
Ketika kedua rekannya Dude yang menjadi lawan bertarungnya Vina sudah terjatuh.
Seketika itu Vina pun langsung melompat dengan gerakan yang begitu cepat, tangan Vina lalu menjambah kerah jaket dari salah satunya.
"Elo' memang tidak pantas di kasihani, sekarang gue akan mematahkan batang lehermu, dan gue akan membawamu ke kantor polisi dengan kasus pengeroyokan." Gertak Vina.
"Ampun Vin, gue ngaku kalah, dan gue Tidak akan gangu lagi pacar lo'." Ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya.
Vina tidak menyadari bahwa itu hanyalah trik licik dari mereka, begitu Vina lengah, perlahan tangan kanannya diturunin ke balik pinggangnya, entah apa yang akan di ambil dari baling pinggangnya.
Tapi Tuhan masih melindungi Vina, lewat netra Andi yang kebetulan menoleh ke arah Vina, nampak terlihat oleh Andi, lawannya Vina seperti mau mengambil benda dari balik pinggangnya.
Andi berteriak sambil melompat.
"Awas Vin." Teriak Andi sambil melesat menendang lelaki tersebut.
Sebuah benda dengan panjang dua piluh centi meter, menyerupai sebuah pisau terlempar dan jatuh di atas hamparan rumput.
Sontak saja Vina terkejut, secara tidak sadar Vina langsung merangkul pada Andi.
"Terima kasih sayang, kamu telah menyelamatkan aku." Lirih Vina bernada lembut.
"Iya sama-sama." Ujar Andi.
Lalu Vina pun melepaskan rangkulannya, sambil memandang pada lelaki yang tadi mau menusuk dirinya, lalu dilangkahkan tungkai kakinya mendekati pada lelaki yang lagi terkapar.
"Dasar bajingan." Ujar Vina sambil mengangkat kerah baju lelaki itu.
Hiuuuk
Jebroooddd.
Tinju Vina meluncur menghajar wajah lelaki tersebut.
Lelaki itu langsung jatuh terkulai dan terkapar di atas hamparan rumput hijau.
Dude hanya melongo, dengan amarah dan dendam yang sudah berkarat, tapi ia tidak berdaya untuk melakukan perlawanan lagi, karena wajahnya kini kian membengkak dari giginya yang terlepas.
"Bangsat, sekarang gue ngaku kalah tapi ingat masalah ini belum berakhir, elo dan elo Vina Artiyana tunggu pembalasan gue, akan ku bikin hidupmu menderita." Ancam Dude sambil menunjuk pada Andi dan Vina.
Setelah itu Dude dan ke empat rekannya, langsung pergi dengan langkah sempoyongan menyimpan luka dan dendam yang mendalam.
Andi dan Vina hanya berdiri sambil menatap kepergiannya Dude dan kawanannya.
"Dasar orang-orang Sinting, mereka yang bikin ulah duluan, bukannya sadar akan kekeliruannya, malah terus memperpanjang masalah, pokoknya dari sekarang, kamu harus hati-hati sayang, ucapan Dude sepertinya tidak main-main." Ucap Andi.
__ADS_1
"Iya sayang, aku pun bisa merasakan, Dude orangnya nekad, semoga saja kita selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT." Ujar Vina.
"Amiiiin." Jawab Andi.
Kemudian setelah itu, Andi dan Vina pun berjalan menuju pada motornya yang terparkir di pinggiran trotoar.
"Sekarang kamu aku antar pulang, nanti ibukmu mencari kamu, kalau tau sama aku, bisa tambah runyam masalah percinta'an kita." Ujar Andi.
"Iya sayang, terima kasih ya." Timpal Vina.
"Justru aku yang harus berterima kasih padamu, kamu sudah datang tepat waktu, oh iya kok kamu bisa tau aku lagi dalam masalah?." Tanya Andi.
"Pirasat saja sayang, aku merasakan hati tidak enak, dan jantung terus berdegup kencang, lalu terlintas di ingatanku padamu, dan aku kabur lewat jendrla kamar." Jawab Vina.
"Nekad sekali kamu, nanti bagaiman kalau ibukmu tahu." Ujar Andi.
"Tenang saja, aku sudah persiapkan alasan yang masuk akal." Ujar Vina.
"Apa tuh?." Tanya Andi.
"Ini rahasia dalam negri." Ujar Vina.
"Idiih sampai segitunya." Ujar Andi sambil mencomot hidung mancungnya Vina.
