
Setelah terasa letih dan keringatpun telah membasahi pakain Andi, Konta dan Kanti, akhirnya mereka pun berjalan beriringan menuju ke rumahnya masing-masing.
"Eeh kalian mau mampir dulu gak?." Tanya Andi pada Konta dan Kanti.
"Tidak Bang soalnya aku dan Kanti langsung berangkat sekolah." Jawab Konta.
"Oh ya sudah, kalian hati-hati dan jangan nakal, belajarlah yang rajin.
"Oke siap Bang." Ujar Konta sembari melangkah pergi menuju rumahnya.
Lemudian Andi mendorong pintu gerbang, nampak Anggita lagi nyapu di halaman depan rumah.
"Eh kak, tumben jam segini sudah nyapu?." Tanya Andi.
"Ya iya dong emangnya kamu, daun mangga kering berserakan juga tidak mau bersihin, tuh kopi keburu dingin sudah ibuk siapin." Ujar Anggita.
"Iih ngapain ibuk pakai bikinin kopi segala, biar aku aja yang bikin." Sahut Andi.
"Emang kamu habis dari mana dek?." Tanya Anggita.
"Habis olah raga sama Konta dan Kanti." Jawab Andi.
"Kok tidak pakai costum olah raga." Ujar Anggita.
"Emang gak boleh kalau olah raga pakai pakaian biasa?." Tanya Andi.
"Ya bukannya gak boleh, tapi kurang pas aja gitu." Sahut Anggita.
"Ya di pasin aja sih kak, hehee." Ujar Andi cengengesan.
"Iih dasar ngeyel." Ucap Anggita sembari melangsungkan membersihkan sampah daun mangga kering yang banyak berserakan di terpa angin.
Andi lalu masuk kedalam rumah, nampak terlihat ibuknya lagi sibuk memasak di dapur.
"Lagi masak apa nih Buk?." Tanya Andi.
"Biasa kalau seorang ibuk, masak ke suka'an anak-anaknya, oh iya itu kopinya keburu dingin lho." Ujar Sindi.
"Iih ibuk, ngapain repot-repit bikinin kopi buat ku." Ujar Andi.
"Iya tidak apa sih, taxi kan ibuk sekalian masak air buat nyeduh teh, ya sekalian aja bikinin kopi buatmu, emang kamu habis dari mana?." Tanya Sindi.
"Habis berolah raga sama dek Konta dan dek Kanti." Jawab Andi.
"Pantesan aja, ibuk lihat di kamarmu tidak ada, cepet mandi sana, iih bau asem tau." Ujar Sindi.
"Iya Buk."
Andi pun langsung beranjak menuju kamar mandi, untuk membersihkan badan dari keringat yang terasa lengket.
Setelah selesai mandi dan ganti salin pakaian seragam, kemudian meraih kopi yang hampir dingin di bawa keluar rumah.
Duduk santai di bangku besi, sambil melihat ke lantai yang di Vaving blok sudqh nampak bersih.
"Wah kalau bersih begini terasa nyaman dan indah di pandang, hehe." Ujar Andi sambil menoleh pada Anggita.
"Iya lah, enak kan kalau bersih." Ujar Anggita.
"Kak, Gimana sekarang perkembangan perusaha'an ada peningkatan gak?." Tanya Andi.
"Alhamdulilah, dikit demi sedikit banyak peningkatan, malahan pemasokan barang keluar semakin melebar, banyak klien baru yang meminta kiriman barang dari sini."
"Alhamdulilah kalau begitu, pasti ayah senang di sana, melihat kemajuan anaknya dalam mengembangkan usaha." Ujar Andi.
"Iya, dan kita selaku anaknya, harus bersyukur karena almarhum Ayah sudah memberikan kita perusaha'an yang mesti kita jaga dan kelola dengan sebaik-baiknya." Timpal Anggita.
"Iya kak."
Pukul 07:45 menit.
Andi bergegas pergi menuju bengkel, yang nampak sudah buka, karena Toglo selalu gesit datang lebih awal.
Maka tak heran bila Toglo sangat di percaya oleh almarhum Nandi.
"Assalam mu'alaikum Paman." Sapa Andi.
__ADS_1
"Wa alaikum salam." Jawab Toglo.
"Kok, Asep, Gio dan Peri belum datang Paman?." Tanya Andi.
