Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 43 Terbebasnya Andi Nayaka.


__ADS_3

Bertepatan dengan hari Sabtu di bulan november tahun ××××, Andi kini telah terbebas dari masa tahanannya, karena di dalam penjara Andi selalu menunjukan hal positip, meski banyak sekali orang yang akan mengancam keselamatan jiwanya, sehingga selalu terjadi keributan dan perkelahian, tapi pihak petugas tidak memberatkan atau tidak berpengaruh pada masa tahanannya Andi.


Para tahanan sel nomor dua puluh delapan semuanya terbebas hari itu. Di tambah Andi sudah berhasil mengajak Abeng dan anak buahnya untuk supaya tidak pernah lupa mengerjakan lima waktu kewajiban dalam agamanya.


Dari situlah masa tahanan Andi dan anak buahnya mendapat ke ringanan.


Ceklek ceklek


Sang petugas tahanan membuka kunci gembok, dan me minta pada Andi untuk keluar.


"Andi Nayaka hari ini kamu terbebas." Ujar petugas.


Andi pun langsung terperanjat mendengarnya, lalu ia bangkit berdiri.


"Yang bener pak." Tukas Andi


"Iya kamu hari ini terbebas, segera menghadap petugas."


Andi membalikan badannya lalu memburu pada Abeng dan anak buahnya.


"Saudaraku, hari ini kita terbebas." Ujar Andi sambil memeluk Abeng dan bergantian dengan yang lainnya.


"Sebentar Bos, barusan kamu bilang kita?." Tanya Abeng.


"Iya kita, elo' dan semua yang ada dalam ruang tahanan ini di hari ini terbebeas." Jelas Andi.


Karena Abeng merasa penasaran lalu bertanya pada petugas. "Benarkah itu pak? Kita semua di bebaskan?." Tanya Abeng.


"Iya benar, tapi ada jaraknya, tidak langsung keluar semua."


"Terima kasih ya Allah." Ujar Abeng dan seluruh anak buahnya.


Selepas Andi berpamitan pada Abeng dan anak buahnya, Andi pun langsung berjalan keluar ruangan menuju tempat kerja petugas.


"Permisi pak." Sapa Andi.


"Kamu Andi Nayaka?." Tanya petugas.


"Iya pak."


"Silahkan duduk dulu." Ujar petugas.


Andi langsung menurunkan bokongnya duduk di kursi berhadapan dengan petugas yang lagi memeriksa file data dirinya.


"Saudara Andi, hari ini kamu telah terbebas dari hukum pidana." Ujar petugas.


"Terima kasih pak." Ujar Andi.


"Iya sama-sama, tapi kamu dalam jarak tiga bulan masih berada dalam pengawasan pihak kami." Jelas petugas.


Singkat cerita.


Andi telah keluar dari area Lapas, dan berjalan keluar gerbang dengan Jaket levis di punggungnya raut wajah nya yang agak sedikit berbeda dengan sebelum Andi memasuki penjara, sekarang wajah Andi agak sedikit berewok dan berjambang, serta berkumis tipis, menambah semakin macho dan gagahnya Andi Nayaka.

__ADS_1


Andi berdiri di atas trotoar jalan sambil mengenakan jaket Levisnya yang nampak lusuh dan dekil, mencegat sebuah mikrolet yang nampak sedang meluncur mendekati ke arahnya.


Lalu Mikrolet tersebut berhenti, dan Andi melangkah naik memasuki mobil angkutan umum tersebut dan duduk di bangku yang nampak masih kosong.


"Jalan Delima Bang." Ujar Andi.


"Oke Bang." Jawab sang sopir angkutan umum tersebut.


Orang-orang yang duduk di dalam angkot nampak memandang Andi dengan wajah datar, ada dua di antara wanita berwajah cantik nan ayu memandang Andi dengan intens, lalu berbisik pada temannya.


"Oww,, pemuda ini ganteng banget kalau di perhatikan mirip sekali dengan bintang Bollywood." Bisiknya.


"Iya betul, aku sampai terpesona melihatnya." Bisiknya.


Kedua gadis itu nampak semringah, dengan matanya yang jelalatan, terus saja memandang Andi, lalu ia melemparkan pertanya'annya pada Andi.


"Hai Cowo, ganteng amat sih kamu, kenalan dong." Ujarnya sambil mengulurkan tangannya pada Andi.


Andi hanya tersenyum tipis dengan memiringkan sebelah alisnya lalu menyambut huluran tangan dari kedua gadis tersebut.


"Andi." Tukasnya.


"Gue Selly." Ucapnya.


"Dan Gue Yuli, Asli orang sini tanpak bahan campuran." Ujarnya.


