
Setelah belasan orang kawanan Geng Victor pergi meninggalkan Jalan impala, dan uang hasil jarahannya pun sudah kembali Andi rampas dari Victor.
Andi, Abeng dan Erik memberitahukan pada semua pemilik Toko yang terkena jarahan oleh berandal Victor agar datang menemuinya di sebuah Cafe yang tidak terlalu jauh dari tempat kejadian.
Ketika suasana sudah kembali tenang, orang-orang yang sebelumnya berhamburan meninggalkan tempat tersebut untuk mencari tempat yang aman, guna menghindari aksi brutal dari para berandal Victor, kini sudah mulai keluar dan mendatangi tempat dimana mereka memarkirkan kendara'annya.
Tiga orang pemilik toko yang terkena jarahan oleh para berandal Victor yang mendapat kabar dari orang-orang.
Kini lagi berjalan menuju sebuah Cafe permata, hendak menemui Andi dan kedua sahabatnya.
Setiba di dalam ruangan Cafe, tiga orang pemilik Toko itu celingukan ke kiri dan ke kanan, mencari Andi, Abeng dan Erik.
Malam itu suasana Cafe nampak sepi, karena para pengunjung Cafe itu pada bubar ke tika waktu ada keributan.
Andi yang lagi duduk bersama Abeng dan Erik langsung sepontan ke tika melihat tiga orang yang memasuki ruangan, sudah pasti bahwa itu para pemilik Toko.
"Pak Pak, cari siapa?." Tanya Andi.
"Anu Mas, kami tadi mendapat kabar suruh menemui orang di sini, tapi di mana ya." Jawabnya.
"Oh Bapak-Bapak ini pemilik toko yang di serang oleh para berandal?." Tanya Andi.
"Iya Mas."
"Oh gitu, sini pak duduk dulu." Ujar Andi.
Ketiga orang itu langsung menghampiri tempat duduk yang sudah Andi sediakan sebelumnya.
"Iya pak saya yang meminta orang di luar sana, untuk menyampaikan pada kalian untuk menemui kami, lain kali kalau ada para berandal bikin onar kalian langsung telpon polisi aja. Dan Alhamdulilah sebagian harta kalian masih bisa terselamatkan, dan ini yang saya dapatkan dari para berandal itu." Ujar Andi sambil mengeluarkan tiga ikat uang dari dalam saku jaketnya.
"Alhamdulilah ya Allah, terima kasih mas, kalian sudah menolong kami, kalau tidak ada kalian entah apa jadinya toko kami, mungkin semua akan ludes di gondol para berandal itu." Ujar salah seorang pemilik toko tersebut.
"Sama-sama, itu sudah kewajiban kami selaku umat manusia harus saling tolong menolong." Tukas Andi.
"Oh iya pak, di antara kalian bertiga, berapa uang kalian sebelum di ambil para berandal itu." Pungkas Erik ikut bicara.
"Kami sudah mempunyai catatannya mas, dan kami pun sudah sepakat, ini buat kalian sebagai ucapan rasa terima kasih kami pada kalian." Ujar pemilik toko sambil memberikan lima lembar uang berwarna merah.
"Tidak usah pak, kami menolong iklas ko, terima kasih sebelumnya atas pengertian Bapak-Bapak, simpanlah uang itu untuk modal kalian, ma'af bukannya kami menolak rijki, tapi masih ada yang lebih berhak lagi menerima uang tersebut." Tukas Andi.
__ADS_1
"Terus gimana kami membalas budi baik kalian." Ujarnya.
"Hehee, kami melakukan ini semua tidak minta untuk di balas, kami menolong orang yang lagi membutuhkan pertolongan dan itu adalah kewajiban kami Pak." Timpal Andi.
"Kalau begitu terima kasih banyak ya mas, di jaman sekarang ini sangat sulit menemukan orang seperti kalian, yang peduli pada sesama." Ungkap Sang pemilik toko.
"Iya pak Sama-sama, sekarang kembalilah ke toko masing-masing, insa Allah semuanya akan baik-baik aja." Tukas Andi.
Dengan rasa hati yang penuh ceria, karena sebelumnya mereka telah putus asa, uang yang di hasilkan dari penjualannya hilang di gondol para berandal, kini telah kembali dengan utuh.
Setelah para pemilik toko keluar dari ruangan tersebut. Andi pun mengajak Abeng dan Erik untuk pulang kembali ke rumah.
