
Malam pun semakin berlalu, Andi sudah memasuki kedalam rumah, sedangkan Toglo dan jaroni, langsung menuju pos penjaga'an.
Toglo di minta oleh pak Dirnan untuk menjaga rumah menemani Jaroni.
"Kalau kamu mau tidur, tidur lah kawan, karena ini adalah tugasku." Cetus Jaroni.
"Tidaklah Jar, gua juga kan di kasih tugas oleh pak Dirman untuk menjaga rumah, takut nantinya ada lagi kelompok manusia bercadar itu datang kembali." Timpal Toglo.
"Gua mau tanya sama lo' Glo, kira-kira kecelakaannya pak Nandi ada sabotase gak, kalau piling gua sih begitu, karena gua tau pak Nandi itu sangat lihai dalam menjalankan kendara'an roda dua maupun roda empat." Cetus Jaroni.
"Ternyata elo' hebat juga Jar, dari terawangan kaca mata batin gua pun begitu, cuma energi gua tidak mampu menembus siapa kiranya orang yang sudah berbuat begitu." Sahut Toglo.
Jaroni manggut-manggut sambil mengulum bibir bawahnya.
"Kalau emang benar piling kita itu, berarti orang itu bukan orang sembarangan Glo." Tukas Jaroni.
"Sepertinya begitu, penerawangan gua pun seperti tertutup oleh kabut hitam yang tebal." Cetus Toglo.
"Ini perlu kita selidiki Glo." Timpal Jaroni.
"Iya besok atau lusa gua sama Andi akan meluncur kesana, dan ingin melacak lewat cctv di hotel tempat Pak Nandi menginap, dari situ kita akan mengorek sebuah ke terangan." Ujar Toglo.
"Iya betul itu, semoga berhasil." Tukas Jaroni.
Selepas itu, Toglo dan Jaroni keluar keliling rumah pak Dirman dan rumahnya Astuti, untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan.
...............
Ke esokan harinya.
Disebuah rumah sakit di tempat Nandi di rawat, sekitar pukul 10:00 dua orang polisi datang ada sesuatu hal yang akan di pertanyakan pada Nandi. sebab-sebab Nandi mengalami kecelakaan.
Kedua orang polisi berjalan masuk ke ruang lobi, lalu bertanya pada petugas resepsionis.
"Ma'af sus, ruangan tempat pak Nandi Suryaman di rawat di mana?." Tanya Polisi
"Sebentar ya pak saya lihat dulu." Jawabnya sambil membuka catatan para pasen yang lagi menjalani rawat inap.
"Pak Nandi Suryaman yang mengalami kecelakaan, di rawat di ruangan viv nomor tujuh." Lanjut berkata.
"Oh iya iya betul, terima kasih ya sus." Ujar polisi.
"Iya pak Sama-sama." Jawabnya.
__ADS_1
Kemudian kedua polisi tersebut, langsung bergegas pergi meninggalkan petugas resepsionis dan berjalan menuju ruangan yang telah ditunjukan oleh petugas tersebut.
Setiba di depan ruangan Nomor tujuh kamar VIV, nampak banyak keluarganya Nandi lagi duduk di bangku.
"Selamat siang bapk ibuk semuanya." Sapa pak polisi.
Pak Dirman, Buk Sari dan Buk Suminar nampak terkejut dengan kemunculan ke dua polisi tersebut.
"Selamat siang kembali pak, ada ya Pak kami semua jadi kaget dengan kedatangan Bapak polisi." Sahut pak Dirman.
"Oh tidak ada apa-apa, ma'af sebelumnya bila kedatangan kami membuat kalian jadi terganggu." Timpal Pak Polisi.
"Tidk ko Pak, sebenarnya ada apa ya Pak, apa ini ada hubungannya dengan anak saya Nandi Suryaman?." Tanya Pak Dirman.
"Iya benar, boleh saya duduk." Ujar Pak polisi.
"Ooh boleh boleh silahkan pak." Sahut Pak Dirman sembari menggeserkan tubuhnya memberi tempat duduk pada kedua polisi tersebut.
"Begini Pak dan semua yang ada di sini, setelah kami cek kendara'an Pak Nandi, ternyata mobil Pak Nandi remnya Blong seperti ada yang sabotase pada kendaraannya pak Nandi." Ungkap Pak polisi.
Kamal dan Astuti langsung terperanjat kaget, lalu berkata Astuti pada pak polisi.
"Yang benar pak, padahal sebelum berangkat Abang saya mengecek kendaraannya, dan waktu berangkat aman-aman saja." Ujar Astuti.
"Kalau musuh abang Nandi gak punya, tapi kalau yang memusuhi dan membenci kemungkinan ada sih Pak, karena Abang saya banyak di musuhi oleh orang-orang jahat, tapi itu dulu." Sahut Astuti.
"Ya bisa jadi orang lama yang masih mempunyai dendam sama Bang Nandi." Pungkas Kamal ikut bicara.