"Iiih sakit tau, aku balas nih." Timpal Vina sambil menggelitik pinggangnya Andi.
"Sudah sayang sudah, bisa-bisa aku kencing di celana nih." Ujar Andi.
Pasangan dua sejoli nampak terlihat romantis, terkadang bercandanya suka berlebihan, tapi keduanya pun menyukai hal itu.
Kemudian Andi menyalakan motornya dan Vina duduk di jok belakangnya Andi.
Kedua tangan Vina melingkar di pinggangnya Andi.
Vina nampak begitu nyaman bila berada dekat sama Andi.
Kalau melihat dari cara mereka, berkomunikasi, bercanda, dan terkadang terlihat romantis, sepertinya mereka tidak bisa di pisahkan meski banyak halangan dan rintangan, karena keduanya sama-sama saling jatuh cinta.
Setibanya di depan Gapura yang mau memasuki komplek Grand City, Vina meminta Andi untuk berhenti.
"Sudah sampai sini saja, tidak usah masuk komplek, nanti ada yang melihat kita, dan bilang sama mamah." Ujar Vina.
Andi pun langsung menghentikan laju kendara'annya.
"Ya sudah kamu hati-hati ya, jaga kesehatan, bila ada apa-apa cepat kontak aku." Ujar Andi.
__ADS_1
"Iya sayang, tanks ya atas perhatiannya." Blasa Vina.
"Iya sama-sama."
Vina langsung berjalan kaki, sambil sesekali menoleh kebelakang pada Andi yang masih duduk di atas kendara'annya sambil menatap ke arahnya.
Setelah Vina hilang di telang Gerbang gapura Grand City, Andi pun langsung membalikan arah kendara'annya menuju pulang ke rumah.
Andi melaju dengan sangat kencang, liuk ke kiri dan ke kanan dalam menyalip kendara'an lain, sungguh sebuah skill yang berkelas, dalam melajukan kendara'an tidak jauh beda dengan almarhum ayahnya.
Sehingga tidak lama kemudian Andi telah sampai di depan rumahnya, begitu Andi turun dari motornya langsung di sambut oleh si Gery, menggonggong dengan sangat kencang, mungkin istilahnya si Gery menyapa pada Andi.
"Halo Gery, pasti kamu lapar ya, bentar ya gua ambil dulu makananmu." Ujar Andi sambil melangkah masuk kedalam rumah.
"Assalam mu'alaikum." Sapa Andi sambil mendorong pintu yang tidak terkunci.
"Wa alaikum salam, terdengar suara Sindi menjawab.
Kemudian Andi mengulurkan tangannya pada ibuknya, dan di ciumnya punggung telapak tangan Sindi.
"Andi.. Kamu dari mana saja, semalam tidak pulang?." Tanya Sindi.
"Kan aku sudah bilang sama ibuk, mau mengantar Vina ke Tasik Buk." Jawab Andi.
"Iya, tapi kok jam segini kamu baru sampai rumah." Ujar Sindi.
"Iya Buk, tadi aku mampir dulu ke tempat kerjanya Bibi, kangen ingin bertemu Om Gito dan Om Pandi, Oh iya ada salam dari Om Gito, Om Pandi dan Buk Nina." Ujar Andi.
"Iya salam kembali, kamu sudah makan?." Tanya Sindi.
"Sudah Buk tadi di beliin nasi bungkus sama Bibi Astuti." Jawab Andi.
"Sekarang kamu mau ngapain?." Tanya Sindi.
"Mau mandi dulu, emang ada apa Buk?." Tanya Andi.
"Ya sudah mandi dulu sana." Ujar Sindi.
Andi pun melangkah memasuki Kamarnya, kemudian di lepasnya jaket levis, lalu di raihnya sebuah handuk.
Setelah Andi selesai mandi dan ganti salin, Andi duduk di sopa berhadapan dengan ibuknya.
"Ada apa Buk, sepertinya ibuk tadi mau menyampaikan sesuatu?." Tanya Andi.
"dari pagi sampai jam istirahat Paman Toglo nanyai kamu terus, ibuk juga gak atu ada apa Toglo nanyain kamu, cuma ia berpesan apabila Andi sudah pulang sutuh temui dia di bengkel." Jawab Dindi.
__ADS_1
"Ada apa ya, Paman Toglo suruh aku menemuinya." Ujar Andi.
"Ya ibuk juga tidak tahu, ya sekarang coba kamu temui dulu, takutnya ada hal penting yang tidak boleh orang lain tahu." Ujar Sindi.