Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 136 Kepeleset.


__ADS_3

Suasana di sekitar air terjun terasa lebih adem, semilir angin yang bertiup dari atas bukit, membuat mereka semakin betah berada di situ.


Setelah mereka menghabiskan makanan dan minumannya, Vina mengajak pada Andi dan Erik untuk kebawah telaga.


"Kita ke bawah lagi yo' gue mau poto-poto lagi sambil bikin vidio, untuk di unggah ke medsos." Ujar Vina.


"Ayo." Tikas Andi dan Erik.


Kemudian mereka berjalan menuruni trapan tangga bebatuan.


Setibanya di bawah Vina berjalan mendekati bibir telaga, lalu di ambilnya ponsel dari dalam tas.


Vina mengambil gambar alam sekitar telaga, lalu Vina meminta sama Andi dan Erik untuk mendekat.


"Kalian sini deh, kita poto bareng, buat kenangan." Panggil Vina.


Andi dan Erik melangkah menghampiri Vina, Vina berdiri di tengan di antara Andi dan Erik, kemudian Vina mengacungkan ponselnya ke atas untuk selvi bareng, dengan gaya yang berbeda-beda.


Kemudian Vina mengunggahnya ke akun sosial media miliknya, Facebook, twiter, IG, Whatssap, sudah barang tentu, poto Vina yang lagi bersama Andi dan Erik sudah banyak di lihat oleh teman-temannya Vina.


Skip...


Sementara di tempat lain.


Di suasana alam pedesa'an, nampak Rara dan kedua adiknya lagi duduk di bangku di depan teras rumahnya.


Kedua adik Rara begitu nempel, karena Rara memanjakannya dengan memberi uang jajan.


Kedua anak itu begitu sangat senang sekali, di tambah rasa kangennya karena sudah lama di tinggal kerja oleh sang Kakak.


"Kak, pulang nanti aku minta di beli'in mainan ya kak." Ujar adik nya yang paling kecil.


"Iya dek nanti kakak beli'in mainan, kakak janji." Jawab Rara.


"Asiiiik, aku mau di beli'in mainan." Sahut sang bocah semringah.


Lalu kakaknya merasa iri, ia pun meminta pada Rara untuk di beli'in.


"Aku juga mau ding kak." Ujarnya.


"Kan kamu sudah gede, masa minta di beli'in mainan juga." Sahut Rara.

__ADS_1


"Aku pingin Handpond dong kak, temen-temenku, semua sudah pada punya handpond." Ujarnya dengan melas.


Rara tersenyum, sambil meng elus rambut kedua adiknya itu.


"Kamu belajar yang rajin, bila kamu dapat ranking satu, kakak janji akan beli'in handpond." Ujar Rara berjanji pada adeknya dengan sebuah sarat.


"Iya kak, aku akan belajar lebih giat lagi." Ujarnya.


Setelah itu kedua adik nya pergi ke dalam rumah.


Sementara Rara, langsung membuka ponselnya di aplikasi facebook.


Belum juga reda rasa cemburu di hati Rara, kini malah bertambah parah ketika melihat statusnya Vina yang lagi asik bermain di sebuah air terjun, poto barenga sama Andi.


Wajah Rara yang putih bersih kini berubah menjadi merah, karena semua aliran darahnya mengalir kencang ke bagian sarap di kepala.


"Dasar janda kegatelan, tidak tau malu, pak Andinya lagi ko mau-mau amat sih pergi sama Janda, iiiiihhh sebel-sebel." Gerutu Rara penuh cemburu sambil mematikan ponselnya.


Rara tidak sadar celotehannya itu, tanpak di sengaja di dengar oleh ibuknya yang mau keluar untuk mengangkat jemuran pakaian.


Lalu ibiknya Rara melangkah menghampiri putrinya.


Sontak saja Rara merasa kaget, lalu Rara menjawab se olah tidak ada apa-apa.


"Oh tidak Buk." Jawab Rara.


"Kamu jangan berbohong pada ibukmu, ibuk sudah dengar semua ucapanmu itu, dan ibuk juga melihat raut wajahmu yang seperti lagi kesal, ataukah kamu lagi patah hati nak?." Tanya sang Ibuk.


