
Andi dan Rara duduk dalam satu meja dengan Vina, selepas itu Vina pun langsung memanggil pelayan di Restauran tersebut.
"Mb..Mb." Panggil Vina.
Pelayan pun langsung sigap dan bergegas menghampiri Vina.
Kemudian Vina menyerah kan buku menu makanan dan minuman pada pelayan setelah semua setuju dengan menu siang ini.
"Mb, Nasi tutug oncomnya tiga, plus sate marangginya sepuluh tusuk/porsi, dan minumannya air putih dan es goyobod." Ujar Vina.
"Baik Buk, tunggu sebentar ya." Tukas Pelayan.
Tidak lama kemudian Pelayan datang.
"Ini pesanannya, selamat menikmati hidangan dari kami." Ujar pelayan sambil mendaratkan makanan dan minumannya.
Tiga porsi nasi tutug oncom plus sepuluh tusuk sate maranggi.
Dan Minumannya Air puyih dan es goyobod sebagai pelengkap setelah makan.
"Ayo An dan Teh Rara di makan." Ujar Vina.
"Wah waah beneran nih elo yang traktir." Tukas Andi.
"Ya elah, ngapain gue bohong, ya bener lah masa Bo'ongan sih." Timpal Vina.
Setelah itu mereka langsung menyantap makanannya.
Andi nampak lapar sekali dalam menyantap makanannya, sehingga Andi lebih dulu telah menghabiskan makanannya.
"Alhamdulilah hari ini terasa nikmat sekali, kalau yang gratis itu terasa nikmat ya." Ujar Andi sambil tersenyum
Vina tersenyum tipis melihat Andi seperti lapar sekali dalam menyantap makanannya.
"Uluuuh, elo lapar apa belum makan, buset dah cepet amat makannya." Tukas Vina.
Berbeda dengan raut mukanya Rara Yang nampak banyak diam, yang sesekali menautkan pandangannya pada Vina dengan tatapan yang penuh cemburu.
Vina pun seperti mengerti akan isi hatinya Rara.
"Kamu kenapa teh Rara, aku lihat dari tadi raut wajahmu nampak seperti tidak bergairah, apa teteh sakit?." Tanya Vina.
Rara pun tersontak dengan pertanya'annya Vina.
"Oh tidak apa-apa ko." Jawab Rara.
"Hehee, Teh Rara tenang aja, aku gak bakalan merebut Andi darimu, justru aku sengaja mengundang Andi bersama teth untuk makan siang disini, aku pingin kenal sama teh Rara." Celetuk Vina sembari tertawa sedikit.
Lebih kaget lagi Rara, ketika Vina bisa menebak isi hatinya yang telah di selimuti oleh cemburu.
"Ih ko mbak Vina berkata begitu sih, urusan jodoh itu milik sang pencipta kita selaku manusia hanya bisa berharap." Tukas Rara menyembunyikan perasa'an cemburunya.
Andi hanya tersenyum sambil memperhatikan kedua wanita itu.
"Nampaknya Rara cemburu pada Vina, terlihat saja dari cara dia makannya seperti tidak pokus pada makanan yang ia makannya." Gumam Andi dalam hati.
__ADS_1
"Oh iya, Teh Rara aslinya orang mana?." Tanya Vina.
"Aku asli orang pasundan Mbak, dan mbak sendiri asli orang sini apa ada campuran suku lain?." Ujar Rara balik bertanya.
"Aku asli orang sini, ibuk orang bandung asli sedangkan bapak orang tasik, jadi darahku masih asli darah Sunda." Tukas Rara.
"Oh aku kira mbak ini bukan asli orang pasundan." Ujar Rara.
"Teh Rara sekarang aku mau sedikit bercerita tentang aku dan Andi sebelum teh Rara kenal sa Andi." Ujar Vina.
"Oh silahkan, insa Allah aku akan mendengarkannya dengan baik." Ujar Rara.
"Begini teh Rara, Andi adalah teman sekolah ku di SMA Putra Bangsa. Andi merupakan murid yang cerdas dan banyak meraih berbagai prestasi, sampai pada akhirnya Aku sering di antar pulang oleh Andi.
Dan setelah aku dan Andi lulus, sebelum aku melanjutkan pendidikan keluar negri, di suatu tempat aku dan Andi sama-sama mengungkapkan isi hati masing-masing, sampai pada akhirnya nasib berkata laian pada aku dan Andi.
Aku di jodohkan oleh mama sama lelaki yang merupakan pilihan mamah." Ungkap Vina bercerita secara garis besarnya saja.
"Lalu Mbk menikah sama lelaki pilihan mamanya mbak?." Tanya Rara.
"Iya Teh, tapi pernikahan aku patah di tengah jalan." Ujar Vina.
"Maksudnya, cerai?." Tanya Rara.
"Iya Teh." Jawab Vina singkat.
"Berarti sekarang mbak sudah menjanda dong?. Tanya Rara.
