Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 92 Hukum Karma 2


__ADS_3

Setelah Rangga jatuh dengan berlumuran darah, salah satu dari ketiga bayangan sempat-sempatnya mengambil gambar Rangga dan kentari yang masih tanpak busana.


Ketika Kentari menjerit dengan meminta tolong, tiga bayangan hitam itu langsung berkelebat pergi dan telah lenyap dalam sekejap mata di telan gelapnya malam di suasana fila.


Sementara kentari dengan sangat panik ia langsung mengenakan Bra nya dan pakainnya yang sudah terlepas semua, lalu ia langsung memakaikan celananya Rangga.


Setelah itu satu persatu orang-orang pada berdatangan menuju kamarnya Rangga dan Kentari.


Dengan sigap orang-orang langsung membawa Rangga kedalam mobil untuk di bawa ke Rumah sakit terdekat.


Di situ kentari bingung harus berbuat apa, sedangkan ia hanya sebagai wanita simpanannya Rangga.


"Apa aku tinggalkan aja gtu, Pak Rangga." Niat Kentari dalam hati.


Setibanya di Rumah Sakit, kentari dan orang-orang yang membantunya langsung membawa Rangga ke Unit Gawat Darurat.


Rangga pun langsung di tangani oleh pihak Rumah sakit, dan di bawa ke ruangan pengobatan.


Rangga berbaring membisu di atas branker dengan luka tembak di bagian perut dan pangkal lengannya.


Sembari mendorong Branker kentari semakin bingung harus berbuat apa kalau nanti ditanya oleh Dokter.


Setiba di depan pintu ruangan oprasi, Suster berhenti dan bertanya pada Kentari.


"Ibuk istrinya?." Tanya Suster.


"I ii iya Sus." Jawab Kentari gugup.


"Ibuk tidak usah gugup begitu, pihak rumah sakit akan segera menangani suami ibuk dengan sebaik-baiknya." Ujar Suster.


Lalu Dokter yang akan menangani Rangga datang.


"Sebaiknya ibuk tunggu dulu di luar, biar Dokter yang akan menangani suami Ibuk." Ucap Suster.


"Baik Sus." Tukas Kentari sembari melangkah menuju tempat duduk yang telah di sediakan.


Kabar mengenai penembakan terhadap Rangga oleh orang tidak di kenal, telah mengembang jauh, yang di dapat oleh seorang jurnalis waktu berkerumun orang-orang waktu menggotong tubuh Rangga kedalam mobil.


Sehingga telah di muat di media Televisi, dalam kabar terkini seputar kriminal.


Sementara di tempat lain.


Pajar, Rosa dan Vina yang lagi duduk setelah melakukan makan malam.


"Suamimu mau meetingnya dimana Vin?." Tanya Rosa.


"Katanya di luar kota mah." Jawab Vina sambil meraih remote Televisi.


Lalu Vina memijit tombol untuk menyalakan Tekevisi.


Berita Televisi

__ADS_1


Selamat malam.


Jumpa lagi lagi dalam acara kabar terkini seputar kriminal.


Telah terjadi penembakan terhadap pasangan suami istri, di sebuah fila.


Korban penembakan bernama Adi Rangga salah seorang pengusaha muda di kota Bandung, yang lagi melakukan liburannya bersama istrinya.


Menurut kabar yang kami dapat, korban lagi istirahat dengan sang istri tercinta, tiba-tiba korban bangun dari tempat tidurnya karena mendengar suara yang mencurigakan, baru saja korban mau melangkah, tiba-tiba tiga peluru telah bersarang di tubuh korban.


Dan pihak kepolisian sa'at ini lagi memburu pelaku penembakan tersebut.


Sekian dan terima kasih.


...............................


Vina dan kedua orang tuanya langsung tersontak kaget begitu mendengar berita di Televisi tersebut.


"Hah.... Adi Rangga..." Sontak Vina serasa di sambar petir.


"Mamah dengar kan berita barusan." Lanjut Vina berkata pada Rosa.


"Iya mmah dengar, kamu jangan panik dulu, bisa saja Adi Rangga yang lain, nama bisa saja ada yang sama." Tukas Rosa.


"Kamu tenang dulu nak, coba hubungi dulu nomor suamimu." Timpal Pajar berusaha menenangkan suasana.


