Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 169 Melati


__ADS_3

Anggita dan Brian kini telah berpisah sama-sama melajukan kendara'annya menuju tempat kediamannya.


Anggita melaju dengan mobil pajero new sport keluar dari jalan Belimbing.


Mobil melaju dengan pelan di iringi oleh lantunan lagu romantis, seperti memberi harapan dan semangat hidup baru pada Anggita.


Benih-benih cinta kini mulai tumbuh dan berkembang di hati Anggita.


Ternyata sosok pria seperti Brian Tirta Wijaya, telah berhasil merobohkan tembok hati Anggita, yang sebelumnya banyak pria mapan yang mengharap cintanya Anggita, tapi tak satupun yang bisa meluluhkan kerasnya dinding hati Anggita.


Setibanya di rumah, Anggita langsung pergi untuk mengambil air wudhu, karena waktu maghrib telah tiba.


Setelah selesai melaksanakan ibadah solat maghrib, Anggita langsung meraih ponselnya di atas meja.


📱.Anggita "Hai kak, sudah solat belum?."


Satu menit kemudian, Handphone nya bergetar kencang.


Dreeett dreett drreett


📱.Brian "Hai juga Git, baru aja selesai solat, sebaliknya kamu sudah solat belum?."


📱.Anggita "Alhamdulilah, aku juga sudah makanya aku langsung chat kakak."


📱.Brian "Bagaimana pertemuannya menyenangkan atau sebaliknya?."


📱.Anggita "Sangat-sangat menyenangkan sekali, terima kasih ya kak."


📱.Brian "Alhamdulilah kalau begitu, aku sangat senang sekali mendengarnya."


📱.Anggita "Iya kak, ya sudah aku ada kerjaan dikit, kalau tidak di kerjakan nanti malah tambah numpuk."


📱.Brian "Iya Git, selamat beristirahat ya."


📱.Anggita "Iya kak sama-sama."


Kemudian Anggita langsung menutup kembali Handphone nya.


Baru saja Anggita mau membuka laptopnya, dari luar kamar terdengar Suara Sindi memanggil sambil mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


"Git, Gitaa, ayo kita makan malam bareng." Panggil Sindi.


"Iya Buk." Jawab Anggita sambil menutup kembali laptopnya dan berjalan keluar dari kamar langsung menuju ruangan tempat makan.


"Aku nemenin aja deh." Ujar Anggita sembari duduk di kursi.


"Lha kenapa?." Tanya Sindi.


"Aku masih kenyang Buk, tadi abis makan di luar." Jawab Anggita.


Andi yang lagi menyantap nasi, langsung tersedak, mendengar pengakuan Anggita yang gak biasa makan di luar.


Ohook..


"Kamu kenapa Andi?." Tanya Sindi.

__ADS_1


"Aduh keselek Buk." Ujar Andi sambil mendelik pada Anggita.


Anggita tertawa tipis, melihat Andi yang mendadak memerah wajahnya karena ke sedak makanan.


"Hehehe..Rasain lo' makanya kalau makan baca Bismilah." Ejek Anggita.


"Lagian Kakak sih, awas lo' ya." Sahut Andi langsung meneguk air putih.


Sindi hanya menggelengkan kepala, menyaksikan kedua anaknya seperti anak kecil.


"Sudah-sudah, kalau lagi makan itu jangan bercanda, pamali tau." Ujar Sindi.


Akhirnya Anggita terdiam sambil menemani Sindi dan Andi meneruskan makannya hingga selesai.


Selepas itu, Andi langsung menuju ke ruang tengah duduk di sopa sambil menonton acara di Televisi.


Sedangkan Anggita langsung memasuki kamarnya, untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


.......................


Sementara di tempat lain.


Brian yang lagi asik duduk di sopa sambil mendengar lagu-lagu romantis tersontak kaget dengan kemunculannya Bela, tanpak sepengetahuan nya.


"Ciee-cieee, tumben-tumbenan nih abang gue dengerin lagu-lagu romantis." Celetuk Bela.


"Ngagetin aja sih lo'." Tukas Brian.


"Gue tau pasti abang abis ketemuan ya, sama siapa tuh." Ejek Bela.


"Kepo aja sih lo, nanti juga tau." Ujar Brian.


"Masa sama adikmu sendiri pake rahasia-rahasiaan segala." Timpal Bela.


Bela tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.


"Hehee, kadang gue ikut bahagia kalau melihat abang mulai suka sama wanita, ya sudah biarin aja deh." Batin Bela sambil melangkah menuju kamarnya.


Ke esokan harinya.


Bertepatan dengan sudah di mulainya jam kerja, Andi kedatangan teman sekolah waktu duduk di bangku SMP.


"Halo selamat pagi." Sapanya sembari melangkah turun dari motor.


