
Pukul 12:00
Andi dan Konta melaju dengan kecepatan rata-rata di jalan raya kabupaten.
Lalu lalang kendara'an nampak terlihat tersusun rapi di jalan dua jalur saling melaju dan mendahului.
Seperti halnya Andi dan Konta salip menyalip melaju dengan kencang membelah jalan yang terbentang dari pusat kota propinsi menuju wilayah kabupaten di sebelah barat kota Bandung.
Ketika Andi memasuki tugu perbatasan antara dua kabupaten Bandung barat dan Ci Anjur Andi memberi aba-aba pada Konta untuk berhenti sambil meminggirkan sepeda motornya.
Lalu Konta bertanya pada Andi.
"Kenapa berhenti Bang?." Tanya Konta.
"Sebentar dek." Jawab Andi sambil melangkah turun dari motornya, sambil celingukan membagikan netranya pada dua arah.
Kemudian Andi berjalan menyebrangi jalan, Konta sedikit bengong tidak mengerti apa yang akan di lakukan oleh Andi.
Ketika Andi sampai di pinggir jalan jalur kanan, Konta baru mengerti.
"Oh itu toh yang abang Andi mau lakukan." Ujar Konta.
Sementara Andi yang hatinya selalu iba pada setiap insan yang sekiranya ia patut untuk di tolong pasti Andi akan turun memberikan pertolongan.
Andi mendekati pada se orang bocah lelaki berusia tujuh tahunan yang sedang terisak-isak menangis.
"Dek kamu kenapa?." Tanya Andi sembari menurunkan tubuhnya posisi jongkok.
"Hik hik hik..Tolongin aku om, aku ingin pulang." Ujar bocah itu sambil terus terisak-isak.
"Iya Om akan anterin, rumah mu di mana dek?." Tanya Andi.
"Disitu Om." Ujar anak tersebut sambil menunjukan telunjuknya ke arah selatan.
"Maksud Om nama kampung tempat tinggalmu kampung apa, supaya om bisa dengan mudah mengantarkanmu ke orang tuamu." Ujar Andi bernada lemah lembut.
"Aku lupa nama kampungnya Om." Jawabnya.
"Lho ko bisa, sebelumnya adek berada disini sama siapa?." Tanya Andi.
"Aku di ajak main sama teman-temanku om, dan temanku pada ninggalin aku, ketika aku lagi melihat permainan Topeng monyet." Jelas anak tersebut.
"Ya sudah kamu hapal jalan menuju rumahmu?." Tanya Andi.
Anak itu cuma menganggukan kepalanya.
Kemudian Andi menggendong anak itu menyebrangi jalan menuju pada motornya yang di parkir di sebarang jalan.
__ADS_1
Konta yang sedari tadi memperhatikan Andi, dengan rasa penasarannya lalu berkata.
"Kenapa anak itu Bang?." Tanya Konta.
"Tersesat, tadinya main sama temannya, lalu di tinggalin sendiri ketika anak ini lagi asik melihat pertunjukan topeng monyet katanya begitu." Jelas Andi.
"Lalu sekarang gimana?." Tanya Konta.
"Kita anterin kerumahnya, tapi gua juga bingung kemana nganterinnya." Ujar Andi.
"lha ko bisa."
"Gak tau, gua tanya nama kampung tempat tinggalnya anak ini bilang lupa namanya." Sahut Andi.
"Hahaha, terus mau nganterin nya kemana Bang." Timpal Konta tetawa merasa lucu.
"Katanya anak ini hapal jalan menuju rumahnya." Ujar Andi.
"Is oke, ayo kita cabut." Ucap Konta memberi semangat.
Kemudian Andi menyalakan motornya dan anak itu duduk di depan Andi.
Motorpun terus melaju dengan pelan, konta mengikutinya di belakang Andi.
Ketika Andi dan Konta sudah melaju kurang lebih dari lima ratus meteran, anak itu berkata.
"Iya dek." Jawab Andi.
Andi sempat berpikir dalam hatinya. Apa mungkin anak ini belum masuk bangku sekolah sampai dia tidak tau nama empat arah mata Angin.
Andi terus mengikuti arah yang di tunjukan oleh anak itu.
