Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 164 ODGJ


__ADS_3

Malam pun terus berlalu, angin pun sudah meniup terasa dingin menembus pori-piri kulit.


Ketiga sahabat, masih nampak asik duduk santai sambil menikmati sebatang roko dan secangkir kopi yang terus menemani mereka dengan setia.


Di suasana malam yang tersa sepi mencengkam, mereka tiba-tiba di kagetkan dengan suara gaduh dari para warga Gang Si'iran.


Andi, Erik dan Abeng sampai memasang kedua indra pendengarannya.


"Suara apa itu." Cerus Andi.


"Sepertinya suara keributan." Timpal Abeng.


"Iya betul itu, seperti ada keributan arahnya dari depan Gang Si'iran." Tukas Erik.


Kemudian Andi, Abeng dan Erik beranjak bangkit dari tempat duduknya, ingin memastikan suara keributan itu.


Ketika Ketiga sahabat itu mau melangkah keluar gerbang, dari arah utara nampak ada dua orang lelaki berlari ke arah Andi, Erik dan Abeng.


"Itu seperti pak Rt dan Mang Udin, kenapa mereka." Ujar Andi sambil memandang pada kedua lelaki itu yang sudah mulai mendekat.


"Pak Rt mang Udin ada apa?." Tanya Andi.


Kedua lelaki yang di panggil Rt dan Udin oleh Andi, nampak ngos-ngosan begitu tiba.


"Wah kebetulan nak Andi lagi ada di rumah." Ujar Rt sambil mengatur pernapasannya yang turun naik.


"Ada apa pak Rt?." Andi bertanya.


"Nak Andi sekarang ikut saya cepetan." Paksa Pak Rt sambil menarik tangannya Andi.


"Iya ada apa sih?." Lanjut Andi bertanya.


"Ada orang ngamuk nak Andi, tenaga nya kaya kesandingan seratus gajah, warga pun tidak sanggup menghentikannya." Ujar Pak Rt.


"Ya sudah, Rik, Bang kalian mau ikut gak atau mau tunggu di sini." Ujar Andi.


"Ya elah An, kita ini sahabat, masa iya gua dan Erik mau diam saja, iya gak Rik." Tukas Abeng sambil menoleh pada Erik.


"Yo'ii Bro."


Kemudian Andi, Abeng dan Erik serta pak Rt dan mang Udin langsung bergegas pergi menuju kedepan ujung jalan Gang Si'iran.


Mereka berjalan dengan sangat tergesa-gesa, menuju depan jalan Gang Si'iran.


Setiba di tempat nampak banyak orang berkerumun sambil maju mundur, menghindari orang dalam gangguan jiwa yang mengamuk, merusak kaca rumah dan warung dagangan warga.


Melihat kedatangan Andi, Erik dan Abeng, warga Gang Si'iran nampak semringah.

__ADS_1


"Wah bang Andi telah datang." Seru warga memberi tahu pada yang lainnya.


"Ayo Bang Andi, lumpuhkan orang gila itu, kami tidak kuat, tenaganya kaya Gajah." Cetus salah satu warga.


"Saya juga gak bisa apa-apa paling hasilnya sama seperti kalian." Ujar Andi merendah.


"Bang Andi suka merendah persis kaya ayahmu Bang kidal." Tukasnya.


Sementara ODGJ menggeram sambil meruksak apa saja yang ada di depannya.


Melihat begitu, Andi merasa terpanggil untuk melumpuhkan orang gila itu, karena kalau di biarkan akan banyak warga yang mengalami kerugian material.


Andi berjalan di tengah-tengah ke rumunan orang yang di ikuti oleh Abeng dan Erik.


Nampak orang gila berbadan besar, dengan rambut gondrong ikal memandang pada Andi, Erik dan Abeng yang baru datang, dengan sorot matanya yang tajam kemerahan.


Orang gila itu menggeram sambil melangkah mendekati pada Andi, Erik dan Abeng.


"Rik elo incar bagian tangannya, dan elo' Bang di bagian kakinya, sedangkan gua akan melumpuhkan orang gila itu di bagian tubuhnya, dengan menotok aliran darahnya." Pinta Andi.


Orang gila itu Berteriak menggeram seperti suara auman harimau.


