
Setelah itu mereka pun pada bubar keluar dari sekolah Putra Bangsa.
Vina meminta pada Andi untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumah, Andi pun tidak bisa menolak untuk menolong orang yang meminta pertolongannya.
Mendengar jawaban dari Andi hati Vina terasa di taburi oleh bunga-bunga mewangi, meski ia sendiri belum tau pasti tentang hatinya Andi pada dirinya apakah punya perasa'an yang sama atau sebaliknya.
Lalu Vina menaiki motor Andi dan duduk sebagaimana wanita, di jok belakangnya Andi.
Andi pun langsung menghidupakan motornya, nampak terdengar oleh Vina suara yang keluar dari selongsong kenalpot yang bising, tapi karena Vina menyukai si pengemudinya yang akhirnya di bawa enjoy saja, meski telinga nya alergi dengan suara-suara bising.
"An lo' tau kan rumahnya gue?." Tanya Vina.
"Tau dari mana Vin, baru kali ini gua nganterin lo'." Jawab Andi.
"Oh gtu, Nanti di depan lo' belok kiri masuk Gang, nanti masuk jalan kamboja lo' ambil kanan." Jelas Vina.
"Oke siap." Tukas Andi sambil menarik gasnya.
Motor Yamaha Rx king cobra terus melaju dan mengikuti petunjuk dadi Vina, sehingga tidak lama kemudian Andi dan Vina telah tiba di depan rumah mewah.
"Stop, udah sampai An." Ujar Vina sembari turun dari motornya Andi." Ujar Vina.
"Oh ini rumah lo', wah waah ternyata lo' anak orang kaya, gua lihat mobil ada dua, motorpun ada, tapi kenapa lo suka naik angkot." Ujar Andi sambil terbelalak kaget, karena tidak menduga sebelumnya ternyata Vina Artiyana anak orang kaya.
"Ah elo' yang kaya kan orang tua gue, kaya lo' aja anak seorang pengusaha terkenal, tapi motormu cuma motor jadul berisik lagi." Ujar Vina membalikan keada'an.
"Tapi orang tua lo' benar-benar orang kaya Vin, di lihat dari arsitektur rumahnya juga ini bisa memakan biaya miliaran rupiah Vin." Ujar Andi.
"Udah udah udah,, Norak lo' ah, ayo masuk." Ujar Vina meminta pada Andi untuk masuk kedalam pintu gerbang.
"Tidak Vin, gua mau balik lagi aja, kapan-kapan aja deh gua main ke sini." Ujar Andi.
"Ah yang bener, tidak bohong kan." Tukas Vina.
"Ya elah Vin, emang ada gitu di tampang gua tipe pembohong?." Tanya Andi.
"Sedikit." Jawab Vina.
"Ah payah lo', gua balik dulu ya, lain kali aja ku mampir lagi, soalnya di rumah gua sendiri, apalagi gua belum kasih makan si Gery." Ujar Andi.
"Oke, nanti kalau ada waktu main sini ya An, gue tunggu kedatangan lo'." Ujar Vina.
"Iya Vin, insa Allah gua akan main sini." Jawab Andi sambil menarik gas perlahan.
__ADS_1
Vina langsung berjalan memasuki ke dalam rumah.
Sedangkan Andi melaju dengan kendara'annya menuju pulang ke rumah.
..........................
Sementara di tempat lain.
Di sebuah rumah sakit tempat Nandi menjalani perawatan.
Ada dua orang lelaki lagi berjalan dengan gerak geriknya yang sangat mencurigakan, mengendap- endap memasuki ruangan tempat Nandi di rawat, yang sudah di pindahin keruangan tempat pemulihan, dan salah satu temannya berdiri di luar sambil celingukan sana sini lalu memberi isyarat pada temannya yang mau mencoba memasuki ruangan tempat Nandi di rawat.
"Sst, cepetan mungpung istrinya lagi keluar." Bisiknya.
"Iya, kalau ada orang kamu kasih tau gue, dengan bersiul." Pintanya, sambil mendekati pintu masuk ruangan.
Perlahan tangannya meraih gagang pintu, lalu di tarik ke bawah dengan pelan sembari di dorongnya ke dalam.
Setelah tiba di dalam ia pun langsung menutup kembali pintu dengan pelan, lalu membalikan badannya ke arah ranjang besi, nampak Nandi lagi berbaring tertidur nyenyak dengan bantuan oksigen menutupi hidungnya dan selang infusan.
Orang tidak di kenal itu tersenyum menyeringai, sambil mengeluarkan benda dari saku jasnya, berbentuk jarum suntik.