Vina cuma menganggukan kepalanya, sebagai jawaban dari pertanyaannya Rara.
"Mungkinkah Vina ingin mendekati lagi Aa Andi." Batin Rara bermonolog.
"Ya sudah teh Rara jangan berpikir yang aneh-aneh tentang aku, sekarang kita bisa berteman yang baik boleh kan." Ujar Vina.
"Iya boleh atuh, masa gak boleh." Tukas Rara.
Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, Andi pun langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Wah sudah mau masuk jam kerja nih." Ujar Andi.
"Iya nih, tidk terasa sudah mau jam satu." Tukas Vina.
"Bener nih elo' yang bayar Vin." Timpal Andi.
"Iya dong biar gue yang bayar, anggap saja ini perkenalan aku sama Teh Rara." Ujar Vina.
Setelah itu Vina pun langsung memanggil pelayan sambil menyimpan uang di atas meja untuk membayar semua makanan dan minumannya.
Dan pelayan itu pun langsung berjalan menuju meja tempat Vina, Andi dan Rara makan dan minum, kemudian pelayan membereskan alat bekas makan mereka, lalu pelayan meraih uang yang di selipkan di bawah piring, dan pelayan sedikit terkejut lalu memanggil Vina yang lagi berjalan keluar dari ruangan itu.
"Buk, Buuuk kembaliannya." Panggil Pelayan.
"Ya sudah ambil aja buat mbak." Jawab Vina yang sudah keluar menuju area parkiran.
"Makadih ya Buk." Tukas Pelayan.
__ADS_1
"Iya sama-sama." Jawab Vina sambil membuka pintu mobilnya.
Selepas itu Andi dan Vina sudah mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area parkiran Restoran.
"Lo' hati-hati Vin jalannya." Ujar Andi sembari membuka kaca jendela mobilnya.
"Iya, kalian juga hati-hati." Tukas Vina.
Kemudian mereka pun melajukan kendara'annya dengan berbeda arah, karena lokasi tempat kerja Vina dan Andi yang berlawanan arah.
Sedangkan Rara selagi dalam perjalanan nya, tak lepas dari pikirannya yang terus merasa curiga dengan undangan makan siang dari Vina, seperti ada maksud-maksud tertentu.
Andi yang sesekali menautkan pandangannya pada Rara, merasa ada yang aneh dengan sikapnya Rara yang banyak diam dan pandangannya yang seperti kosong.
"Hhmm, kamu kenapa Ra, dari tadi aku perhati'in sikapnya ko kaya jutek begitu?." Tanya Andi.
"Tidak ko, aku biasa saja." Jawab Rara sambil memandang jauh ke depan.
"Ah yang bener." Tukas Andi.
"Iya bener, aku tidak apa-apa Aa." Ujar Rara.
"Kalau begitu senyum dong, mana Rara yang biasa ku lihat selalu tersenyum." Timpal Andi sembari terus memegang kemudi.
"Ya terus aku harus bagaimana Aa." Ujar Rara.
"Ya tidak biasanya aja gitu kamu bersikap seperti itu, apa ada yang salah pada diriku sehingga kamu berubah seperti itu." Tukas Andi.
"Oh tidak Aa, sama sekali Aa tidak bersalah ko, justru aku nya aja yang terlalu berlebihan." Tukas Rara.
"Ya sudah ma'afin aku bila makan siang barusan membuat kamu jadi tidak nyaman, ya emang begitu kenyata'annya, Vina dan aku pernah menjalin hubungan pacaran, ya karena nasib berkata lain akhirnya hubungan aku dan Vina terputus karena mamanya yang telah menghadirkan Rangga di hidup Vina." Ujar Andi.
"Oh jadi Rangga yang membayar para preman itu, adalah suaminya mbak Vina?." Tanya Rara.
"Iya betul, Rangga cemburu di kira aku PDKT lagi sama Vina, padahal setelah kejadian di danau itu aku sudah melupakan semuanya, aku juga tidak tau kenapa Vina jadi retak sama suaminya." Ungkap Andi.
"Kalau memang mbak Vina cintanya sama Aa, kenapa dia mau di jodohin." Tukas Rara.
"Mulanya karena mamanya tidak mau kalau Vina berhubungan sama mantan Navi yaitu aku." Ujar Andi.
"Intinya kan Aa masuk penjara karena menumpas para mavia, yang terlibat pembunuhan terhadap orang tua Aa." Timpal Rara.
"Iya itu benar, tapi kan negara kita negara hukum, apapun alasannya yang namanya membunuh tetap aja ada hukum dan undang-undangnya Ra." Ujar Andi.
"Iya juga sih." Tukas Rara.
"Ya sudah tidak usah bahas itu lagi." Ujar Andi.
Tidak lama kemudian Andi dan Rara telah sampai di tempat kerjanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=Bersambung\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat hari raya idul fitri 1444 hijriah.
Minal aidin wal paidin mohon maaf lahir dan batin.
__ADS_1