Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Rps 118 Bikin Gara-Gara


__ADS_3

Konta yang merasa tidak pantas di panggil bapak oleh pemilik lesehan ia berbisik pada Andi.


"Heh Bang, pemilik lesehan panggil gua Bapak mulu' emangnya gua kelihatan tua gitu." Bisik Konta.


Andi malah tersenyum sambil tertawa tipis.


"Hehee, mungkin kelihatn tua kali." Ujar Andi.


"Iih Abang malah ngeledek gua lagi." Tukas Konta.


"Enggak ko, pemilik lesehan panggil begitu mungkin karena tampang kita seperti bapak-bapak kali." Cetus Andi.


"Ah masa sih, tampang gua Bad Boy dan elo juga, aneh tuh pemilik lesehan." Ujar Konta sambil memandang dirinya lewat kaca tutup sebuah talase.


Sikapnya konta ternyata sempat di perhatikan oleh pemilik lesehan, yang kenetulan Konta pun pas menoleh pada pemilik leseha yang lahi tersenyum.


"Pak kenapa tertawa?." Tanya Konta.


"Ma'af aku bukan menertawakan sebuah kejelekan, ku tersenyum kagum sama ketampanan kalian berdua." Tukas pemilik lesehan.


"Tapi kenapa Bapak selalu panggil kami Pak, emang wajah kami kelihatan tua gitu." Ucap Konta dengan polos.


"Oh tidak kalian masih sangat muda sekali, aku panggil pak, itu sebuah sapa'an umum pada setiap pengunjung, apalagi kalian kelihatannya seperti seorang pengusaha." Ujar pemilik lesehan tersebut.


"Tapi jangan panggil pak dong, kami kan belum menikah." Tukas Konta.


Andi tertunduk sambil terkekeh, merasa lucu dengan ujarannya konta yang blak-blakan.


"Ko Abang malah mentertawakan gua sih." Tegur Konta.


"Sori-sori, merasa lucu aja gitu dengan ungkapan ke terus terangan elo'." Ujar Andi.


"Lucu emang gua lagi pentas lawak apa." Tukas Konta.


Konta yang mewarisi sipat ayahnya (Kamal), tidak jauh beda tabiatnya seperti Kamal waktu masih muda dan tergabung dalam The famili Gang Si'iran.


Setelah energinya mulai segar dan pulih kembali Andi langsung membayarnya.


Ketika Andi mau melangkah keluar, ada tiga orang pemuda berambut gondrong di ikat menyenggol Andi, entah itu di sengaja atau pun tidak di sengaja, sehingga lelaki gondrong itu langsing membentak pada Andi.


"Heh jalan yang bener dong, gak punya mata apa." Maki lrlaki gondtong itu.


"Ma'af bang, bukannya abang yang nyeggol gua, ko jadi elo yang marah sih." Tukas Andi.


"Kurang ajar ya, elo yang menghalangi jalan gue." Bentaknya sambil buka mata.


"Oh ya sudah, kalau begitu gua minta ma'af." Ujar Andi.


"Enak saja, tidak cukup dengan meminta ma'af." Tukasnya.


"Lha, terus gimana Bang, kan kalau gua yang salah ya minta ma'af." Timpal Andi.


"Elo harus bayar baru kelar masalahnya." Ujarnya.


"Wah gimana ceritanya nih, jelas-jelas Abang yang nyenggol gua, ko jadi gua yang harus bayar." Bela Andi.


Konta yang merasa greget pada lelaki gondrong itu langsung mengeluarkan ujarannya.

__ADS_1


"Jangan mau Bang, kita kan gak salah, enak saja kita haris bayar." Timpal Konta membrla Andi.


"Heh siapa lo?." Tanya lelaki itu membentak.


"Gua adiknya, lo mau apa." Ujar konta mrmberi tawaran.


"Gede juga nyali lo', asal kalian tau gue yang pegang wilayah di sini." Ujarnya sambil tepuk dada.


Konta dan Andi hanya menyunggingkan senyumannya sambil saling pandang.


"Gua gak peduli, kalian mau yang pegang wilayah ke mau apa ke, gua gak takut selama gua berada di jalan yang benar." Hardik Konta.


"Songong juga mulut lo Bangsat." Bentaknya Sambil mrngayunkan tinjunya.


Dengan cepat Konta mengelak, lalu melompat keluar begitu pula Andi, guna menghindari keruksakan barang-barang dagangan pemilik lesehan.


"Jangan kabur kalian.Bangsat" Sungutnya sambil memburu pada Andi dan Konta.


