
Andi kini dapat pelajaran baru dari Toglo, dan luka yang merobek di pangkal lengan kirinya kini sudah nampak rapat, setelah di mandikan sama Air rendaman kalungnya, di bantu dengan menyalurkan hawa murni oleh Toglo.
Membuat Andi menjadi lebih enteng, pangkal lengannya yang membengkak, perlahan-lahan sudah agak berkurang.
Dengan sangat telatennya Toglo merawat luka Andi, dan memberi rebusan obat-obatan tradisional untuk pengobatan dari dalam, guna mencegah terjadinya impeksi.
"Alhamdulilah tidak sampai satu hari lukamu sudah tidak bengkak lagi, seperti yang telah saya sebutkan tadi setiap mau tidur kamu rebus ramuan itu, insa Allah luka mu akan segera sembuh total." Ujar Toglo
"Baik Paman, apa yang sudah Paman berikan padaku, ku sangat berterima kasih sekali, dan aku akan selalu mengingat kebaikan Paman padaku." Tukas Andi.
"Iya sama-sama An, dulu Almarhum ayahmu begitu baik sama Paman, sampai-sampai Paman tidak bisa membalas jasa kebaikan Ayahmu dan sekarang sudah sepantasnya Paman melakukan yang terbaik padamu." Timpal Toglo.
Pukul 21:00.
Wulan dan Ali muncul membawa makanan umbi rebus bersama dua gelas kopi hitam.
"Biar tambah seru, nih di kopian lagi, dan Umbi rebus." Ujar Wulan.
"Wah waah, bibi ini memang paling pintar, jadi tambah betah aja nih tinggal di sini, sudah udaranya enak banyak pemandangan lagi, tempat ini sangat cocok bagi orang yang fi lilit hutang piutang." Canda Andi.
Kemudian Ali duduk di sampingnya Toglo sambil menyapa pada Anfi.
"Bang Andi, penyayang binatang juga rupanya." Ujar Ali.
"Iya dong Al, binatang juga kan mahluk cipta'an tuhan." Tukas Andi.
"Emang gak galak gitu Bang." Ujar Ali.
"Tergantung kitanya Al, kalau kita jahat sama binatang, maka binatang itupun akan lebih jahat pada kita" Tukas Andi
"Oh begitu ya, oh iya kata guru ngaji Ali, Binatang Anjing itu kan najis, kalau di jilat sama binatang itu, membasuhnya pakai tanah tujuh kali dan air tujuh kali." Ucap Ali.
"Iya betul itu, tapi kita harus bisa mengajarkan binatang piarara'an yang di larang agama agar tidak menyentuh kita, ya kamu bisa lihat sendiri kan si Gery dia tetap jaga jarak sama kita, karena abang sudah menyuruhnya untuk diam di situ." Ujar Andi.
"Wah Bang Andi hebat, binatang pun bisa patuh dan setia pada Bang Andi." Tukas Ali.
Toglo dan Wulan hanya tersenyum melihat ke akraban Ali sama Andi.
Suasana malam di Gang Sawah, nampak lebih indah pemandangan yang luas, apalagi langit nampak cerah dengan bintang berkerlipan satu dua menghiasi angkasa.
Seripitan kopi hitam yang di iringi hembusan asap putih dari sebatang roko yang di hisap,
membuat Andi dan Toglo seperti tidak ada beban dalam hidupnya.
Skip
__ADS_1
........
Sementara di tempat lain.
Di sebuah perumahan mewah, dikomplek Grand city.
Di sebuah kamar di lantai dua, nampak se orang wanita cantik lagi memandang keluar sana di balik jendela yang terbuka.
Rambutnya yang panjang terurai menari-nari di terpa angin malam yang meniup masuk ke ruangan kamar tempat tidurnya.
Sedangkan di atas meja kecil, sebuah televisi menyala menonton wanita yang lagi anteng mengirimkan lamunannya untuk berpetualang jauh ke negri antah berantah.
Wanita tersebut yang tak lain adalah Vina Artiyana, yang kini mendapat giliran dari Rosa(Ibuknya), untuk pulang.
"Kira-kira Andi sekarang lagi ngapain ya, pasti deh lagi berdua'an sama Rara." Gumam Rara dalam hati.
Di sa'at Vina lagi berpetuqlang dengan lamunannya, ia di kejutkan dengan suara acara di televis.
