Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 166 Langkah Seribu


__ADS_3

Abeng terus saja menarik ujung samurai itu pada kedua lawannya.


Rasa takut dengan kematian pada kedua begal itu, sampai kedua bibir gemetaran.


"Sekarang cepat kalian baca mantra menuju pada kematianmu, kobaran api neraka ssudah menantimu, hahahaha." Teriak Abeng merasa senang telah membuat kedua begal itu pecah empedunya( hilang keberanian).


Darah membunuh Abeng seperti perlahan naik, karena menurut Abeng penjahat kelas begal itu memang pantas untuk mati.


Berbeda dengan dirinya, yang merupakan penjahat kelas kakap yang selalu mengincar orang-orang kaya dan berduit.


Kemudian Abeng menarik samurai itu mundur kebelakang, lalu di ayunkannya mengarah pada kepala kedua begal tersebut.


Tapi belum juga samurai sampai di kepala kedua begal itu, ada sebuah benda keras menghadang samurai, yang sudah Abeng arahkan pada kepala kedua begal itu.


Traaanng...


Abeng menoleh ternyata Andi lagi berdiri sambil berkata memberi peringatan pada Abeng.


"Bang jangan lo' bantai lawan yang sudah tidak berdaya." Ujar Andi.


"Tapi An, mereka sudah banyak bikin korban, malahan orang semacam dia itu tidak pilih orang mau kaya mau miskin demi uang di bantainya dengan sadis." Tukas Abeng.


"Iya gua tau, tapi berilah kesempatan pada mereka untuk bertobat sebelum ajalnya menjemput, andaikan mereka masih begitu, biaralah Tuhan yang menghukumnya." Tutur Andi.


"Baiklah kalau begitu." Ujar Abeng.


"Sekarang kalian gua ampuni, tapi jangan harap kalian bisa selamat bila di hakimi oleh warga, cepat pergi sana, sebrlum gua berubah pikiran." Bentak Abeng.


Kedua orang itu langsung berdiri, sambil celingukan keduanya langsung lari tanpak menoleh lagi pada rekannya.


Abeng tertawa terbahak melihat kedua orang itu lari tunggang langgang.


Sementara Andi, Setelah kedua kawanan begal yang merupakan orang terkuatnya, tidak lagi bersenjatakan tajam, melainkan bertarung dengan tangan kosong.


Nampak terlihat begitu kewalahan menghadapi Andi.


Beberapa kali tendangan Andi bersarang, sehingga keduanya menjadi ketar-ketir, apalagi kedua rekannya sudah kabur meninggalkannya.


"Kurang ajar, si Cungkring dan si Coblak sudah pada kabur, awas nanti akan gue hajar." Batinnya sambil mundur sedikit demi sedikit.


Andi menatap pada kedua lawannya sambil tersenyum tipis.


"Woii, mau ngapain lo' mau kabur silahkan, gua kasih waktu pada kalian untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar." Teriak Andi.


Kedua orang lawannya Andi, langsung menggunakan jurus langkah seribu, begitu pula rekannya yang menjadi lawannya Erik, begitu melihat pimpinannya kabur, tanpak banyak lagi berpikir langsung melompat menjauh dari arena perkelahian dan lari mengejar pimpinannya.


"Dasar penjahat kampungan, yang bernyali patungan, rupanya penjahat juga takut mati ya." Ujar Erik bermonolog.


"Penjahat juga manusia Bro." Celetuk Abeng sambil melangkah mendekati Erik.


Setelah itu Andi, Abeng dan Erik kembali masuk kedalam mobil.


Sedangkan pak Rt yang sedari tadi asik menonton perkelahian Andi dan kedua sahabatnya nampak semringah.


"Wah-waah kalian hebat, coba aja kalau tidak ada kalian bertiga, mungkin nasib saya sudah menjadi mayat." Tukas pak Rt.


"Ya tidak juga begitu pak, kita harus yakin yang namanya mati itu bukan di tangan penjahat, melainkan di tangan Allah Swt." Ujar Andi.


"Betul itu." Celetuk Erik.

__ADS_1


"Ya sudah kita jalan, mudah-mudahan lancar tidak ada lagi halangan sampai di Gang Si'iran." Timpal Abeng.


"Amiin." Serempak menjawab.


Kemudian Andi langsung tancap gas, mobilpun melaju dengan kencang di jalanan yang sepi dan berliku.


...............


Tidak lama kemudian Andi telah tiba di Gang Si'iran, tepatnya di rumah pak Rt.


Setelah keluar dari mobil Andi, Erik dan Abeng pamit pada pak Rt.


Ketiga sahabat itu lalu meluncur, menuju rumahnya Andi.


Ke esokan harinya.


Setelah mereka melakukan ibadah solat subuh, Abeng dan Erik pamit pulang, karena mereka punya kegiatan aktivitas masing-masing.


