
Ketika hari menjelang senja, di sebuah Butik langganan, nampak Anggita Eka Putri lagi memilih pakaian untuk menghadiri acara ulang tahun teman kuliahnya waktu di singapur.
Ketika Anggita mau mengambil pakaian yang ia pilih dan sangat cocok dengan seleranya.
Tanpak di sengaja tangan Anggita saling bersentuhan dengan tangan lain yang berada di sebelahnya karena terhalang oleh barisan pakain.
Angita pun kaget, tanpak ia sadari karena sepontan Anggita berkata.
"Iih apa'an sih." Ujar Anggita kaget sambil menatap datar pada sosok wajah tampan berkulit putih.
Kemudian lelaki itu, langsung meminta ma'af.
"ma'af mba, saya tidak sengaja, mba memilih pakaian yang sama yang saya pilih." Ujarnya.
"Lho..ko bisa, sedangkan kamu cowo, jangan mengambil kesempatan lo'." Ujar Anggita.
"Mba jangan salah paham, saya memilih pakaian ini untuk adik saya mau mengadakan acara ultah." Ujarnya.
"Anda memilih pakian ini untuk acara ultah, akupun sama mau menghadiri acara ultah teman saya." Tukas Anggita.
"Ko bisa sama ya?." Tanya lelaki itu.
"Ya mana saya tahu." Timpal Anggita.
Anggita dan lelaki itu terus saja beradu argumen, hingga akhirnya sang pelayan butik datang untuk melerai mereka.
"Ma'af ibuk, Bapak, ini ada apa ya, kalau mau berantem jangan di sini, karena bisa berpengaruh buruk pada pengunjung kami." Ujar pelayan.
"Ini lho mbak, lelaki ini sudah berlaku kurang ajar pada saya." Tukas Anggita sambil menunjuk pada lelaki itu.
"Bapak sebaiknya keluar sebelum saya panggilkan scurity." Ujar sang pelayan meminta pada lelaki itu untuk keluar.
Lelaki itu membela diri, karena merasa diri tidak bersalah.
"Apa salah saya mba, ini cuma salah paham, saya lagi memilih pakain yang cocok untuk adik saya, yang kebetulan ibuk ini memilih pakian yang sama yang saya pilih, dan secara tidak sengaja tangan saya dan tangan dia bersentuhan." Ujar lelaki itu membela dirinya dari tuduhan Anggita.
"Kalau begitu kenapa dari kalian tidak ada yang ngalah." Ujar pelayan.
"Oh tidak bisa mbak, saya kan sudah langganan di sini, saya ingin pakaian yang sudah cocok dengan selera saya." Ujar Anggita tetap pada pilihannya.
"Ya saya pun sama, adik saya lebih cocok denga pakain ini untuk peraya'an acara ulang tahunnya." Ujar lelaki itu.
Karena merasa risi dengan sikap kerasnya Anggita akhirnya lelaki itu mengalah, dengan mencari lagi pakaian yang lebih bagus dan cocok dengan selera adiknya.
Singkat Cerita.
Anggita telah melaju dengan mobilnya di jalan Delima raya, yang di temani oleh Andi sebagai pengemudi mobil.
Andi melajukan mobil Pajero new sport, ke alamat yang anggita berikan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Andi dan Anggita telah sampai di tempat, sebuah rumah mewah dengan textur bangunan bergaya eropa, yang di kombinasikan dengan model clasic, di hiasi dengan ornamen-ornamen propil.
"Waww....Tajir juga temanmu itu Kak." Ujar Andi sembari melangkah keluar dari dalam mobil.
Sementara di ruangan sudah di penuhi oleh para tamu undangan.
Anggita dan Andi lalu melangkah memasuki ruangan tersebut.
Kedatangan Anggita yang telah ditunggu-tunggu dari tadi di sambut meriah, rupanya Anggita adalah salah seorang sahabat terbaiknya.
"Hai Git, di kira elo gak datang." Sapanya sambil merangkul Anggita.
"Ya datang dong, sekalipun gue gak di undang, kenalin Bel, nih adik gue." Jawab Anggita sambil memegang bahunya Andi.
Wanita yang berambut agak pirang bernama Bela, mentap kagum pada Andi.
"Wow.. Ini adik lo', ganteng banget, kenalin gue Bela Puspita teman kuliah nya Gita." Ujar Bela sambil menghulurkan tangannya.
Andi pun langsung menyambut huluran tangannya Bela sambil berkata.
"Andi Nayaka." Tukas Andi.
"Nama yang keren, sekeren orangnya." Ujar Bela.
"Kak Bela terlalu berlebihan bila memuji, oh iya selamat ulang tahun ya moga panjang umur dan murah rijki." Ucap Andi.
"Amiin...Terima kasih." Tukas Bela.
Anggita langsung tercenganng dengan kedatangan lelaki itu dan berkata.
