
Sepulang dari Bengkel Andi, langsung ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dari keringat dan kotoran bekas oli yang masih terasa lengket.
Selepas itu Andi duduk di depan di dekat taman, sambil menghirup udara sore hari yang terasa sejuk, menambah indahnya suasana dengan seripitan kopi hitam dan hembusan asap putih dari isapan sebatang roko.
Sejenak angannya melayang jauh, memikirkan sang kekasih yang semakin hari semakin terasa menjauh.
Tetapi Andi tidak terlalu di ambil pusing, ia hanya bisa pasrah pada yang kuasa.
"Ya sudah tidak usah berpikir terlalu jauh, kalau emang Vina jodohku nanti juga ia akan kembali dalam kehidupanku." Gerutu Andi dalam hati sambil mentapa jauh keluar sana.
Kesendiriannya Andi, ada empat buah bola mata lagi mengawasi kesendiriannya, sambil berlajan mengendap-endap di belakang nya Andi.
Daaarrr....
Andi langsung terpenjat berdiri dan membalikan badannya sambil pasang kuda-kuda.
"Hahaha....Kaget ya."
"Wah kurang ajar kalian, sudah berani ya." Ujar Andi sambil menggemgam asbak mau di lempar untuk menakut-nakuti kedua anak kembar, yang tak lain adalah Konta dan Kanti.
"Ampun Bang ampun, kita bercanda, ya dek." Tukas Konta sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bercanda sih bercanda, jantung gua mau copot tau." Timpal Andi.
"Lagian sih, abang mikirin apa'an sih?." Tanya Kanti sambil melangkah menduduki bangku.
"Gak ko, abang gak mikirin apa-apa." Tukas Andi.
"Nah gua tau nih, pasti bang Andi lagi mikirin mb Vina kan, pacarmu itu." Celetuk Konta.
"Ah sok tau lo'." Jawab Andi.
"Ya terus mikirin apa sih bang, tolong cerita sama kita-kita siapa tau kita bisa membantu." Ujar Konta.
"Iya bener, abang cerita deh sama kita-kita ini, jangan memendam masalah sendirian, kaya sama siapa aja sih." Celetuk Kanti.
Sejenak Andi terdiam memikirkan perkataan dari kedua adik sepupunya itu.
"Mungkin mereka ada benarnya juga." Batin Andi.
"Iya sih, apa yang dek Konta bilang, gua lagi bingung nih." Ujar Andi mulai terbuka.
"Bingung kenapa sih Bang?." Tanya Konta.
"Gua merasakan akhir-akhir ini hubungan abang sama Vina agak semakin jauh." Ujar Andi.
"Mungkin cuma perasa'an abang aja kali, lalu Vina suka ngasih kabar gak sama abang, dan abang sendiri suka memberi kabar pada Vina." Ujar Konta.
__ADS_1
"Ya suka sih, malahan sekarang Vina sudah bekerja di kantor perusaha'an papanya." Ujar Andi.
"Ya bagus dong, lantas bingung nya abang letaknya di mana?." Pungkas Kanti bertanya.
Sebelum Andi menjawab pertanya'an dari Kanti, tangan kanannya meraih pada gelas kopi lalu di seripitnya begitu terasa nikmat.
"Widiiih nikmat benar." Cetus Konta.
"Abang belum menjawab pertanyaann ku tadi." Pungkas Kanti.
"Iya abang bingung, hubungan abang kurang begitu di restui oleh mamanya Vina, masalah Vina kerja di kantor papanya, itu semua karena setingan dari mamanya, mungkin niatan mamanya Vina ada sangkut paut sama hubungan gua sama Vina." Ujar Andi.
Konta dan Kanti manggut-manggut seperti telah paham dengan yang Andi ceritakan.
"Wah bisa jadi begitu, pacar abang kan lulusan sarjana, setidaknya ia punya peran penting di perusaha'an papanya, sudah pastilah akan banyak pengusaha muda yang ngelirik pada Vina, awalnya dari meeting sama relasi bisnis dan lain sebagainya." Ujar Konta.
"Tapi kalau menurut gue, itu tergantung pada keyakinan hatinya Vina, bila Vina tetap teguh pada hatinya, bahwa cintanya hanya untuk bang Andi seorang, semua akan lewat." Celetuk Kanti memberi opini.
"Tapi benar juga sih, apa kata dek Kanti." Ujar Konta membenarkan ucapan Kanti.
"Iya gua juga paham, tapi namanya manusia kadang hatinya bisa berubah." Tukas Andi.
