Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 87 Pertarungan di simpang tiga


__ADS_3

Setelah Andi mengantarkan pulang Rara ke rumahnya.


Waktu maghrib tiba Andi telah berada kembali di tempatnya Erik


Mereka pun langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjama'ah.


Selepas itu Andi dan Erik langsung pergi, untuk mencari kawanannya Jorda, karena rasa penasarannya Andi pada mereka, yang terus mengincar dirinya.


Pukul 19:10 menit.


Andi dan Erik sudah melaju di jalan mengkudu raya, terus belok kiri ambil jalan terusan.


Tidak lama kemudian Andi telah sampai di jalan simpang tiga, lalu Andi menghentikan laju kendara'annya.


"Kenapa berhenti An?." Tanya Erik.


"Pertama gua di ikuti oleh ke lima orang itu di sini." Jawab Andi.


"Apa benar mereka ada maksud jahat sama lo'." Tukas Erik.


"Iya gua yakin mereka ada maksud tidak baik sama gua, padahal gua tidak pernah ber urusan sama mereka, kenalpun kagak." Ujar Andi.


"Mungkin kah mereka para preman yang di bayar orang, untuk menghabisi lo' An." Ujar Erik.


"Gak mungkin, saya tidak punya masalah sama orang." Timpal Andi.


"Ya itu bagi lo An' mungkin sebelumnya lo pernah punya masalah sama orang lain, karena orang itu tidak berani berhadapan langsung dengan lo', akhirnya dia bayar preman." Ujar Erik.


"Bisa jadi."


Sementara orang yang lagi di perbincangkan oleh Andi dan Erik, lagi melaju di arah yang berlawanan, setelah mereka tidak berhasil mengejar Andi, mereka memutuskan kembali ke markas dan memberi laporan pada Rangga bahwa targetnya berhasil lolos dari kejarannya.


Jorda dan ke empat rekannya langsung terperanjat ketika melihat targetnya kini sudah nampak di depan matanya.


"Pucuk di cinta ulampun tiba, tidak usah capek-capek lagi kita mencari, lihat kawan target kita sudah berada di depan." Ujar Jorda.


"Tapi Bang kenapa jadi berdua." Tukas Babon.


"Mungkin itu rekannya, tapi target kita cuma satu, yaitu pemuda jangkung yang bernama Andi Nayaka itu." Tunjuk Jorda.


"Ya sudah sekarang kita lancarkan misi kita Bang, mungpung target sudah berada di depan kita." Tukas Tenggo.


Jorda dan ke empat rekannya langsung melajukan lagi motornya mendekati Andi dan Erik.


Andi yang sudah mengetahui keberada'an mereka nampak tenang dan tidak terlihat gentar sedikitpun, malahan Andi meminta pada Jorda untuk segera mendekatinya.


"Woi lekas kemari, gua sudah menunggu kalian dari tadi di sini." Panggil Andi.


Jorda dan ke empat rekannya langsung memerah wajahnya.


Kemudian Jorda berhenti dan melangkah turun dari motornya, yang di ikuti oleh ke empat rekannya itu.


Jorda, Babon, Tenggo, Murdok dan Rasman memandang dengan sorot matanya yang bringas dan tidak bersahabat.


"Sekarang gua sudah berada di tengah-tengah kalian, apa mau kalian dari gua, apa sebelumnya gua pernah bermasalah sama kalian, sehingga kalian terus mengincar gua." Ujar Andi.


"Ah banyak bacot lo'." Teriak Jorda langsung menyerang Andi.


Erik pun tidak tinggal diam, ia langsung melompat menghadang Murdok dan Rasman.


"Heh jangan ikut campur lo' ini masalah kami sama pemuda itu." Bentak Murdok.


"Andi sahabat gua, kalian nyakitin sahabat gua, sama saja nyakitin gua, ayo maju bangsat." Tukas Erik.


"Keparat, heeaaaa..."


Murdok dan Rasman langsung menerjang Erik dengan sangat Brutal.


Erik yang sekarang, bukanlah Erik yang dulu, kini sudah menguasai tingkatan ilmu bela diri dengan sempurna.


Kelebatan-kelebatan dari pukulan dan tendangan dari kedua belah pihak, kini telah mewarnai dalam sebuah pertarungan Erik melawan kedua orang pembunuh bayaran.


SEBRUUUUUTTT...

__ADS_1


Murdok dan Rasman menggempur Erik dengan pukulan dan tendangan.


Erik begitu lentur dan flexible tubuhnya dalam berkelit menghindari kedua serangan yang ganas dan membabi buta.


Di lihat dari tata gerakan jurus-jurus yang Erik peragakan, dalam mengimbangi serangan lawannya, mirip sekali dengan gaya bertarungnya seekor Angsa, terkadang melesit ke atas sambil menendangkan kedua kakinya, yang di susul dengan gebukan kedua tangannya, lalu di ubah gaya pukulan melengkung membentuk kepala Angsa.


Murdok dan Rasman tidak bisa membaca arah pukulan dan tendangan yang Erik lancarkan terkadang banyak pukulan dan tendangan tipuan, yang akhirnya Pukulan patuk Angsa telah menyokcrok mata Murdok dan Rasman.


Tuk tuk tuuukk...


Seperti kilatan halilintar yang Murdok dan Rasman rasakan ketika kelima jari jemari Erik menotok netranya.


Auuugghhh


Jeregjeg


Murdok dan Rasman sempoyongan dan terasa gelap pandangannya.


