
Karena rasa cemburunya Rara yang terpendam pada Andi, tidak bepikir lebih jernih.
Hari itu Rara memutuskan untuk pulang kampung. Gadis desa yang terlalu posesip, karena kurang mengenalnya cara pergaulan orang-orang di kota.
Bagi Rara, yang biasa tinggal di desa dan masih memegang teguh pada adat budaya para leluhur, di mana se orang wanita yang berkunjung ke rumah seorang lelaki, apalagi pernah ada hubungan berpacaran sebelumnya, di tambah menyandang setatus Janda, maka wanita tersebut sudah tidak punya harga dirinya lagi.
Padahal Andi dan keluarganya tidak begitu, dalam silaturahmi mau kaum adam atau kaum hawa, bagi Andi itu hal yang biasa selama masih berprilaku adab sopan santun, demi memper erat tali persaudara'an.
Pukul 05:20 menit.
Ketika ketiga temannya masih tertidur pulas bertepatan dengan hari minggu.
Rara menghampiri Mita yang masih tertidur.
"Kalau ku bangunin kasihan, nampaknya Mita tidurnya pulas banget, tapi kalau gak bilang apa kata Mita, dan Mila nanti, ya sudah ku bangunin aja deh." Batin Rara.
Rara menepuk-nepuk pipi Mita dengan pelan sambil berkata.
"Mit, Mit, Mita bangun." Sapa Rara.
Mita pun nampak menggerakan tubuhnya, sambil membuka kedua netranya.
"Ada apa sih Ra, gue masih ngantuk nih." Jawab Mita.
"Aku Pamit Mit mau pulang dulu." Ujar Rara.
Mita langsung terperanjat, mendengar Rara pamit mau pulang.
"Apa kamu mau pulang ada apa? Ko mendadak sekali." Tukas Mita bernada keras.
Ssstttttt...
"Pealn-pelan tau, nanti yang lainnya pada bangun." Bisik Rara.
"Ma'af, ada apa sih, ko mendadak sekali?." Tanya Mita.
"Aku kangen sama orang tuaku Mit." Ujar Rara.
"Gue ikut deh." Ujar Mita.
"Ih jangan besok kan kamu harus kerja." Timpal Rara.
"Emang kamu mau berapa hari di kampung?." Tanya Mita.
"Aku mau ijin dulu dua hari." Ujar Rara.
"Lalu' apa kamu sudah minta ijin pada pak Kamal." Ujar Mita.
"Ya belum sih, paling nanti aku akan kirim Wa pada pak Kamal." Ujar Rara.
__ADS_1
"Oh ya sudah, kasih aja alasannya yang bisa di mengerti oleh pak Kamal, mungpung masih pagi, hati-hati ya Ra, salam ya buat ortu mu." Ujar Mita.
"Iya makasih Mit, sori ya aku tinggal dulu." Ujar Rara sambil beranjak berdiri.
Rara berjalan pelan-pelan keluar dari mes dengan menggendong sebuah tas, dan menutup kembalinya pintunya sangat pelan.
Setelah itu Rara mempercepat langkah nya menelusuri jalan Gang Si'iran, takut kepulangannya di ketahui oleh Andi.
Tidak lama kemudian Rara sudah sampai di depan pertiga'an jalan Delima Raya.
Rara berdiri sambil menunggu sebuah Bus dalam kota datang.
Lima belas menit Rara berdiri, akhirnya yang di tunggu-tunggu telah muncul sebuah bis tiga perempat melaju mendekati ke arah Rara.
Rara langsung mengacungkan tangannya, untuk memnghentikan mobil bus tiga perempat tersebut.
"Ayo neng, masih ada kursi yang kosong." Sapa sang kondektur sambil turun mempersilahkan pada penumpang untuk segera naik.
Perlahan Rara melangkankan kakinya menaiki bus tersebut, sambil mdmbagikan pandangannya mencari tdmpat duduk yang madih kosong.
Rara menghampiri kursi nomor empat dati depan, lalu duduk sambil melepadkan tasnya dari gendongannya.
Bus pun langsung melaju kembali, dan sang kondektur masih terus berdiri di pintu sambil terus berkata-kata mencari penumpang.