Yang mengabarkan telah terjadi pertempuran disebelahBarat perkebunan teh dengan di temukannya tiga lelaki bertato yang telah tewas, pihak kepolisian menyatakan bahwa ke tiga lelaki bertato itu adalah tiga pembunuh bayaran.
Ke tiga pembunuh bayaran itu di perkirakan tewas dalam sebuah pertarungan, melihat dari luka dari ke tiga pembunuh bayaran semuanya terkena sebuah senjata, setelah di lacak ternyata senjta tersebut adalah miliknya sendiri.
Salah se orang dari ketiga pembunuh bayaran itu, ada yang tewas dengang gigitan Binatang buas, Tewasnya ke tiga pembunuh bayaran yang paling di takuti itu, kini sudah menjadi pembicara'an orang-orang.
Vina langsung membalikan badannya, dengan kedua netranya terus saja memandang pada acara di televisi.
"Semakin kuat bukti itu, apalagi salah seorang dari mereka ada yang tewas dengan gigitan binatang buas, cuma Andi di kota ini yang selalu membawa si Gery, kalo lagi menjalankan misinya, kalau pun itu benar Andi, berarti ketiga orang itu telah membuat hati Andi terluka." Ujar Vina bermonolog.
Vina semakin ingin melupakan Andi, malah ia semakin rindu ingin berjumpa.
Semua poto-poto Andi waktu bersama dirinya di panpang di setiap dinding ruangan kamarnya.
Hati dan jiwanya Vina yang masih terpatri pada Andi, malam itu ia berniat mau menemui Andi di Gang Si'iran.
Vina lalu bergegas keluar dari kamarnya, dan di raihnya kunci mobil di atas meja.
Lalu berjalan menuruni setiap trapan tangga menuju lantai dasar.
Setelah Vina berada di luar rumah, ia langsung memijit remote control untuk membuka kunci mobil.
Kemudian melangkah memasuki mobilnya, mobilpun di nyalakan, satpam yang menjaga pintu gerbang langsung sigap membuka pintu gerbang.
"Terima kasih pak usman." Sapa Vina.
"Iya non sama-sama, hati-hati di jalan." Ujar mang Usman.
__ADS_1
Vina pun langsung melaju keluar dari halaman rumahnya, menusuri jalan komplek.
Setelah Vina keluar dari kawasan Grand City, Vina langsung melaju di jalan raya Mengkudu, lalu berbelok ke kiri menuju arah jalan Delima Raya.
Suasana di jalan masih nampak ramai di padati oleh kendara'an yang masih lalu lalang.
Tidak lama kemudian Vina telah berbelok memasuki jalan yang mengarah ke Gang Si'iran.
Tiba-tiba Vina menghentikan laju mobilnya dengan rem mendadak, ketika ada kendara'an Toda dua menyalipnya dan langsung menggunting lajunya mobil Vina.
Vina terbelalak, bercampur senang karena sang pengemudi kendara'an roda dua tersebut, adalah orang yang malam itu ingin ia temuinya.
Sang pengemudi kendara'an toda dua itu langsung mrlangkah turun dati motornya dan berjalan menghampiri mobilnya Vina, sambil mrngetuk kaca pintu mobil.
Tok
Tok
Tok
Perlahan Vina menurunkan kaca pintu mobilnya, sambil tersenyum semringah.
"Haii An, gue sampai kaget di kira gue orang yang mau berbuat jahat sama gue." Ujar Vina.
"Hehee, dari jauh gua sudah melihat mobil lo' berbelok, lalu gua salip." Tukas Andi.
"Dasar lo' kebiasa'an suka ngagetin orang." Timpal Vina.
"Oh iy, btw elo mau kemana atau habis dari mana?." Tanya Andi.
"Gue mau ke hatimu." Jawab Vina sambil tersenyum tipis.
"Ohh ya." Tukas Andi.
"Hehee, maaf gue bercanda ko." Ujar Vina
Secara tidak di sengaja Vina menoleh pada tangan kirinya Andi.
"Lha tangan lo kenapa." Sontak Vina.
"Oh ini, jatuh dari motor." Jawab Andi berbohong.
"Ah gue gak percaya kalau itu jatuh dari motor, pastinya lo' abis berkelahi." Ujar Vina.
"Itu terserah elo mau percaya mau kagak." Tukas Andi.
__ADS_1
Vina memandang Andi dengan intens, seperti lagi membaca isi dan pikiran Andi, bahwa yang Andi katakan itu cuma ingin menutupi kejadian yang sebenarnya.