Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 82 Pulang ke desa


__ADS_3

Pukul 16:00


Semua karyawan telah keluar dari tempat kerjanya memenuhi area parkiran Distributor.


Rara begitu keluar nampak seperti bingung, sambil melangkah masuk kedai, lalu duduk di bangku sambil menopangkan tangannya ke meja menahan dagunya.


Andi yang baru tutup toko dan bengkelnya, berjalan dengan langkah yang panjang, sesampainya di depan kedai Andi tersontak kaget melihat gadis cantik yang seperti kebingungan.


Andi melangkah menghampiri Rara lalu bertanya.


"Ko masih di sini?." Tanya Andi.


"Iya pak, aku bingung." Jawabnya.


"Bingung kenapa?." Lanjut Andi bertanya sambil menurunkan bokongnya duduk berhadapan di bangku.


"Aku pulang jauh, mau ngontrak belum punya duit untuk bayar." Ujarnya.


"Kenapa kamu harus bingung, kalau kamu mau tinggal di rumah kakek ada dua kamar yang tidak terpakai, bekas almarhum ayah dan Bibi Astuti." Tawar Andi.


"Tapi aku malu pak, gimana kalau aku ngontrak saja, tapi kalau satu rumah sama kakek dan nenek pak Andi, kayanya gimana gitu, gak enak aku." Ujar Rara.


"Lalu kamu mau pulang gitu, ya sudah aku Antar, pulangnya ke mana emang?." Tanya Andi.


"Rumahku jauh, di ujung perbatasan antara dua kabupaten, tapi masih masuk wilayah Bandung. Kalau naik bus dua jam perjalanan." Jelas Rara.


"Ya terus kamu maunya pulang apa ngontrak." Ujar Andi memberi dua pilihan.


"Pinginnya pulang sih." Tukas Rara.


"Ya sudah tunggu sebentar." Ujar Andi.


"Emang Pak Andi mau kemana?." Tanya Rara.


"Kamu mua pulang gak."Celetuk Andi.


"Ya Mua."


"Ya sudah tunggu di sini jangan banyak protes." Tukas Andi.


Rara cuma bengong dengan sikapnya Andi, apa sebenarnya yang akan Andi lakukan.


Rara cuma mengikuti perminta'an Andi, ia duduk sambil menunggu Andi datang kembali.


Tak lama kemudian Andi datang dengan membawa motor, berpakaian Jaket levis dan pakai helm.


"Ayo naik." Pinta Andi.


"Mau kemana pak?." Tanya Rara.


"Katamu mau pulang." Sahut Andi.

__ADS_1


"Bapak mau nganterin gitu, jangan Pak, tempatku jauh, apalagi Bapak habis kerja capek." Ujar Rara.


"Ayo cepat naik nih pakai helmnya." Ujar Andi sambil memberikan helmnya pada Rara.


Rara sedikit bengong, dan merasa canggung bila harus duduk berdekatan sama lelaki yang belum muhrimnya.


"Tapi pak."


"Udah tidak usah banyak tapi tpian, cepetan mungpung masih sore." Ujar Andi.


Walau merasa malu dan tidak enak hati, akhirnya Rara pun melangkah naik duduk di jok belakangnya Andi.


Setelah itu motorpun melaju menyusuri jalan Gang Si'iran.


Setelah Andi sampai di Jalan Delima, Andi berkata pada Rara.


"Kamu pegangan yang kuat, sebelum maghrib kita harus cepat sampai di rumahmu." Ujar Andi bernada tinggi karena bising nya suara kendara'an.


"AKu gak enak pak masa harus pegangan, kita kan bukan muhrim." Seru Rara.


"Iya tidak apa-apa kita kan tidak bersentuhan kulit, malahan aku pakai baju tiga lapis, kaos dalam, kemeja dan Jaket, demi keselamatan kamu pegangan yang kuat." Pinta Andi.


Walau agak1 sedikit malu dan canggung, akhirnya secara perlahan kedua tangan Rara memegang melingkar di pinggangnya Andi.


Setelah itu, motor Yamaha Rx king melaju dengan kencang.


Sieeeang siiieeng..


Weng weeeennng...


"Jangan takut, agar kita bisa lebih cepat sampai." Teriak Andi.


Andi terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, tidak memperdulikqn yang di boncengnya sudah seperti ketakutan, apalagi pas melalui tikungan tajam, kaki Rara yang hampir bersentuhan dengan aspal.


