
Andi dan Kamal, kini telah tiba di ruangan atas, nampak banyak berserakan barang-barang, kamal dan Andi berteriak memanggil.
"Konta, Kanti, mah mamah." Panggil Kamal.
"Dek Konta dek Kanti, Bibi kalian di mana." Teriak Andi memanggil.
Kamal dan Andi terus menyusuri setiap ruangan, sambil terus memanggil.
"Aku di sini." Terdengar oleh Kamal dan Andi suara wanita yang sangat mereka kenali.
Lalu Andi dan Kamal pun berlari ke arah pusat suara.
Setiba di ruangan sempit nampak Astuti lagi memeluk kedua anaknya yang lagi dalam ke ada'an pinsan.
"Konta-Kanti kamu kenapa nak." ujar Kamal langsung memburu pada anak kembarnya.
"Mereka tidak apa-apa pah, mereka pinsan kemungkinan karena lapar, tau sendiri anak kita." Timpal Astuti.
"Ya sudah kita harus secepatnya keluar dari sini Bibi." Tukas Andi.
Kemudian mereka pun langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut, Kamal menggendong Konta dan Astuti menggendong Kanti.
Setiba di ruangan bawah nampak Dude dan kawanannya masih pada tergeletak belum sadarkan diri.
Andi, Astuti dan Kamal segera keluar dari gudang tersebut dan berlari menuju pada kendara'annya.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai, kamal langsung membuka kunci mobil melalui remot kontrol.
Lalu Andi membantu membukakan pintu mobil, Astuti segera masuk dengan membopong kanti begitu pula Kamal memasukin Konta di jok belakang bersama Astuti.
Setelah itu kamal langsung menutup pintu belakang dari luar, lalu bergegas melangkah dan membuka pintu mobil depan untuk segera mengemudi.
Setelah mobil di nyalakan, kamal langsung tancap gas.
Mobil kini telah melaju menyusuri Jalan Pungpurutan, Andi pun mengikutinya dari belakang.
Satu jam kemudian.
Mereka telah sampai di depan rumahnya Sindi, lalu mereka bergegas keluar dari dalam mobil, nampak Sindi, Buk Sari dan Pak Dirman lagi duduk di kursi teras depan, menyambut kedatangannya Kamal dan Astuti, karena sebelumnya Andi telah mrngirimkan chat pada ibuknya.
"Ya Allah Cucuku kenapa kalian." Sambut Buk sari sambil memburu pada Astuti dan Kamal yang lagi berjalan sambil membopong Konta dan Kanti.
"Teh minta air hangat ya." Ujar Astuti sambil melangkah masuk kedalam rumah.
"Iya sebentar dek, aku ambilin dulu." Ujar Sindi bergegas melangkah menuju dapur.
Tidak lama kemudian Sindi telah datang dengan membawa dua gelas air hangat bersama sendok untuk memberi minum konta dan kanti yang terkatup rapat.
__ADS_1
Perlahan Astuti dan kamal menyelupkan sebuah sendok kedalam gelas yang berisi air hangat.
Kemudian di minumkan pada Konta dan Kanti, untuk membasahi tenggorokannya yang rapat dan memberi kehangatan pada perutnya yang kosong.
Selang beberapa menit.
Konta dan Kanti nampak menggerakan jari jemarinya, lalu kelopak matanya mulai terbuka perlahan-lahan.
Mungkin Konta dan Kanti masih belum kumpul semua ingatannya sehingga ia berteriak.
"Jangan sakiti aku, ampun." Teriak Konta dan Kanti sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Ini Ibuk, dan Ayah nak." Ujar Astuti.
Begitu mendengar suara Astuti dan Kamal, Konta dan Kanti langsung membulatkan kedua bola matanya, seperti lagi memperhatikan baik-baik.
"Ayah." Teriak Konta sembari memeluk erat Kamal.
"Ibuuukk." Panggil Kanti melakukan hal yang sama seperti Konta.
"Iya ini Ibuk nak, coba kamu perhatikan siapa yang ada disini." Ujar Astuti sambil mengarahkan Kanti pada seluruh yang hadir.
"Ibuk Sindi, Kakek Nenek, Abang Andi." Ujar Kanti sambil menautkan pandangannya pada, Buk sari, Pak Dirman, Sindi dan Andi.