Andi, Abeng dan Erik siap siaga pasang kuda-kuda, bergerak memutari orang gila tersebut.


Ketika itu Andi Erik dan Abeng langsung menyergap orang gila itu.


Tapi apa yang Andi rencanakan tidak membuahkan hasil, orang gila itu begitu kuat sekali tenaganya sangat susah untuk di jatuhkan.


"Buset ini orang apa si hulk sih, tenaganya begitu kuat sekali." Ujar Erik.


Ketika Andi lagi dalam kebingungan, memikirkan bagaimana caranya untuk melumpuhkan orang gila itu.


Lalu Andi teringat dengan kalung warisan dari mendiang ayahnya yang di pakainya.


"Bismillah hirohman ni rohim." Batin Andi sambil menggigit batu giok dari gantungan kalung nya itu.


Andi merasakan badannya seperti berat tapi anehnya sangat enteng bila di gerakan.


Orang gila itu langsung menyerang Andi, dengan cakaran-cakaran tangannya.


Dengan sangat entengnya Andi menangkap kedua tangannya orang gila tersebut.


Kini Andi dan orang gila itu saling dorong adu kekutan, seperti pertarungan si Hulk dan Raja kingkong.


Di sa'at Andi dan ODGJ lagi adu kekuatannya, Andi meliukan badannya ke samping sambil menarik ke dua tanga ODGJ itu.


Hiiuuukkk

__ADS_1


Blaakk..


Tubuh ODGJ itu dengan sangat mudah sekali Andi bantingkan ke tanah.


Erik dan Abeng yang sudah siap siaga dengan rante yang di berikan oleh pak Rt, langsung sigap menyergap ODGJ itu, lalu ke dua tangannya di tarik ke belakang dan di ikat oleh Erik dan Abeng dengan Rante yang sudah siap sedari tadi.


Hmmmmm


Hmmm


ODGJ itu menggeram dengan sorot matanya yang tajam berwarna merah menyala.


"Diam kau, kamu sudah banyak merugikan warga." Ujar Andi sambil menepuk ubun-ubun kepala orang gila tersebut.


Anehnya ketika telapak tangan Andi menelungkup di ubun-ubun kepala orang gila itu, ia langsung melemah, tidak ganas lagi seperti semula.


"Sekarang gimana pak Rt." Ujar Andi.


"Kita bawa aja ke rumah sakit jiwa, kemungkinan, ini pasen yang lepas dari RSJ." Tukas Pak Rt.


Semua warga Gang Si'iran sangat kagum dan takjub pada Andi, hanya dengan mudah bisa menaklukan orang gila yang tenaganya seperti kemasukan sebuah kekuatan yang sangat sukar untuk di tandinginya.


"Untung ada Andi ya." Ujarnya.


"Iya betul, coba aja kalau tidak ada Andi, mungkin kerugian warga akan bertambah banyak, lantas siapa yang mau ganti rugi material yang hancur akibat orang gila itu." Cetusnya.


"Nanti kita obrolkan saja sam pak Rt dan Pak Rw." Ujarnya memberi solusi.


Selepas itu Pak Rt, Andi, Abeng dan Erik membawa ODGJ itu ke dalam mobil untuk di bawa ke Rumah Sakit Jiwa.


Skip


Sementara di tempat lain.


Bela dan Brian yang nampak bdlum bisa tidur di kamarnya masing-masing.


Brian nampak gelisah, pikirannya terus terpanteng pada sosok wanita cantik berlesung pipit.


"Kenapa gue jadi kepikiran terus sama Anggita, mungkinkah Anggita mempunyai perasa'an yang sama seperti gue." Batin Brian bermonolog.


Brian lalu bangun dari tempat tidurnya, melangkah turun, berjalan keluar dari kamarnya.


Ketika Brian keluar dari kamar, secara kebetulan Bela pun keluar, kedua kakak beradik itu saling pandang dan berkata.


"Lo' belum tidur?." Tanya Brian pada Bela.


"Abang sendiri kenapa jam segini belum tidur?." Bela balik bertanya.

__ADS_1


"Gak tau kenapa gue gak ngantuk." Jawab Brian.


"Lha gue juga sama, rasanya mata ini enggan untuk di pejamkan." Ujar Bela.


__ADS_2