"Ya, jawabannya hanya satu, berusaha dan serahkan pada yang kuasa, kalau kita sudah berusaha, tapi nyatanya tidak sesuai dengan harapan, berarti itu bukan rijki kita bang." Ujar Konta.
"Cakep, ternyata kalian memang adik gua yang pintar, terima kasih ya." Ujar Andi memberi jempol pada Konta dan Kanti.
Konta dan Kanti pun mulai beranjak pergi dari tempat Andi, untuk pulang karena sebentar lagi waktu maghrib akan segera tiba.
Tak lama kemudian lantunan suara adzan sudah terdengar di setiap peloksok dan penjuru kota.
Andi langsung bergegas pargi ke Masjid untuk melaksanakan solat berjama'ah.
Selepas solat maghrib, Andi pamit sama Sindi dan Anggita mau menemui Vina ingin memperjuangkan cinta dan perasa'annya, meskipun mamanya tidak menyukai pada Andi karena bekas narapidana.
Motor telah di nyalakan, berpakaian rapi, kemeja warna Abu-abu, yang di lapisi oleh jaket levis, sudah melaju keluar dari halaman rumah menyusuri sepanjang Jalan Gang Si'iran.
Setiba di lampu merah jalan Delima, langit mendadak gelap, kilatan halilintar nampak menggurat membelah angkasa, malam itu sepertinya akan turun hujan.
Andi tidak memperdulikan hal itu, setelah lampu setopan sudah berwarna hijau, Andi langsung melaju memasuki Jalan Mengkudu, yang di tuju komplek perumahan Grand City.
Satu dua air jatuh dari langit menetes di jaket Andi, tapi Andi terus melaju, hingga akhirnya sampai di gerbang gapura grand City, Andi berhenti memberi laporan pada security yang lagi jaga portal, bahwa dirinya akan berkunjung ke tempat temannya.
Tidak lama kemudian Andi sudah sampai di depan gerbang rumahnya Vina bersama'an dengan turunnya hujan dari langit sangat deras.
Andi melangkah turun dari motor, lalu mengetuk-ngetuk slot pintu gerbang, kemudian satpam yang lagi jaga di pos membuka jendela dan bertanya dengan nada keras, karena tertimpa oleh gemericiknya suara air hujan.
"Siapa di luar?." Tanya Satpam.
__ADS_1
"Aku pak temannya Vina, apa Vinanya ada." Jawab Andi sambil berlindung di bawah pohon.
"Iya sebentar aku panggilin dulu." Ujar Satpam sembari membuka ponselnya untuk menghubungi tuannya.
Satpam pun langsung menghubungi Bosnya ke kontaknya Ibuk Rosa.
π.Satpam "Halo Buk, di luar ada tamu, ngakunya temannya non Vina.
π.Rosa "Siapa?."
π.Satpam "Tidak tau Buk."
π.Rosa "Kamu tanyakan dulu namanya siapa."
Kemudian Satpam memanggil pada Andi, yang lagi berteduh di luar gerbang.
"Nama kamu siapa?." Tanya Satpam pada Andi dengan nada keras.
"Nama saya Andi Pak." Jawab Andi.
Setelah itu satpam langsung mrnyampaikannya pada ibuk rosa melalui telpon yang belum di matiin.
π.Satpam "Dia mengaku bernama Andi Buk."
π.Rosa " Suruh pergi aja, bilang aja Vinanya sudah tidur.
π.Satpam "Baik Buk."
Setelah itu Satpam pun langsung menyampaikan pesan dari ibuk Rosa pada Andi.
"Nak Andi sebaiknya kamu pulang saja, kata ibuk Rosa non Vina sudah tidur tidak boleh di ganggu." Ujar Satpam.
"Sebentar aja penting, non Vinanya suruh temui aku disini." Tukas Andi.
"Ma'af nak Andi, saya di sini bekerja, saya tidak berani bila harus membantah titah Buk Rosa." Timpal Satpam.
π―π―Jeleeegeeerrrr.
Suara geledeg begitu keras bersama'an dengan sambaran halilintar memecah dalam kegelapan.
Andi sejenak terdiam, mau menghubungi Vina karena ponselnya mati, kebasahan oleh air hujan yang begitu deras.
Akhirnya Andi melangkah menuju pada motornya, lalu di nyalakannya, tidak perduli hujan yang deras dan petir yang menggelegar ia tetap melaju pelan membawa rasa sakit yang mendalam.
Suara kenalpot yang biasanya terdengar nyaring dan garang, kini seperti tidak bersuara karena tertimpa oleh suara hujan dan petir yang terus terusan.
Hujan dan petir seperti mengiringi kesedihannya Andi.
__ADS_1