"Sekarang tamatlah riwatamu Nandi." Batinnya bermonolog sambil melangkah mendekati botol cairan infusan yang tergantung di standar infus.
Lalu setelah itu ia bergegas keluar dari ruangan tempat Nandi di rawat.
Apa sebenarnya yang di lakukan orang tidak di kenal itu, lalu cairan apa yang di masukan kedalam infusan itu.
"Gimana?." Tanya nya berbisik.
"Beres." Jawabnya sambil memberi kode dengan jempol kanannya.
Setelah itu kedua orang tidak di kenal berjalan ke arah toilet wanita, tungkai kakinya di langkahkan memasuki sebuah ruangan yang kosong.
Tidak lama kemudian mereka pun keluar, dengan pakaian yang berbeda, bukan pakaian yang di pakai ke tika lagi memasuki ruangannya Nandi.
Sementara Sindi yang sebelumnya tadi keluar sebentar, untuk membeli makanan yang sekalian mau menghiruk udara segar di luar, karena merasa suaminya sudah mulai membaik, jadi Sindi tidak terlalu khawatir meninggalkan Nandi.
Ketika Sindi lagi berjalan mau memasuki halalaman rumah sakit, telinganya mendengar suara Alarm tanda bahaya.
Sindi tersontak kaget, lalu ingatannya spontan terbayang wajah suaminya.
"Suara srine tanda bahaya, jangan-jangan Suamiku dalam bahaya." Ujar Sindi bergegas mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Tapi baru saja Sindi mengayunkan langkah kakinya tiba-tiba ada sekelepatan tangan yang menutup hidungnya dengan sebuah kain tipis.
Mata Sindi melotot dan mendelik ke atas, seketika itu Sindi terkulai lemas dan tidak berdaya, lalu sebuah mobil portuner melaju mendekat, dan salah seorang keluar dari dalam mobil sambil memberi isarat.
"Cepetan masuk." Ujarnya.
Dengan gesit dan cekatan orang itu pun langsung masuk dengan memboyong tubuh Sindi.
Kini mobil portuner itu langsung tancap gas dan melaju dengan kencangnya meninggalkan rumah sakit tersebut.
Sedangkan di area dalam rumah sakit, tepatnya di ruangan tempat Nandi di rawat lagi sibuk, dengan sedikit kepanikan, karena pasen yang sudah mulai masuk tahap pemulihan, tiba-tiba kejang-kejang dan mulutnya keluar busa, sambil mengucapkan kata Allahu Akbar.
"Ini gimana suster, bukannya pasen sudah tahap pemulihan, kenapa bisa terjadi begini, lalu di manakah ibuk Sindi yang selalu menjaga suaminya., suster cepat bawa cairan infus ini ke laboratorium." Ujar Dokter sedikit panik.
"Baik Dok."
Lalu salah satu Dokter yang berkumis tebal, berkulit bersih datang dan bertanya.
"Kenapa pihak rumah sakit bisa kecolongan begini, sepertinya ada penyusup yang ingin membinasakan pak Nandi, dengan cara memasukan racun ke cairan infusan." Ujarnya.
Kemudian Dokter terus memberikan bantuan pertolongan pada Nandi memasukan suntikan untuk mencegah racun tersebut menjalar ke jantung, tapi semua itu sia-sia.
Mungkin sudah menjadi takdir dari perjalanan hidupnya Nandi, dan di saat kembali menghadap pada sang pencipta ia harus melewati jalan yang pahit dengan jalan di dzolimi orang.
"Ina lilahi wa ina ilaihi rojiun, nyawa pak Nandi tidak bisa tertolong lagi." Ucap sang Dokter sambil mengusap wajahnya Nandi.
"Suster cepat hubungi keluarganya pak Nandi, dan cari tau kemana Ibuk Sindi, tanya pada semua Security, barang kali pernah melihat Ibuk Sindi." Tukas sang Dokter.
"Ayo kita cek ke laboratorium, apa yang sudah di masukan kedalam cairan infusan." Ajak sang Dokter.
Singkat cerita.
Hasil lab di laboratorium, cairan yang ada di infusan adalah sejenis racun yang mematikan, sejenis senyawa Racun Arsenik rajanya Racun dari segala racun.
Konon senyawa itu telah banyak membinasakan nyawa manusia.
Lalu siapakah kedua orang yang telah menyusup ke ruangan tempat Nandi di rawat.
Dan siapakah orang yang sudah menculik Sindi, lalu bagaimana reaksinya Andi Nayaka dan seluruh Warga Gang Si'iran.
Nantikan di episode selanjutnya.
Terima kasih atas dukungannya, Salam sehat sejahtera dan sukses selalu.
__ADS_1