bukan aku yang duluan pah, tapi mantu papah tuh yang mulai duluan." Ujar Vina.


"Justru Vina pah yang marah-marah gak jelas kepada karyawan, karena pemuda bernama Andi itu kini telah hadir kembali di hidup Vina." Jelas Rangga, sambil melangkah keluar meninggalkan istri dan mertuanya itu.


Lalu Rangga menarik pintu mobilnya, dan melangkah masuk, duduk di jok sambil memegamg setir, kemudian mobil pun di nyalakannya.


Mobil melaju keluar dari halaman kantor dengan cepat.


Seperti tidak ada lagi kata untuk di tunda oleh Rangga.


Rangga terus mengemudi kendaraannya dengan cepat, lalu ia masuk Pada kawasan tempat para preman bayaran, pas kebetulan mereka lagi pada nongkrong.


Kemudian Rangga menghentikan kendara'annya, lalu melangkah keluar dari dalam mobil.


Nampak ada enam orang pria berwajah serem, memandang tajam pada Rangga yang lagi berjalan mengarah pada mereka.


Para preman itu bangkit berdiri dari tempat duduknya.


"Sepertinya akan ada rijki besar nih hari ini." Bisik lelaki berbadan besar.


"Iya benar Bang."


Setibanya Rangga di hadapan mereka.


"Selamat siang Bang." Ujar Rangga.


"Siang juga, ada perlu apa anda datang kemari." Ujar Jorda bertanya pada Rangga.

__ADS_1


"Saya membawa makanan lezat untuk kalian, tapi kalian harus bekerja terlebih dahulu." Ujar Rangga.


"Lantas kerja'an apa? Yang mesti kami kerjakan." Tukas Jorda bertanya.


"Membunuh." Bisik Rangga di kupingnua Jorda.


"Hehh itu soal gampang, yang penting upahnya berani gak." Ujar Jorda.


"Jadi abang biasa di bayar berap?." Tanya Rangga.


"Itu tergantung pada targetnya, bila tergenya kelas elit kaya pejabat dan lain sebagainya, itu bayarannya sangat mahal.


"Yang ini bukan pejabat, cuma se orang pemuda, tapi bukan pemuda sembarangan." Bisik Rangga.


"Bisa kami lihat targetnya." Pinta Jorda.


Lalu Rangga mengeluarkan ponselnya dan di buka aplikasi galeri, kemudian di perlihatkannya sebuah poto se orang pemuda tinggi ganteng dan gagah.


"Ini orangnya." Bisik Rangga.


"Hahahaaa,, cuma kecoa." Ujar Jorda.


"Heh abang harus hati-hati pemuda ini jago berantem." Bisik Rangga.


"Tenanglah, kami sering mendapat target yang begini, dan hasilnya selalu mulus, ya sudah seratus juta hari inipun akan kami kerjakan." Tukas Jorda.


"Wah mahal amat sih bang." Ujar Rangga.


"Itu terserah, anda berani bayar segitu kami pun langsung bekerja." Ujar Jorda.


"Okelah kalau begitu, deal dan sementara saya bayar DP dulu, bila hasilnya mulus baru saya lunasin gimana apa abang sanggup." Tukas Rangga.


"Wah licik juga orang ini." Batin Jorda.


"Oke, lokasi targetnya di mana?." Tanya Jorda.


"Pemuda ini tinggal di Gang Si'iran, dan kesehariannya ia membengkel miliknya pribadi, tapi bukan bengkel ecek-ecek, bengkel kendara'an roda dua terbesar di kota ini." Ucap Rangga.


Setelah Rangga memberikan DP pada Jorda, Rangga langsung cabut pergi meninggalkan tempat itu.


Jorda, Babon, Tenggo, Murdok dan Rasman akhirnya melakukan rundingan untuk mulai melaksanakan kerja'annya.


"Target berapa bang Jorda?." Tanya Babon.


"Seratus juta, lumayan kan." Jawab Jorda.


"Mimpi apa kita semalam, lama nih kita tidak ada target begini." Pungkas Tenggo, Mudok dan Rasman.


"Pokoknya hari ini kita vesta, sebelum kita beraksi, sebaiknya kita mrnghangatkan tubuh kita dulu, dengan minuman yang segar, Hahahaa." Girang Jorda dan ke empat kawannya.


Mereka pun langsung pergi dengan menggunakan kendara'annya, kendara'an roda dua yang mereka gunakan, supaya dalam pergerakannya lebih cepat dan leluasa.

__ADS_1


Ke lima motor yang telah di modifikasi model dan bentuknya dari setandar pabriknya, kini telah memasuki sebuah kedai tempat ia melakukan vesta dengan meminum alkohol dengan kadar dan golongan tinggi.


__ADS_2