
Andi melajukan motornya dengan kecepatan maximal, yang kebetulan hari itu bertepatan dengan tanggal merah pada sebuah almanak.
Tidak lama kemudian Andi telah sampai di rumah Erik.
Lalu Andi merogoh ponselnya di saku celana bagian depan, kemudian mengirimkan sebuah chat di aplikasi whatssap pada Erik.
📱.Andi "Bro gua sudah di depan."
Andi menatap layar ponselnya, nampak sebuah chat yang ia kirim sudah centang dua berwarna biru.
Selang beberapa menit Erik muncul dari balik pintu.
Lalu melangkah keluar menuju pada Andi yang berdiri di luar pagar.
"Sudah lama An?." Tanya Erik.
"Baru aja sampai." Jawab Andi.
"Oh ya sudah, ayo masuk kita ngobrol di teras aja." Tukas Erik.
Andi berjalan mengikuti Erik menuju tempat duduk yang ada di teras depan rumahnya.
"Lo mau minum kopi gak." Tawar Erik.
"Boleh tuh, kebetulan gua belum sempat ngopi nih." Ujar Andi sambil menurunkan bokongnya duduk di kursi.
Erik lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Selang beberapa menit Erik keluar dengan membawa dua gelas kopi hitam yang nampak masih mengepul.
"Diminum kopinya An, biar agak serem dikit." Tawar Erik sambil menurunkan dua gelas kopi ke meja.
"Serem, emangnya gua hantu." Tukas Andi.
"Ya hampir mirip deh." Timpal Erik.
"Ah sue lo'."
"Hehee, Btw, gimana lanjutan masalah lo' sama Rangga?." Tanya Erik.
"Justru gua kesini, mau minta tolong sama lo', untuk mengusut tuntas masalah ini." Tukas Andi.
"Maksud lo' mau lanjut ke hukum gitu?." Tanya Erik.
"Tidak juga sih, kalau masih bisa pakai jalan damai, tapi kalau jalan damai sudah tidak bisa lagi , terpaksa gua akan lanjut ke hukum dengan tuntutan anacaman pembunuhan." Ujar Andi.
"Lalu langkah kita sekarang gimana." Ujar Erik.
"Sekarang kita datangi, markas Jorda, kita mintai kejelasan darinya, nah di situ lo' simpan datanya, nanti kita tunjukan pada Rangga." Ujar Andi.
"Oke gua setuju." Tukas Erik.
__ADS_1
"Sori ya Rik, kalau gua jadi ngerepotin elo." Ujar Andi.
"Ya elah An, kaya sama siapa aja, elo' dan gua berteman dari semenjak kita sekolah, dan elo sudah seperti saudara gua An." Tukas Erik.
"Tanks ya bro." Ujar Andi.
"Oke bro, sama-sama, sekarang kita santai dulu sambil minum kopi biar otak kita lebih pres." Tukas Erik.
"Ayo kita bersulam, kopi adalah moto semangat hidup kita, dan sebatang roko adalah bara api kekuatan kita." Ujar Andi.
Trek
Kedua gelas di adukan perlahan, lalu di minum secara bersama'an.
Kemudian di sambung dengan isapan dari sebatang roko.
Nampak terlihat hembusan asap putih keluar dari mulutnya Andi dan Erik.
Persahabatan mereka begitu kuat, saling suport dan peduli pada sesama.
Andi dan Erik kini bagaikan dua kekuatan yang saling melengkapi.
Selepas itu keduanya pun langsung pergi menuju pada maskasnya Jorda.
Kedua sepeda motor kini telah melaju di jalan raya, seperti sepasang burung merpati yang saling berkejaran di angkasa.
Dua puluh menit kemudian Andi dan Erik telah sampai di kawasan markasnya Jorda.
Andi dan Erik melangkah turun dari motornya, lalu berjalan menuju sebuah bangunan tua berlantai empat.
Kedatangan Andi dan Erik telah di sambut oleh beberapa orang yang merupakan baladnya Jorda.
"Berhenti,, anda siapa, sudah berani mendatangi markas kami." Ujarnya.
"Ma'ap Bang, kami adalah temanya Bang Jorda." Tukas Andi.
Beberapa lelaki berwajah kombinasi itu saling pandang dengan sesama rekannya.
"Ma'ap apa sebelumnya, kalian ada janji sama Bang Jorda?." Bertanya.
Sebelum Andi menjawab pertanya'an dari para preman itu, terdengar suara agak parau di belakangnya.
"Birkan kedua orang itu menemui saya." Tutur kata suara yang datang dari belakang para preman itu.
Para preman itu langsung berpencar memberi jalan pada Andi dan Erik untuk masuk ke ruangan tempat, Jorda dan ke empat rekannya.
