Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 125 Vina Artiyana


__ADS_3

Vina terus saja mencuri pandangannya pada Andi, ia sangat terkesan sekali melihat penampilan Andi yang sangat berbeda dengan biasanya yang ia kenal sebelumnya.


Setelah Andi membayar semua makanan dan minuman, Andi dan Rara pun pamit pada Vina untuk pulang.


"Sori ya Vin, gua dan Rara pamit pulang ya, semoga aja ayahmu cepat sembuh, kalau boleh gua kasih saran, coba di bantu sama ahli Psikiater, karena penyakit yang di derita ayahmu, ada sangkut pautnya dengan ke jiwa'an, tapi ma'af ya gua cuma kasih saran aja." Ujar Andi memberi saran.


"Iya An, gue juga sudah berencana begitu, tapi ibuk tetap keukeuh harus di bawa ke Rumah Sakit." Tukas Vina.


Setelah itu mereka pun langsung berjalan lagi memasuki area parkiran halaman Rumah sakit, Andi dan Rara memasuki mobil Pajero new sport, sedangkan Vina berdiri memandang melambaikan tangannya ketika Andi menyalakan tombol klason.


Selepas itu Vina pun langsung membalikan lagi badannya dan melangkah ketika Andi dan Rara sudah hilang di telan benteng rumah sakit yang beitu tinggi.


Vina berjalan lemas di tengah lorong Rumah sakit yang membentang jauh.


Perasa'an senang Vina bisa bertatap muka lagi dengan Andi.


Dan ada perasa'an sedih, kecewa dan cemburu menjadi satu karena Andi sudah bersama wanita lain meski belum resmi menjalin hubungan dalam sebuah pernikahan, tapi tetap saja di hati Vina ia kini merasa kalah dalam bercinta.


"Kenapa ya setiap gue melihat Andi bersama Rara, hati gue meledak-ledak, ingin rasa gue merebut kembali Andi yang pernah menjadi milik gue, tapi kalau melihat ke luguan wajah Rara, rasanya kasihan bila gue harus bersikap begitu pada Rara." Batin Vina sembari melangkahkan tungkai kaki nya secara teratur di lorong Rumah Sakit.


Sebelum sampai ke tempat ayahnya di rawat, Vina duduk di bangku besi sambil menatap jauh menerawang, menciptakan sosok wajah Andi yang kini lagi berdua sama wanita cantik.


Ketika ingatan Vina terus terpatri pada Andi, se orang lelaki muda berwajah lumayan tampan berambut panjang ikal bergelombang yang di ikat


menyapa.


"Ma'af Mbak ikut duduk ya." Sapanya.


Sementara yang di sapanya masih asik dengan lamunannya.


Pemuda itupun menatap wajah Vina, sambil mengerlingkan kedua alisnya.


"Kenapa wanita ini, seperti lagi pokus pada lamuanan, mba, mba, woii." Ujar Pemuda itu bernada agak keras.


Sontak saja Vina terkejut, sambil menautkan pandangan ke arah samping kanan.


"Heh, siapa lo?." Tanya Vina kaget.


"Ma'af mbak kalau tadi saya sempat mengagetkan kamu, lagi melamun apa sih, gue lihat intens sekali lamunannya." Tukas pemuda itu.

__ADS_1


"Siapa yang melamun, jangan ngada-ngada deh." Timpal Vina.


"Ya tadi gue menegur kamu berulang kali, tapi kamu sangat anteng menatap ke arah sana." Ujarnya.


"Ya gue lagi merenung, nasib ayah gue yang lagi di rawat." Ujar Vina berbohong.


Pemuda itu pun langsung manggut-manggut sambil mengulum bibir bawahnya.


"Oh, kalau begitu gue minta ma'af, emang ayahmu sakit apa?." Tanya pemuda itu.


"Ayah gue sakit nya bermula dati pikiran, yang akhirnya kesehatannya kian hari kian menurun." Tukas Vina.


"Oh begitu, coba mba datangkan Ahli psikiater, karena penyakit yang awalnya dari pikiran, itu berhubungan dengan ke jiwa'an." Tukas pemuda itu.


