
Kubu Laba-Laba semakin terdesak oleh amukan para pesilat dari kelompok Black Cat.
Raungan suara kesakitan dari anggota Laba-Laba hitam di sa'at melepaskan nyawanya.
Sungguh suatu pertarungan yang sangat mengerikan dari dua kubu Geng Mavia yang saling berebut Wilayah kekuasa'annya.
Black Cat sebuah organisasi Mavia yang sangat sadis dan di takuti wilayah itu, yang jaringannya sudah melebar ke berbagai wilayah di dalam negri.
Tidak berlangsung lama lagi, Dude yang berdiri di dalam Laba-Laba hitam sebagai ketua, harus mengakui ke kalahannya.
Dengan Anggotanya yang tersisa Dude memerintahkan untuk segera meninggalkan tempat itu, sebelum korban bertambah banyak.
"Cepat kita tinggalkan tempat ini, kekuatan kita sangatlah tidak seimbang." Seru Dude.
Untuk menghambat pengejaran dari para anggota Black Cat, Dude melempar beberapa buah bom molotok ke arah anggota Black Cat yang lagi mengejarnya.
Otomatis Anggota Black Cat jadi berhamburan menghindari dari bom molotok yang Dude lemparkan.
Kini Dude dan Anggotanya yang tersisa bisa keluar dari wilayah Black Cat dengan aman.
Murdyjuan pun langsung memerintahkan anak buahnya untuk kembali ke Markas.
"Sudah tidak usah di kejar, nanti kita atur siasat untuk melenyapkan geng Laba-laba, sekarang kita urus anggota kita yang terluka." Seru Murdyjuan.
Kabar pertempuran antara dua Geng itu sudah terdengar di kalangan masyarakat.
Terutama Andi dan Erik yang sudah mendapat kabar dari Jorda salah satu preman bayaran yang kini sudah menganggap kawan pada Andi dan Erik.
Di malam yang terasa dingin Andi dan Erik lagi duduk santai di sebuah warung kopi di dekat kediamannya Erik.
"Wah malam ini suasana kota lagi tegang Rik." Ujar Andi.
"Iya benar An' gua juga dapat chat dari Bang Jorda, telah terjadi perang antara kedua Geng Mavia persaingan perebutan wilayah." Tukas Erik.
"Kalau kita pikir dengan akal sehat, untuk apa ya mereka harus berseteru, apa untungnya coba yang ada malah merugikan diri sendiri, setidaknya pasti akan banyak korban berjatuhan." Timpal Andi.
"Ya namanya geng, dunia mereka adalah dunia hitam An, jadi satu wilayah yang banyak menghasilkan ke untungan di situ mereka saling baku hantam menunjukan siapa yang paling kuat." Ujar Erik.
"Setidaknya mereka pun punya keluarga, masa anak bininya mau di napkahi dengan jalan begitu." Tukas Andi.
"Mereka berpikir itu adalah bisnis An, tapi bisnisnya ilegal." Timpal Erik.
"Padahal kalau mau yang halal pun masih banyak, yang penting kita berusaha dan bekerja keras." Ujar Andi.
__ADS_1
"Ya namanya juga manusia, pola pikirnya pun berbeda, bagi mereka yang tergabung dalam sebuah organisasi dalam meraih ke untungan yang besar cuma mengandalkan nyali dan keberanian." Sahut Erik.
"Pusing juga ya kalau mikirin hidup mereka, mendingan kaya kita aja, satu gelas kopi sudah cukup membuat kita enjoy." Ujar Andi.
"Yo'ii."
Seripitan kopi di gelas membuat kedua sahabat itu seperti tidak ada beban dalam hidupnya, apalagi ketika satu hembusan asap putih dari mulutnya yang se akan menggambarkan satu kesan hidup yang penuh bahagia.
Malam pun terus berlalu, bersama udara dingin yang mulai menyelimuti kota dan seluruh wilayahnya.
Ke esokan harinya.
Ketika matahari mulai bersinar menerangi bumi, dan orang-orang pun sudah ramai lalulalang dalam sebuah kendara'an ataupun yang berjalan kaki, untuk me mulai lagi dengan aktip vitasanya.
Begitu dan begitu seterusnya kehidupan manusia di muka bumi.
