
Brian yang nampak mulai menyukai karakter Anggita, kini ia mencoba memberanikan diri untuk ngobrol sama Anggita.
Andi dan Bela yang sangat mengerti dari tatapannya Brian pada Anggita.
Bela berpura-pura mengajak Andi untuk betulin kendara'annya, padahal keduanya hanya ingin memberi celah dan waktu bagi Brian untuk lebih leluasa berbicara secara empat mata sama Anggita.
"Ee'eh kalian mau kemana sih, ko gue di tinggal sendiri." Ujar Anggita.
"Sory Git, gue ada perlu sama Andi, itu motor scuter gue ada yang mesti di betulin." Tukas Bela.
"Oh ya sudah, jangan lama-lama ya." Timpal Anggita.
"Tenang aja kak, kakak sementara di temani dulu sama Bang Brian." Sahut Andi.
Kemudian Andi dan Bela bergegas pergi meninggalkan Brian dan Anggita.
Setelah Andi dan Bela pergi, Anggita mencoba melakukan obrolannya, dengan bertanya-tanya tentang kepribadiannya Brian dan apa saja yang di lakukannya selama di Singapur.
"Kak Brian, memang dari kecil tinggal di luar negri?." Tanya Anggita.
"Gak ko, ku tinggal di sana sejak masuk SMA dan Melanjutkan kuliah di Sana sampai sa'at ini." Jawab Brian.
"Oh gitu, lalu sekarang di sana kerja?." Lanjut Anggita bertanya.
"Iya, ku di Singapur buka usaha kecil-kecilan, ya lumayan sih buat nyambung hidup di sana." Tukas Brian.
"Kenapa gak mencoba buka usaha di sini saja, kan enak bisa kumpul sama keluarga." Usul Anggita.
"Kan Ayah masih di Singapur, balik ke indo paling sebulan sekali." Ujar Brian.
"Ternyata keluargamu adalah orang-orang sibuk juga ya, gue salut sama Bela adikmu, selepas selesai kuliah ia sudah bisa pegang bisnis besar." Ujar Anggita.
Sebelum Brian melanjutkan obrolannya, perlahan tangannya meraih gelas minuman untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Bela di percaya oleh ayah untuk pegang perusaha'an di sini, karena Bela tidak betah tinggal di Singapur." Jelas Brian.
Anggita sedikit terbelalak ketika mendengar perkata'annya Brian.
"Jadi PT Tirta Jaya Kusuma itu, perusaha'an milik ayahmu?." Tanya Anggita terkejut.
"Iya." Jawab Brian singkat.
Anggita yang tidak mengira sebelumnya, ternyata PT Tirta Jaya Kusuma, salah satu perusaha'an besar yang selalu memasukan produknya pada Perusaha'an Suplier miliknya adalah miliknya Ortunya Bela.
"Berati ayahmu pasti kenal dengan Almarhum ayah saya." Ujar Anggita.
__ADS_1
"Kurang tau ya, soalnya aku belum pernah ikut Andil di perusaha'an papa yang di sini." Tukas Brian sambil menatap datar wajah Anggita yang cantik rupawan, apalagi kalau Anggita lagi tersenyum, nampak lesung pipit di kedua pipi Anggita membuat Brian semakin tertarik pada Anggita ingin lebih dekat lagi.
Setelah sekian lamanya Anggita dan Brian ngobrol, Bela dan Andi pun langsung keluar dari tempat yang sedari tadi di jadikan tempat untuk mengintai Anggita dan Brian.
"Ayo An, kita kembali pada mereka." Ajak Bela.
"Ayo."
Keduanya pun langsung melangkah kan kakinya menuju pada Andi dan Brian.
Setiba di tempat, Andi berpura-pura mengelap tangannya pakai tisu, supaya Anggita dan Brian percaya bahwa dirinya habis betulin motornya Bela.
Andi dan Bela lalu duduk, lalu Anggita berkata.
"Gimana sudah beres betulin motornya?." Tanya Anggita.
"Beres dong." Jawab Andi singkat.
Kemudian Bela berkata untuk menutupi kecurigaannya Anggita.
