Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 93 Menggugat


__ADS_3

Dari hari ke hari, berganti Minggu, dua minggu sudah Rangga di rawat di tumah sakit di kota ci Anjur.


Akhirnya Rangga sudah mulai membaik,, setelah di lakukan oprasi untuk mengambil tiga peluru yang bersarang di tubuhnya.


Pukul 07:00


Dokter muncul untuk mengecek kesehatan Rangga.


"Selamat pagi pak Rangga, gimana sekarang keada'an bapak?." Tanya Dokter.


"Sekarang sudah mulai membaik Dok." Jawab Rangga.


"Syukurlah semoga cepat pulih seperti biasa ya." Ucap Dokter.


"Amiin."


"Ma'af ya pak Rangga, saya mau cek dulu kondisi bapak." Ujar Dokter meminta ijin untuk mencek kesehatannya Rangga.


Setelah selesai cek kesehatannya Rangga, Dokter pun berkata.


"Alhamdulilah, tensi darah sudah normal kembali, tinggal nunggu kering bekas jaitannya, usahakn makan dan minum obatnya sesuai dengan resep yang telah di berikan ya pak, Saya permisi dulu pak Rangga semoga cepat sembuh,, Mari Buk." Pamit Dokter pada Rangga dan Kentari.


"Iya Dok terima kasih." Ucap Kentari.


Setelah kepergian Dokter dari ruangan tempat Rangga di rawat.


Kentari langsung memberikan beberapa butir obat untuk Rangga minum.


"Ini pak Rangga obatnya di minum dulu." Ujar Kentari.


"Terima kasih ya, kamu begitu baik padaku, padahal kamu cuma simpananku, sementara istriku dan mertuaku pun belum jenguk sama sekali." Ujar Rangga.


"Saya cuma kasihan aja pada pak Rangga, dan hari ini saya mau pamit untuk pulang ke Bandung, pirasat saya mengatakan hari ini istti dan mertua bapak akan menjenguk." Tukas Kentari.


"Jangan tinggalin aku dong, di sa'at keada'anku lagi begini." Melas Rangga.


"Aku harap bapak pun mengerti posisi kita, sebelum semuanya jadi berantakan." Ujar Kentari.


"Kalau kamu pergi terus aku gimana." Timpal Rangga.


"Masa harus tanya padaku sih, kan setatus bapak sudah berumah tangga, nanti istri bapak yang akan mengurus bapak." Ujar Kentari.


Selepas Kentari berkata, terdengar suara seorang wanita yang muncul dari balik pintu.


"Sekarang silahkan kamu urus lelaki yang bernama Rangga itu." Dengus suara itu.


Rangga dan Krntari pun langsung kaget, lalu keduanya menoleh ke arah pusat suara tersebut.


"Vina, Mamah, Papah." Sontak Rangga.

__ADS_1


"Iya ini aku, Mamah dan Papah sudah mendengar semua pembicara'an kalian berdua." Ujar wanita jangkung berparas cantik yang tak lain adalah Vina, Rosa dan Pajar Arya Wirata.


"Ini salah paham sayang." Tukas Rangga.


"Apa kamu bilang salah paham, dasar lelaki bajingan, bilangnya mau meeting diluar kota, ternyata meetingnya di fila sama perempuan berengsek ini." Bentak Vina.


"Dengar dulu dong penjelasanku sayang." Ujar Rangga ingin menutupi kebohongan.


"Penjelasan apa lagi Rangga, ternyata orang yang mamah kira baik, bisa jadi panutan keluarga, ternyata kamu lelaki tukang selingkuh." Bentak Rosa murka.


"Dan kamu lagi dasar wanita tidak bermoral." Tunjuk Rosa memaki pada Kentari.


Suasana di ruangan tempat Rangga di rawat menjadi gaduh, lalu Pajar yang merasa malu dengan kejadian itu, langsung melerai istri dan anaknya yang sudah tidak terkendali


"Sudah-sudah, ini rumah sakit, nanti kita selesaikan saja di rumah. Dan kamu Rangga papah tunggu di rumah kita selesaikan masalah ini." Tukas Pajar.


Rangga kini tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya tertunduk dan merasakan sakit bekas jaitan di tubuhnya terasa kembali.


Setelah itu Vina, Rosa dan Pajar, langsung bergegas pergi keluar dari ruangan meninggalkan Rangga dan Kentari.


