Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 137 Anak Jalanan.


__ADS_3

Waktu pun terus berlalu, tidak terasa waktu telah menunjukan.


Pukul 15:00


Andi, Erik dan Vina pun bersiap-siap untuk pulang, Setelah pakaianya yang basah sudah nampak kering.


"Hari dudah mulai dore ayo kita pulang." Ajak Andi pada Erik dan Vina.


"Ya sudah, gue pun gak enak nih badan rasanya, pingin cepat mandi." Sahut Vina.


"Bukankah tadi elo sudah mandi di telaga." Ujar Erik.


"Ya lain lagi dong, tadi kan gak sengaja." Sahut Vina.


Kemudian Andi dan Erik serta Vina berjalan menuju pada motornya yang terparkir di area parkiran yang telah di sediakan khusus bagi para pengunjung.


Setiba di tempat parkiran, andi meraih helm untuk Vina.


"Nih helmnya pakai dulu." Ujar Andi.


Kemudian Andi pun langsung memakai kan helmnya.


Lalu melangkah menaiki motor dan di nyalakannya.


"Ayo naik." Pinta Andi pada Vina.


Vina pun langsung melangkah naik dan duduk di jok belakang Andi.


Tukang parkir yang biasa suka memarkirkan kendara'an di situ langsung menghampiri pada Andi dan Erik.


Andi dan Erik langsung memberikan uang parkir sebesar tiga ribu rupiah


Setelah itu Andi dan Erik langsung melajukan sepeda motornya keluar dari area parkiran.


Para pengunjung yang terus keluar masuk , sehingga membuat jalanan menjadi padat merayap, karena jalanan yang kecil di tambah medan jalannya yang turun naik, membuat Andi dan Erik harus ektra sabar menunggu sampai jalan kembali normal.


Setelah tiga puluh menit Andi dan Erik berjalan merayap, akhirnya laju kendara'an sedikit demi sedikit mulai kembali normal.


Kedua motor Yamaha Rx king yang tergabung dalam The Famili Gang Si'iran telah melaju dengan kecepatan delapan puluh.


Menjelang sore hari pemandangan alam yang di lalui nampak lebih indah, di tambah langit nampak terlihat cerah, secerah hati Vina sa'at itu, tanpak menunggu di suruh lagi oleh Andi, kini Vina sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Andi.

__ADS_1


Nampak terasa oleh Vina hangatnya tubuh Andi, sehangat rasa dan perasa'an di hatinya yang kini lagi bergelora.


Vina begitu yakin, bahwa dirinya sudah bisa lebih dekat lagi sama Andi, padahal hati Andi sedikitpun tidak begitu, ia menganggap Vina sekarang tak lebih dari sahabatnya seperti pada Erik dan Abeng.


Tidak lama kemudian Andi dan Erik telah mulai memasuki kawasan jalan raya yang mengarah pada Jalan Angkasa.


Jalanan pun sudah mulai di padati oleh berbagai jenis kendara'an.


Lalu Andi menurunkan laju kendara'annya pada di empat puluh kilo meter, ketika sudah mendekati pertiga'an jalan yang mau memasuki ke tempatnya Erik.


"Rik, gua gak mampir dulu ke rumah lo ya." Ujar Andi.


"Lho.. Emang kenapa An?." Tanya Erik.


"Sudah sore nih, takut gak keburu solat Ashar." JWab Andi.


"Di tempat gua juga bisa solat." Sahut Erik.


"Bukan begitu, pakaian gua kan kotor, badan ini terasa lengket nih, sori ya." Jelas Andi.


"Oh ya sudah, Tanks ya An, atas semua ini, dan lo' berdua hati-hati." Ujar Erik.


"Oke Vin sama-sama." Sahut Erik.


Setelah itu Andi langsung tarik gasnya kembali, sedangkan Erik langsung belok kiri memasuki jalan Gang menuju tempat kediamannya.


Andi melaju kencang menyusuri panjangnya Jalan Angkasa.


Tiga ratus meteran lagi Andi tiba di lampu setopan, nampak lampu lagi berwarna kuning, memberi tahu untuk hati-hati karena sebentar lagi lampu akan berubah warna merah.


