
Lelaki itu langsung terjungkal ketika mendapat tusukan elbo dari Andi.
Ia meringis kesakitan merasakan lehernya yang serasa remuk.
Lalu salah satu rekannya yang masih segar bugar, melompat kebelakang sambil meraih sepotong dahan kayu yang tergeletak.
"Sekarang mampus kau anak muda." Batinnya menggerutu.
Lelaki itu melompat sambil menghantamkan potongan kayu mengarah pada kepala Andi dari belakang.
Sekilas Andi merasakan sesuatu yang telah mengancam keselamatannya.
Dengan cepat Andi menghadang potongan kayu itu dengan tendangan menghantam pergelangan tangan lelaki itu.
Bruuukk
Potongan dahan kayu tersebut terlempar dan jatuh di atas tanah.
Kemudian Andi berkelebat cepat melakukan serangan pada lelaki itu.
Buk buk buk
Tiga pukulan keras Andi mendarat ke dada, ulu hati dan wajah lelaki itu.
Tubuhnya terpental hingga beberapa tumbak, jatuh tersungkur di atas tanah.
"Ayo bangun lo', atau satu persatu gua patahin tangan kalian." Gertak Andi sambil melangkah mendekati salah satu dari mereka.
"Ampun anak muda, ampun." Ujarnya dengan pasang muka melas.
"Ya sudah sekarang cepat tinggalakan tempat ini sebelum kesabaran gua habis." Tukas Andi.
"Ba, ba, ba baiklah anak muda." ujarnya terbata-bata dan langsung beranjak bangkit berdiri, dengan langkah terhuyung ke tiga lelaki tersebut langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Kemudian wanita yang tadi bersembunyi di balik batang pohon yang besar mulai keluar menampakan wajahnya.
Perlahan ia melangkah mendekati pada Andi.
"Terima kasih mas, sudah menolong aku." Ujarnya .
"Iya Mb sama-sama, oh iya kenapa mb ini sampai di kejar-kejar oleh ke tiga lelaki berandal itu?." Ujar Andi bertanya.
"Mereka kaki tangannya juragan somad." Jawabmya.
"Ya terus permasalahannya apa?." Tanya Andi.
"Masalahnya, orang tua saya mempunyai sangkutan hutang piutang pada Juragan Somad, karena orang tua saya tidak ada duit untuk bayar, juragan Somad menganggap hutangnya semua lunas, asal dengan satu sarat." Ungkapnya.
"Lantas sarat yang di ajukan juragan Somad itu apa?." Tanya Andi.
"Mau mempersunting aku untuk dijadikan istrinya, bapak pun dengan sangat terpaksa menyetujuinya." Jelasnya.
"Terus kamu setuju." Timpal Andi.
"Enggak." Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah sekarang kamu pulang." Pinta Andi.
"Enggak mas, aku gak mau di jadikan istri ke tiganya juragan Somad, lebih baik aku pergi mencari kerja untuk melunasi hutang piutang orang tuaku." Tukas gadis tersebut.
"Lalu kamu mau kerja apa, apa sudah ada tujuan kamu pergi meninggalkan orang tuamu?." Tanya Andi.
Gadis itu cuma menjawab dengan menggelengkan kepalanya sambil menundukan wajahnya.
"Ingat Mb, sekarang cari kerjaan itu susah, apalagi mb tidak punya tujuan, dan asal mab tau kehidupan di kota penuh dengan kekerasan, jangan sampai nantinya mb di manpaatkan oleh para lelaki hidung belang, sayangilah dirimu dan keluargamu, ayo pulang aku antar sampai ke rumah." Ujar Andi memberi saran.
__ADS_1
"Terus bagaimana nanti kalau Juragan Somad melamar aku." Ujar gadis itu nampak ketakutan.
"Biar Juragan Somad menjadi urusan saya." Tukas Andi.
"Ya sudah." Ujar gadis tersebut.
Kemudain Andi dan gadis yang usianya masih muda belia berjalan mengikuti Andi memburu pada motornya yang terparkir di atas pinggiran jalan.
Andi pun sudah melajukan kendara'annya, dan Gadis itu duduk di jok belakangnya Andi.
Tidak lama kemudian Andi sudah sampai di depan rumah gadis itu.
Rumah yang tidak terlalu besar, beratapkan asbes, dengan tembok sepertiga badan, ke ataskan berdindingkan bilik bambu, dan ada tiga orang anak kecil mungkin itu adik-adiknya dari gadis tersebut.
Gadis itu langsung turun dari atas motor Andi, lalu Andi melangkah turun dan berjalan mengikuti gadis itu dari belakang.
Tok
Tok
Tok
"Assalam mu'alaikum, Buk, Pak, ini aku Lastri." Panggil gadis itu.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, bersama'an dengan munculnya se orang lelaki bertubuh kurus.
Lelaki itu langsung terperanjat kaget.
"Kamu Lastri, syukurlah kamu selamat nak, lha ini siapa." Ujar Bapaknya Lastri sambil menoleh ke arah Andi.
"Mas ini yang menolong aku Pak, kalau tidak ada mas ini, entah apa yang akan terjadi pada diriku." Ungkap Lastri.
"Terima kasih anak muda, sudah menolong anakku dari kekejaman anak buah Juragan Somad." Ujarnya.
"Iya pak sama-sama." Tukas Andi.
"Memang aku bukan orang sini pak, tadi ku kebetulan lewat Jalan Angkasa, dan aku mendengar teriakan minta tolong, pas ku lihat ternyata anak Bapak ini lagi di kejar tiga lelaki, aku langsung turun untuk menolong anak bapak." Ungkap Andi.
