
Setelah satpam memberi kabar akan kedatangan Andi.
Vina seperti tidak ada reaksi khawatir atau merasa bersalah, ia terus melangkah memasuki kedalam rumah.
Setibanya di dalam rumah, Vina langsung menaiki trapan anak tangga satu demi satu menuju kamar di lantai dua.
Lalu ia membuka pintu kamarnya, disimpan tasnya di atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk, sambil menatap langit-langit kamarnya dengan intens.
Sampai akhirnya Vina pun terlelap dalam tidurnya, mungkin kecapean setelah seharian penuh bekerja, karena menumpuknya kerjaan di kantor.
Sementara di tempat lain.
Andi Nayaka sudah sampai di depan rumah, semua pakaiannya basah dan ponselnya mati karena kebasahan di saku celananya.
Jaroni selepas menutup kembali pintu gerbangnya berkata pada Andi.
"Waduuh den Andi, sampai basah kuyup begitu, memangnya tidak membawa mantel." Sapa Jaroni.
"Iya Paman, pakai mantel kayanya ribet, aduuh mana ponselku mati lagi." Tukas Andi.
"Di keringkan den, jangan dulu di cas birkan air yang masuk di dalam kering dulu." Timpal Jaroni.
"Iya Paman, untung ada ponsel cadangan."
"Memangnya habis dari mana?." Tanya Jaroni.
"Biasa Paman anak muda." Jawab Andi.
"Oh iya Paman, selepas hujan kayanya enak nih makan bakso." Lanjut Andi memberi usulan.
"Wiiih mantap pokoknya." Tukas jaroni.
"Paman mau gak belinya." Ujar Andi.
"Ya mau den, dimana?." Jaroni balik bertanya.
"Di toko besi paman,, paman ini ada-ada saja, ya di tukang bakso atuh." Jawab Andi.
"Hehe, maksud Paman, kan tukang bakso di sini banyak." Ujar Jaroni.
"Ahaha, Bakso mas Bejo paman, enak baksonya, ini uangnya, empat bungkus ya." Ujar Andi sambil memberikan uang warna merah dan warna biru.
"Kok banyak amat Den empat bungkus, dan uangnya pun kelebihan." Tukas Jaroni.
"Kan Ibuk sama teh Anggita paman, dan yang gocap buat paman beli rokok." Ujar Andi.
"Terima kasih den." Ujar Jaroni, sembari beranjak memburu pada motornya, yang sama dan se merk sama motor Andi.
Karena di Gang Si'iran tempatnya para pengguna kendara'an Yamaha Rx king.
Jaroni langsung melajukan motornya keluar gerbang, menuju kios bakso mas Bejo.
Sementara Andi memasuki kedalam rumah untuk ganti pakaian karena basah kuyup.
Setelah Andi sudah ganti pakaian, ia melangkah menuju pintu kamar Ibuknya.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Assalam mu'alaikum Buk." Sapa Andi.
"Wa alaikum salam, kamu Andi." Jawab Ibuknya dari dalam kamar.
"Iya Buk."
Lalu Sindi melangkah untuk membuka pintu.
"Baru pulang kamu, ada apa?." Tanya Sindi.
"Ibuk jangan dulu tidur, aku beli'in bakso, teh Anggita sudah tidur belum?." Tanya Andi.
"Ya belum, Kakak mu jangan segini masih sibuk dengan laptopnya ngerjain urusan bisnis, coba aja kamu lihat." Tukas Sindi.
"Ya sudah biarin aja."
"Mana baksonya?." Tanya Sindi.
"Paman Jaroni lagi beli, oh iya buk guitar ayah di simpan di mana sih buk?." Tanya Andi.
"Itu tuh di atas lemari, memangnya kamu bisa main guitar." Tukas Sindi.
"Ibuk gak tau ya, diam-diam waktu di sekolah aku suka main Band." Ujar Andi.
"Ooh ya, ko kamu gak pernah bilang." Tukas Sindi.
"Iih dasar kamu, apa jangan-jangan sekolahmu sering absen karena main Band.
"Ya enggak lah Buk, coba aja lihat di rapotku dan ijazah, serta prestasiku, aku masuk ke daptar ranking satu." Tukas Andi.
Sindi cuma manggut-manggut.
"Iya juga ya, anak ibuk murid berprestasi, kok sempat kamu main Band." Ujar Sindi.