"Ayo jangan banyak bacot, kalau kalian pingin kami jadikan perkedel." Tantang Andi darahnya mulai mendidih.


Sebruuuutt...


Ketiga lelaki itu melompat sambil melancarkan pukulannya pada Andi dan Konta.


Andi dan Konta hanya mengelak dan meng kaper serangan mereka, ingin mengetahui sampai di mana tingkat kepandaian bela dirinya.


Ternyata ke tiga lelaki gondrong itu cuma mengandalkan keberaniannya saja, selebihnya dalam olah beladiri tidak ada apa-apanya.


Hanya dalam beberapa jurus Ketiga lelaki gondrong itu, terkena hantaman pukulan dan tendangan dari Andi dan Konta.


Buk


Buk


Buk


Ketiga nya terdorong mundur terhuyung.


Konta yang darah mudanya masih bergejolak, tidak lagi memberi celah pada lelaki gondrong itu untuk bergerak.


Dengan cepat Konta melesat menggempurkan bogemnya.


Hiiiiuuuuukkk


Deeeass...


Jrooottt..


Bogem mentah Konta yang berbobot langsung mrnghajar congor lrlaki gondrong tersebut.


Aaauuuggghhhh...


Blaakkk


Lelaki itu langsung terpental dan jatuh menimpa tanah.


Sementara Andi yang lagi di gempur oleh dua orang itu, masih nampak tenang melayani kedua lelaki gondrong.

__ADS_1


Ketika kedua lelaki menyerang Andi dari samping kiri dan Kanan.


Andi hanya memiringkan tubuhnya dua puluh derajat, sambil meliukan badannya kebelakang mereka.


Kemuduan Andi dengan sangat cepat melesatkan pukulan guntingnya.


Deeasss..


Pukulan gunting Andi yang di bangun dengan kekuatan tenaga lapisan, menghantam pipi sebelah kanann lelaki gondrong.


Auugghhh...


Lawan Andi merasa gelap pandangannya dan seperti banyak kunang-kunang yang keluar dari kedua bola matanya.


Klieng klieng klieeng


Guprakk


Lelaki itu langsung roboh dengan sendirinya dan terkulai lemas tidak berdaya.


Kini tinggal satu yang tersisa itupun sudah jatuh bangun terkena pukulan dan tendangan Andi.


"Ayo maju." Tantang Andi.


Konta mendadak tertawa girang melihat lelaki rekannya dari kedua pria Gondrong yang sudah tidak berdaya, celingukan mencari celah untuk kabur.


"Hahaha, woi gua saranin mending kabur aja dari pada Bogem gua akan bersarang lagi di kepalamu." Teriak Konta sambil ancang-ancang mau membangun serangan.


Andi tersenyum melihat tingkah konta yang kocak. Lalu berjalan mendekati pria itu.


"Am aa ampun Bang." Ucap lelaki itu sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Heh kenapa lo' kan gua belum ngapa-ngapain." Ujar Andi.


Lelaki itu lalu menurukan dua telapak tangan yang menutupi wajahnya sambil menatap melas pada Andi.


"Ya sudah sekarang lo' bawa pergi kedua temanmu itu, makanya jadi orang itu harus bisa saling menghargai pada sesama, jangan berlaga seperti jagoan, kalau masih sama-sama makan nasi, masih untung gua dan adik gua masih bermurah hati." Ujar Andi.


"Iya Bang." Jawabnya sembari melangkah memburu pada kedua rekannya.


Dengan sisa tenaganya lelaki itu berusaha memboyong kedua rekannya pergi dari tempat itu dengan langkah agak sempoyongan.


Setelah itu pemilik lesehan keluar mnghampiri Andi dan Konta.


"Hati-hati kalian, ke tiga oeang itu banyak temannya." Celetuk pemilik lesehan.


"Emang mereka itu siapa pak?." Tanya Andi.


"Mereka kawanannya Si Badar, yang me megang wilayah di sekitar sini." Jawabnya.


"Memang setiap hari mereka suka begitu pak, bikin gara-gara pada setiap pengunjung." Tukas Andi.


"Tidak juga sih, paling setiap minggu mereka datang minta jatah." Ujarnya.


"Dengan dalih uang ke amanan gitu." Timpal Andi.


"Iya benar."

__ADS_1


"Enak benar hidup mereka, kerja kagak pingin uang tinggal minta." Pungkas Konta ikut bicara.


"Ya harus gimana lagi, yang penting usaha saya lancar aja." Ujar pemilik lesehan.


__ADS_2