"Btw, Mas Andi habis dari mana sih?." Tanya Selly


Selly dan Yuli sampai membelalakan kedua bola matanya, se olah tidak percaya dengan pengakuannya Andi.


"Apa? Gue tidak percaya kalau mas Andi baru keluar dari penjara." Ujar Selly.


"Ya sudah kalau kalian tidak percaya, itu hak kalian, gua cuma bilang apa adanya." Tukas Andi.


"Masa iya, orang ganteng kaya mas Andi bisa masuk penjara, kalau gue lihat di wajah mas Andi tidak ada tampang penjahat ko." Desak Yuli.


"Hahaha,, kalian ini sungguh gadis yang polos, saya peringatkan ya pada kalian berdua, kepolosan kalian itu akan banyak di manpaatkan oleh lelaki hidung belang, janganlah kalian menilai seseorang dari segi pisiknya saja." Jelasnya Andi.


Sementara para penumpang yang lainnya pada risi akan sikapnya Selly dan Yuli yang terlalu gampang mengatakan suka pada lelaki berwajah ganteng.


"Iih nora amat sih ke dua wanita itu, dasar kampungan." Batinnya menggerutu.


Kemudian Andi meminta pada Sopir angkot untuk berhenti.


"Bang kiri depan ya." Pinta Andi.


"Siap bos." Jawab Sopir.


Tidak lama kemudian Mikrolet pun berhenti, lalu Andi melangkah keluar.


"Berapa Bàng?." Tanya Andi.


"Tujuh ribu bos." Jawab Sopir angkot.

__ADS_1


Andi pun lalu merogoh saku celananya, lalu di ambil uang sebesar sepuluh ribu rupiah dan di berikan pada sopir angkot tersebut.


"Nih Bang."


"Uang pasa aja bos, belum ada kembaliannya." Ujar Sopir.


"Ya sudah kembaliannya ambil saja." Tukas Andi.


"Terima kasih ya bos." Timpalnya.


"Oke sama-sama." Ujar Andi sembari melangkah kan kakinya memasuki jalan yang mau mengarah ke Gang Si'iran.


Andi berjalan sambil menundukan wajahnya ke jalan yang akan di laluinya, dengan sebuah topi warna hitam di tarik agak menutupi wajahnya, mungkin Andi merasa malu oleh sebagian warga Gang Si'iran dengan kepulangannga dari penjara.


Dua puluh menit kemudian Andi telah sampai di depan pintu gerbang yang mau memasuki pekarangan rumahnya.


Mungkin sebagian orang tidak bisa mengenali Andi, tapi berbeda dengan si Gery, begitu melihat bayangan Andi di luar gerbang, Si Gery langsung menggonggong dari dalam kerangkengnya, se olah menyambut kedatangannya Andi, yang menghilang beberapa tahun.


Andi mengangkat wajahnya Lalu Netranya mengintai pada si Gery yang lagi menatap tajam ke arahnya.


"Kau hebat Gery, instingmu sangat tajam, kita berpisah hampir enam tahun, tapi kamu masih mengenal aku." Batin Andi.


Suara gonggongan si Gery yang begitu keras, membuat Sindi jadi terperanjat, dan bergegas melangkah menuju depan rumah.


Ceklek ceklek.


Sindi membuka kunci pintu sebanyak dua putaran, lalu Sindi membuka pintu perlahan sembari memasang netranya keluar.


Nampak terlihat oleh Sindi, se orang lelaki jangkung, mengenakan topi warna hitam, berjaket levis telor asin, tersenyum ke arahnya sambil berkata pelan.


"Buukk.."


Sontak saja Sindi merasa kaget, lalu ia berjalan mendekati ke arah pintu gerbang, dan setelah lebih dekat lagi, Sindi berteriak semringah.


"Andi, anak ku." Teriak Sindi.


Ssstttt


Andi menempelkan telunjuknya di kedua bibirnya, meminta pada ibuknya supaya jangan berisik.


Sindi pun mengerti, lalu perlahan membuka slot pintu gerbang.


"Ayo masuk nak, kenapa kamu tidak kabari ibuk, bahwa hari ini kamu akan terbebas." Ujar Sindi.


"Aku sengaja, supaya orang-orang tidak ada yang tahu." Ujar Andi.


Si Gery yang sedari tadi terus menggonggong tiada henti, mendadak berhenti menggonggong ketika Andi berkata.


"Ssttt Gery, jangan berisik kau." Tegur Andi pada si Gery.


Aneh bin ajaib, begitu Andi menegur, si Gery pun mendadak terdiam sambil menggerak gerakan ekornya ke kiri dan ke kanan.


Lalu Andi melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti ibuknya.

__ADS_1


__ADS_2