Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 80 Kembang Desa


__ADS_3

pukul 18:00


Mobil pajero New sport kini sudah memasuki halaman dan langsung ke garasi.


Anggita, Sindi, Pak Dirman, Buk Sari serta Andi keluar dari dalam mobil.


Mereka langsung mengambil air wudhu karena waktu maghrib telah berkumandang melalui suara adzan yang telah di perdengarkan di mana-mana.


Andi dan kakeknya serta Kamal dan Konta sudah berpakaian layaknya orang mau melakukan solat.


Mereka berjalan beriringan kemasjid yang tidak jauh dari tempat kediamannya.


Selepas solat berjama'ah mereka berkumpul di tempatnya Sindi, sambil menikmati angin malam yang segar bertiup dari pegunungan sebelah selatan.


Kopi yang sudah berbaris di meja menanti untuk segera di nikmati.


Pak Dirman perlahan meraih gelas kopi dan di seripitnya, kemudian Kamal dan Andi serta Jaroni yang sudah datang untuk berjaga langsung ikut gabung.


"Malam ini terasa beda dengan malam-malam sebelumnya." Celetuk Jaroni.


"Beda gimana Jar, menurutku ya sama aja, kalau malam pasti gelap, seperti malam kemarin juga begitu." Tukas Kamal.


"Hahaha, Pak Kamal bisa aja, iya aku juga tau kalau malam itu pasti gelap, maksudku suasana agak berbeda lebih tenang pokoknya susah di ucapkan dengan kata-kata, cuma bisa di rasakan oleh hati dan pikiran kita." Ujar Jaroni.


"Iya sih, aku pun mersakannya, lebih tenang dan gimana gitu." Cetus Astuti.


"Sama aku pun merasakannya begitu, semoga aja tidak terjadi hal yang buruk pada diri kita semua." Cetus Sindi.


"Amiiiin." Mereka berkata sebagai tanda jawabam dari ucapannya Sindi.


"Oh iya, sebenaranya ada sesuatu yang akan aku pertanyakan pada dek Konta dan dek Kanti, tapi gak enak lain kali aja." Celetuk Anggita sambil melirik dengan sudut matanya pada Andi.


"Emang mau bertanya apa gitu kak?." Tanya Konta.


"Nanti aja deh." Jawab Anggita.


Andi sangat peka dengan perkata'annya Anggita, biar bagaimanapun Anggita mempunyai naluri dan insting yang tajam.


"Pasti deh kak Anggita curiga sama gua, dengan sikap gua sepulang dari tempat itu waktu bersama Konta dan Kanti." Batin Andi.


"Sebelum kak Anggita tau dari Konta dan Kanti, sebaiknya gua ceritain kejadian waktu di tempat itu." Lanjut Andi bermonolog dalam hati.


"Memangnya ada apa Git, sama Konta Kanti." Tukas Astuti.


"Gak ada apa-apa sih Bibi." Ujar Anggita.


"Kita sebagai orang tua, gak usah kepoin masalah anak muda, mungkin ada sesuatu yang tidak boleh di ketahui sama yang lainnya kali." Celetuk pak Dirman.


"Wah kakek ada benar juga tuh, sebaiknya para orang tua tidak usah kepo madalah anak muda, Iya kan kek." Ujar Kanti.

__ADS_1


Astuti dan Kamal tersenyum tipis, sambil berkata.


"Dan kamu para anak muda, jangan kepo ya masalah orang tua." Tukas Astuti.


"Setau aku, aku tidak pernah kepo, apa yang di lakukan sama Ayah dan Ibuk." Cetus Kanti.


"Huuusss, tidak boleh berkata begitu, Pamali." Tukas Buk sari.


Malampun tidak terasa telah bergeser, Kamal beserta anak istri, telah pamit undur dari tempat itu begitu pula Pak Dirman dan Buk sari, untuk beristirahat melepaskan lelah setelah seharian penuh jalan-jalan mengelilingi tempat wisata di sebuah danau.


Kini tinggal Andi, Anggita dan Sindi serta Jaroni.


"Emang kakak tadi mau bertanya apa? Pada konta Kanti, pasti masalah gua ya." Ujar Andi.


"Ko kamu bisa menebak kesitu?." Tanya Anggita.


"Ya gua merasakan dari lirikan mata kakak ke gua, kan aneh bertanya pada Konta dan Kanti tapi mata melirik pada gua." Ujar Andi.


"Jujur aja, iya, Kakak merasa ada yang aneh pada sikapmu waktu di mobil, nampak terlihat murung dan menerawang jauh gitu, ada apa sih?." Tanya Anggita.