Preng peng peng
Tiga motor Yamaha Rx king telah di nyalakannya, melaju beriringan di Jalan Impala.
Ke tiga petarung itu kini telah di sanjung oleh orang-orang yang lagi berdiri di pinggir jalan.
"Hidup Bang Jago...Hidup." Sorak sorai meriah dari orang-orang.
Andi, Abeng dan Erik hanya menundukan kepalanya, menghargai atas sikap rasa senangnya mereka.
Setelah itu tiga motor Yamaha Rx king melaju dengan kecepatan delapan puluh kilo meter menyusuri panjangnya Jalan Impala.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di Gang Si'iran hanya tinggal beberapa meter lagi mereka akan segera sampai ke tempat yang di tuju yaitu Kediamannya Andi Nayaka.
Setibanya di depan gerbang, Andi membunyikan klaksonnya.
Jaroni yang lagi bertugas langsung bergegas memburu pintu gerbang untuk membuka kunci.
Kepulangan Andi dan kedua sahabatnya, telah di sambut pula dengan gonggongan si Gery yang begitu keras dan nyaring, sampai terdengar ke tempatnya Kamal dan Astuti.
Malam itu Konta dan Kanti yang belum tertidur, langsung bergegas keluar rumah, karena mendengan gonggongan si Gery yang sangat keras.
Konta dan Kanti berlari menuju rumahnya Sindi, melewati halaman belakang.
Setibanya di depan halaman rumah, konta dan Kanti kaget.
"Sial di kira gua ada maling, rupanya Abang, baru pulang apa?." Tanya Konta.
__ADS_1
"Hehee, pasti mendengar suara si Gery ya?." Tanya Andi.
"Iya Gua sama Kanti kebetulan belum tidur, ketika mendengar suara si Gery gua sama Kanti langsung berlari kesini." Ujar Konta.
"Masa tidak bisa membedakan suara Si Gery, kalau ada bahaya gonggongannya lebih cepat dan tidak akan berhenti." Jelas Andi.
"Oh begitu, ya mana gua tau." Tukas Konta.
"Bro kenalin nih, ini adik kembar gua." Lirik Andi memperkenalkan Konta dan Kanti pada Abeng dan Erik.
Abeng dan Erik pun lansung melangkah mendekat sambil menghulurkan tangannya.
"Abeng, Erik." Ujarnya.
"Konta, Kanti." Jawab Konta dan Kanti sambil menyambut huluran tangannya Abeng dan Erik.
"Ya sudah, tunggu dulu sebenrar ya gua mau bikinin dulu kopi, kita begadang sampai pagi oke." Cetus Andi.
"Oke siip." Jawab Abeng dan Erik serempak.
Andi langsung melangkah memasuki kedalam rumah.
Sedangkan Abeng, Erik, konta, Kanti dan Jaroni langsung memburu pada tempat duduk di samping taman sambil menunggu secangkir kopi datang.
Tifak lama kemudian Andi muncul di balik pintu rumah, sambil membawa poci yang berisikan kopi dan enam buah gelas kaca.
"Nah ini kopinya, oh iya, dek Kanti tolong ambilin maknan di meja dapur, ada singkong gorengnya juga bawa kesini ya." Pinta Andi.
"Baik Bang." Jawab Kanti sambil melangkah memasuki kedalam rumah.
Malam itu seperti biasa pada umumnya, udara terasa dingin se akan membungkus wilayah Gang Si'iran dengan kabut tebal.
Secangkir kopi panas ini telah menghangatkan tubuh mereka dan sebatang roko telah melengkapi arti dari sebuah kenikmatan cita rasa.
Kepulan asap putih yang berhembus keluar dari mulut mereka hasil dari isapan sebatang roko, menjadikan suasana malam semakin asik.
Abeng yang hidup dan di besarkan di lingkungan yang penuh dengan kekerasan, kini serasa telah menemukan saudara dan berkumpul penuh suka cita, dari situ Abeng banyak mengambil sebuah hikmah dan telah menemukan arti sahabat yang sesungguhnya.
Andi dan Erik serta Konta Kanti sosok keluarga yang begitu rukun penuh kedamaian, yang sebelumnya Abeng tidak merasakan sebahagia malam itu.
__ADS_1
Gelak tawa serta bersenda gurau menjadikan Abeng lebih dewasa dan bijaksana dalam menyikapi sebuah perjalanan hidup.