Andi Nayaka Titisan Si kidal

Andi Nayaka Titisan Si kidal
Eps 88 Bikin perhitungan


__ADS_3

Jorda terkapar di pinggiran trotoar, merasakan sakitnya dari pukulan Andi Nayaka yang sangat berbobot dan mematikan.


Sementara Erik yang berduel melawan Tenggo nampak sudah mulai mendesak, Tenggo merasa ke teter dengan gerakan jurus-jurus Erik, di tambah tubuh Erik yang lentur dan banyaknya pukulan dan tendangan Erik yang menyentuh tubuhnya, membuat tenggo hilang akal dan tenaganya yang terkuras dengan gaya jurus Erik yang terasa sulit untuk di imbangi.


Sehingga akhirnya luncuran bogem mentah dan sapuan tendangan Erik telah menjelajah anggota tubuh Tenggo.


Pergerakan Tenggo semakin melemah, peredaran darah pun sudah tidak berjalan normal karena banyaknya luka membengkak di sekujur tubuh Tenggo.


Dengan sendirinya tubuh Tenggo melemah dan jatuh terkulai kehabisan energi.


Banyak energi yang terkuras, Erik lalu berjalan mendekati Andi, agak sedikit lesu langkahnya.


"Lo' tidak apa-apa Rik?." Tanya Andi.


"Gua tidak apa-apa, cuma gua kehabisan energi." Jawab Erik.


"Ya sudah sekarang kita tinggalkan tempat ini." Ajak Andi.


"Kemana?." Tanya Erik.


"Ke rumah gua, sambil mengumpulkan energi, kita tenangkan dulu detak jantung kita." Jawab Andi.


"Oke."


Selepas itu Andi dan Erik bergegas pergi meninggalkan Jorda dan ke empat rekannya yang masih dalam keada'an tidak berdaya.


Sementara Jorda dan ke empat rekannya, perlahan mencoba untuk bangkit dan berdiri, meski lututnya agak gemetaran mengangkat beban tubuhnya.


"Gila kedua pemuda itu begitu sangat hebat tingkat kepandaian bela dirinya." Ujar Tenggo.


"Hari ini mungkin kita tidak bisa untuk melenyapkan pemuda itu, tapi di lain kesempatan kita harus membalasnya, dan ini sudah menjadi urusan kita." Tukas Jorda.


Kemudian Babon, Murdok dan Rasman pun berjalan terhuyung mendekat pada Jorda dan Tenggo.


Rasman dan Murdok yang mengalami luka parah pada kedua indra pendengarannya, tidak lagi bisa menangkap pembicara'an dari rekannya, yang mereka rasakan hanyalan suara bergemuruh dan rasa sakit di bagian dalam telinganya.


"Kali ini kita harus bawa dulu Murdok dan Rasman ke klinik." Timpal Babon.


"Wah luka Murdok dan Rasman cukup parah juga, kalau begitu, Tenggo dan lo' Babon bawa Murdok dan Rasman, kita ke klinik sekarang." Ajak Jorda.


Setelah itu mereka langsung melaju dengan sepeda motornya menuju klinik terdekat.


...........


Sementara Andi dan Erik, lagi duduk melepaskan lelah setelah melakukan pertarungan di simpang tiga yang banyak menguras tenaga dan pikiran.


Secangkir kopi masih terus menemani mereka dengan setia.


"Gua punya piling, sepertinya masalah ini akan melebar An." Ujar Erik.


"Iya gua rasa juga begitu." Timpal Andi.


"Lalu bagaimana kelanjutannya?." Tanya Erik.

__ADS_1


"Pokoknya gua harus menemui Rangga, gua mesti masti'in, apa alasan dia sampai bayar orang untuk membunuh gua." Jawab Andi.


"Siapa tuh Rangga?." Tanya Erik.


"Lelaki itu yang merebut Vina dari gua." Timpal Andi.


"Sebentar gua masih belum paham, Jadi maksud lo', hubungan lo' sama Vina sudah berakhir?." Tanya Erik.


"Vina yang mengakhiri hubungan, gua juga gak habis pikir, semudah itu Vina bisa berpaling dari gua, lo juga kan tau sendiri bagaimana Vina kegua waktu masih SMA." Tukas Andi.


"Iya gua tau semuanya tentang Vina, yang simpati padamu, kok bisa ya, padahal Vina cinta berat sama lo'." Ujar Erik.


"Entahlah Bro, gua juga heran." Jawab Andi singkat.


"Apa mungkin ada pengaruh lain, yang membuat Vina lupa segalanya sama lo'?." Tanya Erik.


"Besar kemungkinan begitu, awalnya karena mamanya Vina tidak mau kalau anaknya berhubungan dengan mantan seorang navi seperti gua." Jawab Andi.


"Oh jadi begitu ringkasan kisah cnta lo', sabar bro mungkin tuhan tidak menghendaki lo' sama Vina, mungkin pula itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup lo' An." Ujar Erik.


"Iya sih, gua juga sadar, gak mungkin ku memaksakan sebuah hubungan yang tanpak restu dari kedua orang tuanya, dan gua gak bisa bila harus hidup berdampingan sama orang-orang munapik." Timpal Andi.