Tentu sangat memudah kan bagi Erik untuk segera melumpuhkan kedua pembunuh bayaran tersebut.


Heeeaaaa..


Erik melompat dengan gaya Angsa terbang.


Jebroood


Jebrooodd


Kedua tangan Erik yang membentuk gebukan dari sebuah sayap menghantam kuping Murdok dan Rasman.


Auuugghhhh.....


Murdok dan Rasman menjerit serasa gendang telinganya telah pecah, seiring dengan melayangnya tubuh jatuh menimpa trotoar sambil menutupi kedua telingannya.


Nampak sebuah cairan hangat warna merah meleleh keluar melalui sela-sela jari jemari Murdok dan Rasman yang menelungkup di antara kedua telinganya.


Setelah itu Erik pun langsung melompat ke tengah arena pertarungan Antara Andi melawan Jorda,Tenggo dan Babon.


Tiga orang pembunuh bayaran kini semakin kelabakan setelah Erik masuk arena, karena kedua lawannya kini sudah tumbang tidak berdaya lagi.


Hiuuuukkk


Jebrooodd..


Jeregjeg


Jorda terdorong tiga langkah, dengan gontai menahan keseimbangan.


Kemudian Babon melompat sambil mengayunkan pisau lipatnya mengarah pada leher Andi.


Plooosss


Jekukk


Andi memiringkan tubuhnya, bersama'an dengan melepaskan pukulan gunting dari samping.


Babon agak tersendat serangannya, karena pukulan gunting Andi begitu keras menghantam bagian pundak Babon.


Kesempatan bagus untuk Andi ketika Babon mengatur keseimbangan.


Andi melesit sambil memutarkan tubuhnya, dan satu tendangan memutar dari Andi telah menghantam lagi di kepala Babon.


Deeeaasss...


Auuughhh...


Babon terpental beberapa tumbak, dari situ Andi tidak memberi celah pada lawannya untuk bergerak.


Heaaaaaa...


Andi melompat ke udara.


Pukulan bogem mentah Andi menderu dengan bobot yang sangat mematikan.

__ADS_1


Buk buk


Deaassss...


Auuuuiggghhhh


Tubuh Babon terpental lima meter, jatuh menimpa trotoar jalan.


Heeeuuuuu...


Napas Babon tersendat dengan kedua netranya mendelik, kemudian terkulai lemas dan tidak berdaya.


Kini lawan Andi tinggal Jorda yang sudah siap siaga lagi untuk membangun serangannya.


melihat rekannya pada terjungkal, Jorda yang merupakan ketua dari para preman bayaran, kini mulai kena mental, ternyata pemuda tampan yang ia anggap tadinya sepele adalah sosok pemuda tangguh dan ganas dalam menghabisi lawan-lawannya.


Andi bergerak dengan langkah teratur mendekati Jorda yang lagi pasang kuda-kuda untuk menyerang.


"Ayo Keluarkan semua kemapuan bela dirimu." Tantang Andi.


Jorda mundur teratur sambil memasang gerakan kuda-kuda pertahanan.


Kemudian Ia menurunkan tangan kanannya kebalik ikat pinggang seperti ingin mengambil sesuatu.


Andi cukup jeli dengan gerak-geriknya Jorda, lalu netranya menoleh kebawah, nampak sebuah batu sebesar kepalan tangan berada tepat di ujung tapak sepatu kaki kanannya Andi.


Ketika Jorda bergerak mencabut sebuah pistol dari balik pinggangnya.


Dengan sangat cepat Andi mengayunkan kakinya mengangkat batu dengan ujung sepatu, lalu di hempaskan ke arah Jorda.


Wheess wheesss...


Whuuukkk, siuuuuurrr


Buuuuukkkkk.


Sebuah batu melesat dengan cepat, menghantam pergelangan tangan kanan Jorda yang lagi menggengam pistol yang siap di bidikan ke kepala Andi.


Auuuugghhhh..


Jorda terpelanting bersama dengan lepasnya sebuah pistol dari genggamannya.


Dari situ Andi langsung melompat dengan gerakan yang sangat cepat.


"Mampus kau bangsat." Teriak Andi dengan luncuran tinju buminya.


Buuuggg.


Blaaaak Tubuh Jorda jatuh terkapar.


Lalu Andi menurunkan tubuhnya, dan kedua tangan Andi langsung bergerak mencengkram lehernya Jorda.


"Bangun kau bajingan, kenapa lo dan pasukan lo mau membunuh gua." Bentak Andi.


Jorda mendelikan matanya ke atas, karena napasnya tersendak oleh cengkraman jari jemari tangan kekar Andi di lehernya.


"A aa aa amm mmp puu puun." Jorda tersendat-sendat.


"Ayo jawab bajingan, kenapa lo mau membunuh gua, atau gua remukan tulang lehermu." Bentak Andi.


Jorda tak mampu berkata, karena napasnya terasa sesak, ia hanya memberi isarat dengan jari telunjuknya yang ditunjukan mengarah pada tangan Andi yang lagi mencengkram lehernya.


Andi pun mengendorkan cengkramannya, lalu berkata dengan penuh emosi.


"Ayo katakan."


"Ka ka kam ka kami di bayar." Ujar Jorda.


"Siapa yang sudah membayar lo' dan kawanan lo itu." Paksa Andi.


"Ra Raanggaa."


Sontak saja Andi kaget, lalu melemparkan tubuh Jorda.

__ADS_1


"Bangsat, rupanya lelaki itu." Dengus Andi.


__ADS_2