Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 15 Kesedihan.


__ADS_3

Sindi terus mengumpulkan pecahan kaca yang banyak berserakan di atas lantai.


Jantung terasa berdebar dan rasa perasaan hati yang sudah bercampur was-was akan keselamatan suaminya yang lagi dalam perjalanan pulang.


Setelah itu Sindi langsung mengambil ponselnya di atas meja, kemudian ia langsung menghubungi nomornya Nandi, berkali-kali Sindi menghubungi


Nandi tapi jawabannya tetap sama.


"Nomor yang anda tuju berada di service area."


Rasa panik kini mulai menyelimuti hati dan perasa'annya Sindi.


Lalu Sindi mencoba menghubngi Astuti melalui aplikasi whatssap.


Nampak di layar ponsel tertulis berdering pertanda whatssap Astuti lagi aktip.


Selang satu menit Sindi menunggu, akhirnya telponpun terhubung, dengan penuh rasa gugup dan panik yang sudah menguasai perasaannya, Sindi pun berkata.


📞.Sindi "Halo dek, lagi di mana, ko ponselnya ayahnya Andi tidak aktip, lalu kamu kenapa ko nangis begitu cepetan jawab?."


Sindi terus menunggu jawabannya dari Astuti, dan hatinya kini semakin gelisah.


Tidak lama kemudian Astuti berkata di telepon.


📞.Astuti "Teh Sindi yang sabar ya, Aa Nandi mengalami ke celaka'an, sekarang lagi di bawa ke rumah sakit."


Heeeeaaakk


Jeleeegeerrr...


Mendengar kabar dari Astuti, Sindi bagaikan di sambar petir disiang hari, kepalanya mulai terasa pening jantungnya pun mulai berdebar kencang, dan lemas seperti tidak ada daya dan upaya.


Seketika itu Sindi tidak mampu menggerakan badannya, tubuhnya terasa lemas dan akhirnya Sindi tergeletak pinsan.


Sementara Buk sari yang lagi berada di lapak langsung terperanjat ketika indra penciumannya menangkap bau gosong.


"Astagpirullahhal adzim, seperti bau gosong, pak bapak nyalain kompor gak?." Tanya Buk Sari pada Pak Dirman.


"Tidak Buk, iya ya sepertinya dari arah rumahnya Nandi, coba cepat tengok takutnya Sindi belanja lupa tidak matiin kompor dulu." Saut Pak Dirman.


Buk Sari langsung bergegas pergi menuju rumahnya Nandi, setiba di dalam Buk Sari tersontak ketika melihat wajan yang sudah hangus.


"Masa Allah Sindi, kunaon sih buak teh nya." Gerutu Buk Sari langsung mematikan kompor yang sebentar lagi akan membakar wajan tersebut.


Dan masakannya yang sudah gosong berserakan di atas tunggu dan meja.

__ADS_1


"Sindinya kemana, taledor budak teh, kudu namah rek indit-inditan komporna di pareumanan heula (Sembrono seharusnya mau pergi itu kompornya di matiin dulu) Lanjut Buk Sari menggerutu.


Kemudian Buk sari menoleh ke ruang tamu, netranya langsung terbelalak kaget ketika melihat Sindi yang tergeletak dan ada beberapa pecahan kaca yang belum selesai sindi bersihkan karena Sindi keburu pinsan.


"Ya Allah Sindi kamu kenapa nak." Teriak Buk Sari sembari bergegas memburu Sindi.


Buk sari membangunkan Sindi dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya Sindi, selang beberapa menit Sindi mulai menggerakan tubuhnya di iringi dengan membukakan kedua matanya secara perlahan, setelah itu Buk Sari melemparkan pertanyaan.


"Kamu ini kenapa Sindi, tadi kalau ibuk tidak segera kesini rumah ini mungkin sudah menjadi santapan api." Ujar Buk Sari.


Sindi pun baru menyadari, sebelumnya memang ia lagi memasak buat persiapan makan malam suamianya.


"Ya Allah, lalu ibuk yang matiin kompornya." Tukas Sindi.


"Iya ibuk matiin, tadi lagi di lapak mencium bau gosong, setelah ku cari datangnya dari rumahmu, emangnya kamu kenapa?." Tanya Buk Sari.


"Hik hik hik hik Buuukkk..." Sindi hanya menjawab dengan tangisan sambil merangkul pada Buk Sari.


Buk sari pun bingung dengan sikapnya Sindi, sebenarnya apa yang telah terjadi, sehingga Sindi bersikap demikian.


"Sekarang tenangkan hatimu, dan hentikan tangisanmu, cerita sama ibuk apa? Yang telah terjadi?." Desak Buk Sari.


"Ayahnya Andi Buk.." Saut Sindi tidak di terusin.


"Emangnya kenapa dengan Ayahnya Andi?." Tanya Buk Sari mulai terbawa suasana.