"Sory ya Git, gue sudah ngerepotin lo' dan Andi, malah di suruh kerja." Ujar Bela.
"Tidak apa sih, Andi kan mekanik, itu kan sudah kerjaan nya." Tukas Anggita.
"Ya ngobrolin tentang masa kecil kita." Ujar Anggita.
"Oh jadi kalian tukar pengalaman masa unyu-unyu dulu ya." Sahut Andi.
"Ya begitulah." Cetus Brian.
"Memang tidak ada lagi yang kalian perbincangkan, selain berbagi pengalaman di masa kecil." Pungkas Bela berkata.
Anggita dan Brian saling pandang, seperti lagi meng artikan dari pertanya'annya Bela.
"Gue rasa gak ada, emangnya kenapa ko kalian bertanya begitu?." Tanya Anggita.
"Nggak, ya sudah, gimana kalau kita main gitar, gue yakin Andi pasti jago main gitarnya." Tukas Bela.
"So' tau lo' Bel." Sahut Anggita.
"Gue bukan sok tau, tapi gue melihat dari jari jemari Andi, sepertinya pintar main gitar." Timpal Bela.
"Ya kalau di paksa, apa boleh buat." Ujar Andi.
Kemudian Bela langsung memsuki ke dalam rumah.
__ADS_1
Tak lama kemudian bela datang dengan membawa guitar acustik.
Sebuah merk guitar yang bagus dan ternama, yang sering di pakai oleh para group musik.
Andi langsung mencoba memainkan instrumen dengan petikan-petikan yang enak di dengar dari lagu-lagu yang telah populer di dalam negri.
Andi lebih menyukai lagu-lagu di era tahun sembilan puluhan, selain lagunya enak di dengar dan musiknya yang tidak membosankan.
Bela dan Anggita asik bernyanyi di iringi dengan permainan gitar yang Andi mainkan, membuat suasana di rumah Bela menjadi lebih berwarna.
Sungguh suatu momen yang sangat indah di hari itu bagi Brian.
Bisa terus menikmati kecantikan wajah Anggita yang di hiasi dengan lesung pipit di kedua pipinya, membuat Brian semakin tertarik pada Anggita.
Brian duduk sambil menahan dagunya pakai tangan kanan, dengan netranya terus memandang Anggita dengan intens.
Sembari memainkan senar-senar gitar Andi tersenyum, melihat Brian yang tiada henti menatap kakaknya.
Anggita yang kurang begitu peka, ataukah Anggita berpura-pura tidak tahu, untuk menguji sampai di mana kesabaran hati dan jiwanya Brian bila di cuekin.
Ataukah Anggita sengaja supaya Brian puas menatapnya tanpak ada halangan atau gangguan dalam memandang dirinya.
Lima lagu sudah Anggita dan Bela nyanyikan, sementara Brian hanya menyimak dengan kedua netranya yang terus memandang.
"Widiiih ternyata suara kalian pada merdu-merdu." Ujar Andi.
"Bukan suara kita yang merdu ya Git, tapi permainan gitarmu yang bagus An." Cetus Bela.
"Ah biasa saja sih, malahan masih banyak salahnya." Tukas Andi.
Lalu Brian pun memberi pujian pada permainan Gitarnya Andi.
"Betul An, dalam setiap petikan senar yang lo' mainkan sungguh luar biasa, apakah lo' punya Band?." Tanya Brian.
"Kagak, gua gak punya Band, keseharian gua malah sibuk di mesin." Ujar Andi.
"Tapi cara lo memainkan gitar sepertinya dudah sangat biasa." Tukas Brian.
"Dulu iya sih, waktu sekolah gua ikut Band sekolah, dan pegang pada gitar." Ucap Andi.
"Ya itu maksud gue." Timpal Brian sambil melirik tipis pada Anggita.
Bela yang sempat memperhatikan Brian, tersenyum semringah seperti telah mengetahui isi dari hatinya Brian.
"Sepertinya Bang Brian suka deh sama Gita, Alhamdulilah akhirnya abang gue nampak terlihat menyukai wanita." Batin Bela menatap dalam pada Brian.
__ADS_1