
Hujan yang semakin deras yang di iringi oleh smbaran halilintar dan petir.
Tapi Andi tetap melaju keluar dari gerbang gapura Grand City.
Tidak menghiraukan air hujan yang turun semakin deras, Andi tetap melaju dengan kencang, sedikitpun ia tidak merasakan kedinginan, karena hatinya lagi di liputi oleh kemelut dan rasa panas di dada karena perlakukan mamanya Vina terhadap dirinya.
Sehingga Andi memutuskan dalam hatinya, tidak akan lagi menginjakan kaki ke rumah yang mewah itu.
"Bukan kah tempo itu Vina selalu di kawal oleh Body Gard, apa mungkin cuma di kontrak untuk beberapa hari saja, atau mungkin pengawalnya tidak berdiam di situ." Gerutu Andi dalam hati, sembari terus melajukan kendara'annya.
Pukul 21:00
Andi berhenti ketika lampu stopan lagi berwarna merah, dan hujanpun sudah mulai mereda.
Nampak ada beberapa gerombolan bermotor di belakangnya Andi dengan menggeber-geberkan gasnya.
Hati Andi yang lagi di liputi kekesalan karena merasa kecewa se akan kedatangannya ke tempat Vina sudah di anggap seperti orang hina oleh mamanya Vina.
Andi menoleh ke bdlakang sambil berkata.
"Woii Bang ma'af para pengendara lain kan lagi berhenti, bisa gak gasnya jangan di geber-geber begitu, kan mengganggu ke tenangan pengendara." Tegur Andi.
Salah satu pengendara yang berada persis di belakang Andi merasa tidak terima oleh teguran Andi.
"Woii siapa lo' pake ngatur-ngatur kami, yang lain juga pada diam gak protes, mau cari ribut sama Geng gue." Tukasnya dengan angkuh.
"Siapa yang mau cari ribut Bang, kan gua cuma ngingetin, yang lain diam karena pada takut sama Geng kalian, tolonglah hargai pengendara lain, biar kita sama-sama enak." Ujar Andi.
"Dasar anak kampung, ini dunia jalanan, kalau gak mau berisik yang jangan di jalan, awas lo' gue habisin karena sudah berani menantang." Timpalnya sudah mulai emosi.
Setelah itu lampu jalan yang mengarah ke Jalan Delima sudah berwarna hijau, Andi pun langsung melaju, dan anak-anak gerombolan tersebut mengejar Andi sambil berteriak.
"Berhenti lo'." Teriak salah satu dari pimpinan Geng tersebut.
Andi pun berhenti, dan anak-anak gerombolan itu pun langsung memblokir motor Andi, di kira Andi akan lari begitu pikir mereka.
Andi yang masih bergejolak darahnya karena sikapnya mama Vina, sepertinya akan di tumpahkan semua pada anak berandalan itu, Andi melangkah turun dari motornya, sambil membuka helm penutup kepalanya, dan di raihnya sebuah topi yang di selipkan di saku jaketnya.
"Ada apa kalian menghalangi perjalanan saya." Ujar Andi.
"Jangan pura-pura bego lo', tadi elo sudah berani menantang kami, pakai nanya lagi." Ujarnya pertentang.
"Oh jadi kalian tidak terima, lantas mau mengeroyok gua, oke lo' jual gua beli, mungpung darah gua lagi panas nih, ayo maju semua." Tukas Andi sambil berdiri menantang dengan gagah berani.
"Bangsat sombong juga rupanya kau." sungutnya sambil memberi komando pada yang lainnya untuk menghabisi Andi.
Beberapa kelebatan bogem mentah telah meluncur mengincar kepala Andi.
Andi merunduk sambil meliukan badannya, dan tidak lupa pula kaki dan tangannya melesat menggedor memberi salam olah raga.
Buk buk buk.
Sambutan pukulan dan tendangan Andi mendarat dengan mulus.
__ADS_1
Jergjeg ke tiga orang yang terk
ena hantaman Andi langsung goyah.
Kemudian yang lainnya melompat sambil meluncurkan tendangannya mengarah perut Andi.
Andi langsung salto tiga putalran kebelakang, begitu Andi mendarat ia langsung melesit ke atas memutarkan tubuhnya menyambut para anak berandal yang terus menyerangnya.
Tidak bisa di hindari lagi sapuan tendangan memutar telah mendarat di wajah mereka.
Deasss deeasss deeaasss...
Blak blak blak...
Tiga orang dari mereka langsung jatuh terlentang di atas aspal jalan.
"Ayo maju semua, laganya aja yang sok jagoan, dasar nyali patungan." Ejek Andi.