"Selamat pagi kembali." Jawab Andi sambil menatap intens pada lelaki yang baru datang itu.


Lelaki itu pun langsung menghulurkan tangannya pada Andi.


"Andi ya, gimana kabarnya." Ujarnya.


"Iya betul, anda siapa ya." Tukas Andi sambil menyambut huluran tangan lelaki tersebut.


Rupanya Andi tidak mengenali pada lelaki itu, lalu lelaki itu membuka helm penutup kepala dan kaca mata hitamnya


"Masa lupa sama gua." Ujarnya.


Andi langsung membelalakan kedua netranya, serasa mimpi bisa kedatangan teman lamanya.


"Elo' Heru kan." Sapa Andi.


"Iya gua Heru." Jawabnya.

__ADS_1


"Mimpi apa gua semalam bisa kedatangan elo' ayo duduk." Ujar Andi mempersilahkan Heru untuk duduk.


"Lo' mau minum apa?." Tanya Andi.


"Apa aja boleh." Jawab Heru.


Kemudian Andi meraih ponselnya, langsung menghubungi mery pelayan kedai untuk membawakan dua gelas kopi hitam.


"Hebat lo' An, bisnismu tambah maju aja." Ujar Heru.


"Maju bagaimana, dari dulu juga begini-begini aja." Ujar Andi.


"Beda An, sekarang Bengkelmu banyak sekali pengunjung keluar masuk." Ujar Heru.


Setelah itu Mery datang membawakan pesanan Andi.


"Ini kopinya pak Bos." Ujar Mery. Sambil meletakan dua gelas kopi di atas meja.


"Iya Mer terima kasih." Ujar Andi.


"Sama-sama Pak Bos." Jawab Mery sambil melangkah pergi meninggalkan Andi dan Heru.


Kemudian Andi dan Heru langsung menyeripit kopinya.


"Wah mantap sekali nih, kayanya beda banget sama kopi yang biasa gua minum." Cetus Heru.


"Jelas bedalah, kopi yang biasa elo minum cuma kopi olahan pabrik yang sudah banyak campuran dan bahan pengawet, sedangkan kopi gua kopi asli di rebus dan yang di dapat sari patinya, dan hasilnya lo' bisa merasakannya kan." Ujar Andi.


"Iya betul, mantap banget." Tukas Heru.


"Oh iya, btw lo' sengaja pingin ketemu gua atau ada hal lain?." Tanya Andi.


"Dua-duanya." Jawab Heru.


Sebelum Heru berbicara pada pokok intinya, ia mengambil sebatang roko dari dalam bungkusnya, di bakar oleh api dari korek gas.


"Begini An, sebenarnya gua mau ngajak lo' kerjasama, ya bisnis kecil-kecilan sih, kiranya lo' mau gak." Tawar Heru.


"Harus jelas dulu dong, bisnis apa yang elo jalanin, kalau bisnis ilegal ya jelas gua gak mau." Ujar Andi.


"Ya kagak lah, gua kan suka jual beli motor bekas, ya untungnya gak gede sih, ya lumayan aja buat nyukupin kebutuhan hidup." Ujar Heru.


Andi masih belum paham, dengan tujuannya Heru untuk kerjasama dengannya.


"Lantas mau kerjasama sama gua bagaimana maksudnya, gua gak ngerti." Tukas Andi.


"Nah ini yang mau gua bicarakan sama lo', gua beli motor seharga Lima juta kebawah, supaya untungnya lebih gede, gimana kalau motor yang gua beli, di modifikasi lagi sama lo, asal lo' tau harga jualnya bisa melambung, dan kita bisa meraih ke untungan besar." Ujar Heru.


Andi berpikir dan menimbang-nimbang untung ruginya, atas tawarannya Heru.


"Hahaha..Heru-Heru lo' itu bodoh apa gimana sih, memangnya modifikasi tidak perlu biaya besar gitu, apalagi kalau ganti rangka body." Ujar Andi.


"Iya gua juga tau An, kita jual pada para pecinta motor (club), mereka adalah orang-orang berduit, kalau barangnya oke berapapun akan mereka bayar." Desak Heru memaksa.


Andi tersenyum, se olah tidak tergiur dengan ajakannya Heru, karena untuk sa'at ini Andi belum lama habis mengeluarkan banyak biaya pembetulan bengkel dan toko di Jalan Ketupat.


"Sory bro, kali ini gua tidak bisa, soalnya gua habis kena musibah." Tukas Andi.


Heru nampak kecewa atas penolakannya Andi tentang kerjasama yang ia tawarkan.


"Is oke, kalau elo gak bisa ya gak apa-apa." Ujar Heru agak kesal.

__ADS_1


Tak lama kemudian Heru pun pamit, walau nampak sedikit kecewa atas penolakannya Andi.


__ADS_2