Seperti halnya Andi Nayaka, setiap pagi menjelang ia selalu menghangatkan tubuhnya dengan segelas kopi dan makanan cemilan dan sebagai pelengkapnya dengan isapan sebatang roko, begitu pada umumnya yang sering di lakukan oleh kaum adam di pagi hari.
Skip
.............
Di Gang sawah.
Keluarga kecil mereka nampak selalu rukun, Toglo yang merupakan kepala keluarga yang sekaligus benteng nya keluarga selalu mengajarkan pada kedua adiknya tentang kerasnya hidup dan kehidupan di jaman modern.
Selepas sarapan Wiwin Pamit pada Toglo, Wawan dan wulan untuk berangkat kerja.
"Kak aku berangkat dulu ya." Pamit Wiwin sembari mengulurkan tangannya pada kedua kakaknya dan kakak iparnya.
"Iya dek hati-hati kerjanya." Ujar Toglo.
"Iya kak terima kasih." Tukas Wiwin melangkah keluar rumah sambil menuntun sepeda kumbang.
Ali yang sekarang sudah menginjak usia 13 tahun baru duduk di bangku sekolah menengah pertama, ikut pamit pula untuk berangkat ke sekolah.
"Ayah, ibuk, Paman Aku berangkat sekolah dulu." Pamit Ali sambil memberi salam pada kedua orang tuanya dan Pamannya(Wawan).
"Iya nak, belajar yang rajin ya, dan jangan nakal." Pesan Toglo.
"Iya Ayah." Jawab Ali sambil berjalan keluar rumah, lalu menggiring sepeda gunung bekas ayahnya dan melompat menaiki sepeda tersebut terus di goesnya.
Melihat tingkah anaknya, Toglo tersenyum serasa di ingatkan akan masa kecilnya yang tingkahnya tidak jauh beda dengan Ali (anaknya).
__ADS_1
"Padahal.aku tidak mengajarkan anaku naik sepedanya begitu, bisa dari mana dia." Gerutu Toglo.
"Iya namanya garam pasti pasti rembesnya ke bawah, Ali kan anak Abang yang pasti tingkah abang akan di tiru oleh Ali." Celetuk Wawan.
"Iya Aku tau, tapi aku tidak pernah mengajarkan begitu." Tukas Toglo.
"Ali bisa nya atas ijin semesta." Ujar Wawan.
"Mungkin juga."
"Waduh sudah jam tujuh lewat nih, ayo Wan kita berangkat." Ajak Toglo.
"Ayo."
Kemudian Toglo pamit pada Wulan(istrinya).
"Mah aku berangkat ya." Pamit Toglo.
"Iya pah, hati-hati." Jawab Wiwin.
Setelah itu Toglo dan Wawan menyalakan sepeda motornya, dan melaju keluar dari halaman rumah menuju Gang Si'iran tempat mereka mencari uang untuk menyambung hidup dirinya dan keluarganya.
Toglo melaju dengan santai yang di ikuti oleh Wawan di belakang.
Kedua motor Rx king ini berjalan beriringan menelusuri jalanan berbatu yang membentang di tengah-tengan ladang dan pesawahan.
Toglo dan Wawan yang selalu tegur sapa pada para petani yang lagi berjalan kaki menuju ladang, yang ia jumpai dalam perjalanannya.
Toglo yang merupakan kekuatan the Famili Gang Si'iran semasa almarhum Nandi alias si kidal, yang sekarang sudah di anggap guru oleh Andi Nayaka, Konta dan Kanti.
Sepak terjang Toglo sudah di kenal di dunia jalanan dan para preman, yang bengis dan kejam dalam menghabisi lawan-lawannya.
Toglo kini di ibaratkan se ekor macan yang lagi tidur.
Barang siapa yang berani mengusik ke tentraman hidup keluarganya, sudah barang tentu ia akan bangun dan keluar dari sarangnya.
Pukul 07:20 menit
Toglo dan Wawan telah tiba di Gang Si'iran, tinggal beberapa meter lagi ia akan segera sampai di tempat kerjanya.
Seribanya di bengkel Toglo langsung membuka pontu tolling door dan menata semua barang-barang srperti Tempat duduk, dan kunci-kunci buat keperluan mekanik dalam melayani para castamer.
Setelah semua beres, lalu Toglo memesan segelas kopi pada Mery lewat chat di aplikasi whatssap.
__ADS_1