Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 30 Ikuti


__ADS_3

Dua hari dua malam Andi tidak pulang ke rumah, karena tekadnya yang membaja ingin pulang dengan membawa ibuknya ke rumah.


Rumah Jupri untuk sementara di jadikan tempat tinggal Andi, siapa tau dia dapat impormasi tentang ibuknya, yang kebetulan pemuda yang bernama Jupri banyak tau selak beluk kota sampai ke Gang-Gang kecil sekalipun.


Jupri pun sangat senang dengan kehadirannya Andi dan si Gery di rumahnya karena merasa ada teman ngobrol.


Untuk bekal kesehari-hariannya Andi bekerja di sebuah bengkel motor yang sudah terkenal, karena Andi sudah sangat paham akan mesin dari sejak ia sekolah menengah pertama yang di ajarkan oleh Toglo, jadi tak heran bila kinerjanya dalam masalah mesin Andi mendapat acungan jempol dari Bos pemilik Bengkel tersebut, Jupri pun merasa senang ternyata Andi lebih lihai dalam masalah mesin dibanding dirinya, jadi Jupri bisa mengambil ilmunya Andi secara perlahan


.....................


Satu bulan kemudian, Andi telah menerima gaji yang lumayan cukup besar, dan bisa membeli handpond baru untuk melakukan hubungan dengan keluarganya di Gang Si'iran, karena handpondnya ketinggalan di rumah.


"Widiih dapat handpond baru nih, selamat ya An ternyata duga'an gue benar, lo' jago masalah perbengkelan, dan pak Bos sangat suka dengan kinerja lo'." Ujar Jupri memuji.


"Ah akang Jupri ini terlalu berlebihan, bagi gua biasa aja, apalagi gua belum punya pengalaman kerja." Tukas Andi.


"Ini yang gue demen dari sipat lo' yang suka merendah." Timpal Jupri.


"Bentar ya kang gua mau registrasi Sim Card dulu." Ujar Andi.


"Oke lanjut." Jawab Jupri.


Setelah Registrasi selesai Andi lalu memasukan nomor yang ia tau, yaitu nomor kakanya Anggita, dan Bibinya Astuti serta nomor teman sekolahnya Vina Artiyana dan Erik.


Setelah ke empat nomor itu berhasil di simpan, Andi mencoba menghubungi Anggita kakanya, melalui Aplikasi whatssap.


Panggilan pun nampak berdering, tapi tidak di angkat juga hingga beberapa kali Andi menghubunginya.


"Kenapa kakak Anggita tidak mengangkat telpon dariku, apa mungkin karena nomornya belum dikenal." Gerutu Andi.


Lalu Andi mengisim pesan suara pada Anggita.


Andi. "Halo kaka kenapa tidak mengangkat telpon dariku, ini aku Andi."


Andi menunggu balasan dari Anggita, selang beberapa menit terdengar nada notifikasi.


Anggita. "Ini benar kamu Andi?."


Andi. "Iya ini aku Andi, ma'ap aku baru ngabari kaka, karena handpond ku ketinggalan di rumah, bagaimana kakak, Bibi, paman, dek Konta Kanti dan kakek Nenek sehat?."


Selepas itu, Anggita langsung menghubungi balik pada Andi


📞Anggita. "Alhamdulilah semua sehat, tapi semua sangat mengkahwatirkan kamu, kenapa kamu baru menghubungi kakak?."


📞Andi. "Ma'ap kakak, aku baru punya handpond."


📞Anggita. "Kamu bisa beli Handpond dari mana, emang kamu punya duit?."


📞Andi. "Aku kerja kak."

__ADS_1


📞Anggita. "Kerja apa?."


📞Andi. "Di bengkel kak."


📞Anggita. "Ya Allah Andi-Andi di sini pun kerja'an tinggal nerusin, ngapain pula kamu pake kerja di bengkel segala sih."


📞Andi. "Tenang saja kak, ku sambil mencari pengalaman, dan aku akan pulang bila sudah menemukan Ibuk."


📞Anggita. "Kamu jangan gegabah Andi, di kota banyak kejahatan yang selalu mengancam keselamatan kita."


📞Andi. "Iya kak aku tahu, kakak doa'in aja agar aku bisa dengan mudah menemukan Ibuk."


📞Anggita. "Ya sudah kamu jaga diri dan keselamatan, nanti Share lock lokasi tempat kamu tinggal."


📞Andi. "Iya kak, nanti ku share lock."


Setelah itu telpon pun di mati'in, Andi bersandar di sandaran sopa, sambil melihat keluar lewat kaca jendela, nampak si Gery lagi mundar mandir seperti ingin masuk menemui majikannya, andi tersontak kaget.


"Ya ampun, gua sampai lupa belum kasih makan si Gery." Gerutu Andi sambil beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah keluar rumah.