Andi pun langsung memperlambat lajunya kendara'an dan berhenti ketika lampu sudah berwarna merah.


Seratus dua puluh detik Andi menunggu untuk berbelok kanan guna melaju memasuki Jalan Delima Raya.


Para pengamen yang biasa suka mencari uang recehan di setiap lampu merah, sudah mulai memainkan gitar dan bernyanyi.


Andi yang selalu punya hati welas asih, langsung merogoh saku jaket bagian depan dan di ambil uang sepuluh ribu rupiah untuk di berikan pada pengamen tersebut.


"Hai dek sini." Sapa Andi.


Sang vokal dari pengamen itu pun berjalan memenuhi panggilan Andi.

__ADS_1


"Suara vokalmu cukup bagus, dan gua sangat suka dengan lagu yang kau nyanyikan itu." Lanjut Andi berkata sambil memberikan uang.


Wajah dari pengamen itu nampak berseri-seri, karena mendapat acungan jempol dan uang sepuluh ribu dari Andi.


"Terima kadih Bang, semoga rejeki abang selalu di lancarkan, dan selamat sampai tujuan." Ujar pengamen sambil menerima uang dari huluran tangan Andi.


"Amiiin, teruslah latih Vocalmu itu, siapa tahu nantinya kau jadi penyanyi hebat." Ujar Andi memberi semangat.


"Iya Bang, makasih." Jawabnya sambil memberi hormat dengan membungkukan badannya.


Vina yang duduk di belakang Andi, begitu kagum pada kedermawannya Andi.


Cuma uang sepuluh tibu rupiah, anak jalanan begitu santunnya menghargai pemberian Andi.


Dari situ hati Vina mulai terbuka, anak jalanan yang selalu di cap jelek oleh orang-orang yang berpikiran sempit, ternyata tidak sejelek yang di bicarakan orang.


Justru dari jalananlah Andi pun bisa belajar tentang arti kehidupan yang sesungguhnya, bagimana cara menghargai orang, dan bisa mengenal watak dan kepribadian seseorang.


Jalan Angkasa yang di kenal rawan dan banyaknya anak jalanan dari berbagai kumpulan, di mulai dari para pengamen, anak-anak tongkrongan dan para preman yang pegang Wilayah, sudah sangat mengenal dengan anak-anak dari Gang Si'iran.


Setelah itu lampu setopan sudah berwarna hijau, semua kendara'an yang melaju lurus dan berbelok ke kanan sudah melaju kembali, termasuk Andi yang lagi berboncengan dengan Vina sudah melaju memasuki Jalan Delima Raya.


Motor Yamaha Rx king melaju dengan begitu kencangnya, dengan suaranya yang begitu bising memecahkan suasana di jalanan.


Jalan Delima yang membentang jauh dan lebar, tidak sampai memakan waktu lama ketika di jelajahi oleh alap-alapnya Gang Si'iran.


Sepuuh menit kemudian Andi sudah berbelok ke kiri memasuki kawasan jalan Gang Si'iran.


"Wah elo gila, dari lampu merah kesini itu cukuplah jauh, masa cuma sepuluh menit doang sudah sampai. bisa-bisa gue spor jantung." Ujar Vina.


"Hahaha..Sori Vin, gue cuma ingin tau mental lo' sampai di mana kekuatan mental lo' di jalanan." Tukas Andi.


"Itu namanya mau bunuh gue tau." Timpal Vina.


"Gua mau memburu waktu ashar takut gak keburu, soalanya pakaian gua kotor, waktu berenang di telaga itu." Jelas Andi.


"Okelah kali ini gue ma'afkan, tapi lain kali, gue gak mau lagi ah di bonceng sama elo', gue hampir kencing di bawa lari melebihi kecepatan rata-rata." Ujar Vina.


"Lalu elo kencing gitu, iiih jorok tau." Ujar Andi.


"Iih ya kagak, kan gue bilang hampir, tapi kalau masih jauh, gak tau deh, hihihi." Ujar Vina cekikik kan.

__ADS_1


__ADS_2