Andi dan Erik lalu berjalan memasuki ruangan yang sangat luas.
Nampak Jorda lagi berdiri, dengan sebuah tongkat menyangga tubuhnya yang di sangkutkan pada ketiaknya, dengan bagian kepala di lilit oleh kain ferbal.
"Selamat siang Bang Jorda, ma'af sebelumnya kalau kedatangan kami berdua telah membuat Bang Jorda jadi terganggu."
__ADS_1
"Ada apa kalian mencari saya, apa mau mencari keributan di markas saya?." Tanya Jorda.
"Kami kesini membawa bendera perdamaian, dan ada sesuatu yang akan kami pertanyakan." Ujar Andi.
"Apa yang kalian mau pertanyakan, apa masih menyangkut masalah sama Rangga?." Tanya Jorda.
"Iya benar Bang."
"Oke,, kalau begitu kita ngobrolnya di sebelah sana aja." Ajak Jorda sambil berjalan yang di bantu oleh sebuah tongkat.
Setiba di sebuah ruangan yang banyak berjejer kursi, Jorda mempersilahkan pada Andi dan0
Erik untuk duduk.
"Ayo silahkan duduk, apa lagi yang kalian inginkan dari gua." Ujar Jorda.
Sedangkan Erik dari mulai pertama jalan bersama Jorda ia sudah on untuk menyimpan data-data untuk memperkuat sebuah perencana'an.
"Begini Bang, gua sudah mendatangi Rangga, untuk mempertanggung jawabkan atas tindakannya yang mengancam keselamtan gua, Rangga berkelit dari masalah ini." Ungkap Andi.
Jorda tertawa tipis, mendengar perkata'an dari Andi.
"Kenapa abang cuma tersenyum saja?." Tanya Andi.
"Sori, gue tertawa bukan berarti menganggap sepele dengan perkata'an elo', tapi gue tertawa dengan tingkahnya Rangga yang sebentar lagi akan mengalami ajalnya." Jelas Jorda.
"Mkasud abang ini gimana, gua tidak paham." Pungkas Erik ikut bicara.
"Gue akan ceritain ringkasannya,, setelah gue gagal menjalankan misi untuk membunuh elo', gue memberi laporan pada Rangga.
Dan gue cuma ingin meminta dua persen lagi dari janji yang tercatat, untuk mengobati Murdok dan Rasman yang mengalami luka di bagian dalam pendengarannya, Rangga hanya mengece dan menghina kami." Jelas Jorda terputus.
"Lalu yang di maksud abang tadi gimana?." Tanya Andi.
"Sebelumnya gue minta ma'af, jujur aja, tadinya kami akan membalaskan dendam pada elo berdua atas luka yang kami derita, tapi setelah Rangga bersikap begitu seakan menghina dunia premanisme, akhirnya dendam gue malah berbalik pada di Rangga itu, intinya hidup Rangga sekarang tidak akan tenang." Ungkap Jorda.
Andi dan Erik manggut-manghut sambil tersenyum tipis, karena yang sebelumnya masalah ini akan terasa rumit akhirnya menemui titik terang untuk menjebloskan Rangga ke jeruji besi.
"Oh begitu, sori nih Bang, kalau boleh apakah ada bukti dari perjanjian Rangga sama Abang, dan gua akan menjebloskan dia ke sel penjara." Tukas Andi
"Hahaha, di dunia kami tidak cukup puas bila se orang Rangga hanya mendekam di penjara, Rangga menjadi target kami untuk di lenyapkan, gue harap kalian jangan lanjut ini ke hukum, nantinya akan merembet pada kami." Timpal Jorda.
"Tapi kalau elo menginginkan bukti itu untuk membuktikan pada Rangga, ikut gue." LanjutJorda mengajak sembari bangkit dari tempat duduknya mengajak Andi dan Erik pergi pada sebuah ruangan tertutup.
Setibanya di sebuah ruangan, Jorda membuka cctv untuk memperlihatkan pada Andi, waktu pertama kali Rangga datang ke markasnya Jorda, dan membuat sebuah perjanjian untuk melenyapkan nyawa seseorang.
Setelah Andi mendapatkan semua data-data untuk memperkuat atas kebejatan Rangga, yang selalu di puja dan di sanjung oleh mamanya Vina.
Kemudian Andi dan Erik undur diri dari hadapan Jorda, setelah semua urusannya selesai, dan masalah biaya pengobatan Murdok dan Rasman Andi tanggung.
Kini Jorda, telah menganggap Andi dan Erik sebagi sahabatnya.
__ADS_1
Ternyata di dunia premanisme yang di kenal kejam oleh sebagian orang yang berpikiran hanya sepintas, nyatanya tidak seburuk itu, seperti yang Andi dan Erik alami, setelah masuk kedalamnya, preman juga tau arti balas budi.