
Pada pertengahan Bulan Desember, di sebuah tempat wisàta sebelah barat kota itu begitu ramai, pedagang kuliner yang berjejer di atas tepian danau banyak di kunjungi oleh orang-orang yang pada berlibur, apalagi tinggal dua minggu lagi pergantian tahun akan segera tiba.
Sudah barang tentu semua tempat wisata akan selalu di penuhi oleh orang-orang yang datang pada liburan dari berbagai wilayah.
Seperti halnya keluarga pak Dirman, bersama anak cucu, dan para famili Gang Si'iran seperti Hasan, Pandi, Toglo, Jaroni dan Gito bersama anak istrinya, ramai sekali memenuhi sebuah tempat makan yang di boking oleh Astuti dan Nina yunita.
Sementara Andi, Konta dan Kanti pergi ke tempat yang agak jauh dari lesehan tempat mereka makan dan minum.
Di bawah tebing batu, yang banyak di tumbuhi oleh pohon ceri, dan di kipasi oleh udara segar pegunungan, membuat mereka semakin betah berada di situ.
Yang di iringi oleh permainan guitar akustik, dan lantunan tembang-tembang yang enak di dengar dari suara merdunya Andi, Konta dan Kanti.
Tiba-tiba Konta membelalakan kedua bola matanya, ketika ia memandang kesebelah barat, sambil mencolek pinggangnya Andi yang lagi asik dengan permainan guitarnya.
Konsentrasi main guitar Andi menjadi berhenti, lalu berkata sambil menoleh pada Konta.
"Ada apa sih dek?." Tanya Andi.
"Coba abang lihat baik-baik kesebelah barat itu, siapa yang baru turun dari mobil Honda civic warna merah." Tunjuk Konta.
"Emang kenapa gitu." Tukas Andi.
"Ya coba aja abang perhatiin siapa itu." Ujar Konta.
Andi langsung memusatkan pandangannya ke arah yang di tunjuk oleh Konta.
Sontak saja Andi terkejut, begitu melihat dengan jelas siapa yang baru turun dari mobil Honda civic warna merah dengan di gandeng oleh pria tampan berjambang.
Api di dada yang sudah mulai padam, kini serasa di bakar kembali begitu ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Dasar wanita ular, rupanya cinta yang terucap dari bibir manismu itu hanyalah rekayasa." Gejolak Andi dalam hati.
Perlahan Andi bangkit berdiri, lalu ia melangkah menuruni bebatuan yang berundak.
Jantungnya mulai berdenyut kencang memompa darah dan mengalir ke seluruh organ sarapnya.
Melihat dengan jelas begitu, Andi tak kuasa menahan amarah, serasa harga dirinya di injak-injak oleh perlakuan se orang wanita yang ia cintai.
Andi berjalan pelan, tidak memperlihatkan sebuah sikap yang arogan, ia berusaha tetap tenang, mendekati kedua pasangan tersebut.
Setelah Andi sudah berada tepat di belakang kedua sejoli itu.
Hhmmmmm...
Wanita yang lagi di gandeng oleh tangan halus putih dati seorang lelaki tampan, sepontan menoleh ke arah Andi.
__ADS_1
Sontak saja wanita itu kaget, dengan pasang muka pucat pasi.
Dan Andi langsung menyapa duluan, dan berusaha tenang.
"Hai Vin." Sapa Andi.
"H ha hhaai A, aa Andi." Jawab wanita itu yang tak lain adalah Vina Artiyana.
Kemudian lelaki yang berada di samping Vina menoleh dan bertanya?
"Siapa itu sayang?." Tanyanya.
Sebelum Vina menjawab, Andi lebih dulu menjawab pertanyaan lelaki tersebut.
"Gua pacarnya Vina." Jawab Andi tegas.
Lalu lelaki itu, menoleh dan memandang wajah Vina.
"Benar itu pacarmu sayang?." Tanya lelaki itu yang tak lain adalah Rangga.
Vina hanya tertunduk, dengan muka merah, perlahan Vina mengangkat wajahnya dan berkata.
"Iya itu Andi mantan gue." Jawabnya.
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Andi langsung kaget.
Tapi tangan kanan Rangga langsung menahan dada Andi, untuk memberi perlindungan pada Vina.
"Tahan, lo' gak dengar apa kata Vina, atau kah lo' sudah budeg." Bentak Rangga.
