Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 161 Jiwa petarung


__ADS_3

Seharian Andi di Jalan Ketupat, ikut bekerja membantu tukang, memperbaiki dan menambah ukuran bangunan bengkel maupun toko menjadi lebih luas lagi.


Satu bulan kemudian bangunan dan Toko spare part serta pintu gerbang yang terbuat dari besi galvanis telah selesai.


Fasilitas di bengkel dan Toko kini semua komplit sama halnya seperti di Gang Si'iran, bengkel customnya juga ada.


Kini bisnis Andi di dunia otomotif semakin bertambah maju, banyak para pengunjung dari berbagai wilayah berdatangan.


Tapi begitulah kehidupan yang selalu berdampingan antara positip dan negatip, walaupun Andi mempunyai hati yang baik dan tidak pernah mencari gara-gara pada siapapun, selalu ada aja yang membenci, mungkin karena tuhan lagi menguji Andi untuk mencapai ke suksesannya.


Seperti halnya, ketika hari sudah berganti sore, Andi pun sudah mulai menutup Bengkel dan tokonya,


Tiba-tiba ada dua orang berboncengan dengan mengendarai kendaraan roda dua, memasuki gerbang bengkel yang belum di tutupnya.


Kedua orang itu melangkah turun dari motornya, dengan postur tubuh tinggi besar dan berotot.


Andi langsung menoleh ke arah dua orang yang lagi berjalan mendekatinya.


"Ma'af Bang bengkelnya sudah tutup, dan karyawannya sudah pada pulang." Ujar Andi.


Kedua orang itu tersenyum ketus sambil menyunggingkan bibirnya.


"Siapa yang mau ke bengkel." Ujarnya.


"Oh kirain abang mau ke bengkel, lalu kalian berdua mau apa?." Tanya Andi.


"Ya terserah gue dong mau apa juga." Jawabnya dengan ketus.


"Lhoo ko abang berkata begitu, ini kan bengkel dan toko ada pemiliknya, apa abang tidak tau Undang-Undang, memasuki pekarangan orang tanpak se ijin yang punya, bisa di kenakan denda atau kurungan penjara." Ungkap Andi.


"Elo' ngancam gue." Bentaknya.


"Ya bukan ngancam sih bang, kan gua tadi nanya baik-baik, dan abang berkata sangat tidak sopan, emang gua punya salah apa pada kalian, perasaan kenalpun kagak." Tukas Andi.


"Elo' yang bernama Andi?." Tanya salah satu dari lelaki berotot itu.


"Iya gua Andi, emang ada perlu apa sama gua." Jawab Andi.


Kedua orang itu saling pandang dengan rekannya, tersenyum menyeringai penuh keji.


"Katanya elo jagoan." Cibirnya.


Andi tersenyum sambil garuk alisnya, lalu bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Ini orang mau apa, datang-datang langsung berkata begitu, perasaan gua tidak punya masalah sama kedua orang ini," Gumam Andi dalam hati.


Kedua orang itu berjalan sambil melihat-lihat di sekitar bengkel dan toko.


Berlaga seperti jagoan apa mungkin karena punya badan besar dan berotot, seakan memandang rendah pada Andi.


"Gua bukan jagoan bang, gua cuma manusia biasa, dan abang sudah salah alamat, ma'af sebelumnya pada abang berdua, karena gerbangnya mau gua kunci, silahkan abang keluar dulu." Ujar Andi.


Mendengar Andi berkata seperti mengusir, kedua orang itu langsung membuka matanya.


"Sombong benar lo', sudah berani mengusir gue." Bentaknya.


"Lhoo, abang ini gimana sih, kan gua mau tutup dan mau pulang, kalian berdua ini waras apa tidak sih." Tukas Andi.


"Bangsat berani benar kau bilang begitu pada kami." Bentaknya.


Lama-lama Andi jadi pusing juga dengan kedua orang itu.


"Gua bicara baik-baik, kalian malah begitu, gua mau tanya sama elo-elo berdua, sebenarnya apa yang elo mau dari gua?." Tanya Andi.


"Gue mau kepalamu Bangsat." Ujarnya.


Kesabaran Andi sedikit demi sedikit mulai menghilang, tidak ada hujan tidak angin, tiba-tiba ada dua orang masuk dan bikin gara-gara.