"Tapi kalau gua perhati'in, gadis yang bernama Rara itu, seperti menyimpan rasa yang dalam padamu, dan orangnya baik, pengertian lagi, apa jangan-jangan lo' juga naksir ya." Ujar Erik.


"Apa'an si lo', udah gak usah bahas itu dulu." Ujar Andi.


"Oke sori bro."


..........................


Sebelum pajar memancarkan cahayanya ke bumi.


Andi sudah mengeluarkan sepeda motornya dari dalam pekarangan rumahnya, dan melangkah menaiki motornya.


Lalu Andi menyalakan sepeda motornya.


Motorpun melaju menyusuri sepanjang jalan Gang Si'iran.


"Gua mesti ketemu sama Rangga sekarang, dan hari ini pula gua mesti kelarin masalah ini." Gerutu Andi bermonolog.


Dua puluh menit kemudian.


Andi telah tiba di depan sebuah gerbang gapura perumahan Grand city.


Kemudian Andi meraih sebuah ponsel dari balik saku jaket levisnya bagian dalam.


"Waduh, gua tidak punya nomor ponselnya Rangga lagi." Batin Andi.


Lalu setelah itu, Andi memasukan kembali ponselnya ke saku jaket bagian dalam, dan duduk di atas jok menunggu munculnya orang yang bernama Rangga.


Tiga puluh menit Andi menunggu, sampai membuat dirinya kesal.


Ketika Andi mau menyalakan motornya, munculah mobil Honda civic warna merah dengan plat nomor yang sama sewaktu ia melihatnya di danau tempo lalu.

__ADS_1


Andi menatap mobil itu dengan teliti takutnya ia salah sasaran.


"Kayanya ini mobilnya Rangga, kalau mobil Vina merahnya menyala banget." Batin Andi sambil menyalakan motornya, lalu mengikuti mobil tersebut.


Andi melajukan sepeda motornya dengan kencang.


Setelah motor Andi sejajar dengan mobil tersebut, yang kebetulan kaca depannya terbuka separo.


"Ia betul ini Rangga, meski gua baru sekali melihatnya waktu itu, tidak salah lagi." Batin Andi.


Kemudian Andi menyalip mobil itu, ketika melewati jalan yang sepi, dan memberi tanda kode pada pengemudi mobil tersebut untuk berhenti.


Si pengemudi mobil itupun berhenti, lalu membuka pintu mobil bagian depan dan melangkah keluar sambil berkata dengan nada keras.


"Wooi apa-apa'an si lo'." Bentaknya.


Andi melangkah turun dari motornya, lalu di buka dulu helm penutup kepalanya.


Begitu Andi membuka helmnya, Rangga terbelalak kaget.


"Andi.... Kenapa ia masih segar bugar." Batin Rangga.


Andi berjalan mendekati pada Rangga.


"Kenapa lo' kaget." Ujar Andi.


"Mau apa lo' hah." Tukas Rangga pura-pura tidak mengerti.


"Mau apa? dasar lelaki berjiwa kerdil, asal lo' tau gua mau bikin perhitungan sama lo', atas apa yang telah kau lakukan sama gua." Bentak Andi.


"Apa maksudmu, datang langsung marah-marah." Tukas Rangga.


"Dasar bajingan, setelah kau rebut Vina dari gua, oke gua bisa ngalah, tapi setelah lo' membayar preman untuk mencelakakan hidup gua, ini tidak bisa gua biarkan begitu saja." Bentak Andi.


"Heh, kalau ngomong itu di pikir dulu, apa buktinya kalau gue bayar preman." Elak Rangga.


"Masih berani mengelak juga lo' hah, gua tau lo' bayar preman, karena atas pengakuan Jorda sendiri." Kata Andi penuh emosi.


"Siapa tuh Jorda, gue kagak kenal." Sahut Rangga.


"Bangsat, dasar manusia kerdil berjiwa iblis." Bentak Andi tak kuasa menahan emosi, sehingga tanpak ia sadari bogem mentahnya dengan cepat menhantam wajah Rangga.


Buuukkk.


Rangga langsung tersungkur, Andi menjambah kerah baju nya Rangga.


"Ayo ngaku bangsat." Bentak Andi.


Rangga nampak tenang se olah ia tidak punya masalah.


Andi yang sudah di liputi oleh amarah dan dendam, membuat dirinya terlalu ceroboh.


Ketika itu pula Terngiang suara yang bergeming di telinga Andi.

__ADS_1


"Jangan kau umbar amarahmu nak, itu akan membuat dirimu semakin terpuruk, sekarang pergilah, ajak sahabatmu itu, dan temuilah orang yang bernama jorda, nanti gunakanlah akal sehatmu, untuk membawa Rangga masuk jeruji besi." Untaian pesan yang berbisik di teinga Andi.


Sontak saja Andi pun langsung menyadari akan dirinya yang terlalu terbawa oleh rasa amarah, tidak banyak berpikir lagi Andi langsung memburu pada motornya, dan melaju dengan kencang untuk menemui Erik.


__ADS_2