"Ya sehabis jam pelajaran Buk." Ujar Andi sambil melangkah memasuki kamar ibuknya untuk mengambil guitar peninggalan almarhum Nandi.
Kemudian Andi berjalan keluar bertepatan dengan datang Jaroni membawa kantong plastik berisikan empat bungkus Bakso.
"Wah paman, kok cepat amat." Ujar Andi.
"Kebetulan belum pada ngantri den." Ujar Jaroni sambil menyerahkan kantong plastik.
"Ya sudah ini yang dua bawa ke bangku buat kita, dan yang dua lagi buat Ibuk sama teh Anggita, sebentar ya aku ambil mangkok dulu, dan sekalian bikin kopi." Ujar Andi sambil kembali memasuki ke dalam rumah.
"Buk, ibuk, ini Baksonya."
Sindi pun langsung keluar lagi dari kamarnya, menuju ruang makan.
"Bakso dagangan mas Bejo bukan?." Tanya Sindi.
"Iya buk, siapa lagi bakso yang paling enak di sini, mas Bejo dong." Ujar Andi sambil membawa nampan berisi dua buah mangkuk, sendok dan garpu serta dua gelas kopi yang masih mengepul.
Setiba di tempat, Andi menurunkan nampan di atas meja.
__ADS_1
"Ini mangkoknya Paman." Ujar Andi.
Selepas hujan, udara sudah terasa dingin, Andi dan Jaroni begitu nikmatnya menyantap Bakso buatan mas bejo yang terkenal di Gang Si'iran.
Selepas itu Andi mulai memainkan guitarnya, dan terdengar begitu indah dalam petikan-petikan senar gitar, yang di iringi dengan nyanyian lagu yang begitu sedih.
<<<<<<<🎵🎵🎵🎵🎵🎵>>>>>>>
Bila debunga cinta, gugur layu terkulai, sepi menyelubungi hatiku yang kini melara.
Pudar bersama masa, cinta semusim kita, yang tak bisa bertaut kembali..
Telah aku menduga tiada indah mewangi hanya bersandung di kau berpura cinta dan berbudi.
Bukan membalas cinta yang lahir dari hatimu yang suci, cinta yang abadai
Oh tak ku menduga mengapa bisa terjadi sebegini.
Ku pikir selama, selama ini cinta kita hati ke hati.
Di manakah janjimu katamu
akulah milikmu abadi.
Oh tak mungkin ini hanyalah semata mata sandiwara.
Back
Oh tak ku menduga
Mengapa bisa terjadi sebegini.
Ku pikir selama, selama ini cinta kita dari hati ke hati..
Di manakah Janjimu katamu
Akulah milik mu abadi
Oh tak mungkin ini hanyalah semata, mata sandiwara.
mungkin nanti sewaktu-waktu kau kan kesal hingga ke hayatmu.
Jaroni yang mendengar nyanyian lagu Andi begitu terkesan oleh suaranya Andi yang merdu, hampir sama percis dengan penyanyi aslinya.
"Pok pok pok, hebat-hebat den Andi suaranya memang top, ee'eh ngomong-ngomong den Andi seperti di khianati oleh cinta." Tepuk tangan Jaroni memberi pujian.
"Haha paman, ini kan cuma lagu, tidak juga Paman, aku cuma suka aja sama lagu-lagu dari negri jiran itu." Ujar Andi.
"Iya den, paman tau itu lagu, tapi Paman bisa merasakan, dari penghayatan den Andi dalam melantunkan sair lagu tadi, seperti lagi di alami sekarang, apa jangan-jangan kamu putus ya sama non Vina." Tukas Jaroni.
Sontak saja Andi kaget, padahal dirinya sudah berusaha bersikap biasa pada semua orang, tidak memperlihatkan bahwa hatinya lagi hancur, apalagi hingga sa'at ini Vina pun tidak ada ngchat.
Setidaknya satpam penjaga rumah Vina pasti memberi kabar akan kedatangannya waktu hujan deras itu.
"Paman ini ada-ada saja, ku sama Vina cuma temenan kok." Tukas Andi menyembunyikan perasa'annya.
Jaroni pun tidak mempermasalahkan itu, lalu Jaroni mengalihkan pembicara'an, agar hati Andi terhibur, walau Andi bilang tidak punya masalah, tapi Jaroni sangat yakin kalau Andi lagi hancur hatinya.
__ADS_1