"Iya makanya itu tim kami akan melakukan penyelidikan, dari tempat pertama Pak Nandi mulai menjalankan kendara'annya." Ujar Pak polisi.
Di sa'at pak polisi dan Astuti, Kamal serta Pak Dirman lagi mengadakan percakapan membahas tentang kecelaka'annya Nandi, Nampak dari jarak yang agak jauh dua orang lelaki yang satu masih muda berpostur tinggi dengan kulit putih bersih dan yang satunya berbadan gempal sudah berumur di bawahnya Kamal, lagi berjalan di coridor rumah sakit mendekat ke arah, Pak Dirman, Kamal, Astuti dan kedua polisi serta yang lainnya berada.
Lalu Kamal memandang pada kedua pria itu dengan pasang wajah semringah.
"Lha bukankah itu Andi sama Toglo." Cetus Kamal sambila meluruskan telunjuknya pada kedua lelaki itu.
Semua wajah tertuju pada kedua lelaki yang lagi berjalan mendekat ke arahnya.
"Iya benar itu Andi sama Toglo." Tukas Astuti.
Ternyata kedua lelaki itu Andi Nayaka sama Wanda alias Toglo yang sudah sangat dekat dengan keberdaan mereka.
"Assalam mu'alaikum." Sapa lelaki berbadan gempal.
__ADS_1
"Wa alaikum salam, Toglo.. Andi..." Jawab Pak Dirman.
Kemudian Andi dan Toglo mengulurkan tangan memberi salam pada semua yang ada di situ.
"Gimana kabarnya Ayah Kek, Nek?." Tanya Andi.
"Ayahmu sudah melewati masa kritisnya, tapi masih berbaring belum bisa di ajak bicara, dan Doketer berpesan jangan ganggu dulu." Sahut Buk Sari.
"Tapi aku pingin melihat ke adaan Ayah nek." Desak Andi memaksa.
"Iya Andi, nenek pun ngerti, tapi kita harus mematuhi anjuran dari Dokter." Tukas Buk Sari.
Andi pun tidak bisa berbuat banyak, hanya diam terpaku dan tanpak di sadari ke dua netranya Andi sudah nampak terlihat berkaca-kaca, seperti langit yang mendung akan segera turun hujan.
Singkat cerita pak polisi sudah berangkat, di temani oleh oleh Toglo, Astuti dan Andi berangkat ke hotel tempat pertama Nandi menginap.
Setibanya di sebuah hotel, pak polisi bersama Andi, Astuti dan Toglo, langsung mendatangi pihak petugas hotel untuk membuka Cctv yang di pasang di area parkiran.
Setelah cctv di buka pada hari keberangkatan Nandi, Nina dan Astuti pukul 06:00, Semua pada bengong karena yan terlihat di layar cctv cuma gambar bayangan hitam.
"Wah benar ini kecelakaan yang telah di rencanakan dengan matang." Ujar pak polisi.
"Bedebah, sebuah perencanaan yang sangat apik sampai-sampai ke kamera cctv pun di kerjakan dengan sangat rapi." Cetus Astuti.
"Lalu Bagaimana langkah selanjutnya pak polisi?." Tanya Andi pada pak Polisi.
"Sepertinya ini yang punya dendam sama pak Nandi, dan mereka kemungkinan mengikuti Pak Nandi kesini, Kita usut sampai tuntas dan saya akan mencoba meminta bantuan pada polwitabes Bandung." Ungkap pak polisi.
"Iya benar pak, dan saya akan membantu pihak kepolisian untuk mencari tau siapa dari pelaku tindak kejahatan itu." Pungkas Toglo.
"Bagus itu, dengan bersatunya masyarakat dengan pihak kepolisian akan mempermudah dalam menangani sebuah kejahatan." Timpal pak polisi.
Selepas itu kedua polisi, Andi, Astuti dan Toglo pamit pada petugas hotel.
Sementara Andi, Astuti dan Toglo kembali ke rumah sakit, sedangkan Kedua polisi kembali dalam tugasnya
Setibanya di rumah Sakit, Andi sudah di per olehkan oleh Dokter untuk menemui ayahnya, yang sudah melewati masa kritisnya, tapi Dokter berpesan jangan di ajak dulu berbicara takut menggangu pada kinerja otaknya karena Nandi mengalami luka serius di otak besarnya akibat mengalami benturan keras.
Andi cuma mengeluarkan air matanya sambil merangkul pada Ibuknya.
"Hik hik hik, Buk maafin Andi ya Buk, ku gak tega melihat ayah yang lagi berbafing begini." Isak Andi.
"Sudah nak, kamu jangan nangis, nanti bisa berpengaruh pada kesehatan ayahmu, berdoalah agar Ayah cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah berkumpul lagi sama kita." Ujar Sindi bernada parau karena terbawa sedih dengan tangisannya Andi.
__ADS_1
"Ayah ma'afkan Andi ya, ya Allah sembuhkanlah Ayahku dari derita ini." Ucap Andi bernada pelan searak karena hati dan jiwanya yang sudah di liputi oleh rasa sedih yang amat sangat.