Hanya dengan sekelebatan Saja tangan Andi langsung menepis tangannya Rangga.
"Diam lo', gua tau elo' sudah meracuni Vina dengan ramuan manis, tapi gua tau hatimu itu busuk." Tukas Andi.
Rangga langsung naik vitam mendengar ujaran dari Andi.
"Heh jaga cakapmu bangsat." Bentak Rangga.
"Elo' yang bangsat, dasar buaya buntung gua lebih tau Vina dari pada lo'." Gertak Andi.
"Setan lo'." Teriak Rangga sambil mengayunkan Bogem mentahnya.
Dengan mudahnya Andi menangkap pergelangan tangan Rangga dengan cengkramannya yang kuat.
"Lepasin bajingan." Rangga meronta, tapi Andi malah semakin kuat mencengkram.
__ADS_1
"Diam lo' buaya buntung, semakin lo' bergerak maka pergelangan tangan lo' akan remuk." Ujar Andi.
Vina langsung memisahkan mereka, dan meminta pada Andi untuk melepaskan tangan Rangga dari cengkramannya.
"sudah-sudah, kalian kaya anak kecil, An lepasin tangannya Rangga nanti bisa patah tau." Ujar Vina.
"Biar tangan yang begini aku patahin, biar nanti seperti tangan begawan dorna di cerita mahabrata." Ujar Andi malah semakin kuat mencengkram.
Entah apa yang sudah berada dalam hati Vina, sedikitpun Vina seperti tidak mengenal Andi dari hatinya.
"Lepasin gak." Bentak Vina.
"Enggak." Jawab Andi tidak memperdulikan Rangga yang sudah meringis merasakan pergelangan tangannya yang seperti mau remuk sambil di pelintir.
"Lepasin Andi Nayaka." Bentak Vina sambil menggunting tangan kekar Andi.
Andi merasa tidak percaya dengan ucapannya Vina pada dirinya.
"Ke kuatan apa yang sudah merasuk di dalam tubuh Vina, sedikitpun ia seperti tidak perduli sama gua." Batin Andi sambil membelalakan kedua bola matanya.
Hati Andi kini lemas setelah mendengar ucapannya Vina, perlahan cengkramannya mulai mengendor dan akhirnya tangan Rangga sudah terbebas dari cengkraman Andi.
"Auuughhh, gila, kuat amat pemuda ini cengkramannya, bagaiman dengan pukulannya." Gerutu Rangga dalam hati sambil menurunkan bokongnya duduk selonjor sambil memegang tangannya yang terasa sakit sekali.
Vina memandang wajah Andi dengan penuh kebencian.
"Lo' harus bertanggung jawab, kalau nanti Rangga kenapa-napa." Ujar Vina menyeringai penuh benci.
"Sadarlah Vin, lo sudah di pengaruhi oleh kekuatan negatip." Ujar Andi sambil meraih tangan Vina.
"Lepasin, gue muak melihat lo'." Tukas Vina sembari menurunkan tubuhnya mendekat pada Rangga.
"Oke Vin, kali ini gua sadar, kalau emang elo' benci sama gua tidak apa, tapi apakah lo ingat pada kata-kata lo' yang bilang cinta ke gua seutuhnya, dari mulai sekarang gua sadar, dan ma'afin gua kalau gua banyak salah, selamat tinggal Vina Artiyana semoga lo bahagia dengan lelaki pilihan lo' ini." Ujar Andi melepaskan segala unek-unek dan cemburunya di hati.
Tidak lagi menoleh kebelakang Andi beranjak pergi meninggalkan Vina dan Rangga, kembali pada Konta dan Kanti yang lagi memperhatikannya dari jauh.
Setiba di tempat Andi langsung mengajak Konta dan Kanti untuk kembali ke tempat berkumpulnya keluarga besar dan para famili Gang Si'iran.
"Ayo dek kita tinggalkan tempat ini." Ajak Andi sambil meraih guitarnya dari tangan Konta.
Konta dan Kanti hanya bengong melihat sikapnya Andi.
"Abang kenapa sih?." Tanya Kanti.
"Tidak apa-apa, abang cuma gerah aja berada di tempat ini." Jawab Andi sambil melangkahkan tungkai kakinya.
__ADS_1
Konta dan Kantipun tidak berkomentar lagi, mereka mengikutinya di belakang Andi.