"Bangsat lo', heeaaaa." Salah satu yang merupakan pimpinannya menyerang Andi dengan gaya bela diri jalanan.
Pukukan beruntun terus dengan gencar ingin menghabisi Andi.
Tapi tidak secuilpun Tubuh Andi tersentuh oleh serangannya.
Malahan ketika pimpinan Geng itu meluncurkan tendangan dan pukulannya, Andi mengkaper dengan tangan Kiri dan tangan kanan menggunting tendangannya dengan Jurus sabetan ekor ular pigon.
Pimpinan Geng itu sampai memutar ketika tulang keringnya serasa mau patah terkena guntingan yang keras dari Andi.
Dari situ Andi maju dua langkah, lalu kelebatan pukulannya melesat dengan cepat.
Jroooottt.
Auuugghhh..
Pukulan lurus Andi telah menggedor pelipisan pimpinan Geng, sehingga tidak bisa di pertahankan lagi, tubuhnya melayang jatuh menimpa pinggiran trotoar.
Sementara kawanannya hanya melotot melihat jagoannya sudah terkapar dan tidak berdaya lagi, perlahan nyali mereka mulai menciut, bagaikan rumput putri malu yang tersentuh langsung mengkerut lemas.
"Kenapa kalian pada diam, aya lawan gua." Bentak Andi emosi.
Lalu Andi melangkah mendekati pada lelaki yang berambut ikal, hanya sekelebatan saja, kedua tangan Andi langsung mencengkram kerah baju kelaki itu.
Semua kawanannya terbelalak ketika temannya di angkat oleh Andi dengan sangat entengnya.
"Ayo lawan gua." Tukas Andi.
Lelaki berambut ikal itu sudah nampak pucat pasi wajahnya, ketika kakinya sudah tidak menapak lagi ke jalan.
"Aa am ampun Bang." Ujarnya penuh rasa takut.
"Dasar pengecut, heaaaa." Seru Andi sambil melemparkan lelaki berambut ikal itu ke tengah tengah kawanannya.
Andi pun tidak menyadari tenaganya bisa berlipat-lipat ketika amarahnya sudah memuncak.
__ADS_1
Itu semua karena kekuatan dari semesta yang bersemayam di kalung pemberian ayahnya, yang di wasiatkan pada Toglo.
Andi tidak berkomentar lagi, ia langsung berjalan memburu pada motornya lalu di nyalakannya, dan langsung tarik gas.
Weng weng weeeng...
Motor Yamaha Rx king cobra kini melaju dengan kencang meninggalkan para anak berandal yang masih mengerubuni pimpinannya yang masih pinsan.
Sementara di tempat lain.
Vina Artiyana yang baru pulang dengan di antar oleh se orang lelaki gagah dan tampan dengan jambang yang telah menghiasi ketampanannya,
berhenti di luar gerbang.
"Sudah sampai sini saja, terima kasih pak Rangga." Ujar Vina sambil membuka pintu mobil sambil melangkah turun.
"Iya sama-sama Vin, sampai ketemu besok ya." Tukas Rangga, sambil mengemudikan lagi kendara'annya.
Entah apa yang sudah di perbuat oleh Rangga, sehingga dengan semudah itu hati Vina bisa ber belok.
Dan mamanya Vina telah memberikan kabar palsu pada Andi, yang katanya Vina lagi tidur, yang di sampaikan oleh satpam.
Vina lalu mengetuk pintu gerbang dengan slot pintu.
Satpam yang bertugas jaga itu, langsung bergegas keluar dari pos membuka kunci pintu gerbang.
"Oh iya non, tadi ada teman non kesini, kasihan dia kehujanan di luar nunggu non, kirain bener non lagi tidur.
"Siapa emang mang?." Tanya Vina.
"Ia mengaku bernama Andi." Jawab Satpam.
"Oh Andi, terus gimana." Tukas Vina.
"Andi langsung pulang, seperti membawa luka, ku lihatin dari kaca jendela pos." Ujar Satpam.
"Andi teman sekolah aku mang, ya sudah mang lupakan saja." Tukas Vina semudah itu berkata.
Ramuan apa yang di berikan oleh Rangga pada Vina.
Sehingga Vina seperti lupa pada perkata'annya pada Andi.
Yang katanya mencintai Andi apa adanya, mungkinkah Vina telah melupakan Andi, hanya karena pengaruh mamamnya.
Ataukah ada pengaruh lain yang di berikan Rangga untuk menjinakan hati Vina.
\=\=\=\=\=\=\=Bersambung\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa, like, Comentar, jadikan favotit bila suka.
Berikan Vote serta gifnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat sejahtera dan sukses selalu.
__ADS_1