
Jony Baret berhasil keluar dari komplek Grand City.
Mobil Toyota New GR Sport melaju dengan sangat kencang menuju tempat di mana Pajar dan Rosa di sekap.
Dua puluh menit kemudian.
Jony Baret telah tiba, Rugio dan Alekxandro langsung membawa tubuh Vina yang masih dalam keada'an pinsan karena obat bius, ke dalam ruangan yang telah di sediakannya oleh Rangga.
Vina di bawa ke sebuah kamar dan di baringkan di atas kasur empuk, dengan ke dua tangan dan kakinya di bincang pakai Rante yang di ikat pada tepi kiri kanan ranjang tempat Vina berbaring.
"Sekarang cepat selesaikan tugas kalian, bunuh kedua orang tua tidak berguna itu, terserah kalian mau pakai cara apa yang penting mantan mertua gue itu mampus." Pinta Rangga.
Jony Baret dan Alexandro langsung pergi menuju ruangan bawah tanah, untuk menemui Pajar dan Rosa.
"Lex', suntik mati kedua orang tua itu dengan cepat, agar matinya dalam keada'an tenang." Pinta Jony.
"Oke Bang, tenang saja semua terima beres." Ujar Alexandro sambil mengeluarkan jarum suntik yang sudah di isi dengan cairan Vaksin untuk menghentikan denyut jantung dan membekukan aliran darah.
Perlahan Alex membuka kunci gembok, lalu masuk, sebuah ruangan yang gelap cuma ada cahaya sedikit yang masuk melalui lubang pentilasi yang sangat kecil.
Nampak Pajar dan Rosa masih terbaring pinsan karena obat bius.
Alex tersenyum sambil menggenggam dua jarum suntik.
"Bagus ini tidak akan menimbulkan jerit kesakitan dari mereka, seakan mereka tidur ratusan tahun." Batin Alex.
Perlahan Alex melangkah mendekati Pajar yang masih terbaring, Alex menurunkan bokongnya dalam posisi jongkok.
Kemudian Jarum suntik tersebut meluncur menuju target dan menancap di urat nadi pergelangan tangannya pajar dan di dorongnya isi cairan dalam jarum sutik itu sampai habis.
Alex tersenyum tipis, sambil bergumam dalam hati.
"Tidurlah yang nyenyak pak Pajar, ma'af saya cuma bekerja demi uang, bila pak Pajar penasaran datanglah pada Rangga, hehee." Batin Alex sambil tersenyum.
Kemudian Alex melangkah mendekati tubuhnya Rosa.
"Ibuk Rosa,, walau sudah berumur tapi masih nampak cantik dan berisi, dan kulitnya masih nampak kencang, sayang ibuk harus tertidur ratusn tahun di sini." Gumam Alexandro sambil menyiapkan Jarum suntik untuk melakukan execusinya.
Sementara Pajar yang sudah di masuki oleh cairan Vaksin penghenti detak jantung.
Tubuhnya menggelepar hebat, mungkin sa'at terakhir organ tubuhnya pajar mulai berhenti.
Dan akhirnya tubuh Pajar berhenti dan terkujur kaku, jari jemarinya mengeras bagaikan logam besi baja.
__ADS_1
Ketika Alex mau menyuntikan Jarumnya pada bagian tubuhnya Rosa.
Tiba-tiba Tubuh Rosa mulai bergerak perlahan, mungkin pengaruh obat biusnya sudah habis.
Sontak saja Rosa kaget ketika ia membuka kedua netranya, karena ruangan di sekitarnya itu terlihat gelap cuma ada cahaya kecil yang memancar di atas tembok.
Rosa pun belum menyadari bahwa di sampingnya ada Alexandro yang siap meng execusi.
"Waduh bisa berantakan nih kerja'an gue." Batin Alexandro.
Kemudian Alex perlahan mulai bergerak, dengan cepat Alex membekam mulutnya Rosa dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menggenggam jarum suntik yang siap untuk di Suntikan.
Rosa berontak sekuat tenaga, sehingga bekaman Alex pun terlepas, dan Rosa semakin bertenaga melakukan gerakan sehingga tanpak di sengaja karena ruangan yang gelap, kaki Rosa menendang tangan kanan Alex.
Sehingga jarum suntik terlepas dari genggaman Alex.
