Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 86 Gelagat


__ADS_3

Pukul 16:00


Andi sudah mulai melajukan lagi motornya untuk mengantarkan Rara pulang ke rumahnya.


Entah mengapa Andi, begitu terpesona dengan suasana di tempat tinggalnya Rara.


Apalagi adat tradisi seni dan budaya di tempatnya Rara masih tetap di lestarikan, Waktu Andi melintasi segerombolan anak kampung waktu itu, lagi pada main gangsing, klereng, pentang karet dan masih banyak lagi.


Nah dari situ Andi semakin kerasan kalau berada di kampungnya Rara, selain budayanya yang masih kental, air yang mengalir di selokanpun masih nampak terlihat jernih.


Bukit-bukit yang hijau, di sertai rimbunnya dedaunan dari pepohonan, yang berjejer di disi kiri kanan jalan.


Sore itu Andi dan Rara lagi melaju tidak terlalu kencang, terkadang saling tertawa dan gurauannya yang membuat Andi dan Rara tidak menyadari bahwa di belakangnya ada lima motor sedang mengikutinya dari pertiga'an jalan Gang Si'iran sampai ke jalan terusan yang tembus di lampu setopan Mengkudu Raya.


"Hahaha,, ternyata kamu itu genit juga rupanya ya." Cibir Andi.


"Enak saja bilang aku genit." Tukas Rara.


"Buktinya dari tadi kamu cubitin aku terus, sampai kulitku pada merah-merah nih." Ujar Andi.


"Itu bukan genit atuh Aa, tapi gemes deh lihat kulit Aa yang putih mulus tak bernoda sekalipun, kok bisa ya kulit lelaki semulus itu, seperti lelaki bangsawan di jaman keraja'an dulu." Timpal Rara.


"Memangnya kamu sudah pernah hidup di jaman keraja'an, sok tau lo'." Ejek Andi.


"Ya tau lah."


"Oowhh,, berarti sekarang kamu lagi berreinkarnasi, hebat ya." Ujar Andi.


Di sa'at lagi asiknya Andi dan Rara bercanda, sepintas Andi menoleh pada kaca sepion, nampak terlihat oleh Andi ada lima orang pengemudi kendara'an roda dua terus membuntutinya.


"Wah celaka, rupanya ini gelagat yang pernah berbisik di telingaku, mau apa mereka mengikuti ku terus, gimana nih mereka berlima, sedangkan aku membawa Rara, setidaknya akan terancam keselamatannya, untuk sa'at ini aku harus menghindar dulu dari mereka, dan membawa dulu Rara ketempat yang aman." Batin Andi.


Andi berbisik pada Rara.


"Ra kamu pegangan yang kuat, rupanya ada orang yang berniat jahat pada kita." Bisik Andi.


"Mana Aa?." Tanya Rara.


"Di belakang kita." Jawab Andi.


Rara pun langsung melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Andi dengan sangat erat.


Lalu Andi menarik gasnya bersama'an dengan menaikan giginya ke speed yang lebih kencang.


Ngeng ngeeeeeennngg......


Motor Yamaha Rx king cobra yang sudah di korek semua dalemannya melesat begitu cepat, melintasi jalanan yang yang banyak kelokan.


Sementara, kelima orang yang mengikuti Andi, tak lain adalah Jorda dan kawanannya.


"Sial target telah mencium keberada'an kita, ayo kita kejar." Seru Jorda memberi komando pada ke empat rekannya.


Kejar-kejaran kendara'an Roda dua membuat para pengendara lain sedikit terganggu.


Suasana di jalanan yang sudah di padati oleh berbagai macam kendara'an, membuat jorda agak sedikit tersendat.


Sementara Andi terus melesat bagaikan alap-alap yang lagi terbang meluncur di atas samudra.


"Target sudah semakin jauh Bang." Teriak Babon.


"Kita kejar terus, jangan sampai kita gagal." Teriak Jorda yang terus melaju mengejar Andi yang sudah semakin jauh di depan.

__ADS_1


"Kurang ajar, rupanya target kita jago juga di jalanan." Teriak Murdok.


"Kita cari jalan pintas Bang." Usul Tenggo.


"Ini jalur menuju kabupaten, gue tidak cukup tahu jalan pintasan di sini." Tukas Jorda.


"Lalu bagaimana?."


"Kita kejar terus melalui jalur ini."


Sementara Andi yang sudah semakin jauh meninggalkan Kawanan Jorda, membawa Rara memasuki jalanan Gang kecil di antara pemukiman para penduduk.


"Aa kita mau kemana?." Tanya Rara.


"Tenang aja Ra, kita mencari dulu tempat aman." Tukas Andi.


"Emang kamu tau daerah sini?." Lanjut Rara bertanya.


"Aku tahu daerah sini, dan aku punya teman sekolah yang tinggal di daerah sini." Ujar Andi.


Kemudian Andi menghentikan laju kendara'annya di depan rumah yang lumayan cukup besar.


Tid tidid.


Andi memijit tombol klakson, lalu Andi dan Rara melangkah turun dari motornya.


"Assalam mu'alaikum, permisi." Sapa Andi sambil berdiri diluar pagar rumah.


Selang beberapa menit, seorang wanita setengah baya muncul dari balik pintu.


"Wa alaikum salam." Jawab wanita tua itu memandang wajah Andi sambil mengkerutkan keningnya.


Andi langsung mengenalkan dirinya ketika wanita setengah baya itu lagi bengong memandang dirinya.


