Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 123 Menjenguk


__ADS_3

Dua puluh menit setelah Victor di kasih air pemberian Andi, dan sisanya di pakai buat memasuh luka yang membiru di dadanya.


Jari jemari Victor nampak bergerak, kemudian matanya terbuka perlahan-lahan.


Salah se orang dari mereka lalu beranjak bangkit dan berjalan ke arah Andi dan Konta yang lagi menunggu kabar tentang Victor.


"Bang Victor sudah siuman Bang." Ujarnya.


"Oh ya, syukur Alhamdulilah kalau begitu, sekarang gua dan adik gua merasa lega untuk meninggalkannya." Tukas Andi.


"Ya sudah gua pergi dulu ya." Lanjut Andi pamitan.


"Iya Bang."


Setelah itu Andi dan Konta langsung menyalakan motornya dan melaju meninggalkan para kawanan Victor.


Setelah Andi dan Konta tidak nampak lagi, pria itu langsung bergegas kembali pada rekannya yang lagi membantu Victor untuk berdiri.


"Kenapa dengan gue, lalu kemana si Andi keparat itu." Ujar Victor masih tetap aja memendam amarah dan dendamnya pada Andi.


"Tenang dulu Bang, Abang tadi terhempas sampai kesini terkena pukulannya si Andi, mulanya kita merasa khawatir dengan kondisi abang yang tidak sadarkan diri, tapi setelah abang meminum air obat yang di berikan oleh Andi, akhirnya Abang mulai siuman." Ujarnya.


"Apa lo' bilang, si Andi memberikan gue obat ramuan, ramuan apa?." Tanya Victor.


"Ya kita gak tau bang, ramuan apa yang telah Andi berikan sama abang." Ujarnya.


"Kalau gue tau si Andi memberikan ramuan obat pada gue, gue gak bakalan sudi." Tukas Victor dengan congkaknya.


"Sementara simpan saja dulu dendam abang, yang terpenting bagi abang sekarang sembuhkan dulu luka dalam Abang." Timpalnya.


Kemudian Victor dan kawanannya, bergegas memburu pada sepeda motor, Victor yang tidak memungkinkan untuk membawa kendara'annya sendiri, akhirnya Victor di bonceng oleh Bendi.


......................................


Sementara di tempat lain.


Andi dan Konta yang sudah sampai di rumah, bertepatan dengan tibanya waktu maghrib.


Andi dan Para warga Gang Si'iran, langsung berbondong-bondong pergi ke Masjid untuk melaksanakan ibadah solat berjama'ah.


Sepulang dari masjid dan setelah mengganti salinnya, Andi duduk sambil merebahkan badannya pada sandaran bangku yang berada di samping taman.


Sebuah handphond yang tergeletak di meja, nampak bergetar.


Drreeettt dreett ..


Andi langsung menoleh, nampak terlihat di kedua netranya Andi sebuah panggilan masuk di whatssap.


"Ngapain Vina memanggil gua." Ujar Andi bermonolog sambil meraih handphondnya.


📞.Andi "Halo Vina ada apa lo' memanggil gua."


Ternyata nomor yang menghubungi Andi itu adalah Vina Artiyana.


📞.Vina "Selamat malam An, sori ya kalau gue mengganggu waktu istirahat lo."

__ADS_1


📞.Andi "Tidak apa ko, lagian gua juga lagi ngadem di samping taman."


📞.Vina "Gimana kabarnya An?."


📞.Andi "Alhamdulilah hari ini kabar gua lagi baik- baik aja, sebaliknya gimana kabar lo?."


📞.Vina "Alhamdulilah kabar gue juga baik, oh iya gimana kabar Rara.


📞.Andi "Kabar Rara Alhamdulilah baik."


📞.Vina "Syukur deh kalau kalian dan semua famili Gang Si'iran pada baik-baik, gue cuma mau ngabarin bahwa bokap gue lagi di rawat di Rumah Sakit Harapan."


📞.Andi "Masya Allah sakit apa, dan posisi kamu sekarang di mana?."


📞.Vina " Di Rumah Sakit baru aja datang, Gak tau aku juga bingung, yang jelas karena pikiran."


📞.Andi "Lho ko bisa, mikirin apa lagi, secara materi bokap lo sudah sangat sukses dalam bisnisnya."


📞.Vina "Ya itulah yang menjadi pikiran Ayah sekarang, Bisnis turun drastis, semua klien dan para relasi bisnis Ayah pada mencabut kerjasama, dan data perusaha'an ayah seperti ada yang membekukan."


Mendengar cerita dari Vina tentang kondisi kesehatan ayahnya, karena memikirkan bisnisnya yang lagi amblas, sekilas Andi langsung teringat pada Rangga mantan suaminya Vina.