"Sudah kok, mereka masih pada ngopi di kedai, paling bentar lagi datang." Ujar Toglo.
Baru saja Toglo berkata, Asep, Gio dan Peri sudah datang.
"Assalam mu'alaiku, selamat pagi pak Bos." Sapa mereka serempak
"Wa alaikum salam, pagi juga, panjang umur abang-abang ini, baru saja aku membicarakannya sama Paman, kalian sudah nongol." Ujar Andi.
Selang beberapa menit, para pengunjung sudah pada berdatangan dengan berbagai macam keluhan.
Toglo dan ke tiga anak buahnya pun langsung di sibukan, begitu pula Andi ikut berkecimpung membantu, biar para castamer merasa puas, dengan hasilnya.
Skip
..................
Sementara di tempat lain.
Di dalam sebuah gudang kosong, enam orang lagi duduk di bangku, dengan Banyak botol berjejer di atas meja.
Rupanya mereka lagi menghangatkan tubuhnya dengan minuman yang mengandung alkohol, matanya yang nampk sudah memerah, sambil berbincang seperti lagi merencanakan sesuatu.
"Sekarang bagaimana langkah selanjutnya." Ujar salah satu dari mereka.
"Pokoknya kita harus balas kekalahan kita tempo itu, kita pancing Andi masuk ke sarang kita." Jawabnya yang merupakan orang terkuat dari mereka.
"Bagaimana caranya?." Bertanya.
"Kita tawan orang yang paling Andi sayangi." Ujar sang ketuanya yang tak lain Dude dan kelima kawanannya.
"Vina maksud Bos."
"Ya iya, siapa lagi kalau bukan Vina." Sahut Dude.
"Kapan kita mulai beraksi, tapi kita harus hati-hati Vina jago bela diri juga." ujarnya.
Setelah itu mereka langsung keluar dengan mengendarai kendara'annya masing-masing, dan dua di antaranya berboncengan mereka melaju ke selatan, melalui Jalan Memgkudu raya.
Lalu mereka berhenti, ketika jarak lima puluh meteran lagi dari sebuah gerbang gapura yang bertuliskan Grand City.
"Disini kita bisa memantau target sa'at leluar dari dalam komplek." Ujarnya.
Lalu mereka berpencar, tidak berkumpul dalam satu kelompok, mungkin buat menghilangkan kecuriga'an orang-orang atau para petugas yang selalu berpatroli.
Mereka rupanya tidak tau bahwa target yang mereka incar itu, lagi mendapat hukuman dari ibuknya, tidak boleh keluar rumah tanpak se ijin orang tuanya.
Terkecuali keluar untuk membeli keperluan sehari-hari, itu pun cuma masih dalam wilayah komplek, yang kebetulan ada sebuah mini market yang letak nya tidak begitu jauh dari rumah.
Begitu lama mereka menunggu, hingga akhirnya waktupun semakin berlalu.
Tidak terasa hari sudah menunjukan pukul 12:00, bertepatan dengan matahari tepat berada di atas ubun-ubun kepala.
Rasa panas yang terasa menyengat, sehingga membuat mereka hilang kesabarannya, Dude pun langsung memberi kode pada mereka yang berdiri berjauhan, untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Ke empat kendara'an roda dua dengan pareasi yang berbeda-beda kini telah melaju dengan beriringan di jalan ketupat.
Ketika mereka sudah sampai di Jalan Delima raya, Tiga puluh meteran sebelum pasar, Dude mengacungkan tangannya ke atas memberi tanda pada kawananya untuk berhenti.
"Ada apa? Kok malah berhenti di sini?." Tanya dari salah satu mereka.
"Coba kalian perhatikan kedua anak sekolah itu, Wajahnya hampir mirip dengan Andi, apa mungkin itu saudaranya." Ujar Dude sambil mengarahkan telunjuknya pada kedua anak sekolah yang berjalan kaki.
"Iya sih, tapi kita jangan sampai salah sasaran, nanti malah memperkeruh pada rencana kita. Ujar Murdi.
"Ya pakai otak goblok." Cetus Dude bernada kasar.
Kemudian Dude melangkah turun begitu kedua anak sekolah itu sudah mendekatinya.
"Wah baru pulang sekolah ya dek?." Tanya Dude.
"Iya Bang." Jawabnya.
__ADS_1
"Adek ini pulangnya ke mana?." Pungkas Murdi bertanya.
