
Andi tersenyum tipis, ketika mendapat dorongan dari kepala preman, yang memegang wilayah jalan ketupat.
"Tenang Bang, santai saja, gua cuma mau ngingetin abang, cari duit itu susah, sedangkan abang dengan mudahnya meminta uang yang tidak sedikit." Ujar Andi.
"Apa perdulimu ikut campur masalah gue, asal lo' tau, gue yang pegang wilayah di sini." Hardiknya.
"Owhh... Keren, gua jadi takut nih pada abang-abang ini, mukanya saja sangar-sangar begitu." Tukas Andi sambil tertawa tipis.
"Bangsat lo' malah ngeledek, rupanya lo bener-bener pingin mampus ya." Bentaknya.
Andi mundur satu langkah sambil pasang mata pasang telinga dan kuda-kuda, ketika ke enam lelaki itu mengurung Andi.
Sebruuuuutt..
Ke enam lelaki itu menyerang Andi secara bersama'an.
Andi berkelit dengan merunduk, lalu kedua tangan Andi mengunting kaki dari kedua lelaki itu.
Kedua lelaki itu langsung meringis merasakan sakit di tulang keringnya sambil mundur dengan berjingkrak-jingkrak.
Lalu Andi melompat mundur sambil mengatur strategi.
Hiuuukk...
Ke empat lelaki menyerang Andi, dengan pukulan dan sapuan tendangan.
Andi melesit ke atas, sambil berputar, dengan tendangan berputar cepat membabat ke empat lelaki tersebut.
Buk
Buk
Buk
Buk...
Tendangan Andi langsung membobol pertahanan lawan.
Jeregjeg.
Keseimbangan mereka mulai goyah, kemudian Andi melompat sambil meluncurkan pukulannya pada salah satu dari mereka.
Wheessss..
Deeaasssss....
Bogem mentah Andi dengan cepat menggedor wajahnya.
Blaakkk.
Lelaki itu terjatuh menimpa tanah yang telah di cor.
Meringis kesakitan nampak terlihat dari lelaki itu, ketika pantatnya terjatuh menimpa coran.
Melihat kawanannya telah terjatuh, dengan ganasnya ke tiga lelaki itu melompat sambil melepaskan tendangannya pada Andi.
Andi terbelalak kaget, entah dari mana datangnya, ketiga lelaki itu tiba-tiba terjatuh bersama'an, padahal Andi belum melakukan serangan balik.
Lalu siapa orangnya yang telah memberi bantuan pada Andi.
Andi membalikan wajahnya kesamping kanan nampak seorang wanita yang berumur tiga puluh lima tahun, dengan gayanya yang ketomboyan berdiri dengan gagahnya.
"Haaah...Bibi." Celetuk Andi.
"IYa ini aku." Ujarnya.
"Kenapa Bibi bisa tau aku berada di sini?." Tanya Andi.
__ADS_1
"Bibi tadi kebetulan lewat sini, habis meeting sama klien, dan bibi penasaran pingin lihat keributan ini, eeh pas bibi lihat ternyata kamu, ya bibi langsung saja melompat menyerang mereka." Ujar wanita tomboy itu, yang tak lain adalah Astuti Dwi Jayanti.
Andi mungkin baru kali ini menyaksikan Bibinya bertarung.
"Wah ternyata Bibi Astuti benar-benar hebat, pantesan di juluki srigala betina." Batin Andi bermonolog.
Sementara ke enam lelaki itu, telah bangkit lagi, dengan wajah geram menatap keji pada Astuti dan Andi.
"Kurang ajar, siapa lagi yang ikut campur masalah gue." Gerutu kepala preman.
"Heh para tikus-tikus got, yang sukanya mengerogoti, ayo bangkit, kalian lawannya sama gue." Tantang Astuti.
"Kurang ajar, kamu seorang wanita, sangat tidak pantas bertarung sama kita, mendingan kamu temenin kami tidur, Hahaha." Ejek dari salah satu mereka yang begitu menjijikan.
"Cuuiih, sungguh menjijikan sekali mulutmu itu, akan gue robek camkan itu." Cibir Astiti.
"Bangsat, ku bunuh kau." Bentaknya sembari melompat menerjang Astuti.
Astuti berlari memburu tembok dan melompat, lalu kaki kirinya di tolakan ke tembok, kemudian Astuti berbalik arah sambil melepaskan tendangannya.
Hiuuukk
Deeasss...
Lelaki yang merupakan kepala preman itu, tidak lagi bisa mengelak, ketika kaki kanan Astuti yang memakai sepatu menghantam pelipisannya.
Bruuukk.
Lelaki itu terjungkal, kemudian ia bangun lagi dengan salto.
Kemudian kedua kawanannya, secara bersama'an melompat sambil melancarkan pukulannya mengincar kepala Astuti.