"Iya, akupun sudah ada niat untuk mendatangkan ahli psikiater, ya sementara aku turutin dulu, bila nanti tidak ada perubahan baru aku akan mendatangkan ahli psikiater." Ujar Vina.


"Iya mudah-mudah cepat sembuh ya." Ujarnya.


"Amiin, terima kasih." Jawab Vina.


Kemudian pemuda itu memperkenalkan dirinya pada Vina.


"Oh iya, kenalin, gue Perdi Perdiansyah." Ujar nya sambil menghulurkan tangannya.


"Vina Artiyana." Tukas Vina.


"Nama yang bagus, sebagus orangnya, Btw kamu masih kuliah apa sudah bersuami." Ujar Perdi.


"Emang ngapain, kamu bertanya sampai mendetail begitu." Tukas Vina.


"Ya tidak ngapa-ngapain sih, ya ma'af deh kalau pertanya'an gue sampai menyinggung perasa'anmu." Timpal Perdi.


Vina terdiam, merasa mulai tidak nyaman ngobrol sama pemuda yang bernama Perdi.


"Sori ya gue mau ke ruangan tempat ayah di rawat." Pamit Vina langsung beranjak bangkit berdiri dari tempat duduknya.


Kemudian Vina berjalan dengan terburu-buru di panjangnya lorong Rumah Sakit.


..............

__ADS_1


Sementara di tempat lain.


Andi dan Rara yang lagi melajukan kendara'annya, sudah mulai berbelok ke kiri memasuki jalan kawasan Gang Si'iran.


"Alhamdulilah akhirnya kita sampai juga di Gang Si'iran." Cetus Andi.


"Lho ko Aa Andi bicara begitu sih." Sahut Rara.


"Ya iya Ra, umur kan tidak tau." Ujar Andi.


"Iya aku ngerti, tapi kita berdoa pada yang kuasa, bila pun nanti kita di panggil oleh yang kuasa, ya jangan sampai dengan jalan kecelaka'an atau sejenisnya, kita berharap waktu menghadap Illahi Robbi, kita dalam keada'an baik-baik aja, agar tidak merepotkan orang hidup." Timpal Rara.


Andi pun memanggutkan kepalanya tersenyum tipis sambil menautkan pandangannya pada Rara.


"Iya benar juga ya, ternyata kamu itu gadis yang istimewa." Ujar Andi.


"Istimewa mbak Vina kali." Tukas Rara sembari tertawa sedikit.


"Tuh kan, cemburu ya." Timpal Andi.


"Enggak ko, ngapain cemburu, kita kan berteman, sejak kapan kita pacaran." Ujar Rara.


Lalu Andi terdiam sambil bergumam dalam hatinya.


"Iya ya, kan gua belum mengungkap perasa'an gua, apa mungkin gua tembak sekarang gitu Rara." Gumam Andi dalam hati.


Apa yang lagi di pikirkan oleh Andi, ternyata Rara pun sama lagi memikirkan, berharap Andi ngomong lebih dulu tentang perasa'annya.


"Kenapa kamu tidak berterus terang saja Aa Andi, kalau memang Aa suka padaku, apa mungkin Aa Andi tidak punya perasa'an lebih padaku, apa mungkin Aa menyukai ku hanya sebatas temannya saja." Gumam Rara dalam hati.


Mereka berdua kini nampak terdiam, karena sama-sama lagi terbawa dalam lamunannya.


"Rasanya sekarang bukan waktunya yang tepat, untuk mengungkapkan perasa'an gua pada Rara, mungkin nanti di lain tempat gua akan ajak Rara jalan-jalan kesebuah tempat yang indah." Batin Andi bermonolog.


Rara nampak cembetut penuh harap, banyak di hantui dengan perasa'an was-was, terkadang Rara berpikir yang tidak-tidak pada Andi.


"Hhmmm...Kamu kenapa Ra, ko wajahmu di tekuk begitu?." Tanya Andi.


"Enggak ko, itu cuma perasa'an Aa Andi aja kali." Tukas Rara.

__ADS_1


"Oh gitu, ya Sudah." Timpal Andi sambil terus mengemudikan mobilnya, yang tinggal beberapa meter lagi akan segera sampai ke rumah.


Setiba di depan Rumah Andi terkejut.


__ADS_2