"Tidak Buk, Aku tidak lagi patah hati ko." Ujar Rara menutupi.


Lalu sang ibuk duduk di samping Rara, perlahan tangan kanannya membelai wajah cantik putrinya sambil berkata dengan bijak.


"Anak ku, serapi apapun kamu menyembunyikan masalah pada ibuk, ibuk yang sudah melahirkan kamu dan merawat kamu hingga dewasa, ibuk lebih peka atas apa yang lagi kau alami sekarang ini, apa kamu lagi patah hati sama pak Andi itu." Desak sang Ibuk.


Rara cuma menunduk sambil menganggukan kepalanya.


Sang ibuk malah tersenyum simpuh ketika anaknya berkata jujur walau hanya dengan isarat.


"Sekarang ibuk mau tanya, apa kamu sudah jadian sama pak Andi?." Tanya sang Ibuk.


"Belum buk." Jawab Rara.

__ADS_1


"Hehee, Rara-Rara, lalu kenapa kamu sampai nampak kesal begitu nak?." Bertanya.


"Aku kesal Buk, pak Andi lagi jalan-jalan sama wanita lain, dan wanita itu setatusnya Janda." Jawab Rara polos.


"Lhoo..Kenapa kamu jadi kesal, katamu pak Andi belum resmi menjalin hubungan berpacaran sama kamu, oh ibuk tau, kamu suka ya sama pak Andi?." Tanya sang Ibuk.


"Iya buk." Jawab Rara apa adanya.


"Dari mulai sekarang, buang sipat jelekmu itu tak baik mencemburui orang yang bukan milikmu, dan satu hal yang mesti kamu tahu, jodoh itu ada di tangan Allah, kalau memang pak Andi di takdirkan berjodoh denganmu, kemanapun pak Andi pergi, pasti akan kembali padamu." Ungkap sang ibuk memberi penerangan.


Mendengar penjelasan dari ibuknya, hati Rara perlahan mulai tenang kembali.


"Astagfirullah hal adzim, ampuni aku ya Allah, dari segala kehilapan dan kesalahanku." Batin Rara bermonolog.


Ibuknya Rara terus menatap datar wajah Rara, kemudian tersenyum semringah, melihat raut wajah putrinya yang sudah tidak nampak tegang lagi.


"Kamu sudah paham nak?." Bertanya.


"Sudah Buk, terima kasih buk sudah menyalakan lentera di hati Rara." Jawab Rara sambil memeluk sang ibuk.


"Kamu harus bijak dan lebih dewasa lagi dalam menyikapi sebuah masalah, ya sudah ibuk mau angkat jemuran dulu." Ujarnya.


Rara pun lalu melepaskan pelukannya, sambil mengusap bulir-bulir air bening di kedua sudut netranya.


Back to


Vina yang lagi berdiri di tepian telaga sambil memandang ke arah air terjun, Vina tidak menyadari bahwa batu yang lagi di pijaknya perlahan goyah dan menurun.


Begitu Vina mau melangkah batu tersebut lepas dan jatuh, Vina pun tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Sehingga tuuh Vina jatuh melayang kebawah telaga sambil berteriak.


"Aaawwww..." Teriak Vina.


Andi dan Erik terkejut ketika mendengar teriakan Vina, spontan Andi dan Erik langsung berlari, ketika mendekati bibir telaga tanpak berpikir lagi Andi dan Erik langsung melompat untuk menolong Vina.


Andi dan Erik langsung memboyong Vina sambil berenang di bawa ke pinggir telaga yang tidak terlalu curam.


"Lo' naik dulu Rik, batu tarik Vina ke darat." Pinta Andi.


Erik segera naik kedarat, kemudian mrmberi bantuan dengan memegang tubuh Vina di bagian punggung untuk di bawa kedaratan.


Setelah itu Vina di baringkan di atas hamparan rumput dan pasir, lalu Andi mengangkat-ngankat tubuh Vina di bagian Pinggang untuk memompa air yang tertelan supaya keluar.

__ADS_1


__ADS_2