Astuti yang sudah berpengalaman dalam menghadapi preman atu mapia kelas kakap sekalipun, hanya menarik kaki kirinya kesamping satu langkah, lalu tangan kanan, melesat menggunting kaki lawan
Duk
Duk
Pukulan guntingan dari Astuti, membuat kedua lawannya sempoyongan mau jatuh.
Dari situ Astuti langsung memburu dngan lompatan salto.
Tubuh Astuti melesat berputar, lalu kedua tangan meluncur memberikan pukulan tambahan pada lawannya yang lagi sempoyongan.
Deaasss...Deaasssss..
Blak.
Kedua lawan Astuti jatuh terkapar, dengan kepalanya membentur coran.
Auuuggghhh..
Teriak kesakitan terdengar dari kedua mulutnya lelaki itu, lalu jatuh terkulai dan tidak berdaya lagi.
Sedangkan yang satunya, yang tadi sempat terjatuh telah bangkit lagi.
Dengan gerakan cepat, lelaki itu langsug menyerang lagi Astuti.
Kali ini ia mengeluarkan sebuah senjata, sebuah golok berukuran pendek, nampak berkilau ketika terpanyul sinar matahari.
Andi yang lagi bertarung melawan tiga orang berandal, mendadak kaget, ketika melihat cahaya kemilau dari sebuab golok melesat mau menusuk Perut Astuti.
"Awaass Bibiiii.." Teriak Andi sambil melompat menendang tangan lelaki yang lagi menggenggam sebuah golok, yang akan mengancam keselamatan Astuti.
Kelempreang..
Golok itu langsung lepas dari genggamannya dan terpental menimpa tembok.
__ADS_1
Lelaki itu meringis kesakitan, merasakan sapuan dari tendangan Andi, yang begitu keras seakan telah mematahkan tulang belulangnya.
Astuti langsung menggidir, seketika itu Astuti melesat mengirimkan bogem mentahnya dalam jurus Hujan deras.
Buk
Buk
Buk
Buk
Tinju Astuti bertubi-tubi menghujani muka, dada dan perut lelaki tersebut.
Dengan matanya yang mendelik ke atas, bersama'an dengan melayangnya tubuh jatuh terkapar tidak sadarkan diri.
Sementara Andi, setelah memberikan bantuan pada Bibinya.
Ia pun langsung merubah gerakannya, mengkolaborasikan tiga jenis ilmu
bela diri dalam satu gerakan yang begitu cepat dan mematikan.
Gerakan Andi yang begitu cepat dan agresip, membuat ke tiga lawannya terdesak.
Andi terus menekannya tidak memberikan ruang pada lawannya untuk bergerak.
Sehingga dalam jarak sepuluh menit saja ke tiga lawannya harus merasakan pukulan tinju bumi Andi.
Ke tiga lelaki itu langsung terpental beberapa meter menimpa tembok sebuah toko.
Darah segar mulai keluar dari sudut bibirnya, mata terpejam mengantakan mereka ke alam kegelapan.
Ke enam tubuh telah terkapar tidak berdaya, wajah-wajah sangar kini nampak lesu dengan netranya tertutup rapat.
Pemilik Toko langsung memburu pada Andi dan Astuti.
"Terima kasih, kalian sudah menolong saya." Ujarnya dengan rona wajah yang berseri-seri.
"Iya sama-sama pak, lain kali bila ada pungutan liar, Bapak laporkan saja pada pihak berwajib, biar polisi yang menangani mereka." Cetus Andi.
"Saya bukannya tidak mau, tapi takut sama mereka yang nekad dan selalu mengancam akan bunuh siapa saja yang melaporkan pada polisi." Ujarnya.
"Kenapa harus takut, Bapak harus berani karena benar." Pungkas Astuti.
"Oh iya, bukankah non ini pemilik Distributor di KM 74." Sapanya.
"Iya pak, saya tadi pas lewat sini, dan penasaran ada apa kok banyak orang, lalu saya lihat, ternyata ada yang berantem, dan ini ponakan saya pak." Ujar Astuti sambil memegang bahu kanannya Andi.
"Ooh jadi kalian ini bersaudara." Timpalnya.
"Iya pak." Tukas Andi.
"Ya sudah, sekarang bawa ke enam orang ini ke kantor polisi, biar nanti di adaili atas tindakannya yang telah memeras orang." Ujar Astuti.
Kemudian Andi dan Astuti beranjak pergi dari tempat itu.
..........
Sepuluh menit kemudian Andi dan Astuti telah tiba di kantor Distributor cabang jalan ketupat.
"Kalau kamu mau makan, nanti bibi suruh beli'in pak Rojak." Ujar Astuti.
"Iya bi, aku lapar, aku mau menemui dulu Om gito ya." Ujar Andi.
"Ya sudah Bibi mau masuk ke kantor dulu, dan sekalian suruh pak Rojak beli nasi buat kamu." Tukas Astuti.
Setelah itu Andi berjalan menuju bengkel, untuk menemui Gito santoso salah seorang sahabat baik dari mendiang ayahnya.
__ADS_1