Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 145 Ketika Kehormatan akan di renggut


__ADS_3

Si gery berlari keluar sambil menggonggong keras. Andi dan kedua sahabatnya pun langsung memburu pada motornya, lalu di nyalakan dan melaju mengikuti si Gery yang terus berlari.


Insting dan daya penciuman si Gery yang begitu tajam, terus berlari mengikuti jejak dari manusia yang baunya masih melekat di sepanjang jalan.


Aksi si Gery dan ke tiga sahabat itu, sempat menjadi tontonan orang-orang yang lalu lalang di trotoar dan yang lagi mengemudi kendara'annya sempat berhenti dulu melihat aksi dari binatang dan ke tiga orang yang mengendari motor Yamaha Rx king.


Dari orang-orang yang melihat aksinya Andi dan kawan-kawan serta si Gery ada yang sempat me midio dan mengunggahnya di akun sosial media.


Si Gery terus mengikuti jejak dengan daya penciumannya yang begitu tajam.


Andi dan kedua kawannya mengikuti dari belakang.


Setelah jauh si Gery menelusuri jejak di jalan raya, kini Si Gery berlari memasuki kawasan jalan sepi yang menanjak dan berliku membentang membelah perbukitan.


Tidak lama kemudian si Gery berhenti sambil menggonghong mentap Andi.


Erik dan Abeng yang tidak paham akan sikapnya si Gery, hanya bengong sambil menatap pada Andi.


"Ko si Gery berhenti An, apa jejak nya hilang sampai sini." Ujar Erik.


"Si Gery memberi tau pada kita bahwa targetnya sudah dekat dan berada di sekitar daerah sini." Ujar Andi.


Abeng dan Erik membagi pandangan ke seluruh penjuru mata angin di sekitar tempat itu.


Nampak terlihat di kejauhan ada sebuah bagunan berbentuk kerucut hampir mirip dengan bangunan Viramida di mesir.


"Mungkinkah yang kita lacak ada di situ." Ujar Abeng.


Andi dan Erik langsung memperjelas pandangannya ke arah yang Abeng tunjuk.


"Ada kemungkinan Vina dan kedua orang tuanya berada di tempat itu." Tukas Andi.


"Selanjut apa yang akan kita lakukan, apa sebaiknya kita kesana, untuk memastikan." Ujar Erik.


"Kita tunggu di sini, biar si gery yang kesana." Ujar Andi sambil mendekati binatang piara'annya.


"Gery coba kamu telusuri kesana, kalau memang kamu mencium hal yang mencurigakan, kamu cepat kembali lagi kesini." Perintah Andi pada si Gery.


Gok


Gok


Gok


Si Gery menggonggong, lalu melompat dan berlari ke arah bangunan tua, sambil terus mendeteksi dengan indra penciumannya.


Tidak lama kemudian si Gery pun kembali, menggonggong memberi tahu, mengajak pada Andi untuk kesana.


"Ayo kita ke sana, jangan bawa kendara'an, supaya ke hadiran kita tidak di ketahui oleh mereka." Ujar Andi.


"Oke." Jawab Erik dan Abeng.serempak.

__ADS_1


Kemudian merekanpun langsung bergerak menuju bangunan tua.


Sementara Rangga yang sudah membuat pakaian Vina sobek, nampak membara api asmara birahinya, setelah melihat kulit mulusnya Vina.


Vina berontak, yang sudah di liputi oleh rasa takut kehormatannya akan kembali di renggut oleh Rangga.


"Lepasin gue bangsat, jangan coba-coba lo' macam-macam pada gue." Teriak Vina sambil terus meronta-ronta dan mencari akal agar bisa terlepas dari rante yang membincang dirinya.


Rangga tertawa puas, dengan kedua netranya memandang liar tubuh Vina dengan penuh asmara birahi.


Lalu Rangga melangkah meniaki tubuh Vina sambil membuka pakaiannya.


Vina terus berontak agar bisa terlepas dari napsu gilanya Rangga.


"Jangan macam-macam kau." Ancam Vina.


Tapi sedikitpun Rangga tidak menghiraukan ancamannya vina, Rangga malah semakin liar memandang Vina.


Dengan napasnya yang sudah tidak teratur lagi, wajahnya sudah mulai memerah, karena aliran darahnya yang di pompa oleh jantung mengalir begitu cepat ke seluruh organ.


Vina semakin gelisah, takut kehormatannya di renggut lagi oleh lelaki yang pernah menjadi suaminya itu.