Rosa pun berteriak keras meminta tolong.
"Tolooooong...Toloooong." Teriak Rosa.
Jony Baret yang sudah berada di atas ruangan, langsung kaget mendengar suara teriakan se orang wanita.
"Goblog si Alex, di apain wanita tua itu, masa iya di kerjain dulu, bodo ah, gue pun ngerti, karena istrinya pajar walau sudah berumur tetap masih cantik dan berisi, mungkin jarang di naikin kali sama suaminya, hehee." Gerutu Jony sambil tertawa tipis.
Setelah itu Jony Baret tersontak ketika mendengar suara Tamparan yang begitu keras.
Tidak lama kemudian Alexandro terlihat keluar dari ruangan itu dan langsung menutup pintu besi .
Jony Baret membalikan badannya, dan berjalan menuruni tangga ke ruangan bawah Tanah.
"Elo goblog juga lex, di apain wanita tua itu, atau elo bajak dulu sawah sepetak itu." Ujar Jony Baret.
"Gila lo' bang, masa gue membajak sawah sepetak yang sudah kering." Tukas Alex.
"Lalu lo' apain wanita itu?." Tanya Jony Baret.
"Wanita itu sudah terbebas dari pengaruh obat biusnya, ia berteriak karena gue tampar." Tukas Alexandro.
"Oh begitu, di kira gue elo bermain-main dulu." Timpal Jony Baret.
"Gila lo', Selama kerja'an masih belum kelar, gue pantang melakukan hal lain." Ujar Alex.
"Lalu lo' apain Ibuk Rosa itu?." Tanya Jony Baret.
__ADS_1
"Gue tampar, soalnya berontak aja, dan sekarang lagi tertidur pulas bersama suaminya.
"Ya Sudah sekarang kita tinggal meminta sisa bayaran itu." Ujar Jony.
Sementara Rangga yang lagi menunggu Vina terbebas dari obat biusnya, duduk di sampingnya Vina sambil menatap wajah Vina, sesekali tangannya Rangga mengelus pipinya Vina, terkadang Rangga pun menciumnya.
"Dari semenjak cerai sama gue, Vina semakin tambah cantik aja, gue jadi gak tahan nih ingin segera menikmati tubuhnya." Batin Rangga, menunggu Vina sadar dari pengaruh obat bius sambil membelai pipinya Vina yang putih dan mulus.
Ketika pajar lagi mengelus pipi dan menurun kearah dada, tempat di mana gunung kembar berada.
Vina mulai menggerakan jari jemarinya, lalu perlahan matanya mulai terbuka, celingukan membagi pandangannya pada sekeliling ruangan.
"Ada di mana gue." gerutu Vina.
Ketika mau menggeeakan kaki dan tangannya, Vina kaget.
"Kenpa kaki dan tangan gue di bincang, siapa yang melakukan ini pada gue." Lanjut Vina menggerutu.
Lalu netranya menatap naik ke atas, sontak saja Vina langsung kaget bercampur geram, ketika melihat Rangga berada di sampingnya.
"Hahhh, lo' apain gue bajingan, lepasin gue." Teriak Vina sambil berontak.
Rangga tersenyum penuh birahi.
"Hehee,, tenang aja lo' cuma gue bawa kesini, hanya untuk melakukan lagi apa yang pernah kita lakukan sayang." Ujar Rangga mulai gemetaran karena hasrat birahinya mulai bangkit.
"Jangan kurang ajar, dasar anjing, cuuiih." Bentak Vina sambil melepasnya ludahnya tepat mengenai muka Rangga.
Sontak saja muka Rangga berubah merah, karena sudah merasa di lecehkan oleh wanita yang pernah hifup bersamanya.
Hiuuuukkk
Kepppllaaakkk...
Tamparan Rangga mendarat di pipi mulusnya Vina.
"Dasar wanita ******, hari ini lo' akan ku buat hidupmu lebih menderita lagi." Bentak Rangga.
Kereweek
Kreweekk...
Tangan Rangga langsung menjabah baju Vina, dan di tarik, sehingga pakaian yang menempel di tubuh mulus Vina merobek memanjang
__ADS_1
Kini nampak tubuh Vina terlihat mulus Putih dan bersih.
Raja iblis pun kini telah merasuk kedalam hati dan pikiran Rangga.