"Aduk ma'ap Gery gua sampai lupa kasih makan kamu." Ujar Andi, sambil membuka bungkusan di atas lemari.


Beberapa potong kaki ayam Broiler yang Andi beli setiap hari.


"Nih sekarang kamu makan yang kenyang oke." Ujar Andi sambil memberikan potongan kaki ayam yang jumlahnya lumayan banyak yang memungkinkan bisa mengenyangkan isi perutnya si Gery.


Si Gery pun langsung memburu makanannya, satu persatu potongan kaki ayam tersebut di santapnya sampai habis.


Andi pamit pada Jupri untuk keluar sebentar, Jupri pun mengijinkan dengan sarat jangan terlalu lama.


Andi kini telah melaju keluar dari area pekarangan rumahnya Jupri, dan tidak ketinggalan si Gery mengikutinya di belakang.


Setiba di pusat kota, malam itu masih nampak terlihat ramai orang yang lalu lalang di trotoar jalan dan mol mol, untuk mencari keberada'an ibuknya memang tidak mudah, karena Sindi di tawan oleh seorang gembong mavia yang sudah lama tenggelam, kini telah muncul kembali dalam kepemimpinan yang berbeda.


Andi lalu melaju ke arah tempat hiburan malam, karena Andi sangat yakin para mavia dan Geng biasanya banyak meluangkan waktunya di tempat hiburan malam.


Sekitar jarak seratus meteran ke tempat hiburan malam, Andi berhenti di depan warung kopi lalu Andi turun dari motor menghampiri pada warung kopi tersebut.


"Pak kopi satu ya." Pesan Andi.


"Oke Bos." Jawabnya


Hanya dalam hitungan detik pemilik warung keluar dengan mendaratkan segelas kopi di meja.


"Ini kopinya Bos." Ujarnya.


"Iya pak terima kasih." Jawab Andi


Seruupuuuuutttt.

__ADS_1


Andi perlahan menyeripit kopi yang terasa masih panas.


Lalu Andi mengeluarkan sebungkus roko, dan di ambil satu batang.


Ceklek


Sebuah korek gas di nyalakannya, lalu di bakar ujung roko tersebut.


Seeppuuuuhhh...


Satu hembusan asap putih keluar dari mulutnya Andi, sambil netranya yang tak lepas terus memandang ke depan pintu masuk dan keluar tempat hiburan malam tersebut.


Kemudian si pemilik warung yang sedari tadi memperhatikan Andi keluar dan berkata.


"Ma'af Bos, dari tadi ku perhati'in Bos memandang ke arah tempat diskotik terus, memang lagi ada yang di cari ya?." Tanya si pemilik warung dengan kepo.


"Enggak juga sih pak, cuma ku perhati'in tempat hiburan itu ramai sekali ya." Jawab Andi.


"Iya Bos tempat itu memang ramai sekali, tapi yang datang kesitu rata-rata bukan orang baik-baik." Jawabnya.


"Iya pak, delapan puluh persen yang datang ke tempat hiburan malam pasti orang tidak baik." Tukas Andi.


"Betul sekali Bos, para Geng dan mavia sering berdatangan, malahan juga sering kali berselisih yang akhirnya terjadi pertempuran." Ujarnya.


Tiga puluh menit sudah berlalu Andi menunggu di warung kopi, tiba-tiba muncul sebuah kendara'an mobil Honda Brio warna merah meluncur memasuki area parkiran.


Andi langsung terperanjat, dengan intens nya netra Andi memandang ke arah orang-orang yang keluar dari dalam mobil tersebut.


"Orang itu, bentuk tubuhnya, sama persis yang gua lihat waktu itu." Batin Andi bermonolog.


Lalu Andi bertanya pada pemilik warung itu.


"Pak, biasanya bubarnya jam berapa itu pak?." Tanya Andi.


"Kadang sampai pagi Bos, gak tentu' tergantung banyaknya pengunjung."


Malam pun terus berlalu.


Pukul 01:10 menit. Andi masih duduk di warung kopi, tiba-tiba Andi membelakan kedua bola matanya, karena Mobil Honda Brio warna merah, telah melaju kembali keluar dari area parkiran.


Setelah Andi membayar segelas kopi, ia pun langsung menyalakan motornya.


Dan mengikuti mobil Honda Brio tersebut


Dari jarak yang tidak terlalu meped Andi terus mengikuti mobil tersebut, sedamgkan si Gery kali ini duduk di jok belakangnya Andi dengan di kasih batasan selembar plastik viber ukuran 40×50 supaya tidak ada sentuhan pisik sama Andi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung.

__ADS_1


Ikuti kisah lanjutannya di episode selanjutnya, terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.


__ADS_2