"Tenang sayang, kamu jangan banyak bergerak, bukankah kamu pun ingin melakukannya." Ujar Rangga sambil mendekatkan wajahnya pada wajah cantiknya Vina.


Vina berteriak dengan begitu kencang memaki Rangga.


"Lepasin gue Anjing." Teriak Vina sambil meronta ronta.


"Itu suara Vina." Ujar Andi.


"Iya betul, gua hapal banget dengan suaranya Vina." Tukas Erik.


"Kalau begitu kita harus bergerak cepat menolong Vina dan orang tuanya." Bisik Andi.


Kemudian Andi, Abeng dan Erik mengatur siasat dan membagi tugas, karena Andi melihat dari celah sirkulasi udara ada empat lelaki bertubuh kekar lagi berjaga.


Kemudian Andi meminta pada si Gery untuk menggonggong keras.


Binatang itupun seperti telah mengerti dengan ucapan Andi.


Si Gery melompat masuk kedalam sambil menggonggong keras, dengan di iringi oleh Erik dan Abeng.


Jony Baret dan ketiga rekannya pun tersontak kaget dengan kemunculannya se ekor Anjing besar berbulu coklat kehitaman.


Si Gery lansung mekesat menerkam Jony Baret, sementara Erik dan Abeng langsung melompat ke atas sambil berteriak melakukan serangan.


"Modar lo' Anjing keparat." Teriak Erik.


Perkelahian di bangunan kerucut pun berlangsung sengit.


Abeng dan erik bergerak begitu cepat dan garang.

__ADS_1


Sementara Andi langsung memburu pada sebuah ruangan tempat Vina di sekap.


"Bangsat rupanya pintunya di kunci dari dalam." Ujar Andi sambil mundur tiga langkah.


Lalu Andi memusatkan tenaga dan kekuatannya untuk di pusatkan pada tangan kanannya.


Kemudian Andi melompat melepaskan pukulan tinju buminya ke arah pintu panel dari kayu.


Heaaaaa.


Braaak bok bekrak..


Pintu panel yang terbuat dari kayu jati langsung berantakan hancur berkeping-keping oleh kekuatan pukulan tinju Bumi.


Rangga langsung terperanjat kaget, dan langsung melompat turun dari ranjang ketika lagi mendekap tubuh Vina.


"Dasar binatang lo', gak ada kapok-kapoknya Anjing." Teriak Andi sambil melompat menghantamkan pukulannya pada Rangga.


Bruuuugghh...


Duk


Duk


Duk


Deeeaasss...


Andi menghujani pukulannya pada Rangga, karena amarahnya Andi yang tidak bisa di bendung lagi.


Rangga terpental menghantam dinding tembok, dan langsung terkapar tidak sadarkan diri.


Kemudian Andi membuka jaketnya dan di lemparkan pada Vina sambil mdmbelakangi tubuh Vina yang setengah telanjang.


"Tutup dulu tubuhmu." Ujar Andi.


"Giman gue menutupnya, kan tangan dan kaki gue di bincang." Jawab Vina merasa malu yang tak terhingga, karena tubuhnya sudah tidak lagi mengenakn pakaian, karena di robek-robek oleh Rangga.


Andi berjalan menyamping sambil membalikan mukanya, mendekat ke arah ranjang untuk membuka rante yang membincang kedua kaki dan tangannya Vina.


Setelah Tangan dan kakinya terlepas dari rante yang membincangnya, vina langdung menutup tubuhnya dengan jaketnya Andi.


"Terima kasih An, elo sudah menolongku, entah apa jadinya aku kalau tidak ada lo'." Ujar Vina.


"Iya sama-sama, sudah kewajiban kita sesama manusia harus saling tolong menolong, lalu di mana Orang tuamu?." Tanya Andi.


"Kan Ayahku di rawat di rumah sakit." Ujar Vina.


"Justru itu gua bersama Erik dan Abeng mencari kalian sampai ke sini, karena gua melihat kabar di televisi, pak Pajar dan Ibukmu gak ada di rumah saakit." Jelas Andi.


"Masa Allah, apa yang terjadi dengan ayah dan Ibuk ku." Ratap Vina.

__ADS_1


"Ya sudah sekarang lo' diam aja dulu di sini, gua mau beresin orang-orang bayaran Rangga yang sekarang lagi bertarung sama Abeng dan Erik." Ujar Andi


__ADS_2