"Bingung gua sama anak ini, dia tau arah jalan pulang tapi kenapa dia tidak tau kiri kanan, Barat, Timur, Utara dan Selatan, oh berarti anak ini menangis karena takut untuk menyebarang tadi, karena banyak nya kendara'an." Gumam Andi dalam hati.
Perjalanannya lumayan sangat jauh, Andi sempat berpikir yang tidak-tidak sama anak yang ia bawanya.
"Buset jauh amat, bener gak nih anak." Batin Andi.
Lalu Andi mencoba bertanya.
"Dek masih jauh tempat tinggal adek?." Tanya Andi.
"Sebentar lagi Om." Jawab anak itu.
Andi dan Konta terus memasuki sebuah perkampungan yang penduduknya belum padat, nampak terlihat dari rumah-rumah penduduk yang masih jarang-jarang.
Setelah itu Anak tersebut meminta pada Andi untuk berhenti di depan rumah panggung berdinding bilik bambu yang di depannya ada pohon jambu air yang sangan rindang.
__ADS_1
"Sudah sampai Om." Ujar anak itu.
"Wah sangat jauh juga kamu mainnya dek, lho ko sepi? Lalu orang tuamu pada kemana?." Tanya Andi.
"Aku di sini tinggal sendiri Om." Sahut anak itu.
Lalu Andi menurunkan anak itu dari atas motornya.
"Ayo Om mampir dulu ke rumah aku." Tawar anak itu.
"Iya dek terima kasih." Ujar Andi.
Kemudian Andi dan Konta saling pandang, seperti ada yang aneh pada diri anak itu.
Ketika Andi dan Konta mau menautkan pandangannya pada anak tersebut, hanya dalam sekejap mata anak itu tidak ada di tempat dan yang lebih mengagetkan lagi rumah panggung yang sebelumnya jelas terlihat ada di depan netra Andi dan Konta kini telah lenyap, yang ada sebuah batu hitam besar dengan pohon beringin yang sangat rindang.
Andi dan Konta terkesima melihat pemandangan tersebut.
"Astagpirullah hal adzim dek, ternyata anak itu...." Ujar Anfi tidak di teruskan
"Waaww Bang, jadi merinding nih gua." Tukas Konta.
Kemudian Andi dan Konta menyalakan motornya, ketika mau menariknya gasnya, angin mendadak kencang tapi yang lebih anehnya lagi anhin yang bertiup cuma di lingkungan sekitar situ saja.
Setelah angin mereda, terdengar jelas oleh Andi dan Konta suara yang menggema yang membuat bulu kuduk merinding, tapi Andi mencoba untuk tetap tenang.
"Terima kasih anak muda sudah mengantarkan cucuku, kalian memang pemuda yang baik, dan sebagai imbalannya saya akan masuk dan menjelama sebagai satu kekuatan di tubuh kalian berdua, karena saya melihat perjalanan hidup kalian akan di hadapkan pada kehidupan yang penuh kekerasan, angkara murka, iri dan dengki." Begitu ucap suara tanpak wujud.
Setelah itu sebuah energi kekuatan berbentuk cahaya putih melesat masuk melalui ubun-ubun kepalanya Andi dan Konta.
Tubuh Andi dan Konta nampak bergetar hebat, karena kuatnya energi yang masuk pada tubuh Andi dan Konta, sampai membuat mereka jatuh pinsan hingga beberapa menit.
Tiga puluh menit sudah Andi dan Konta tergeletak di atas tanah di bawah motornya yang sebelumnya sempat di setandarin.
Nampak terlihat Andi dan Konta sudah menggerakan anggota tubuhnya, matanya mulai terbuka perlahan membagi pandangannya ke atas kiri kanan.
"Astagpirullah hal adzim, apa yang telah terjadi dengan diriku." Batin Andi sambil perlahan bangkit lalu menoleh pada Konta yang sedang berusaha bangkit juga.
Andi dan Konta saling pandang.
"Apa yang telah terjadi pada diri kita Bang?." Tanya Konta.
"Entahlah, gua juga bingung." Jawab Andi sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
"Gua merasakan badan kita seperti lebih enteng Bang." Cetus Konta.
"Iya benar dek, yang gua ingat ada sebuah cahaya seperti halilintar menghantam kepala gua." Ujar Andi.
__ADS_1