
Setelah itu, Andi dan Vina segera melaju menuju rumah. Begitu tiba di rumah, Andi langsung memanggil Ibunya dan kakaknya, Anggita.
Kemudian Sindi dan Anggita pergi ke ruang tamu menemui Vina.
“Eh, ada tamu, malam-malam begini Habis dari mana sama Andi?” tanya Sindi.
Vina langsung memberikan salam pada Sindi dan Anggita.
“Selamat malam buk. Maaf mengganggu istirahatnya, aku bertemu dengan Andi di jalan, jadi sekalian saja silaturahmi ke sini.” Ucap Vina
"Oh, begitu, Silahkan duduk." Ucap Sindi.
"Terima kasih Buk." Ujar Vina sambil menurunkan bokongnya, duduk di sopa.
"Ketemu sama Andi di mana?." Tanya Sindi.
“Di depan pertiga'an Buk, ku habis dari rumah sakit, besuk ayah lagi dirawat,” kata Vina.
"Sakit Apa? Ayahmu, Vin?.” tanya Anggita.
"Awalnya dari pikiran, tapi semakin hari semakin memburuk kondisi kesehatannya.” jawab Vina.
“Sebaiknya Ayahmu dibawa pada ahli psikiater." Saran Anggita.
“Sudah aku rencanakan, tapi ayah saya lebih suka dirawat di rumah sakit,” Ujar Vina.
"Kalau sakit dari pikiran memang butuh waktu yang tidak sebentar untuk sembuh. Bila terus-menerus di rumah sakit, hanya akan membuang-buang duit saja." Ujar Sindi.
"Iya Buk, sudah hampir seminggu belum juga ada perubahan." Ujar Vina.
Kemudian Andi datang mengenakan kaos panjang untuk menutupi luka di tangannya. Lalu Sindi menautkan pandangannya dan bertanya pada Andi
"Andi pergi dari mana kamu, sampai membawa si Gery lagi?." Tanya Sindi.
__ADS_1
“Aku hanya jalan-jalan saja, sekalian mengajak Gery keliling kota." jawab Andi.
“Tadi Sapitri datang nanyain kamu, katanya kamu di suruh ke rumah, bahwa Jaroni sudah diijinkan pulang. Paling ibuk besok sama Anggita akan menengok Jaroni.” kata Sindi.
“Alhamdulillah kalau begitu, berarti paman Jaroni sudah mulai membaik." Ujar Andi.
Kemudian Vina memotong pembicara'an.
“Maaf, apa yang terjadi dengan paman Jaroni?” tanya Vina.
“Malam kemarin, ketika Andi baru pulang dari rumah sakit, ada tiga orang yang berpakaian seperti ninja ingin menyatroni rumah. Jaroni memergokinya dan terjadilah perkelahian, hingga Jaroni terluka. Sekarang dia sudah pulang ke rumah, dan kondisinya sudah mulai membaik." Jelas Sindi.
"Oh, syukurlah kalau keada'annya sudah mulai pulih." Ucap Vina.
Andi memberikan kode isyarat pada Vina untuk tidak memberitahu Ibunya tentang luka di tangannya. Vina mengerti dan berkata
"Masa Allah, mau ngapain para Ninja itu mendatangi rumah ibuk." Ujar Vina.
"Ya ibuk juga kurang tau, yang jelas , mereka pasti mau berbuat jahat." Ujar Sindi.
Vina pun memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit.
"Ma'af buk, aku pamit mau ke rumah sakit lagi." Pamit Vina.
"Nginap saja di sini." Tawar Sindi.
"Terima kasih buk, nanti lain waktu saja." Ujar Vina.
"Terlalu beresiko bagi seorang wanita pulang malam-malam seperti ini,” Ucap Sindi.
“Terima kasih, buk. insa Allah, aku akan baik-baik saja. Rumah sakit tempat ayah dirawat tidak terlalu jauh ko dari sini." Kata Vina.
Andi menawarkan diri untuk mengantar Vina, namun Vina menolak karena Andi masih terluka.
__ADS_1
Vina kemudian berjalan memburu pada mobilnya yang diikuti oleh Andi, Sindi, dan Anggita. Sampai di luar rumah.
Vina membuka pintu mobil dan Andi memberikan instruksi kepadanya untuk hati-hati. Mobil Honda Brio pun segera melaju.
Ketika Vina menyingkirkan mobilnya, Andi masih menatap ke arahnya sambil berkata.
"Hati-hati Vin, Kalau ada apa-apa, hubungi gua.” Ujar Andi.
Vina pun berkata sambil menolehkan wajahnya di balik kaca jendela mobilnya yang terbuka.
"Oke, terima kasih, by." Jawab Vina sembari melambaikan tangannya pada Andi.
Andi berdiri menatap ke pergiannya Vina, lalu Andi kembali setelah mobil Vina hilang di telan jarak yang semakin menjauh.
Malam itu langit nampak cerah, ada beberapa bintang ber kerlipan menghiasi langit, Andi duduk di bangku sambil mengangkat kakinya di tumpangkan pada atas meja.
Kedua netranya nampak menerawang jauh, seperti lagi memikirkan sesuatu.
"Vina, gua tau elo' menginginkan gua kembali pada mu, kenapa pula dulu kamu mudah sekali jatuh pada rayuan lelaki gombal macam Rangga." Batin Andi bermonolog.
Sebungkus roko gudang garam filter telah Andi keluarkan dari balik sakunya.
Lalu di ambilnya satu batang, dan di bakar ujung roko tersebut dengan api dari sebuah korek gas.
Sepuuuuhhh....
Hembusan asap putih meluncur dari mulutnya Andi.
Rambut tebal agak panjang sebagian menutupi telinganya, menari-nari di terpa angin malam.
Terkadang lamunannya terbang ke masa-masa waktu SMA dulu, di mana ia sering mengantar pulang Vina naik motor Rx king miliknya.
Andi nampak senyum-senyum sendiri, ketika lamunannya berkelana pada masa indah, saling canda tawa ceria bersama Vina.
__ADS_1
Saking asiknya Andi terbawa ke alam pata murgana, sikapnya yang seperti orang tidak waras terkadang senyam-senyum sendiri, dengan tatapan nya yang kosong, telah di perhatikan dari balik kaca jendela sebuah kamar.
"Uluuuh, Andi kenapa ko seperti lagi terbang dalam hayalan, wah celaka ini tidak boleh di biarkan, bisa-bisa jiwanya ada yang merasuki." Gerutunnya bermonolog.