"Iya cucuku, sekarang kamu sudah aman." Ujar Buk sari.
"Lalu siapa nek, yang menyelamatkan aku dan Kak Konta?." Tanya Kanti pada Neneknya.
..........................
Sementara di tempat lain.
Di sebuah gudang Kimia yang sudah tidak di pakai lagi.
Nampak Dude dan kawanannya sudah mulai menggerakan tubuhnya sambil meringis merasakan seluruh tubuhnya pada sakit semua.
Satu persatu mereka beranjak bangkit, dengan langkah yang tertatih-tatih memburu pada sebuah bangku di pojok dalam gudang.
"Sial, kita kalah lagi, ternyata si Andi malah semakin hebat ilmu bela dirinya." Teriak Dude sambil menggebrak meja.
"Iya Bos, apalagi kedua orang tua anak kembar itu, sangat mahir sekali bela dirinya." Pungkas salah satu dari mereka.
"Benar menurut cerita dari orang-orang dulu, anak Gang si'iran tidak bisa di anggap remeh." Pungkas Murdi ikut bicara.
"Kita harus mencari guru yang sakti, untuk membalas ke kalahan kita pada si Andi." Ujar Dude penuh kekesalan dan dendam yang tidak pernah padam dalam hatinya.
Kini hari pun sudah mulai memasuki Senja, Dude dan kawanannya, bergegas keluar dari dalam gudang dengan sepeda motonya.
__ADS_1
Di lain tempat.
Tepatnya di Gang Sawah, Toglo lagi asik kumpul bersama anak istri dan kedua adiknya, sambil menatap jauh kesebelah barat, melihat cahaya merah jingga yang menggurat di atas cakra wala.
Angin dingin telah meniup sepoi-sepoi menerpa dedaunan melambai-lambai.
Kepulan uap dari sebuah kopi hitam di gelas kaca, menemani keluarga kecil yang harmonis, perlahan tangan kekar Toglo meraih gelas kaca.
Seruupuut.
Kopi yang nampak masih mengepul di seripit perlahan.
"Alhamdulilah hari ini kita masih di beri kenikmatan." Cetus Toglo.
Ceklek ceklek
Toglo menyalakan sebuah korek gas, lalu di bakar ujung roko.
Sepuuuuhhhhh...
Hembusan asap putih meluncur keluar dari mulutnya Toglo.
"Apa enaknya sih Ayah merokok." Ujar Ali sembari memperhatikan Toglo.
"Nanti kalau kamu sudah besar, dan sudah bisa mencari uang, kamu akan tau jawabannya nak." Jawab Toglo.
Wawan dan Wiwin hanya tersenyum tipis, melihat muka polosnya Ali yang nampak lucu dan menggemaskan.
"Iya ponakanku, sekarang kamu cuma bisa berkata begitu, nanti kalau kamu sudah dewasa akan tau arti dan nikmatnya dari sebatang rokok dan segelas kopi hitam, hehee." Celetuk Wawan tertawa tipis.
"Ah om Wawan sama kaya Ayah, suka bikin PR." Ujar Ali.
Kemudian Wulan datang membawa sepiring singkong rebus yang sudah di bumbui.
"Ngopi belum lengkap tanpak sepotong singkong rebus." Tukas Wulan.
"Wah, tau aja kamu sayang." Ujar Toglo.
"Asiiik pasti ini enak." Timpal Ali.
"Iya dong mamaah gitu lho." Ujar Toglo memberi pujian pada istrinya.
Keluarga kecil sederhana nampak begitu bahagia, tertawa ceria, seperti jauh dari kata sedih.
Walau terkadang mereka selalu teringat pada mendiang nenek Jumi, yang mereka jadikan panutan atas didikannya yang selalu memberi warna dalam kehidupan mereka.
Biarpun ke ada'annya masih banyak ke kurangan tapi nenek Jumi semasa hidupnya tidak pernah mengeluh, selalu tampil semangat.
__ADS_1
Itulah yang membuat, Wanda, Wawan dan Wiwin sangat sayang pada mendiang Nenek Jumi.
Ketika suara adzan berkumandang, Toglopun langsung mengajak kedua adiknya, anak dan istri untuk melaksanakan solat berjama'ah.