Kemudian Vina langsung meraih ponselnya, untuk menghubungi Rangga.


"Nomor yang anda tuju berada di luar service area."


"Tidak aktip mah, pah, dari tadi hatiku merasa tidak enak terus, andaikan berita itu benar Rangga suamiku, hatiku hancur, ternyata mantu yang mmah banggakan tak lebih dari seorang lelaki bejad tukang selingkuh." Isak Vina sambil beranjak dari tempat duduknya lalu berlari menuju kamarnya, dan langsung menguncinya dari dalam.


Vina langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.


"Hik hik hik,, ma'afkan aku Aa Andi, mungkin ini balasan atas apa yang telah aku lakukan terhadapmu, ini semua gara-gara mamah, hik hik hik." Isak Vina dengan sedu sedan.


Vina terus terisak dalam tangisan dan kesedihan, ternyata suami yang menjadi pilihan mamanya itu, lelaki tukang selingkuh.


Di sa'at itupula Rosa langsung pergi hendak menemui Vina.


Tok


Tok


Tok


"Vin, Vina buka pintunya nak." Sapa Rosa sambil mengetuk pintu.


"Biarkan aku sendiri mah, plis jangan ganggu dulu aku." Teriak Vina sambil berderai air mata.


Rosa pun langsung kembali ke ruangan dimana Pajar(suaminya) lagi duduk santai.

__ADS_1


"Andaikan benar itu Rangga mantu kita, Papah tidak mau lagi melihat anak kita bersedih." Ujar Pajar.


"Iya kan itu belum tentu pajar mantu kita pah." Timpal Rosa.


"Ya sudah, sekarang papah mau tidur." Ujar Pajar kesal sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Ko papah begitu sih bukannya nemenin mamah." lirih Rosa nampak cemberut.


"Aku capek mah, nanti ujung-ujungnya berdebat, karena mamah keras kepala." Hardik Pajar.


Rosa tertunduk, seperti merasa di kucilkan oleh suami dan anaknya.


"Suami dan anak sama saja, sebel deh." Gerutu Rosa bermonolog.


Kemudian Rosa meraih handpond nya yang tergeletak di meja, merasa penasaran mencoba menghubungi Rangga.


Tapi tetap saja nomor Rangga lagi dalam keada'an tidak aktip.


"Kamu itu kemana sih Rangga, kenapa kamu membuat cemas istrimu, kalau benar berita itu kamu, kenapa tega sekali mengkhianati kepercaya'anku padamu, mau ditaro dimana muka mamaah di depan suami dan anakku." Kesalnya Rosa


Sedangkan Vina yang masih terus larut dalam kesedihannya, tidak henti-hrntinya menangis.


Bulir-bulir air bening terus berjatuhan membasahi tempat tidurnya.


Bayangan-bayangan indah tercipta ketika Vina lagi bersama Andi, rasa sesal yang kini semakin kuat menyelimuti hati dan pikiran Vina.


"Ingin rasanya ku menjerit, ya Allah, mungkin ini hukum karma buatku, aku sadar ya Allah, tapi aku mohon bebaskanlah rasa sakit yang kini lagi aku rasakan." Keluh kesah Vina.


Malam pun terus berlalu menemani Vina yang lagi di landa sedih.


Kedua kelopak mata Vina nampak sudah membengkak.


Lama kelama'an, akhirnya Vina terlelap dalam tidurnya, isak tangispun kini tidak lagi terdengar.


Sementara suasana di luar rumah nampak sepi, hanya petugas perumahan yang terlihat keliling komplek, sambil memukul tiang listrik yang terbuat dari Fipa besi dengan pentungan sebanyak dua kali, seiring waktu yang telah menunjukan pukul 02:00.


.................


Sementara di lain tempat.


Jalanan yang sudah nampak sepi, hanya satu dua saja kendara'an yang lewat.


Ada tida pengendara sepeda motor melaju dengan kencang di jalan Angkasa raya.


Ngoong ngooooonggg...


Suara yang keluar dari selongsong kenalpot terasa begitu nyaring terdengar.


Ketiga pengendara sepeda motor itu langsung berbelok memasuki kawasan Gang tempat bermarkasnya para preman.


Setiba di depan bangunan tua berlantai empat, ke tiganya langsung melaju dengan standing memasuki bangunan tua itu.

__ADS_1


__ADS_2