Setelah kepergian kedua sahabatnya, Andi seperti biasa duduk di depan sambil minum kopi, karena sudah rutinitas Andi, pagi-pagi selalu mendahulukan ngopi ketimbang sarapan.


Tiba-tiba lamunan Andi menerawang kemasa-masa waktu masih kecil, di mana sosok ayahnya yang selalu membimbing anaknya ke jalan yang benar, dan membicarakan masa pahit hidupnya yang selalu banyak godaan dan rintangan.


"Ayah, sekarang aku bisa paham apa yang ayah ajarkan padaku, apa yang ayah alami semasa hidup ayah, kini aku alami juga, semoga aja aku selalu di beri kekuatan dalam menjalani hidup." Batin Andi.


Saking asiknya Andi berhalusinasi, sampai-sampai handphone nya bergetarpun tidak ia perdulikan.


Drett


Drrreet


Dreett


Sontak saja Andi tersadar dari lamunannya, ketika ia merasakan panas bara api dari sebatang roko yang jatuh menimpa tangan kirinya.


Astagfirullah hal adzim.


"Kenapa aku jadi merindukan ayah, ya Allah berilah tempat yang mulya untuk ayahku." Ujar Andi bermonolog.


Kemudian Andi meraih hndphone nya yang tergeletak di atas meja.


"Ya ampun, ko ada banyak panggilan tak terjawab." Gerutu Andi, sambil membuka panggilan tak terjawab.


"Nomor siapa ini." Ucap Andi.


Tidak lama kemudian, sebuah chat masuk di via whatssap.


📱.××× "Halo Andi apa kabar."


"Siapa ini, tau nama gua lagi, coba gua balas." Ucap Andi sambil mengetik chat balasan.


📱.Andi "Halo juga, Alhamdulilah kabar baik, ini siapa ya?."


📱.××× "Ini aku, Bela puspita teman kakakmu Anggita."


📱.Andi "Oh kak Bela, ko tau nomor aku."


📱.Bela "Ya tau dong."


📱.Andi "Tidak mungkin, pasti ada yang ngasih tau, dari kak Anggita ya?."

__ADS_1


📱.Bela "Iya, kamu jangan marah ya, boleh kan aku save nomormu."


📱.Andi "Ya boleh sih."


📱.Bela "Oke tanks ya An, ya sudah by Andi met beraktivitas."


Setelah itu Andi langsung menutup chatnya , dan menyimpan kembali handphone nya di atas meja.


"Mau ngapain Bela minta nomor gua sama kak Anggita, kenapa tidak sama gua aja." Batin Andi merasa aneh dengan sikapnya Bela.


Ketika Andi lagi memikirkan tentang Bela, terdengar suara yang memanggil dirinya.


An, Andi..


Andi menoleh ke arah pusat suara.


"Ada apa kak." Jawab Andi.


"Sini deh, ada yang mau kakak bicarakan sama kamu." Tukas Anggita.


"Disini saja kak." Ujar Andi.


Anggita akhirnya mengalah, ia berjalan menghampiri Andi dan duduk berhadapan.


"Emang apa yang akan kakak bicarakan, sepertinya penting banget?." Tanya Andi.


"Kakak mau minta ma'af." Ujar Anggita.


"Minta ma'af kenapa kak?." Tanya Andi.


"Kakak sudah mrmberikan nomor ponsel kamu pada Bela tanpak sepengetahuan kamu." Tutur Anggita.


"Oh itu, ya sudah gak apa-apa kak, malahan tadi Bela kirim chat sama aku." Jelas Andi.


"Oh jadi Bela sudah ngechat kamu?." Tanya Anggita.


"Iya kak." Jawab Andi.


"Sepertinya Bela suka deh sama kamu." Cerus Anggita.


"Ya gak mungkin kak, usiaku dan Bela jauh berbeda." Ujar Andi.


"Cinta itu tidak ada batasan, usia, dan derajat kalau sudah cinta semua jadi gelap, ya terus sekarang setatusmu gak jelas, Vina sudah janda, dan Rara cuma temenan apalagi sekarang sudah risen dari kerjaannya." Tutur Anggita.


"Untuk sementara ku mau pokus dulu sama usaha kak, apalagi kakak sendiri juga belum punya pacar, masa aku mau ngelangkahin kakak sih." Tukas Andi.


"Oh iya kak, sepertinya Bang Brian suka deh sama kakak." Lanjut Andi berkata.


"Hus ngawur kamu, dia kan dari keluarga terpandang, mana mau sama kakak." Ujar Anggita.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=Bersambung\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih yang sudah memberi dukunganya.


Ma'ap abila banyak kekurangannya, maklum ini cerita Author recehan.


Kalau gak suka abaikan saja.


Salam 🙏🙏 sehat sejahtera dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2