Skip
Sementara di tempat lain.
Andi yang sedang memanaskan motornya, memenuhi janjinya pada Vina untuk berkunjung ke rumahnya Erik.
Andi lalu meraih ponsrlnya yang tergeletak di atas meja.
Andi berniat mau menghubungi Rara untuk di ajak jalan berkunjung ke rumah Erik berzama Vina.
Tapi ponsel Rara tidak bisa di hubungi, di luar jangkauan.
"Lho' ko Handpond nya Rara tidak aktip sih, apa masih tidur kali ya, mungkin kecapean kali, ya sudah gua tidak boleh gangguin Rara kasihan dia butuh istirahat." Gerutu Andi bermonolog.
Lalu Andi langsung mengirim sebuah chat pada Vina.
📱.Andi "Hai Vin, kerumah Eriknya naik mogor gua aja ya."
Dua menit kemudian Ponselnya Andi bergetar.
Dreett dreett drreeett.
📱.Vina "Lha kan elo sama Rara, masa iya di tumpuk tiga."
📱.Andi "Rara gua hubungi malbok, mungkin masih tidur kali."
__ADS_1
Mendengar tawaran Andi, hati Vina seperti kelunturan madu dan kembang kastori, nampak terlihat dari expresi wajahnya yang nampak berseri-seri.
📱.Vina "Is oke."
Dua puluh menit kemudian Vina datang dengan Membawa mobil Honda Btio krpunya'an Ayahnya.
Lalu Andi langsung mendorong roling pintu gerbang, mobil Honda Btio langsung melaju masuk di parkir sebelah nya mobil Pajero new sport.
Vina melangkah keluar dari dalam mobil, dan berjalan menuju pada Andi yang lagi fufuk di bangku besi.
"Siap Otw sekrang." Ujar Rara.
"Oke, mungpung masih pagi." Sahut Andi.
Andi langsung mengenakan jaket levi's warna coklat kopi, dan helmya.
Vina pun langsung memakaikan helm yang di sudah Andi persiapkan sebelumnya untuk Rara, berhubung Raranya tidak bisa di hubungi, jadi helm tersebut sekarang di pakai oleh Vina Artiyana.
Andi langsung melangkah naik pada motornya, sedangkan Rara berjalan ke arah pintu gerbang, Setelah motor yang Andi kemudi keluar dari pintu gerbang, Vina langsung menutupnya dan di gembok.
Kemudian Vina melangkah naik dan duduk di jok belakangnya Andi.
Sa'at ini yang Vina nanti-nantikan, setelah sekian lama dirinya berpisah dengan Andi, kini momen yang dulu pernah ia rasakan kini terulang kembali.
Motorpun melaju di jalan Gang Si'iran, Sebenarnya Vina ingin sekali peluk Andi kaya dulu se pulang dari sekolah bila di antar oleh Andi.
Tapi hati nya belum bisa, takutnya Andi malah tambah membencinya.
Setelah Andi berbelok memasuki jalan Delima, Andi meminta pada Vina untuk berpegangan.
"Vin Pegangan yang erat." Ujar Andi.
Vina sampai terbelalak dengan membuka mulutnya membentuk hurup O.
"OMG, apa gak salah nih yang gue dengar." Batin Vina kepedean.
Padahal Andi suruh Vina pegangan mau melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Mungkin Vina terlalu mencintai Andi, sehingga hal sepele pun dia anggap luar biasa.
Motor Yamaha Rx king melaju dengan kencang di jalan Delima yang membentang lurus.
Andi menyalip ke kiri ke kanan mencari celah jalan yang bisa ia lalui.
Suara knalpot yang nyaring menambah bising suasana jalanan, di tambah asap putih yang terus mengepul mengiringi lajunya sepeda motor.
Vina melingkarkan kedua tangannya di pinggang Andi, sambil tertunduk memejamkan matanya karena tak kuasa mengimbangi kecepatan sepeda motor yang Andi kemudi.
Pelukan Vina semakin erat, apalagi ketika Andi menyalip kendara'an lain Vina sampai tak mampu untuk membuka kedua matanya.
__ADS_1