"Apa......Nandi kecelakaan, lalu sekarang bagaimana keadaanya." Sontak Buk Sari kaget mendengar jawaban dari Sindi


Karena Buk sari sudah banyak pengalaman hidup, pait manisnya kehidupan sudah di arungi dalam bahtera rumah tangga, lalu Buk Sari menenangkan Sindi.


"Sudah sekarang kamu yang tenang dan jangan panik, berdoa meminta pada sang pencipta agar suamimu berada dalam lindungannya, sekarang kamu bersiap-siap kita susul Nandi kerumah sakit." Ujar Buk Sari.


Setelah itu terdengar bunyi notipikasi di ponselnya Sindi.


Sindi lalu membuka ponselnya, nampak Astuti mengirim alamat tempat Nandi di rawat dengan menyerlock lokasi.


"DekTuti telah mengirim alamatnya Buk." Ujar Sindi.


"Ya sudah ibuk mau kasih tau dulu Bapk, dan Kamal, ooh iya lalu Andi bagaimana sudah di kasih tau belum." Ujar Buk Sari.


"Belum buk kan aku tadi keburu pinsan, aku mau kasih tau dulu Anggita Buk." Saut Sindi.


"Kalau bisa, Anggita jangan di kasih tau dulu, kasihan dia kan lagi menimba ilmu yang tinggal sebentar lagi akan selesai, takutnya mempengaruhi konsentrasi belajarnya, nanti lihat situasi dan kondisinya dulu." Saran Buk Sari.


"Ooh ya sudah Buk." Sahut Sindi.

__ADS_1


Singkat Cerita Pak Dirman beserta keluarga sudah melakukan perjalanan untuk menjenguk keada'an Nandi yang lagi dalam perawatan di sebuah rumah sakit di daerah wilayah Jawa tengah.


Sementara Andi yang sudah di kabari oleh Sindi (Ibuknya), me mutuskan tidak ikut berhubung di rumah kosong tidak ada orang, takut kejadian malam kemarin lusa terulang kembali.


Andi pulang lebih awal dari biasanya, pukul 16:00 Andi sudah sampai di depan rumah, nampak Toglo dan Jaroni lagi duduk santai di bangku taman depan rumah. Andi menyalakan klakson memberi isyarat pada Toglo dan Jaroni.


Jaronipun langsung bergegas melangkah untuk membuka pintu gerbang.


"Assalam mualaikum Paman." Sapa Andi sambil mendorong motornya memasuki gerbang.


"Wa alaikum salam, Den Andi kenapa gak ikut sama ibuk jenguk ayahmu." Ujar Jaroni.


"Tidak Paman, Ibuk dan kakek meminta aku agar tidak ikut dulu." Jawab Andi.


"Paman Toglo." Lanjut Andi menyapa pada Toglo.


"Iya nak Andi, cepat mandi sana dan makan, tuh sudah paman sediakan nasi bungkus, karena ibukmu tidak sempat masak." Ujar Toglo.


"Iya Paman terima kasih." Sahut Andi, lalu melangkah memasuki ke dalam rumah.


Dua puluh menit kemudian Andi keluar dari dalam rumah, menghampiri Toglo dan Jaroni.


"Paman berdua sudah pada ngopi belum?." Tanya Andi.


"Paman sudah ngopi ini masih belum habis." Jawab Toglo sambil meraih gelas kopi dari atas meja.


"Oh iya paman, aku pingin menyempurnakan ilmu bela diriku, supaya bisa sehebat paman berdua." Ujar Andi.


"Sebenarnya bela diri kamu sudah berada di tahap sempurna, tinggal kamu rajin berlatih, dan harus banyak melatih pernapasan untuk menciptakan suatu kekuatan." Tukas Toglo.


"Iya paman, aku rasa akhir-akhir ini banyak sekali orang jahat yang mengintai dan mengincar keselamatan Ayah handa." Tukas Andi.


"Iya kamu benar, dari dulu sampai sekarang ini, banyak sekali orang jahat yang mengincar keselamatan Ayahmu." Ujar Toglo.


"Iya paman, aku pun merasa, masalah ke celakaan Ayah seperti tidak wajar, di tambah lagi waktu kemarin aku bertemu dengan dua orang yang mengemudi motor Yamaha R15, yang bentuk tubuhnya sama percis denagn orang-orang bercadar itu." Ujar Andi.


"Iya, pamanpun beranggapan begitu, ke celakaan ayahmu seperti ada kejanggalan, nanti kita telusuri setelah semuanya kondusip." Timpal Toglo.


.......................


Langit memerah menggurat di atas cakrawala di sebelah barat, senja telah datang untuk menyambut datangnya malam.


Dan tidak lama kemudian suara adzan maghrib telah di perdengarkan di mana-mana, menyerukan pada seluruh umat muslim untuk melaksanakan ibadah solat.


Apakah kasus kecelakaannya Nandi akan terungkap atau sebaliknya.

__ADS_1


Bagaimana reaksi Andi Nayaka kalau mengetahui dalang di balik kecelakaan ayahnya.


Terima kasiha atas dukungannya, salam sehat sejahtera dan sukses selalu.


__ADS_2