Kemudian Andi pun menceritakan kejadian waktu di tempat itu semua tidak ada yang du tutup tupin lagi.


"Nah begitu ceritanya kak, gua merasa di hina dan di campakan oleh wanita yang terlihat baik tapi menikam di belakang." Jelasnya Andi.


Sindi dan Anghita bergetar jantungnya, merasakan sakit dengan cerita Andi.


"Dosa apa ya Allah yang telah ku perbuat, sehingga anak yang aku sayang mengalami hal semacam itu." Tukas Sindi.


Ko bisa ya Vina berlaku begitu, padahal kelihatannya dia wanita baik-baik walau rada ketomboyan, ya sudah mungkin ini suatu pelajaran buatmu agar bisa lebih dewasa lagi." Timpal Anggita.


"Nama juga manusia Bos, terkadang suka berubah, dalamnya laut masih bisa kita selami tapi hati manusia tak seorangpun yang tahu isinya." Pungkas Jaroni ikut bicara.


"Iya sih benar Paman."


"Wah ngomong-ngomong sudah larut malam nih, Paman Jaroni kalau Paman lelah tidur aja di pos, kalau ada apa-apa kan ada si Gery, yang selalu memberi tahu dengan gonggongannya yang keras." Ujar Anggita.


"Iya Jar kamu pasti lelah, padahal tidak jaga pun tidak apa-apa kami pun mengerti." Tukas Sindi.


"Iya Paman, kasihan juga Buk Sapitri di tinggal terus tiap malam, hehee." Guarauan Andi.


"Wah den Andi ini ada-ada saja." Ujar Jaroni.


Setelah itu Sindi, dan kedua anaknya telah memasuki rumah, tinggal jaroni sendiri berteman sepi dan angin malam.


................................


Ke esokan harinya.


Hari senin awal mulai lagi beraktipitas, dengan rutinitas masing-masing.

__ADS_1


Di sebuah perjalanan, jalan yang membentang dan berliku dengan medannya jalan yang turun naik.


Sebuah mini bus antar kota lagi melaju dengan kecepatan rata-rata, terkadang berhenti setiap melewati perapatan atau pertiga'an mencari penumpang.


Di kursi jok nomor empat dari depan, nampak gadis berparas cantik jelita, dengan rambut panjang bergelombang terurai menutupi sebagian netranya.


Dengan sebuah ponsel berada dalam genggamannya, serta headset terpasang di kedua telinganya.


Memandang layar ponsel dengan aplikasi google Map, rupanya gadis itu lagi mendeteksi keberada'an alamat yang ia tuju.


"Di sini perjalanan tinggal lima kilo meter lagi, berarti aku harus bersiap-siap untuk turun." Batinnya.


Setelah itu sang kondektur memberi tahu pada penumpang agar bersiap-siap.


"Delima raya siap-siap." Ujar sang kondektur bernada tinggi.


Gadis itupun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kedepan untuk siap-siap turun.


Mobil mini bus pun berhenti di jalan Delim KM 90, para penumpang pun turun, berikut gadis itu.


Setelah gadis itu turun, lalu ia berjalan menuju sebuah pangkalan ojeg.


"Bang tau Gang Si'iran?." Tanya Gadis itu.


Sang ojegpun langsung menyalakan motornya dan berkata.


"Ya tau atuh neng ayo naik, Gang Si'iran nomor berapa neng?." Tanya sang Ojeg.


"Emang ada berapa nomor gitu bang?." Gadis itu balik bertanya.


"Gang Si'iran itu luas neng, tujuan neng ke tempat siapa?." Tanya sang ojeg.


"Ke PT Anggita Surya Mandiri Bang." Jawab Gadis itu.


"Ooh itu, neng mau melamar kerja ya." Tukas sang ojeg.


"Iya Bang, kebetulan ada lowongan, abang kenal daerah itu." Timpal Gadis itu.


"Semua tukang ojeg pasti tau atuh neng, apalagi Gang Si'iran sangat terkenal." Tukas sang oneg.


"Oh gitu ya Bang, ya sudah ayo jalan Bang." Pinta Gadis itu.


"Siap neng, kita meluncuuurrrr."


Sang Ojeg pun langsung tarik gas, motor melaju dengan kecepatan setandar rata-rata, menuju Gang Si'iran.


Siapakah gadis itu, dan ada urusan apa ke Gang Siriran.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=Bersambung\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Salam sehat sejahtera dan sukses selalu.


__ADS_2