Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 83 Bermalam


__ADS_3

Pukul 18:30 menit.


Selepas Andi dan Bapaknya Rara melaksanakan


solat berjama'ah di sebuah langgar/surau.


Andi berkumpul bareng keluarganya Rara, di ruang makan dengan duduk bersila, guna melaksanakan makan malam, sambutan dan jamuan yang cukup istimewa sekali.


Ada ayam bakar, pepes ikan emas, dan pepes tahu ditambah sambel dan lalapan mentah.


"Ayo nak Andi." Ujar Sumpena.


"Iya pak, aduh jadi ngerepotin nih aku." Tukas Andi.


"Ya tidak, justru kami yang sudah merepotkan nak Andi, sampai di bela-belain nganterin Rara sampai ke rumah." Ujar Sumpena.


"Ya aku sekalian pingin jalan-jalan pak, melihat suasana di pedesa'an yang ternyata cukup menyenangkan dan membuat aku betah, udaranya masih segar alami, belum ada polusi dari asap-asap industri." Timpal Andi.


"Ya kalau di kampung memang begini keada'annya indah kalau suasana lagi tidak lagi musim hujan, kalau sudah datang musim hujan, jalanan becek apalagi disini tanah merah kena hujan sedikit saja langsung lengket gak bisa kita pakai alas kaki seperti sandal." Ujar Sumpena.


"Ya sama saja pak, apalagi di kota, sudah berkurangnya daerah resapan, hujan datang pasti banjir, air menggenang di setiap dataran rendah, kasihan juga banyak rumah yang terendam air." Sahut Andi.


Akhirnya mereka pun berkumpul makan bareng, Andi begitu nikmat dalam menikmati hidangan yang di sediakan oleh Pak Sumpena dan Ibuk Tarsini.


Selepas mereka makan.


Andi dan Rara duduk di balai-balai samping rumah sambil menghirup udara malam yang dingin.


Secangkir kopi pun telah di persiapkan oleh Rara, karena ia tahu Andi lebih suka meminum kopi ketimbang minuman seperti teh manis atau yang lainnya.


"Ayo di minum kopinya Aa, nanti keburu dingin." Ujar Rara.


"Iya Ra terima kasih, kamu sudah baik padaku." Ujar Andi.


"Cuma kopi aja ko Aa, ma'af di sini tidak ada makanan atau minuman yang istimewa." Tukas Rara.


"Sekali lagi kamu bilang begitu, aku gak mau nganter lagi pulang." Ujar Andi.

__ADS_1


"Emang kenapa gitu Aa, aku berkata apa adanya ko." Tukas Rara.


"Aku gak suka aja, bila ada orang yang suka memperbandingkan keada'an, justru aku bersyukur, semesta telah mempertemukan seseorang yang berhati baik padaku, justru dengan kehidupan beginilah aku bisa mengambil hikmah, pada siapa kita harus berbagi." Ungkap Andi.


Dari pertama Rara melihat Andi, ia seperti takut, Andi lebih banyak diam ketimbang banyak omong, dan kesannya Andi seperti pemuda sombong dan angkuh.


Tapi setelah Rara mengenal dekat, ternyata Andi sosok pemuda yang peduli dan menyenangkan serta bisa melindungi pada setiap temannya.


Perlahan hati Rara mulai suka, dan merasa nyaman bila berada dekat sama Andi, seperti berada di sebuah tempat untuk berlindung yang sangat kuat dan kokoh.


Pak Sumpena dan Ibuk Tarsini, bersikeras supaya Andi menginap untuk satu malam.


Andi pun tidak bisa menolak kebaikan hati dari kedua orang tuanya Rara.


Berhubung malam sudah mulai larut, kedua orang tuanya Rara tidak mengijinkan Andi untuk pulang malam hari.


Pak Sumpena pun menceritakan, di bawah bukit pas di jalanan yang sepi sering terjadi tindak kejahatan, pada siapa saja yang melalui jalan itu di malam hari, mereka tidak segan-segan untuk menghabisi korbannya dengan membunuhnya setelah hartanya semua di rampas.


Pukul 00:00


Se isi rumah Sumpena telah tertidur pulas, begitu pula Andi yang tidur di sopa di ruangan tamu telah hanyut dan terbawa ke alam mimpi.


Ketika sang surya telah memancarkan cahayanya yang kuning ke emasan, untuk menyinari bumi guna memberi kehidupan pada seluruh mahluk hidup di bumi.