"Oowhhh.. Nak Andi, ma'af tante agak lupa-lupa ingat." Jawabnya.


"Eriknya ada Tante?." Tanya Andi.


"Oh ada baru aja pulang kerja, bentar ya Tante panggilkan dulu." Ujarnya sambil membalikan tubuhnya melangkah masuk kedalam rumah.


Tidak lama kemudian wanita tersebut datang dengan seorang lelaki sebaya Andi.


"Oh..Andi, kemana aja lo'." Sapa lelaki itu yang tak lain Erik sahabtnya Andi sewaktu lagi di SMA.


Lalu Erik berjalan menuju pintu pagar rumah, dan membuka slot pintu pagar tersebut.


"Ayo masuk An, lha ini siapa?." Tanya Erik sambil menoleh pada Rara.


"Ajak duduk dulu kek." Sahut Andi.


"Haha.. Sori bro, maklum gua agak heran aja." Tukas Erik sambil berjalan menaiki teras depan rumah.


"Ayo silahkan duduk An, bentar ya gua ambilin dulu air minum." Ujar Erik sembari melangkah memasuki ke dalam rumah.


Andi dan Rara lalu duduk di kursi yang terpasang di teras.


Kemudian Erik datang dengan membawa dua gelas air putih.


"Ayo di minum dulu, nampaknya kalian haus deh." Ujar Erik.


"Tau aja lo'." Timpal Andi, sembari meraih gelas yang berisikan air putih untuk membasahi tenggorokannya, begitu pula Rara.

__ADS_1


"Mimpi apa nih gua, bisa kedatangan kawan lama, kalian berdua ini sengaja apa kebetulan saja lewat sini?." Tanya Erik.


"Dua duanya, antara kebetulan dan sengaja juga." Ujar Andi.


"Lho ko bisa." Tukas Erik.


"Ya bisa dong, oh iya, kenalin ini teman gua namanya Rara Amyati." Ujar Andi memperkenalkan Rara pada Erik.


Rara pun langsung menghulurkan tangan memperkenalkan dirinya pada Erik.


"Rara Amyati, biasa di panggil, Rara aja." Ujar Rara.


"Gua Erik sahabatnya Andi waktu lagi duduk di bangku SMA." Sambut Erik.


"Oh iya An, gimana kabarnya Vina?." Tanya Erik.


Andi tersontak, ketika Erik menyebutkan nama Vina di depan Rara yang belum sempat Andi ceritain pada Rara.


"Sudah tidak usah menyebut lagi nama Vina, gua sakit hati sama dia." Jawab Andi.


Rara menoleh dan memandang wajah Andi, seperti ingin tahu siapa itu Vina.


Andi pun sangat paham dengan tatapannya Rara.


"Nanti aku ceritain ya Ra, ma'af sebelumnya aku belum sempat cerita." Tukas Andi


Rara kaget.


"Lho ko Aa-Andi bisa tahu isi hatiku." Batin Rara.


Setelah itu Andi menceritakan tentang dirinya dan Rara, yang mampir ke tempat Erik.


Dari mulai di buntuti lima pria berwajah sangar hingga saling kejar-kejaran di jalan raya.


"Nah begitu sebenarnya, makanya gua mampir kesini, ingin menyelamatkan Rara ke tempat yang aman." Jelas Andi.


"Memangnya lo' sebelumnya pernah punya musuh?." Tanya Erik.


"Kalau gua gak pernah memusuhi orang, tapi yang memusuhi gua selalu aja ada." Jawab Andi.


"Iya gua juga tau itu, oh iya Ra kamu pulangnya kemana?." Tanya Erik pada Rara.


"Rumah orang tuaku, berada di ujung barat kota Bandung, tepatnya di pedesa'an Ganda soli berbatasan dengan kabupaten ci Anjur dan Pwk kesebelah utara.


"Wah masih lumayan jauh, kalo untuk menghindari dari mereka, ada sih jalan pintas yang menuju tempat Rara, cuma jalannya jelek dan melewati hutan karet." Tukas Erik.


"Lalu lanjut nya gimana An, apa lo' mau nganterin dulu Rara pulang apa gimana." Lanjut Erik.


"Gua juga bingung, sementara Rara berada dalam tanggung jawab gua, tapi gua juga penasaran pada kelima orang itu, kenapa sampai mengejar gua, punya masalah juga kagak sama orang berlima itu, dan satupun gua tidak mengenal mereka." Ungkap Andi.


"Sekarang gini aja, lebih baik lo' antarkan pulang dulu Rara, supaya orang tua Rara tidak sampai gelisah memikirkan anaknya, setelah itu baru kita kelarkan kelima orang itu apa maunya dari lo'." Jelas Erik.


"Apa katamu kita." Ujar Andi.


"Iya kita, lo' dan gua." Tukas Erik.


"Serius lo' mau bantuin gua." Timpal Andi.


"Ya elah, Erik sekarang bukan Erik yang dulu, yang bisanya cuma bersembunyi ketika lo' di keroyok kaka kelas.


"Waww,, boleh juga tuh, oke kalau begitu, gua antarkan pulang dulu Rara." Ujar Andi.

__ADS_1


"Sudah lah Aa, biarkan saja, yang penting kita sudah aman, jangan cari masalah deh, terkecuali kalau kita sudah tidak punya pilihan lagi baru di situ kita membela diri kita." Tutur Rara memberi solusi.


Andi dan Erik memanggutkan kepalanya, perkata'an Rara ada baiknya juga.


__ADS_2