"Kurang ajar kau, heeeaaa." Teriak Orang itu langsung mengayunkan tinjunya yang besar dan kekar.


Andi berlari ke arah tempat yang lebih leluasa.


Dan kedua orang itu langsung mengejar Andi, sambil berteriak memaki.


"Jangan lari kau." Teriaknya.


Lalu Andi pun berhenti sambil membalikan badannya ketika sudah berada di halaman toko yang lebih luas.


"Tidak ada dalam kamus gua, harus lari pada cecunguk macam kalian." Ujar Andi.


Kedua orang itu semakin tidak terkendali emosinya, keduanya langsung mengayunkan bogemnya dari dua arah.


Andi hanya tersenyum dengan gerakan kedua lelaki berotot itu yang kaku, mungkin karena postur dan otot yang besar jadi mereka beranggapan akan dengan mudah mengalahkan Andi Nayaka.


Justru Andi hanya dengan mudahnya mengelak dari serangan kedua lelaki berotot itu.


Gerakannya sangat dengan mudah bisa di baca oleh Andi.

__ADS_1


Mereka terus menyerang Andi dengan brutal dan sadis, tapi serangan demi serangannya tak mampu menyentuh anggota tubuh Andi.


Andi sengaja belum memberikan serangan balik, rupanya Andi ingin mengajak mereka bermain-main dulu dan menguras abis tenaga kedua lelaki berotot itu.


Kedua lelaki itu mulai nampak kesal, karena serangan demi serangannya tidak membuahkan hasil yang di inginkannya, Andi yang di kira akan dengan mudah untuk mengalahkannya ternyata laksana burung merpati yang susah untuk di tangkap.


Keringat mulai membasahi tubuh mereka, wajahnya mulai me merah menahan napsu amarahnya.


"Heh bangsat jangan cuma menghindar saja cepat lawan kami." Dengusnya dengan sedikit ngos ngosan.


"Gua tidak ada urusan dengan kalian berdua, makanya gua lebih baik menghindari serangan kalian." Tukas Andi.


"Sekarang lagi berurusan sama kami." Bentaknya.


"Gua belum mengerti apa permasalahannya, tiba-tiba saja kalian datang mengajak gua berduel." Timpal Andi.


Kedua lelaki itu tidak banyak berkata lagi secara bersama'an mereka mulai lagi melancarkan serangan demi serangannya.


Andi tetap pada pendiriannya sebelum tau duduk persoalannya ia tidak memberi perlawanan sedikitpun, cuma menghindar dan menghindar.


Napsu amarah kedua lelaki tersebut semakin memuncak, serasa di lecehkan sama anak kemarin sore.


"Bedebah, ternyata benar apa kata orang, Andi Nayaka se orang petarung yang hebat." Bisiknya pada rekannya.


"Iya benar sekali bang, dia sangat licin dan sangat sulit untuk di sentuh." Balas rekannya berbisik.


Andi tersenyum tipis, tidak nampak di wajahnya ada amarah atau benci pada kedua lelaki tersebut, malahan Andi berusaha untuk menyudahi pertikaian itu.


"Sudahlah Bang, gua heran sama kalian, emang gua punya salah apa pada kalian, kenapa gua nanya dari tadi tidak kalian jawab." Ujar Andi meminta menghentikan pertikaian itu.


Lelaki itu malah tertawa dan mengejek pada Andi.


"Hahaha...Rupanya elo mulai gentar ya pada kami, mana Andi Nayaka yang katanya se orang petarung hebat." Cibirnya.


"Gua gak merasa hebat, yang lebih hebat hanya Tuhan semesta (Allah Subhanahu wata'ala)." Ujar Andi.


"Ah banyak bacot lo' ayo cepat lawan kami, atau elo' sudah tidak punya nyali untuk melawan kami." Ujar lelaki itu memaksa pada Andi untuk memberi perlawanan padanya.


Dari tadi Andi mencoba untuk bersabar, suapaya tidak terjadi pertikaian, tapi lama-kelamaan kedua lelaki itu semakin membuat Andi tak bisa lagi untuk bersabar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih pada Para Author dan para Raeder yang masih setia memberi dukungan.

__ADS_1


Ma'af apabila dalam penulisannya ada salah kata atau taypo, hahaha... jari jemariku terlalu besar terkadang mau ketik T malah Y dan R.


__ADS_2