Andi dan Rara kini telah bersiap-siap untuk berangkat lagi kerja.


Motor Yamaha Rx kingnya sudah mulai di panasin.


Rara dan Andi berpamitan, dengan memberi salam serta mencium punggung telapak tangan dari kedua orang tuanya Rara.


Setelah itu, Andi pun sudah mulai melajukan lagi kendarannya.


Rara duduk di jok belakangnya Andi, dengan perasa'an hati kini terasa berbunga-bunga, merasa senang yang akhirnya semesta telah mempertemukan sosok pemuda tampan dan berhati baik.


"Ra sekarang kamu pegangan." Perintah Andi.


Rara pun tidak lagi berani menolak perintah Andi, kemudian kedua tangan Rara di lingkarkan pada pinggangnya Andi.

__ADS_1


Setelah itu Andi pun mulai melajukan motornya dengan kencang, setelah keluar dari jalan pedesa'an dan mulai memasuki jalanan raya yang menghubungkan antara kabupaten dan ibukota propinsi.


Rara memegang erat pinggangnya Andi sambil matanya di pejamkan karena takut, ketika Andi mulai menarik gas pool.


Kini Rara tidak lagi seperti kemarin waktu perjalanan pulang yang selalu berteriak-teriak pada Andi meminta untuk tidak terlalu kencang melajukan motornya.


Walau hati terasa tegang dan takut di bawa berlari oleh kendara'an yang ia tumpanginya, tetapi, karena hatinya sudah terpatri oleh rasa suka pada sang joki yang mengemudi kendara'an yang ia tumpangi, akhirnya rasa takut itu sirna.


Tidak lama kemudian Andi telah memasuki perbatasan antara kabupaten dan wilayah ibuk kota ptopinsi.


Ketika Andi berhenti di lampu setopan antara Jalan Mengkudu dan Jalan Angkasa.


Di jalur sebelah kanan Andi, Ada dua buah bola mata anggun berparas cantik lagi terus terbelalak memandang pada dua sejoli yang menunggangi motor Yamaha Rx king Cobra, berhenti menunggu lampu berwarna hijau menyala.


"Andi....." Sontaknya ia berkata dalam hati.


"Ma'afin gue ya An, sekarang gue bisa ngerasain sakit yang elo rasakan, kini hati gue merasa terbakar melihat gadis yang sangat cantik lagi memelukmu di belakang, dan gue merasa menyesal telah menuruti semua ke inginan nyokap gue, dan kata-kata elo itu ternyata benar bahwa Adi Rangga yang kini telah menjadi suami gue, tidak sebaik dan seromantis elo, ia hanya memanpa'atin gue buat keperluan bisnisnya, andai waktu bisa di putar mundur kebelakang, ingin rasanya gue kembali ke sisi lo' An." Batinya menggurutu penuh penyesalan.


Tak lama kemudian lampu hijau sudah nampak terlihat menyala.


Andi pun mulai melajukan lagi motornya perlahan, sementara sang pengemudi mobil Honda civic berwarna merah terus saja memandang pada Andi dan Rara yang nampak romantis dan ceria- ceria.


Tidak terasa bulir-bulir air bening telah berjatuhan membasahi setir yang ia kemudinya..


"Andi Nayaka...." Teriaknya tak kuat menahan rasa cemburu yang telah menguasai hati dan perasa'annya.


Terus ia terbayang sa'at indah bersama Andi sewaktu di sekolah, yang selalu diantar pulang oleh motor Rx kingnya.


Kini semua kenangan indah itu telah ending karena ulahnya juga yang tidak bisa menjaga kenangan tersebut yang akhirnya kenangan itu tenggelam bersama luka yang telah Andi kubur dalam-dalam, dan Lelaki tinggi kekar itu kini berada dalam pelukan gadis lain.


Hanya sebuah kekesalan dan rasa sesal yang amat sangat, terus membayang-bayangi di wajah Vina, ketika ia melihat Andi telah berada dalam pelukan gadis desa yang cantiknya alami, bukan polesan.


Vina pun kini melajukan kendara'annya menuju kantor perusaha'an papanya.


Air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.


Vina begitu lambat dan pelan sekali dalam melajukan kendara'annya seiring dengan dirinya yang lagi dalam keadaan sedih merana.

__ADS_1


Walau berjalan lamban akhirnya Vina telah sampai di area parkiran halaman kantor.


__ADS_2