"Bapak sangat berterima kasih padamu anak muda, entah apa jadi nya anakku kalau tidak ada kamu." Timpal Bapaknya Lastri.
"Saya cuma perantara aja pak, yang menolong anak Bapak hanyalah Tuhan (Allah Subhanahu wata'ala)." Ujar Andi.
"Sungguh mulia sekali hatimu anak muda."
Ketika itu Andi di kejutkan oleh suara teriakan dari seseorang yang muncul secara tiba-tiba.
"Wikarta, lihat perbuatan anakmu pada ke tiga anak buah saya." Teriak lelaki berbadan gemuk.
Andi pun terbelalak kaget ketika melihat ke tiga lelaki yang berjalan di belakang pria gemuk.
"Oh jadi ini Juragan Somad itu." Batin Andi.
Sementara ke tiga lelaki itu, nampak seperti ketakutan ketika melihat Andi dengan menatap tajam ke arahnya.
"Juragan, pemuda itulah yang menghajar kami bertiga." Bisiknya.
Lalu Juragan Somad, mengalihkan pandangannya ke arah Andi yang lagi duduk di samping Lastri.
"Owhh, pantesan kamu Wikarta, sudah berani menentang saya, rupanya kamu sudah punya dekengan." Ujarnya sambil mendekat ke arah Andi.
Andi nampak santai dan tenang, sambil tersenyum tipis pada Juragan Somad.
"Heh! Anak muda siapa kamu?." Tanya Somad dengan nada membentak.
"Bapak bertanya pada saya." Jawab Andi.
__ADS_1
"Bangsat, ya iya sama siapa lagi kalau bukan sama kamu." Tukas Somad.
"Oooh begitu, kenalkan nama saya Andi Nayaka, atau panggil saja Andi atau apa saja deh terserah Bapak." Timpal Andi sambil tersenyum.
Juragan Somad nampak kesal dan emosi dengan perkata'annya Andi yang nampak tenang se olah mengejek.
"Setan alas." Ujar Juragan Somad sambil melayangkan tangannya hendak menampar Andi.
Kaaap.
Dengan replek dan cepat tangan kiri Andi menangkap pergelangan tangannya Juragan Somad.
"Owwhhh...Rupanya Juragan ini pemarah juga, santai aja Bapak." Ujar Andi sambil mendorongnya.
Jeregjeg jeregjeg
Juragan Somad hampir mau jatuh, padahal Andi cuma mendorongkan tangannya saja.
Tapi yang di rasa oleh Juragan somad, seperti di tubruk oleh se ekor domba jantan yang besar.
"Kurang ajar kau anak muda sudah berani membela Wikarta, nanti saya laporkan ke polisi." Ancamnya.
"Hehe, Kok jadi bapak yang sewot, seharus nya aku dong yang marah, Bapak tiba-tiba mau menampar saya." Tukas Andi.
"Saya bersikap begitu karena kamu membela Wikarta, yang sudah punya hutang pada saya dan tidak mau bayar."
"Bpak tenang dulu, jangan dulu emosi, kita bicarakan masalah ini dengan baik." Saran Andi.
"Enak betul cakapmu anak muda, sedangkan hutangnya Wikarta bukan sedikit." Ujar Somad.
"Berapa sih pak hutangnya Pak Wikarta pada anda?." Tanya Andi.
Somad tersenyum menyeringai penuh ejekan sambil bertulak pinggang.
"Emang kamu mau bayar, punya duit dari mana kamu, sedangkan kendara'annya kamu pun cuma motor jadul." Ejek Somad.
"Iya Berapa, kan saya nanya."
"Sepuluh juta, bersama bunganya." Ujar Somad.
"Kok ada Bunganya sih, itu kan tidak di bolehkan oleh hukum agama kita." Ujar Andi.
"Ya iyalah, di Bank juga ada bunganya."
"Oke oke, Pak Somad tenang saja, biar saya yang bayar hutang piutang pak Wikarta, dengan sarat Pak somad dan ke tiga anak buahnya jangan berani lagi mengganggu keluarga pak Wikarta." Jelas Andi.
"Beneran kamu mau bayar, oke saya terima persaratannya, cepetan mana duitnya." Tukas Somad.
"Berhubung saya tidak membawa uang cash sebesar itu, saya minta nomor rekening pak Somad." Ujar Andi sambil merogoh saku jaketnya mengambil sebuah ponsel.
Akhirnya pak Somad pun memberikan nomor rekeningnya pada Andi.
Setelah Andi mendapatkan nomor rekeningnya Juragan Somad.
Andi langsung mentransper uang senilai sepuluh juta rupiah melalui MBanking Mandiri miliknya Andi.
Setelah itu. "Sekarang coba bapak cek, di rekening Bapak, uangnya sudah saya transpr." Ujar Andi.
Dret dret..
Somadpun langsung meraih ponselnya di saku celananya lalu dilihat.
Ada notifikasi pemberitahuan, wajah yang tadinya ketus kini nampak berseri-seri ketika kedua matanya menatap ponselnya dengan intens.
"Hehee, terima kasih anak muda." Ujar Somad dengan lemah lembut.
__ADS_1
"Dasar lintah darat, sekarang cepat kalian pergi, dan jangan pernah ganggu Lastri, dan pak Wikarta serta keluarganya, kalau tidak mau berurusan dengan saya." Ancam Andi.
Somad dan tiga anak buahnya langsung bergegas pergi meninggalkan Andi dan keluarga Wikarta.