📞.Andi "Apa? Data perusahan ayahmu seperti ada yang membekukan, gua yakin ini pasti ada orang yang telah mengetahui banyak semua data perusahaan bokapmu itu."


📞.Vina "Iya aku juga berpikir begitu, dan ada orang yang lagi aku selidik."


📞.Andi "Ya sudah nanti aku akan besuk bokapmu, semoga aja bokapmu segera cepat sembuh."


📞.Vina "Iya An, Amiiin, makasih ya kamu tetap baik padaku dan keluargaku, jangan lupa bawa Rara ya."


Panggilan pun langsung di tutupnya, kemudian Andi mengirimkan sebuah chat pada Rara, mengajak Rara untuk menjenguk orang tuanya Vina yang lagi di rawat di Rumah Sakit Harapan.


Rarapun langsung membalas


📱. "Iya Aa."


Setelah mendapat balasan dari Rara, Andi langsung bergegas masuk kedalam rumah menuju kamarnya, untuk mengganti pakaiannya.


Andi mengenakan kameja warna Gray yang di lapisi sebuah jas warna coklat muda, dengan celana hitam.


Lalu Andi berjalan mendekati pintu kamarnya ibuknya.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum Buk." Sapa Andi.


Kemudian Pintupun terbuka bersama dengan munculnya Sindi.


Sindi terbelalak memandang Andi naik turun.


"Waww, benarkah ini putraku, ganteng banget kamu nak, ee'eh emang nya kamu mau menghadiri sebuah pesta apa, ko sampai rapi banget?." Tanya Sindi.

__ADS_1


"Bukan Buk, aku mau ngajak Rara jalan-jalan sekalian mau mampir ke Rumah Sakit." Jawab Andi.


"Emang siapa yang Sakit?." Lanjut Sindi bertanya.


"Ayahnya Vina Buk." Jawab Andi.


"Vina yang teman sekolahmu itu yang sekaligus mantan pacarmu." Tukas Sindi.


"Iya Buk."


"Lho, emangnya Rara tidak cemburu dengan Sikapmu itu, kamu juga harus bisa jaga dan menghargai perasa'annya Rara nak, kalau memang kamu sudah jadian sama Rara." Tukas Sindi.


"Kalau jadian sih belum buk, kita masih dalam batas suka dalam pertemanan." Ujar Andi.


"Kamu suka sama Rara?." Tanya Sindi.


"Suka." Jawab Andi.


"Kenapa tidak jadian aja." Ujar Sindi memberi gagasan.


"Aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama buk, aku ingin lebih mengetahui kepribadian Rara lebih dalam, intinya aku sama Rara lagi saling mencocokan, kan sebuah pernikahan hanya sekali seumur hidup, dan jangan sampai sebuah pernikahan jadi hancur di tengah perjalanan." Jelasnya Andi.


"Wah waah, anak ibuk memang top, bagus itu, kamu se orang lelaki harus bisa menentukan yang terbaik buah kehidupanmu."


"Aku pergi dulu Buk." Tukas Andi sambil mencium punggung telapak tangan ibuknya.


"Iya nak, kamu hati-hati."


Setelah itu Andi langsung mengambil kunci mobil pajero yang biasa di simpan di laci lemari di ruang keluarga.


Setelah itu Andi berjalan keluar Rumah, begitu Andi tiba di Garasi, nampak terlihat dari cahaya lampu Rara sudah berada di luar gerbang.


Kemudian Andi meminta pada Jaroni untuk membuka kan pintu gerbangnya.


"Ma'af Paman, bukain pintu gerbangnya." Pinta Andi.


Jaroni pun langsung sigap membuka pintu gerbang dengan mendorong ke samping kanan gerbang.


Andi pun lalu masuk ke dalam mobil Pajero New Sport, duduk memegang kemudi.


Setelah mobil di nyalakan Andi langsung melaju keluar dari garasi.


"Paman aku pergi dulu ya." Pamit Andi pada Jaroni.


"Iya Den hati-hati."


Setelah mobil keluar dari pintu gerbang, Jaroni pun langsung mendorong kembali pintu gerbang untuk di tutup.


Sedangkan Rara yang sedari tadi menunggu, kini sudah berada di dalam mobil duduk di depan sampingnya Andi.


Mobil pun mulai melaju menyusuri sepanjang jalan Gang Si'iran.


Malam itu langit nampak cerah, bintang pun sudah nampak satu dua.


Andi terus melajukan mobilnya memasuki jalan Delima.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mobil yang Andi kemudi telah memaski area parkiran Rumah Sakit Harapan.


__ADS_2