"Lhoo..ko elo ada disini." Ujar Anggita sambil menatap datar pada lelaki yang baru datang itu.
Bela pun kaget sambil membelalakan kedua netranya.
"Ko.. Kalian bisa saling kenal sih, ini abang gue Git?." Bela berkata.
"Oh, jadi ini abang lo' pantesan saja." Ujar Anggita.
"Emang kenapa sih Git, apa kalian sudah lama saling kenal." Ujar Bela sambil membagikan pandangannya pada Anggita dan kakaknya itu.
Lelaki yang mengaku sebagai kakaknya Bela memperkenalkan dirinya pada Anggita dan Andi.
"Kenalin gue Brian." Ujarnya sambil membagi salamnya pada Anggita dan Andi.
"Anggita." Tukas Anggita.
"Gua Andi Nayaka kakaknya Anggita." Jawab Andi.
"Senang bisa berkenalan dengan kalian, gue kira kalian pasangan kekasih." Ujar Brian.
__ADS_1
"Memangnya Abang gak bisa bedain mana pasangan kekasih dan mana pasangan kakak beradik." Tukas Andi.
"Iya sih, kalau di lihat dari bentuk wajah dan rupa kalian ada banyak kesama'annya." Timpal Brian.
Setelah itu Bela dan Brian mempersilahkan pada Anggita dan Andi untuk duduk, karena acaranya akan segera di mulai.
Brian yang diam-diam selalu mencuri pandangannya pada Anggita.
"Anggita sangat cantik, kalau gue lihat pada sikapnya dia wanita baik dan di lihat dari cara dia berpakaian sepertinya Anggita wanita karir, nanti gue tanya pada Bela." Batin Brian menatap intens pada Anggita yang lagi asik duduk berdampingan sama Andi.
Kini acara pun telah di mulai.
Sebagai pembuka acara di awali dengan pembaca'an ayat suci alqur'an, sampai pada akhirnya tiba pada penghujung acara yaitu peniupan lilin.
Semua tamu undangan ikut memeriahkan dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Acara ulang tahun Bela begitu sangat meriah, karena tamu undangan semua pada hadir ikut memerihkan acara tersebut.
Setelah acara selesai para tamu undangan yang lain pada bubar, tinggal Anggita dan Andi Nayaka yang masih nampak berada di tempat, beserta beberapa sanak saudaranya Bela puspita.
Bela dan Brian mengajak Anggita dan Andi duduk di belakang rumah.
Sebuah tempat bersantai yang begitu asri, sambil melihat pemandangan alam yang begitu indah, karena lokasi rumah bela berada di tempat yang lebih tinggi jauh dari pusat kota.
Hamparan rumah dan gedung-gedung pencakar langit kota Bandung nampak terlihat dengan jelas.
"Gimana enak kan kita bersantai di sini, dari dini kalian bisa melihat letak tempat tinggal kalian." Ujar Bela.
"Iya Benar sekali, kalau di lihat dari sini rasanya tinggal loncat aja untuk pulang ke rumah, tapi kenapa bila di tempuh dalam perjalanan lumayan jauh sekali." Ujar Andi.
Kemudian Brian berkata dan bertanya pada Andi, seperti ingin tau letak keberada'an tempat tinggalnya.
"Emang letak tempat tinggalmu di mana An?." Tanya Brian.
Kemudian Andi meluruskan telunjuknya sambil berkata.
"Itu tuh, dari sini bisa dengan Jelas, itu kan bundaran antara jalan Delima, Jalan Mengkudu, Jalan Angkasa, dan Jalan Terusan, nah letak rumah gua berada di Jalan Delima." Ujar Andi.
"Oh gitu, gua lupa-lupa ingat." Ujar Brian.
"Masa iya, kota sendiri abang gak tau." Sahut Andi.
Bela tersenyum lalu berkata, untuk menjelaskan pada Andi.
"Ma'af An, abang gue lama tinggal di singapur, jadi kurang begitu hapal wilayah kota ini, apalagi ke tempat kalian, di wilayah sini saja dia masih kurang begitu hapal.
"Oh begitu, sori gua gak tau, pantesan aja dari tadi gua gak lihat orang tua kalian, lalu kalian tinggal di sini berdua?." Tanya Andi.
"Gak ko sama orang tua, yang kebetulan orang tuaku lagi ada acara yang tidak bisa di tunda, orang tua kami tinggal bokap doang, mamah telah meninggal waktu gue kuliah di singapur, waktunya hampir bersama'an dengan wapatnya ayah kalian." Ungkap Bela.
__ADS_1
"Berarti kita senasib, bedanya gua dan kak Anggita di tinggal oleh ayah, sedangkan kalian di tinggal sama ibuk." Tukas Andi.
Takdir dan nasib yang telah menentukan, Mereka sama-sama telah di tinggalkan oleh orang yang paling mereka cintai.