"Tuh bener kan apa kataku, keluarga pak Rangga pasti akan datang hari ini." Ujar Kentari.


"Ya harus bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, aku pun akan terima konsekuansinya, ini semua gara-gara pemuda yang bernama Andi, setelah ku pulih kembali akan kubalas sakit hati ini." Geram Rangga.


"Siapa tuh Andi?." Tanya Kentari.


Singkat cerita.


Pihak Rumah sakit sudah memperbolehkan Rangga untuk pulang, karena kesehatannya sudah mulai pulih.


Dan semua biaya pengobatan selama tujuh belas hari sudah Rangga bayar lunas.


Pukul 10:00


Rangga sudah mulai mengemudi kembali mobilnya keluar dari Rumah Sakit, menuju kota Bandung.


Hari itu Rangga tidak langsung ke Rumah Pajar, melainkan mengantarkan dulu Kentari ke rumahnya.


Satu Hari kemudian.


Rangga mulai Otw ke rumahnya pak Pajar Arya Wirata.


Mobil melaju dengan kecepatan delapan puluh kilo meter/jam.


Tidak lama kemudian, Rangga telah sampai di depan gerbang rumahnya Pak Pajar.


Tid tidid.


Suara klakson di bunyikan, dan satpam yang bertugas jaga di rumah Pajar, langsung membuka pintu gerbang tersebut.

__ADS_1


Rangga pun langsung melajukan mobilnya masuk menuju halaman rumahnya Pak Pajar.


Kemudian Rangga membuka pintu mobilnya, lalu melangkah turun, dan berjalan menaiki trapan tangga teras depan rumah.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum." Sapa Rangga.


Tidak lama kemudian.


pintu pun mulai terbuka bersama'an dengan munculnya lelaki paruh baya berbadan tegap dan berkulit putih.


"Ayo masuk." Jawab Lelaki tersebut yang tak lain adalah Pajar(Mertuanya Rangga).


"Iya pah." Jawab Rangga sembari melangkahkan tungkai kakinya memasuki kedalam.


Kemudian Rosa dan Vina pun datang setelah di panggil oleh Pajar.


"Bagaimana kondisi kesehatanmu sudah membaik?." Tanya Pajar.


"Alhamdulilah pah, sekarang kesehatanku sudah jauh lebih baik." Jawab Rangga sambil tertunduk malu.


"Syukurlah."


"Saya selaku orang tua Vina, merasa terpukul ketika mendengar berita yang tersiar di televisi, tentang pelaku penembakan terhadapmu, tapi saya sekeluarga merasa lebih sakit lagi dengan kebohonganmu yang bilangnya mau meeting, ternyata kamu malah membawa wanita ke Fila, sudah barang tentu itu bukan kelakuan yang terpuji, dan selebihnya biar Vina yang menentukan nasib pernikahanmu, sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, kamu paham dengan maksud saya." Ujar Pajar.


"Iya pah, aku juga mengerti, dan aku minta ma'af pada Papah, Mamah dan kamu sayang, atas apa yang telah ku perbuat di keluarga ini." Ujar Rangga sambil menautkan wajahnya memandang Vina.


"Mamah bisa saja mema'afkanmu, tapi tidak tau dengan Vina." Timpal Rosa.


Kemudian Vina berkata.


"Sebagai manusia aku mema'afkanmu Mas, tapi masalah hubungan suami istri, aku minta cerai aja mas, karena aku tidak bisa bila harus melanjutkan hidup bersama mu, dengan banyak kebohongan.


"Ma'afkan aku sayang, aku khilap." Tukas Rangga


"Iya aku ma'fkan mas, tapi aku tetap pada pendirianku, aku mau gugat cerai denganmu."


"Aku janji sayang tidak akan mengulang lagi." Desak Rangga.


"Nasi sudah menjadi bubur mas, tidak mungkin kembali lagi menjadi nasi." Ujar Vina.


"Kalau memang itu pilihanmu yang terbaik, baiklah aku turutin semua perminta'anmu, asal jangan gugat cerai ke pengadilan ." Tukas Rangga.


"Kamu terlambat mas, ketika aku melihat berita di televisi, besoknya aku langsung pergi ke pengadilan, dan Mas Rangga tinggal menanda tangani, surat perceraian kita.

__ADS_1


__ADS_2