"Ke Gang Si'iran Bang." Jawabnya.
"Oh, abang juga punya kenalan di Gang Si'iran, dan kedua wajah adek ini agak mirip deh dengan kenalan abang." Ujar Dude penuh rayuan.
"Emangnya siapa kenalan Abang itu?." Bertanya.
"Namanya Andi, orang nya tinggi putih dan ganteng." Jawab Dude.
"Oh Bang Andi, itu Abang saya, ya sudah bang aku dan adiku jalan dulu, permisi bang." Ujarnya.
"Aet mau kemana kalian, asal kalian tau kami ini musuh nya Andi Nayaka."Ujar Dude.
Rupanya kedua anak sekolah itu adalah Konta dan Kanti yang baru pulang, mungkin nasib lagi apes berpihak pada Konta dan Kanti.
Konta dan Kanti memberi perlawanan dengan memukul dan menendang perut dude dan Murdi sambil menjerit minta tolong, tapi ke empat rekannya Dude langsung menotok urat sarapnya Konta dan Kanti yang akhirnya mereka lemas. Dengan cepat mereka menaikan konta dan kanti pada motor dengan di dampingi oleh satu orang di belakang.
Lalu mereka tancap gas, dan ke empat kendara'an melaju dengan kencang membawa Konta dan Kanti.
Aksinya Dude, sempat di ketahui oleh pedagang kaki lima yang kebetulan sangat mengenal pada anak kembar tersebut.
pedagang itu berlari memburu pada kendara'an mereka, maksudnya mau memberi pertolongan.
"Wooi kalian apakan anak itu." Teriak pedagang itu.
Tapi mereka terlalu cepat untuk di kejar dengan langkah kaki.
Lalu orang-orang pun berdatangan, dan bertanya pada pedagang kaki lima tersebut, yang berjalan ngos-ngosan.
"Ada apa sih Bang?." Bertanya.
"Itu anak kembar yang biasa jajan di tempat saya, tadi di culik oleh orang yang berkendara motor." Ujarnya.
"Anak kembar, anak nya Kamal maksud abang?." Bertanya.
"Iya." Jawabnya dengan lemas.
"Kita harus cepat kasih tau pada Kamal dan Astuti, wah bisa habis tuh penculik, di bantai oleh Kamal dan Astuti." Ujar mereka saling bersahutan.
Kemudian pedagang kaki lima yang di temani dua orang langsung melaju dengan motor Honda Beat, menuju Gang Si'iran, untuk memberi tahu pada orang tuanya.
Setiba di gang Si'iran mereka langsung menuju ke tempat Kamal bekerja, sebelum mereka tiba di kantor, Andi yang lagi duduk di bengkel menyapa pada pedagang itu.
"Eeh Bang Edi, mau pada kemana nih, kok jalannya kaya penting Banget?." Tanya Andi.
"Wah kebetulan nih ada elo' Andi." Ujarnya.
"Sekarang Bang Edi duduk dulu." Ujar Andi.
Lalu Edi dan dua temannya duduk di kursi, Andi pun langsung memberi mereka minum.
"Nih minum dulu Bang, biar abang rileks." Ujar Andi.
Mereka pun langsung meminum air aqua yang Andi berikan.
"Nah sekarang Bang Edi ini ada perlu apa, aku lihat seperti mau ke kantor?." Tanya Andi.
"Saya mau ketemu sama Pak Kamal An." Ujar Edi.
"Tumben Bang edi ada perlu sama Om Kamal, ada apa sih." Timpal Andi penasaran.
Lalu Edi menceritakan, apa yang ia lihatnya tadi, bahwa Konta dan Kanti di culik oleh gerombolan orang bermotor.
Sontak saja Andi terkejut mendengar laporan dari Edi, lalu ia teringat akan ancamannya Dude sewaktu bertarung di lapangan itu.
"Apa jangan-jangan Dude bersama kawanannya, lalu untuk apa mereka menculik Konta dan Kanti." Batin Andi.
"Ya sudah sekarang Bang edi lapor pada Om kamal, beliau ada di kantor." Lanjut Andi berkata.
Edi pun langsung bergegas menuju Kantor untuk menemui Kamal.
Singkatnya Edi sudah menceritakan semua yang ia lihat pada Kamal, tentang penculikan terhadap Konta dan Kanti oleh gerombolan bermotor.
<<<<<<<<>>>>>>>
__ADS_1