Rara sampai berpegangan kencang sekali pada pinggangnya Andi.


Pukul 17:15 menit.


Andi telah sampai di tempat kediamannya Rara, Sebuah perkampungan yang resik, dengan udara segar alami, dan hijaunya perbukitan membuat Andi merasa betah berada di tempat itu.


Pesawahan yang luas berundak-undak, dan air yang jernih mengalir di selokan, di iringi dengan irama kicauan burung menyambut datangnya senja.


Ketika Rara melangkah turun dari motor, ia melotot sampai mengurut dadanya, karena merasa sok, ketika Andi melajukan motornya begitu kencang.


"Kamu kenapa ko seperti keselek begitu?." Tanya Andi.


"Waduuuh pak Andi, aku sampai mau copot jantungku, gila pak Andi bawa motornya." Ujar Rara.


"Sungguh pemandangan yang indah sekali, jujur aku merasa nyaman di tempat ini." Cetus Andi mengalihkan pembicara'an.


"Ya namanya juga di pedesa'an pak, ya begini bila datang musin hujan becek sekali pak." Tukas Rara.

__ADS_1


"Jangan panggil aku Pak ya, kesannya terasa kurang pantas gitu." Ujar Andi.


"Masa iya sih, kan pak Andi Bos aku, terus harus panggil apa?." Ujar Rara bertanya.


"ya terserah asal jangan Pak aja." Ujar Andi.


"Ya sudah, bagaimana kalau aku panggil Aa aja ya." Ujar Rara.


"Iya itu lebih baik." Ucap Andi.


"Lalu kalau lagi jam kerja, aku panggil Aa juga begitu." Tukas Rara.


"Kalau itu bagaimana baik nya aja." Ujar Andi.


"Oh iya sampai lupa aku gak di kasih minum, bentar ya Aa, ku ambil air minum dulu." Ujar Rara.


"Iya, iya."


Tidak lama kemudian Rara datang dengan membawa segelas air putih, lalu di turunkan ke atas meja bersama'an dengan dirinya duduk di sopa.


"Ayo Aa di minum, ma'af ya di sini cuma adanya air putih, tidak seperti di tempat Aa, selalu ada." Ujar Rara.


"Sama saja, malahan aku juga lebih suka air putih dan kopi doang, memang sih ibuk selalu menyediakan berbagai macam buah-buahan di kulkas, tapi aku juga jarang minum-minum begitu, paling kalau lagi cuaca panas baru aku kadang suka bikin jus." Ujar Andi.


"Oh iya, Btw, orang tuamu kemana?." Tanya Andi.


"Bapak dan ibuk suka ke sawah, paling sebentar lagi juga pulang." Jawab Rara.


Baru Saja Rara berkata, nampak terlihat dari balik kaca jendela, sepasang lelaki dan Wanita sudah beumur, serta dua orang anak yang masih kecil, berjalan menuju teras rumah.


"Lha itu Bapak sama ibuk dan kedua adiku baru pulang." Tunjuk Rara keluar.


Andi pun langsung membalikan wajahnya, lalu menatap pada lelaki dan perempuan serta dua anak tersebut.


"Wah orang tuamu sangatlah rajin dan pekerja keras." Ujar Andi.


"Ya namanya di kampung Aa, kalau tidak begitu ya gak makan." Ujar Rara.


"Ah bisa aja kamu, masa iya gak makan, buktinya kamu bisa sekolah nyampai SMA." Tukas Andi.


"Ya iya, ku bisa sekolah karena kerja keras orang tuaku Aa." Timpal Rara.


Lalu Rara beranjak bangit dan berjalan menyambut kedatangan kedua orang tuanya beserta adik-adiknya.


"Kamu sama siapa Ra." Tanya Bapaknya Rara.


"Ku di Antar pemilik perusaha'an tempat aku bekerja Pak." Ujar Rara.


"Uluuuh, gimana atuh, tidak ada makanan apa-apa disini, sudah di kasih minum belum?." Tanya Sumpena(Bapaknya Rara).


"Sudah Pak."

__ADS_1


"Ya sudah temenin dulu, Bapak sama ibuk mu mau membersihkan dulu badan, malu kan pada kotor." Tukas Sumpena.


Lalu Rara kembali lagi pada Andi yang lagi menunggu di ruangan tamu.


__ADS_2